12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarot dan  Psikologi: Antara Simbol, Validasi Emosi, dan Bias Kognitif

Isran Kamal by Isran Kamal
November 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAROT sedang berada dalam masa keemasannya. Di TikTok, Instagram, hingga marketplace, kartu tarot muncul di mana-mana, mulai dari sesi reading live, rekomendasi karier berdasarkan kartu, sampai paket “healing melalui tarot” yang laris manis.

Yang menarik, pengguna terbesarnya bukan lagi komunitas spiritual tradisional, melainkan remaja dan dewasa muda yang tumbuh di era internet. Tarot berubah dari sekadar alat ramalan menjadi cultural moment yang memberi ruang aman bagi orang-orang yang sedang bingung, patah, atau butuh validasi emosional cepat.

Popularitas ini bukan tanpa alasan. Generasi sekarang hidup dalam tekanan tinggi seperti tuntutan akademik, tuntutan kerja, relasi yang kompleks, dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Dalam situasi seperti ini, tarot menawarkan sesuatu yang jarang diberikan kehidupan modern yaitu  berupa sense of clarity.

Tarot memberi kesan bahwa hidup yang kacau bisa diterjemahkan dalam simbol, pola, dan narasi. Bahkan ketika seseorang tidak benar-benar percaya bahwa kartu dapat “melihat masa depan,” banyak yang tetap merasa terbantu secara emosional.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apa yang sebenarnya membuat tarot begitu terasa relevan bagi publik? Jika tarot bukan metode ilmiah untuk memprediksi masa depan, mengapa jutaan orang merasa “tersentuh,” “ditampar realita,” atau “jadi tercerahkan” setelah satu sesi reading? Jawabannya justru banyak berakar pada psikologi manusia dimana hal ini berkaitan dengan cara kita mencari makna, memahami diri, dan meredakan kecemasan.

Untuk itu, kita perlu membedah tarot bukan sebagai benda mistik, tetapi sebagai fenomena psikologis. Dan untuk memulai, kita harus memahami bagaimana simbol-simbol tarot bekerja pada pikiran manusia.

Tarot sebagai Bahasa Simbol: Kenapa Kartu Bisa “Berbicara” ke Pikiran Manusia

Tarot bekerja bukan karena memiliki kekuatan supranatural, tetapi karena tarot memanfaatkan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu kemampuan kita menafsirkan simbol dan mencari makna dalam pola. Psikologi kognitif sudah lama menunjukkan bahwa manusia adalah meaning-making creatures. Kita cenderung menghubungkan gambar, warna, dan metafora dengan pengalaman pribadi, lalu menyusunnya menjadi narasi yang terasa relevan.

Setiap kartu tarot entah itu The Fool, The Tower, atau The Empress mengandung simbol arketipal yang sudah dikenali oleh banyak budaya. Perjalanan, ketakutan, kehancuran, kelimpahan, kasih sayang, kehilangan, kelahiran baru. Ini membuat tarot bekerja seperti “bahasa proyek” bagi pikiran bawah sadar. Kita melihat motif umum dan otomatis menghubungkannya dengan fase hidup kita sendiri.

Prinsip psikologi persepsi juga berperan di sini. Ketika menghadapi stimulus ambigu, otak manusia akan berusaha mengisi kekosongan makna dengan pengalaman subjektif. Ini serupa dengan bagaimana kita melihat bentuk wajah di awan, atau merasa lirik lagu tertentu “ngena banget” padahal lagu itu ditulis untuk pengalaman orang lain.

Dalam konteks tarot, simbol-simbol itu bertindak sebagai mirror, bukan oracle. Kartu tidak memberi jawaban objektif, simbol tersebut memicu refleksi internal yang kemudian kita rasakan sebagai “pesan” atau “insight.” Karena itu dua orang yang membaca kartu sama bisa menghasilkan interpretasi yang sepenuhnya berbeda yang menentukan bukan kartunya, tetapi dunia psikologis orang yang membaca.

Di sinilah kekuatan sekaligus keterbatasan tarot, kartu tarot bisa sangat resonan secara emosional, namun justru karena sangat subjektif, tarot tidak dapat berfungsi sebagai alat prediksi yang bisa diuji secara ilmiah.

Sisi Positif Tarot dari Perspektif Psikologis

Meskipun tarot tidak memiliki dasar empiris sebagai alat prediksi, bukan berarti tarot tidak memiliki nilai psikologis. Banyak orang terutama remaja dan dewasa muda yang menggunakan tarot bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memahami diri sendiri. Di sinilah tarot berfungsi sebagai medium refleksi yang dapat membantu proses emosi dan pengambilan keputusan.

Pertama, tarot dapat memfasilitasi refleksi diri yang terstruktur. Melalui simbol-simbol yang kaya makna, orang terdorong menanyakan hal-hal yang jarang mereka hadapi dalam rutinitas seperti, “Kenapa aku takut mengambil keputusan?” “Apa yang sedang aku hindari?” “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” Dalam psikologi, ini sejalan dengan proses guided introspection, yakni metode mendorong individu mengeksplorasi pikiran dan perasaannya lewat stimulus tertentu.

Kedua, tarot berfungsi sebagai alat validasi emosional. Banyak pengguna merasa “didengar” atau “dipahami,” bukan karena kartunya akurat, tetapi karena interpretasi pembacanya mampu menangkap dinamika emosional yang sedang berlangsung. Dalam konteks kesehatan mental, pengalaman merasa dipahami meski diperantarai simbol dapat meredakan kecemasan dan meningkatkan kejelasan kognitif.

Ketiga, tarot dapat memicu percakapan emosional yang sulit. Bagi sebagian orang, membicarakan masalah hidup secara langsung terasa berat atau mengancam. Dengan adanya media simbolik, pembicaraan bisa diarahkan melalui metafora, membuatnya lebih aman. Fenomena ini mirip dengan teknik projective storytelling yang digunakan dalam psikologi, dimana seseorang mengekspresikan konflik internal melalui cerita atau gambar.

Keempat, tarot membantu individu melihat masalah dari perspektif alternatif. Saat menghadapi dilema, kartu-kartu tarot kadang “memaksa” pengguna untuk mempertimbangkan sisi lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Meskipun tidak objektif, proses ini menghasilkan fleksibilitas kognitif, suatu komponen penting dalam kemampuan pemecahan masalah.

Selain itu, tarot juga memiliki fungsi ritualistik yang menenangkan. Aktivitas merapikan kartu, menarik satu kartu, lalu merenungkannya menciptakan momen jeda yang mirip praktik mindfulness. Dalam ritme hidup yang cepat, momen hening seperti ini menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak dan mengatur ulang emosi.

Dengan kata lain kekuatan tarot bukan pada prediksi, tetapi pada kemampuannya membuka ruang reflektif yang sering kali sulit kita ciptakan sendiri.

Mengapa Tarot Terasa Akurat? Barnum Effect and  Cognitive Bias

Salah satu alasan terbesar banyak orang merasa “kok bacaan tarot pas banget ya?” adalah karena otak manusia memang sangat mudah memberi makna pada informasi yang samar. Ada beberapa mekanisme psikologis yang membuat bacaan tarot terasa relevan, meskipun isinya sebenarnya cukup umum atau bisa berlaku buat siapa saja.

Barnum Effect

Efek Barnum adalah kecenderungan kita untuk menganggap deskripsi yang samar dan luas sebagai gambaran yang sangat personal. Misalnya:

  • “Kamu tipe yang peduli sama orang lain, tapi kadang merasa nggak dihargai.
  • “Siapa sih yang nggak pernah ngerasa begitu?

      Kartu-kartu tarot sering menggunakan simbol yang fleksibel misal “The Moon”, “The Lovers”, “The Tower” yang maknanya sangat bisa disesuaikan dengan pengalaman pribadi. Akhirnya, otak kita “mengisi celah” itu sendiri dengan detail hidup kita, sehingga bacaan terasa akurat.

      Confirmation Bias

      Ketika kita sudah ingin mencari jawaban, kita cenderung memperhatikan bagian bacaan yang cocok dengan situasi kita, dan mengabaikan yang tidak cocok. Misalnya kartu memperingatkan “akan ada konflik kecil”. Kalau hari itu kamu cekcok kecil dengan teman, kamu langsung: “Nah kan bener.” Kalau nggak ada apa-apa? Ya… kita lupa. Otak kita memilih data yang mendukung ekspektasi.

      Availability Heuristic

      Ini adalah bias di mana kita menganggap sesuatu itu benar atau penting hanya karena kita bisa dengan mudah mengingat contoh yang relevan. Contoh: tarot bilang “kamu sedang banyak beban emosional.” Kita langsung ingat satu masalah yang lagi bikin stres padahal masalah kecil itu mungkin cuma sebagian kecil dari hari-hari kita.

      Ambiguity Advantage

      Lucu tapi nyata, prediksi yang samar lebih sering dianggap akurat daripada prediksi yang spesifik. Kartu tarot justru kuat di sini. Simbol-simbolnya tidak pernah memberi jawaban rigid seperti “tanggal 12 kamu akan dapat pekerjaan baru”, tapi lebih seperti “ada peluang baru yang membutuhkan kesiapan mental”. Karena tidak spesifik, peluang “tepat” jadi tinggi.

      Emotional Resonance

      Kita biasanya membaca tarot saat sedang galau, bimbang, atau butuh pencerahan. Dalam kondisi emosional seperti itu, kita lebih terbuka terhadap makna apa pun yang terasa menenangkan atau memvalidasi perasaan. Bacaan yang memberi pengakuan terhadap emosi kita sering terasa sangat benar bukan karena prediksinya akurat, tetapi karena kita merasa didengar.

      Maka dapat dipahami bahwa akurasi tarot sering kali bukan berasal dari kemampuan prediktif kartu itu sendiri, melainkan dari cara otak kita memproses informasi yang ambigu. Efek Barnum, bias konfirmasi, dan kebutuhan emosional kita membuat simbol-simbol tarot terasa sangat personal. Bacaan yang sifatnya fleksibel memberi ruang bagi kita untuk mengisi makna dengan pengalaman pribadi, sehingga muncullah ilusi “ketepatan”. Dengan memahami cara kerja psikologis ini, kita bisa menikmati tarot tanpa terseret oleh kesan akurat yang sebenarnya muncul dari pikiran kita sendiri.

      Nah, di titik ini kita bisa melihat bahwa tarot bekerja sangat kuat pada ranah persepsi dan itu nggak salah, selama kita sadar batasannya. Tapi justru karena tarot terasa begitu akurat, di sinilah risiko psikologis mulai muncul. Ketika bacaan yang sifatnya simbolik dan interpretatif berubah menjadi dasar keputusan hidup, atau ketika kontrol personal bergeser dari diri kita ke “kartu”, dampaknya bisa jadi cukup signifikan. Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya, apa saja risiko yang perlu diwaspadai ketika tarot mulai memengaruhi rasa kendali dan arah hidup seseorang.

      Ketika Tarot Menggeser Kendali Hidup

      Meski tarot bisa menjadi ruang refleksi yang bermanfaat, sisi rentannya muncul ketika seseorang mulai memperlakukan kartu sebagai sumber kepastian. Dalam situasi stres, cemas, atau bingung mengambil keputusan, individu cenderung mencari pegangan yang terasa stabil. Tarot dengan simbol dan narasi yang tampak meyakinkan dapat memberi ilusi arah, tetapi justru di situlah jebakannya. Ketika interpretasi kartu mulai diposisikan setara dengan penilaian rasional, atau bahkan menggantikannya sama sekali, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan otonom perlahan melemah.

      Risiko lain muncul ketika tarot dijadikan “otoritas moral” yang menentukan hubungan, pekerjaan, atau langkah penting hidup. Ketergantungan seperti ini membuat individu menunda tanggung jawab pribadi, dan pada akhirnya mengaburkan kemampuan mereka untuk menilai realitas secara objektif. Dari perspektif klinis, pola ini bisa beresonansi dengan mekanisme pelarian, dimana individu lebih memilih jawaban instan daripada proses berpikir yang mungkin menantang atau tidak nyaman.

      Pada level sosial, tarot juga bisa memperkuat bias atau keyakinan yang tidak akurat. Jika seseorang membaca kartu melalui perspektif yang penuh ketakutan atau asumsi negatif, bacaan itu justru akan memperkuat persepsi tersebut yang kemudian membentuk lingkaran setan yang sebenarnya berasal dari pikiran sendiri, bukan dari “pesan kartu”. Tanpa disadari, tarot dapat berubah dari media eksplorasi menjadi alat amplifikasi kekhawatiran.

      Namun, penting ditekankan bahwa risiko-risiko ini bukanlah produk tarot sebagai alat, melainkan cara pengguna memaknai dan bergantung padanya. Tarot tidak berbahaya pada dirinya sendiri yang berbahaya adalah ketika kontrol psikologis bergeser dari diri ke objek simbolik.

      Pada akhirnya, tarot bukan harus ditempatkan sebagai musuh sains atau sekutu tak tergantikan dalam mengambil keputusan. Tarot berada di tengah-tengah. Sebuah alat naratif yang dapat membantu refleksi diri, memperluas imajinasi psikologis, dan memberi ruang untuk memahami perasaan yang sulit dijelaskan. Kebermanfaatannya muncul ketika kita tahu batasnya.

      Dengan memahami sisi positifnya, mengenali bias kognitif yang membuatnya terasa akurat, dan menyadari risiko ketika tarot mulai menggeser kendali personal, kita bisa menikmati tarot sebagai medium refleksi bukan kompas hidup. Tarot paling sehat ketika menjadi sarana untuk berdialog dengan diri sendiri, bukan pengganti penilaian rasional. Pada titik itu, tarot bukan lagi tentang ramalan, tetapi tentang cara kita memberi bahasa pada pengalaman manusia yang kompleks. [T]

      Penulis: Isran Kamal
      Editor: Adnyana Ole

      Tags: kartu tarotPsikologisimbolTarot
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

      Next Post

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Isran Kamal

      Isran Kamal

      Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

      Related Posts

      KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

      by Sugi Lanus
      September 12, 2026
      0
      PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

      TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

      Read moreDetails

      Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

      by Tri Nugroho Adi
      September 11, 2026
      0
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

      "Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

      Read moreDetails

      DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      September 10, 2026
      0
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

      INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

      Read moreDetails

      Kita Salah Menghitung Kesunyian

      by Angga Wijaya
      September 10, 2026
      0
      Kita Salah Menghitung Kesunyian

      SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

      Read moreDetails

      Tubuh yang Saya Suruh Begadang

      by Angga Wijaya
      September 9, 2026
      0
      Tubuh yang Saya Suruh Begadang

      SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

      Read moreDetails

      Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

      by Chusmeru
      September 9, 2026
      0
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

      SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

      Read moreDetails

      Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

      by Jerry Indrawan
      September 8, 2026
      0
      Mungkinkah Korut Serang AS?

      POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

      Read moreDetails

      Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

      by Wayan Gde Yudane
      September 7, 2026
      0
      Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

      SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

      Read moreDetails

      Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

      by Adwan SA
      September 6, 2026
      0
      Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

      JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

      Read moreDetails

      Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      September 5, 2026
      0
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

      BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

      Read moreDetails
      Next Post
      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

        5 shares
        Share 5 Tweet 0
      • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

        43 shares
        Share 43 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
      Esai

      KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

      TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

      by Sugi Lanus
      September 12, 2026
      Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
      Ulas Buku

      Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

      AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

      by Kadek Wisnu Oktaditya
      September 12, 2026
      Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
      Panggung

      Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

      Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

      by Nyoman Budarsana
      September 12, 2026
      YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
      Panggung

      YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

      ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

      by Dede Putra Wiguna
      September 12, 2026
      Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
      Cerpen

      Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

      by Ahmad Sihabudin
      September 12, 2026
      Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
      Puisi

      Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

      Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

      by Ahmad Fatoni
      September 12, 2026
      Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
      Budaya

      Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

      Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

      by Ayu Kahuatu Tamar
      September 11, 2026
      Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
      Pameran

      Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

      SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

      by Dede Putra Wiguna
      September 11, 2026
      Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
      Panggung

      Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

      JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

      by Ingga Adelia
      September 11, 2026
      Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
      Gaya

      Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

        Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

      by tatkala
      September 11, 2026
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
      Esai

      Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

      "Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

      by Tri Nugroho Adi
      September 11, 2026
      Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
      Panggung

      Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

      Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

      by Nyoman Budarsana
      September 10, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co