1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [42]: Transaksi Keris Berubah Miris

Chusmeru by Chusmeru
November 27, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SETIAP orang memiliki hobi atau kegemaran masing-masing. Hobi itu bisa yang biasa-biasa saja hingga yang aneh. Ada yang hobi memancing, sehingga kadang lupa waktu dan pekerjaan. Sungai dan pantai menjadi tempat yang lebih penting ketimbang rumah dan kantor. Orang yang hobi memancing dapat setiap saat meninggalkan rumah atau pekerjaannya di kantor bila hasrat memancingnya tiba.

Hal yang sama terjadi pada orang yang punya hobi naik gunung. Dia tidak pernah akan puas mendaki satu atau dua gunung. Bahkan konon mendaki gunung mirip dengan candu. Jika tak mendaki dalam waktu tertentu orang akan merasa ketagihan. Mereka yang punya hobi mendaki gunung juga tak segan meninggalkan rumah dan pekerjaannya asal dapat berada di puncak gunung.

Ada pula yang mempunyai hobi mengutak-atik kendaraan pribadinya. Orang seperti ini tak mengenal waktu. Pagi, siang, maupun malam akan digunakan untuk memodifikasi mobil, hingga lupa makan. Bahkan orang yang memiliki hobi ini dapat mengabaikan anak-anak dan istrinya demi kepuasan mengubah bentuk dan tampilan kendaraan.

 Selain hobi dalam kegiatan, ada juga kegemaran mengoleksi atau mengumpulkan berbagai bentuk barang. Koleksinya pun bisa berupa barang yang biasa sampai barang-barang aneh dan langka. Koleksi perangko dan mata uang kuno banyak dilakukan orang. Mereka yang hobi koleksi benda ini rela berburu ke berbagai tempat bila benda itu memang bernilai kuno.

Koleksi batu akik sempat ramai digemari orang. Sama seperti koleksi tanaman hias yang sempat membuat heboh. Orang tak peduli berapa pun harga akik atau tanaman hias itu. Jika memang sudah menyukainya, orang akan rela membeli  dengan harga tinggi. Meski kini hobi koleksi akik dan tanaman hias tak seramai dulu, namun masih saja ada orang yang rela berburu ke mana pun.

 Bukan hanya koleksi barang yang wajar-wajar saja. Tidak sedikit pula orang yang mengoleksi benda aneh dan tak lazim. Ada orang yang mengoleksi sabun mandi, sikat gigi dan tisu toilet hotel. Ada pula yang mengoleksi korek kuping, kantong kertas untuk muntah di pesawat, rambut selebritis, koleksi tali pocong, dan barang-barang aneh lainnya.

Koleksi pada barang-barang tak lazim itu pada umumnya sekadar memenuhi kepuasan psikologis orang yang mengoleksinya. Pengorbanan terhadap waktu dan materi sudah pasti dikeluarkan. Namun kepuasan memiliki barang itu menjadi lebih berharga dibandingkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mendapatkannya.

Selain kepuasan psikologis, orang juga mengoleksi suatu benda karena alasan budaya. Orang yang mengoleksi lukisan berharga bukan hanya untuk kesenangan, tetapi juga apresiasi terhadap nilai seni dan budaya. Begitu pun orang yang mengoleksi benda pusaka seperti keris, pada umumnya beralasan untuk merawat dan melestarikan warisan budaya leluhur.

***

Edi Sudarmono, dosen paruh baya, anak pertama dari keluarga besar Wongsodirejo. Ia mengoleksi warisan dari ayahnya beberapa benda pusaka berupa keris. Sesungguhnya Edi Sudarmono bukan kolektor keris seperti kebanyakan orang. Konon keris itu diperoleh ayah Edi dari kakeknya yang juga diwariskan dari buyutnya. Menurut cerita ayah Edi, keris itu sudah berusia lebih dari 500 tahun. Edi mewarisi lima buah keris yang memiliki luk atau lekukan berbeda. Ada yang luk 7, 9, 11, 13, dan ada pula yang berbentuk lurus.

Semua keris yang kini dimiliki Edi Sudarmono dibuat oleh empu terkenal di masa lalu, saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Bukan hanya bernilai budaya, keris-keris Edi juga dianggap sakral, karena memiliki kekuatan gaib. Setiap keris memiliki pamor yang berbeda dan kekuatan gaib masing-masing. Ada keris yang mampu menambah aura kewibawaan pemiliknya, ada juga yang cocok jika untuk berbisnis. Dipercaya keris-keris itu ada makhluk gaib yang “mendiami”.

Sebagai orang Jawa yang mewarisi tradisi dari ayah dan kakeknya, Edi Sudarmono merawat keris itu dengan baik. Setiap keris punya “makanan” yang berbeda-beda. Ada yang diberi makan bunga mawar, cempaka, melati, dan ada juga yang makan pinang dan sirih. Edi selalu memberikan sesaji makanan keris itu setiap malam Jumat Kliwon. Semua dilakukan Edi dengan ikhlas dan penuh rasa senang merawat pusaka peninggalan kaket buyutnya.

Tidak demikian dengan Nuraeni, istri Edi Sudarmono. Ia tidak begitu peduli dengan benda pusaka yang dimiliki suaminya itu. Nuraeni tidak tertarik dengan keris-keris Edi, apalagi diwarnai dengan cerita hal-hal klenik. Nuraeni cenderung hidup lebih modern, tidak menyukai tradisi. Karenanya Nuraeni bersikap cuek saja ketika Edi pada malam Jumat Kliwon melakukan ritual perawatan keris.

Nuraeni selain tak peduli dengan keris-keris Edi, juga tak mau tahu dengan kondisi suaminya yang bekerja sebagai dosen biasa. Nuraeni memiliki kebiasaan dan gaya hidup yang boros. Padahal gaji Edi sebagai dosen termasuk kecil, hanya cukup untuk biaya hidup keluarga dengan dua orang anak yang duduk di bangku SMP dan SMA. Bahkan kadang pernah kekurangan uang untuk membeli kebutuhan kedua anaknya yang telah tumbuh remaja.

Gaya hidup Nuraeni sebagai istri dosen kadang berlebihan. Selain pakaian dan perhiasan yang maunya bermerek, Nuraeni juga memiliki teman-teman bergaul yang punya pola hidup pamer. Nuraeni hidup dalam lingkaran sosialita kelas bawah, kumpul-kumpul hanya untuk makan atau bepergian ke tempat wisata.

Edi Sudarmono sudah pasti pusing tujuh keliling. Ia muak dengan gaya hidup istrinya. Namun ia tidak ingin dianggap sebagai suami yang tak sayang istri hanya karena melarang kegemaran Nuraeni. Apalagi selama ini Nuraeni juga tak pernah melarang Edi merawat benda-benda pusakanya. Akibat gaya hidup istrinya itu, Edi sering kehabisan uang di tengah bulan. Gajian masih lama, tetapi keuangan telah kandas.

Pernah terlintas di benak Edi untuk menjual keris-kerisnya. Ia pernah melihat di situs jual beli barang antik online. Untuk sebuah keris bisa terjual dengan harga yang sangat tinggi, puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal ia memiliki lima buah keris. Jika dijual satu atau dua keris saja ia akan mendapatkan uang yang banyak.

 Akan tetapi Edi Sudarmono teringat pesan almarhum kakeknya tentang seputar benda pusaka keris. Menurut kakeknya, ada 3 Ojo atau “3 Jangan” berkaitan dengan keris, yaitu Ojo Pamrih, Ojo Dol Tinuku, Ojo Wegah. Artinya, untuk dapat memiliki keris orang jangan pamrih atau punya keinginan besar untuk memiliki, jangan jual beli keris, dan jangan menolak jika ada orang yang memberi keris. Jika melanggar ketiga hal itu orang akan menhadapi masalah dalam hidupnya.

Edi Sudarmono dilematis. Di satu sisi ia tidak berani melanggar pesan almarhum kakeknya, karena bisa kualat. Namun di lain sisi, gaya hidup Nuraeni membuat kondisi ekonominya menjadi tidak karuan. Ada saja tuntutan dan permintaan istrinya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak keluarga. Nuraeni tak mau tahu dari mana Edi harus mendapatkan uang untuk memenuhi permintaannya.

***

Keputusan nekat dibuat Edi Sudarmono. Ia menawarkan salah satu kerisnya di situs jual beli online. Tak tanggung-tanggung, Edi menawarkan keris luk 9 miliknya seharga 100 juta rupiah. Harga yang menurut Edi cukup pantas, karena nilai sejarah dan budaya keris itu.

Tak disangka, keris Edi mendapat calon pembeli bernama Wedo Saputro. Sesuai kesepakatan, Wedo Saputro mendatangi rumah Edi Sudarmono malam hari. Ia membuka keris itu, memperhatikan luk keris dengan seksama. Aura mistis dirasakan mereka saat keris itu dikeluarkan dari wadahnya. Bau wangi kayu cendana menambah suasana menjadi mencekam.

“Jangan 100 ya Pak,” kata Wedo Saputro menawar keris Edi Sudarmono.

“Berapa, Pak?” tanya Edi.

“Bagaimana kalau 75 saja,” jawab Wedo.

Edi berpikir sejenak. Ia tak mengira keris warisan leluhurnya ditawar 75 juta rupiah. Jumlah yang sangat banyak bagi seorang dosen yang gajinya jauh di bawah harga kerisnya. Edi membayangkan jika lima kerisnya dijual dengan harga yang sama, ratusan juta rupiah akan ia dapatkan.

“Baiklah,” Edi Sudarmono memutuskan menerima tawaran Wedo Saputro.

Transaksi pun segera dilakukan. Wedo Saputro mentransfer uang malam itu juga. Suasana magis dirasakan Edi Sudarmono ketika uang 75 juta rupiah masuk ke rekeningnya. Edi Sudarmono merinding. Bulu kuduknya berdiri. Keris itu kini di tangan pemilik baru, Wedo Saputro. Pesan kakek Edi kembali terngiang. Mestinya ia tidak boleh menjual keris itu. Tapi apa boleh buat, demi kebutuhan istrinya.

Belum genap seminggu Edi menjual kerisnya, kejadian misterius ia alami di tengah malam. Edi mimpi dikejar-kejar keris itu. Edi sangat ketakutan. Keris itu menusuk punggung dan perutnya. Tersengal-sengal dan meringis ia menahan sakit. Saat keris itu akan menikam lehernya, Edi berteriak keras. Ia terbangun.

“Ada apa, Pak?” tanya Nuraeni kaget mendengar teriakan Edi.

“Aku mimpi buruk, dikejar-kejar keris…,” jawab Edi terbata-bata.

Nuraeni merasa iba kepada suaminya. Ia ambil segelas air putih, diberikannya kepada Edi Sudarmono. Pelan-pelan Edi meminumnya. Tenggorokannya terasa segar, namun napas Edi masih tersengal. Suasana mencekam terjadi di kamar tidurnya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Edi mulai cemas. Ia menduga mimpi itu datang karena telah menjual kerisnya.

Edi Sudarmono bukan hanya bermimpi buruk. Kehidupannya juga mulai berubah miris sejak transaksi jual beli kerisnya dengan Wedo Saputro. Belum sampai satu bulan uang hasil penjualan kerisnya telah habis. Mirisnya, uang itu tidak jelas dipergunakan untuk apa saja.

Semenjak menjual keris warisan kakek buyutnya, rizki Edi seolah terputus. Honor menguji dan kegiatan lain di kampus berkurang seiring kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah. Proposal usulan penelitian yang diajukan juga ditolak pendanaannya. Padahal tahun lalu Edi mengajukan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat, semua disetujui untuk didanai. Edi kehilangan banyak sumber pendapatan di kampus.

Rumah tangga Edi Sudarmono berada dalam suasana miris. Hampir setiap hari terjadi pertengkaran dengan Nuraeni, istrinya. Sumber pertengkaran kadang datang dari hal yang sepele. Saat Edi lupa mematikan keran air di kamar mandi, Nuraeni marah-marah dan mengungkit gaji Edi yang kecil. Tentu saja Edi tersinggung. Meski gajinya kecil, ia bangga menjadi dosen yang telah menghasilkan banyak sarjana.

Perilaku Edi Sudarmono di kampus juga mulai berubah. Ia sering bertengkar dengan sesama dosen. Sikapnya kian emosional. Hanya karena canda teman dosen, Edi bisa marah-marah. Padahal biasanya ia dikenal sebagai dosen yang ramah dan periang. Suatu waktu Edi ke kampus menggunakan sepeda motor, karena mobilnya dipakai istrinya.

“Kok pakai sepeda motor, Pak Edi. Mobilnya dijual juga?” tanya Sugeng Wahyono bercanda.

Bukannya dijawab yang sesungguhnya, Edi justru menanggapi candaan Sugeng Wahyono dengan emosional.

“Mau tahu saja, Pak Wahyono!!! Kalau saya jalan kaki apa juga masalah???!!!” jawab Edi dengan raut muka serius dan dengan nada tinggi.

Perubahan perilaku Edi Sudarmono yang emosional membuat teman-teman dosen sangat berhati-hati bila ingin bercakap. Mereka menghindari untuk bercanda dengan Edi, karena takut tersinggung. Hubungan dosen-dosen dengan Edi menjadi kaku tak seperti dulu.

Ruang kerja Edi di kampus menjadi beraura mistis. Beberapa dosen pernah melihat asap tebal keluar dari ruangan Edi, padahal tidak terlihat api atau benda yang terbakar. Pernah pula tercium bau wangi kayu cendana yang menusuk hidung di ruang kerja Edi. Suasana di ruang dosen menjadi menyeramkan.

Eka Setianto, salah satu dosen senior di kampus membaca gelagat tidak wajar pada diri Edi Sudarmono. Ia mengamati, sejak terjadi transaksi jual beli keris kehidupan Edi berubah miris. Eka Setianto mencoba berbicara dengan Edi secara pelan dan hati-hati.

“Sepertinya Pak Edi perlu melakukan transaksi ulang jual beli keris,” saran Eka Setianto.

“Maksud Pak Eka apa?” tanya Edi tak tahu maksud Eka Setianto.

“Maaf, Pak Edi. Sebetulnya kita tidak boleh jual beli benda pusaka keris. Kecuali dilakukan sesuai adat dan tradisi. Saya lihat Pak Edi banyak mengalami perubahan miris setelah menjual keris pusaka itu,” jelas Eka Setianto.

Edi Sudarmono terdiam. Ia tidak membantah penjelasan Eka Setianto. Tidak juga marah atau emosional. Mungkin karena Eka Setianto merupakan dosen senior. Atau mungkin juga karena saran Eka Setianto dianggap benar. Sebelum menjual keris itu Edi pun ragu. Ia masih ingat pesan kakeknya tentang 3 Ojo berkaitan dengan keris.

“Apa yang harus saya lakukan, Pak Eka?” tanya Edi.

“Perlu ritual untuk mengulang jual beli keris itu,” jawab Eka Setianto.

Edi Sudarmono disarankan untuk melakukan ritual lamaran atau pinangan untuk memiliki benda pusaka secara adat Kejawen. Harus ada seserahan atau mahar yang diberikan Wedo Saputro sebagai calon pemilik keris yang baru kepada Edi sang pemilik keris. Kepemilikan keris oleh orang baru seperti layaknya sebuah lamaran pernikahan secara gaib kepada benda pusaka.

Dengan ditemani dan disaksikan Eka Setianto, pada hari Senin Pon Wedo Saputro kembali mendatangi rumah Edi Sudarmono sambil membawa keris yang sudah dibeli. Eka Setianto memilih hari Senin Pon yang berdasarkan perhitungan Primbon Jawa merupakan hari baik untuk lamaran pengantin. Eka Setianto membawa bunga cempaka atau kanthil sebagai simbol nginthil atau mengikuti. Harapannya, keris itu dengan senang hati akan mengikuti Wedo Saputro sebagai pemilik baru.

Wedo Saputro membawa kain brokat dan jarik Sidomukti sebagai barang bawaan seserahan. Suasana mistis dan mencekam terjadi saat Eka Setianto memandu akad jual beli benda pusaka secara Kejawen. Layaknya sebuah transaksi magis, udara di sekitar rumah Edi Sudarmono terasa dingin. Harum bunga cempaka menambah suasana mistis pada ritual penyerahan keris.

Edi Sudarmono sedikit gemetar dan gugup menyerahkan keris kepada Wedo Saputro. Malam bertambah dingin. Secara perlahan Wedo Saputro menerima keris pusaka peninggalan kakek dan buyut Edi Sudarmono.

“Saya terima keris pusaka luk 9 dari Bapak Edi Sudarmono untuk menjadi milik saya,” ucap Wedo Saputro layaknya sebuah prosesi akad nikah.

Edi Sudarmono lega. Wedo Saputro merasa senang. Keris pusaka itu kini telah berpindah tangan. Edi berharap tidak ada lagi kejadian miris di hidupnya. Dalam hati ia berjanji tidak akan menjual lagi keris pusaka warisan leluhurnya. Meski ia harus berpikir dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan istrinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jogja, Sarkem, dan Bakpia: Cerita Perjalanan yang Nggak Kuduga

Next Post

Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co