1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jogja, Sarkem, dan Bakpia: Cerita Perjalanan yang Nggak Kuduga

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
November 26, 2025
in Tualang
Jogja, Sarkem, dan Bakpia: Cerita Perjalanan yang Nggak Kuduga

Penulis di Titik Nol Kilometer Yogyakarta (Doc: Mochamad Rifa’i)

HUJAN rintik-rintik menghiasi kaca bus pariwisata yang kutumpangi. Kusenderkan tubuhku pada kursi pas dekat dengan jendela bus, sembari sesekali tanganku mengusap jendela yang terkena air hujan yang menempel di baliknya. Kubiarkan pandanganku larut ke luar jendela, memerhatikan rintik hujan jatuh pelan tak deras, tapi cukup membuat dunia seolah berbisik padaku. Rintik hujan menabrak jendela kali ini, menimbulkan bunyi yang cukup membuat otakku rileks. Ditambah earphone di telingaku mengalun lembut sebuah lagu-lagu indie, seperti menuntun setiap helaan napas agar selaras dengan ritme perjalanan.

Di luar sana, jalanan tol memanjang tenang seperti tidak punya urusan apa-apa, dan memang saja dia tidak tahu menahu hura-hara negara ini. Lampu-lampu kota lewat pelan dari balik kaca jendela bus, langit kelabu dan sedikit polesan kejinggaan terlihat masih basah habis hujan rasanya pas banget dengan suasana otakku yang juga lagi banyak mikir. Tiba-tiba banget muncul pikiran nakal; Indonesia ini sebenarnya kaya banget, ya? Coba bayangin deh, berapa triliun uang yang dihabiskan buat bangun jalan sepanjang ini. Beton tertancap dimana-mana, jembatan sambung-menyambung, pokoknya jika dihitung satu-satu mungkin kepalaku langsung error.

Lalu muncul lagi pertanyaan yang lebih menggelitik; kalau saja Indonesia ini orangnya benar-benar jujur, kalau tidak banyak tikus-tikus berdasi yang suka nitip buah tangan dari proyek, kira-kira sudah jadi apa, ya, negeri ini? Mungkin negara ini sudah lebih, minimal mendekati Saranjana lah ya, kota gaib yang katanya lebih rapi, lebih tertib, dan mungkin warganya saja tidak kenal korupsi. Kebayang tidak? kita kalah sama kemajuan kota yang bahkan google map saja nyerah buat nyari. Lucu, ya? Hehe.

Sekilas pikiranku tadi, aku terseyum kecil. Agak lucu juga, memikirkan kota gaib sambil menuju kota yang kebanyakan orang bilang adalah kota dengan vibes yang tidak membosankan, Jogja, atau dengan nama lebih resmi Yogyakarta. Kalau menurut aku pribadi, setuju dengan pernyataan itu. Nyatanya beberapa kali aku ke tempat ini, ada sesuatu dari Jogja yang bikin ingin selalu balik. Entah jalannya, langitnya, atau mungkin kenangannya. Ya, begitulah Jogja. Meski tidak seutopis Saranjana, dia selalu punya ruang buat pulang. Dan diantara hujan yang malu-malu, music indie yang menghipnotis, dan jalanan panjang yang tidak ada habisnya, aku merasa perjalanan ini bukan cuma soal pindah tempat, tapi juga nemuin harapan kecil yang masih tersisa buat negeri ini. Eaaa.

Tidak lama, musik yang tadinya nemenin malah bikin aku makin nyaman. mataku berat, badanku mulai rileks, dan tanpa sadar aku ketiduran. Tiba-tiba Mas yang duduk di sampingku nyenggol lenganku pelan. “Pak, bangun… udah nyampe hotel.” Aku terbangun dengan kepala agak pusing ringan khas habis tidur di perjalanan. Dari jendela bus, aku lihat lampu-lampu Jogja yang lembut, orang-orang masih berlalu-lalang, dan sisa hujan bikin jalanan kelihatan berkilau, kulirik jam ditanganku menunjukkan pukul 22.00 WIB, aku narik napas panjang, merapikan tas, lalu turun dari bus. Rasanya kayak, oh, akhirnya sampai juga.

Rombongan kami sekitar tiga puluhan guru PJOK, turun dari bus dengan gaya lawakan ndeso. Lelah tapi tetap sok semangat dengan menyeret koper, kaos olahraga masih bau perjalanan karena ada yang habis ngajar tanpa ganti baju langsung berangkat, dan beberapa guru masih sibuk nanya, “Ini ada air panas nggak ya? Pengen cepat-cepat mandi air panas.” Suasana khas rombongan guru yang rame tapi tetap hangat.

Check-in berjalan lancar, setiap kamar ada dua orang. Dan seperti biasa, ada yang langsung rebutan kasur dekat dengan jendela, ada yang sibuk ngecas HP, dan ada juga yang baru masuk kamar tapi langsung mirror selfie layak mau endorse hotel, siapa lagi kalau bukan aku. Setelah urusan kami selesai, aku dan empat rekan kerja keluar untuk menyusuri Malioboro. Bahkan pada kesempatan ini rombongan yang lain sudah melalang buana bersama besti-nya masing-masing. Udara malam Jogja memang punya trik khusus, seperti pandai bikin orang capeknya hilang separuh, dan bikin orang ingin jalan walau badan lumayan terasa pegal-pegal selama perjalan.

Di tengah langkah santai kami, aku teringat dengan tujuan utama kami kemari. Acara tahunan KKGO (Kelompok Kerja Guru Olahraga)  sakaligus paripurna guru. Acara formal yang dikemas ala-ala dengan kegiatan refreshing, laporan dana kegiatan, sambutan-sambutan, sesi foto, dan biasanya diakhiri makan besar yang semua orang pura-pura diet tapi tetap nambah. Namun sebelum besok menjelajahi dunia formal itu, malam ini Jogja mengajakku menikmati sisi lain yang lebih hidup.

Teras Malioboro 1 | Foto: Dok. Mochamad Rifa’i

Langkah demi langkah kaki kami menyusuri trotoar Malioboro, kami berjalan mendekati area yang dulu dikenal banyak orang memiliki reputasi yang cukup unik. Yaps, Pasar Kembang, alias Sarkem. Aku menyebutnya dalam hati sambil tersenyum, bukan karena isinya, tapi karena sejarahnya yang panjang dan kadang buat banyak orang salah paham.

Dulunya kawasan ini namanya Balokan, berasal dari kata dasar ‘balok’ yakni tumpukan ‘balok kayu’ buat lokomotif uap zaman dulu. Bayangin saja, kawasan yang sekarang dikenal karena ‘kehidupan malam’, dulunya hanya gudang kayu. Setelah sejarah panjang itu, banyak pedagang bunga bermunculan di sana. Jadilah tempat ini bernama “Pasar Kembang”. Kembang buat acara upacara, kembang untuk ziarah, indah kedengarannya, cuma perjalanan hidupnya membuat Pasar Kembang ini berbelok arah menjadi tempat yang mengarah ke reputasi unik. Kemudian banyak perempuan yang menjajakan diri, tapi tidak semuanya. Alhasil orang lebih mengenalnya Sarkem itu secara tidak gamblang sebagai jual kembang, namun sudah tidak ada lagi, secara tersirat jual kembang itu ya perempuan itu sendiri yang dimaksud.

Dari cerita itu, lalu tempat ini berkembang menjadi stigma yang lebih abu-abu. Orang-orang menyebutnya tempat lokalisasi. Kalau di Surabaya dulunya ada tempat yang dikenal dengan Gang Dolly, di Jogja punya Sarkem. Padahal warga setempat berkali-kali mengatakan kalau tempat itu bukan tempat lokalisasi resmi. Terdapat rumah, ada musala, ada sekolah juga, bahkan kehidupannya jauh lebih bervariasi dan berlapis daripada sekedar judul berita. Beberapa tahun terakhir Sarkem Fest 2025 berlangsung pada 21–22 Februari 2025, jelas kegiatan ini diberitakan pada laman resmi visitingjogja.jogjaprov.go.id.

Tentunya serangkaian acara itu untuk memperbaiki citra serta menunjukkan budaya lokalnya. Lucu juga ya, tempat yang sering jadi bahan bisik-bisik negatif justru kini berusaha tampil dengan bangga sekaligus lewat melalui acara yang terkemas elegan di kalangan masyarakat.

Dari sejarah ini, aku teringat dengan kisah sejarahnya bahwa konon salah satu cerita awal berkembangnya prostitusi di Sarkem melibatkan seorang perempuan Belanda bernama Nurhayati. Seperti yang dikuti pada travel.detik.com “Nurhayati diketahui merupakan gundik orang Belanda dan diminta untuk membawa perempuan lain menjadi gundik seperti dirinya”. Bukan hanya cerita pemanis, tapi cerita ini merupakan bagian dari sejarah yang bikin Sarkem punya banyak rahasia. Seperti halnya Jogja, kelihatannya sederhana, tapi jika kita menyelami lebih dalam, dalamnya penuh dengan kejutan.

Wedang ronde | Foto: Dok Mochamad Rifa’i

Itulah sekilas tentang Sarkem. Kami berjalan larut dalam suasana malam ini, menikmati wedang ronde, menyantap sate ayam khas dengan bumbu jogja, bahkan tak lupa membawa beberapa buah tangan khas Jogja, bakpia. Jika tadi tentang Sarkem, kini tentang bakpia. Bakpia ini juga tak kalah memiliki sejarah lucu dan sedikit plt twist. Setelah saya mencicipi rasa bakpia yang khas, akhirnya terbesit diotakku pertanyaan demi pertanyaan, darimana asal makanan ini, apakah benar khas Jogja?

Pusat toko oleh-oleh khas Jogja | Foto: Dok. Mochamad Rifa’i

Ternyata bakpia asalnya dari Tionghoa, “bak” artinya daging, “pia” artinya kue. Jadi kalau kita menggunakan logika, bakpia itu mestinya kue isi daging, kan, ya. Tapi begitu masuk Jogja, dagingya hilang diganti kacang hijau manis. Bahkan seiring berkembangnya jaman, banyak sekali varian rasanya; durian, nanas, coklat, dan lainnya. Mungkin karena di sini orangnya lebih suka yang manis-manis kaya yang nulis ini, hehehe… ya kecuali perasaan yang tidak dibalas, itu sih terserah masing-masing. Dari bakpia ini mengingatkanku juga dengan kue khas Bali, ada juga yang namanya pie susu. Sama-sama terbuat dari bahan tepung, jika bakpia jogja memiliki bentuk yang agak tebal, pie susu bali dikemas dengan kulit tipis dan renyah serta isian lembut dan manis dari campuran susu kental manis, telur, dan gula.

Sejak adaptasi itu, bakpia jadi ikon Jogja. Ada yang kulitnya lembut (versi modern) ada yang kulitnya retak-retak kering (model bathok klasik). Dan entah kenapa, aku juga bingung, meskipun tiap kota punya oleh-oleh, bakpia selalu punya tempat khusus di hati orang yang pernah ke Jogja. Mungkin karena ukurannya kecil, gampang masuk kantong, pas digigit, dan cocok menemani santai sembari scroll sosmed menyimak berita Pak Purbaya yang cukup bikin pemerintahan Indonesia ketar-ketir ala-ala bocil kematian. Eh, maap. Kagak nyambung, hehehe.

Jogja memang selalu begitu. Sederhana dari luarnya, tapi penuh cerita di dalamnya. Dan malam itu, aku merasa menjadi part kecil dari cerita itu ikut menempel di langkah-langkah kami.

Setelah cukup puas muter-muter malioboro sambil ketawa-ketiwi, capek, sih ya, tapi bahagia. akhirnya kami memutuskan buat balik ke hotel. Kaki rasanya udah brontak, tapi kata otak masih mengajak ingin jalan. Ya, begitulah dilemma turis bermodal hahahihi. Sampai hotel, jam sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB dini hari. Kami bergegas terlelap.

Keesokan harinya, setelah ibadah masing-masing dan sarapan, suasananya berubah jadi lebih sacral. Kami kumpul bareng rombongan, menjalani sesi acara formal khas kegiatan KKGO dan paripurna guru. Meski singkat, momen itu terasa hangat semacam pengingat bahwa di balik jalan-jalan dan ketawa bareng, kami semua lagi ada dalam satu misi, belajar, berkembang, dan tetap waras di dunia kependidikan yang terkadang terasa sedikit absurd.

Petualangan dilanjut, kami menuju Sungai Elo buat rafting. Suasananya seru, airnya lumayan bersahabat, tapi arusnya cukup bikin kami sadar betapa rapuhnya keseimbangan hidup. Tapi justru itu part serunya, teriak lepas, ketawa bareng, nyangkut bareng, dan selamat bareng. Yeeeey…

Setelah rafting, dan makan siang yang rasanya lebih enak karena dicampur rasa lapar akut, cuy, akhirnya bersiap balik pulang. Perjalanan pulang berjalan tenang. Rombongan di bus banyak yang ngorok, dan aku Cuma menatap keluar jendela, merasa cerita kecil ini yang diawali dari hujan, music indie, sampai Sarkem dan bakpia ternyata jadi salah satu perjalanan yang diam-diam menghangatkan hati.

Dan ketia perjalanan selesai, aku cuma bisa berbisik dalam hatiku sendiri, Jogja memang selalu puny acara sendiri untuk bikin orang ingin kembali. Seperti nama kotanya, Jogja selalu istimewa. [T]

Referensi

Anonin. 2025. Sarkem Fest 2025 (21-22 Februari 2025). Tersedia pada: https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/42128/sarkem-fest-2025-21-22-februari-2025/ , diakses pada 24 November 2025.

Vianita, Novi dan Anandio Januar. 2025. Sejarah Prostitusi di Sarkem: Berawal dari Nurhayati, Si Gundik Belanda. Tersedia dalam https://travel.detik.com/travel-news/d-7022539/sejarah-prostitusi-di-sarkem-berawal-dari-nurhayati-si-gundik-belanda diakses pada 24 November 2025.

Penulis: Mochamad Rifa’i
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananPariwisatawisataYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penguasaan dan Permohonan Hak atas  ‘Aanslibbing’ atau Tanah Timbul

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [42]: Transaksi Keris Berubah Miris

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [42]: Transaksi Keris Berubah Miris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co