3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarot dan  Psikologi: Antara Simbol, Validasi Emosi, dan Bias Kognitif

Isran Kamal by Isran Kamal
November 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAROT sedang berada dalam masa keemasannya. Di TikTok, Instagram, hingga marketplace, kartu tarot muncul di mana-mana, mulai dari sesi reading live, rekomendasi karier berdasarkan kartu, sampai paket “healing melalui tarot” yang laris manis.

Yang menarik, pengguna terbesarnya bukan lagi komunitas spiritual tradisional, melainkan remaja dan dewasa muda yang tumbuh di era internet. Tarot berubah dari sekadar alat ramalan menjadi cultural moment yang memberi ruang aman bagi orang-orang yang sedang bingung, patah, atau butuh validasi emosional cepat.

Popularitas ini bukan tanpa alasan. Generasi sekarang hidup dalam tekanan tinggi seperti tuntutan akademik, tuntutan kerja, relasi yang kompleks, dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Dalam situasi seperti ini, tarot menawarkan sesuatu yang jarang diberikan kehidupan modern yaitu  berupa sense of clarity.

Tarot memberi kesan bahwa hidup yang kacau bisa diterjemahkan dalam simbol, pola, dan narasi. Bahkan ketika seseorang tidak benar-benar percaya bahwa kartu dapat “melihat masa depan,” banyak yang tetap merasa terbantu secara emosional.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apa yang sebenarnya membuat tarot begitu terasa relevan bagi publik? Jika tarot bukan metode ilmiah untuk memprediksi masa depan, mengapa jutaan orang merasa “tersentuh,” “ditampar realita,” atau “jadi tercerahkan” setelah satu sesi reading? Jawabannya justru banyak berakar pada psikologi manusia dimana hal ini berkaitan dengan cara kita mencari makna, memahami diri, dan meredakan kecemasan.

Untuk itu, kita perlu membedah tarot bukan sebagai benda mistik, tetapi sebagai fenomena psikologis. Dan untuk memulai, kita harus memahami bagaimana simbol-simbol tarot bekerja pada pikiran manusia.

Tarot sebagai Bahasa Simbol: Kenapa Kartu Bisa “Berbicara” ke Pikiran Manusia

Tarot bekerja bukan karena memiliki kekuatan supranatural, tetapi karena tarot memanfaatkan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu kemampuan kita menafsirkan simbol dan mencari makna dalam pola. Psikologi kognitif sudah lama menunjukkan bahwa manusia adalah meaning-making creatures. Kita cenderung menghubungkan gambar, warna, dan metafora dengan pengalaman pribadi, lalu menyusunnya menjadi narasi yang terasa relevan.

Setiap kartu tarot entah itu The Fool, The Tower, atau The Empress mengandung simbol arketipal yang sudah dikenali oleh banyak budaya. Perjalanan, ketakutan, kehancuran, kelimpahan, kasih sayang, kehilangan, kelahiran baru. Ini membuat tarot bekerja seperti “bahasa proyek” bagi pikiran bawah sadar. Kita melihat motif umum dan otomatis menghubungkannya dengan fase hidup kita sendiri.

Prinsip psikologi persepsi juga berperan di sini. Ketika menghadapi stimulus ambigu, otak manusia akan berusaha mengisi kekosongan makna dengan pengalaman subjektif. Ini serupa dengan bagaimana kita melihat bentuk wajah di awan, atau merasa lirik lagu tertentu “ngena banget” padahal lagu itu ditulis untuk pengalaman orang lain.

Dalam konteks tarot, simbol-simbol itu bertindak sebagai mirror, bukan oracle. Kartu tidak memberi jawaban objektif, simbol tersebut memicu refleksi internal yang kemudian kita rasakan sebagai “pesan” atau “insight.” Karena itu dua orang yang membaca kartu sama bisa menghasilkan interpretasi yang sepenuhnya berbeda yang menentukan bukan kartunya, tetapi dunia psikologis orang yang membaca.

Di sinilah kekuatan sekaligus keterbatasan tarot, kartu tarot bisa sangat resonan secara emosional, namun justru karena sangat subjektif, tarot tidak dapat berfungsi sebagai alat prediksi yang bisa diuji secara ilmiah.

Sisi Positif Tarot dari Perspektif Psikologis

Meskipun tarot tidak memiliki dasar empiris sebagai alat prediksi, bukan berarti tarot tidak memiliki nilai psikologis. Banyak orang terutama remaja dan dewasa muda yang menggunakan tarot bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memahami diri sendiri. Di sinilah tarot berfungsi sebagai medium refleksi yang dapat membantu proses emosi dan pengambilan keputusan.

Pertama, tarot dapat memfasilitasi refleksi diri yang terstruktur. Melalui simbol-simbol yang kaya makna, orang terdorong menanyakan hal-hal yang jarang mereka hadapi dalam rutinitas seperti, “Kenapa aku takut mengambil keputusan?” “Apa yang sedang aku hindari?” “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” Dalam psikologi, ini sejalan dengan proses guided introspection, yakni metode mendorong individu mengeksplorasi pikiran dan perasaannya lewat stimulus tertentu.

Kedua, tarot berfungsi sebagai alat validasi emosional. Banyak pengguna merasa “didengar” atau “dipahami,” bukan karena kartunya akurat, tetapi karena interpretasi pembacanya mampu menangkap dinamika emosional yang sedang berlangsung. Dalam konteks kesehatan mental, pengalaman merasa dipahami meski diperantarai simbol dapat meredakan kecemasan dan meningkatkan kejelasan kognitif.

Ketiga, tarot dapat memicu percakapan emosional yang sulit. Bagi sebagian orang, membicarakan masalah hidup secara langsung terasa berat atau mengancam. Dengan adanya media simbolik, pembicaraan bisa diarahkan melalui metafora, membuatnya lebih aman. Fenomena ini mirip dengan teknik projective storytelling yang digunakan dalam psikologi, dimana seseorang mengekspresikan konflik internal melalui cerita atau gambar.

Keempat, tarot membantu individu melihat masalah dari perspektif alternatif. Saat menghadapi dilema, kartu-kartu tarot kadang “memaksa” pengguna untuk mempertimbangkan sisi lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Meskipun tidak objektif, proses ini menghasilkan fleksibilitas kognitif, suatu komponen penting dalam kemampuan pemecahan masalah.

Selain itu, tarot juga memiliki fungsi ritualistik yang menenangkan. Aktivitas merapikan kartu, menarik satu kartu, lalu merenungkannya menciptakan momen jeda yang mirip praktik mindfulness. Dalam ritme hidup yang cepat, momen hening seperti ini menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak dan mengatur ulang emosi.

Dengan kata lain kekuatan tarot bukan pada prediksi, tetapi pada kemampuannya membuka ruang reflektif yang sering kali sulit kita ciptakan sendiri.

Mengapa Tarot Terasa Akurat? Barnum Effect and  Cognitive Bias

Salah satu alasan terbesar banyak orang merasa “kok bacaan tarot pas banget ya?” adalah karena otak manusia memang sangat mudah memberi makna pada informasi yang samar. Ada beberapa mekanisme psikologis yang membuat bacaan tarot terasa relevan, meskipun isinya sebenarnya cukup umum atau bisa berlaku buat siapa saja.

Barnum Effect

Efek Barnum adalah kecenderungan kita untuk menganggap deskripsi yang samar dan luas sebagai gambaran yang sangat personal. Misalnya:

  • “Kamu tipe yang peduli sama orang lain, tapi kadang merasa nggak dihargai.
  • “Siapa sih yang nggak pernah ngerasa begitu?

      Kartu-kartu tarot sering menggunakan simbol yang fleksibel misal “The Moon”, “The Lovers”, “The Tower” yang maknanya sangat bisa disesuaikan dengan pengalaman pribadi. Akhirnya, otak kita “mengisi celah” itu sendiri dengan detail hidup kita, sehingga bacaan terasa akurat.

      Confirmation Bias

      Ketika kita sudah ingin mencari jawaban, kita cenderung memperhatikan bagian bacaan yang cocok dengan situasi kita, dan mengabaikan yang tidak cocok. Misalnya kartu memperingatkan “akan ada konflik kecil”. Kalau hari itu kamu cekcok kecil dengan teman, kamu langsung: “Nah kan bener.” Kalau nggak ada apa-apa? Ya… kita lupa. Otak kita memilih data yang mendukung ekspektasi.

      Availability Heuristic

      Ini adalah bias di mana kita menganggap sesuatu itu benar atau penting hanya karena kita bisa dengan mudah mengingat contoh yang relevan. Contoh: tarot bilang “kamu sedang banyak beban emosional.” Kita langsung ingat satu masalah yang lagi bikin stres padahal masalah kecil itu mungkin cuma sebagian kecil dari hari-hari kita.

      Ambiguity Advantage

      Lucu tapi nyata, prediksi yang samar lebih sering dianggap akurat daripada prediksi yang spesifik. Kartu tarot justru kuat di sini. Simbol-simbolnya tidak pernah memberi jawaban rigid seperti “tanggal 12 kamu akan dapat pekerjaan baru”, tapi lebih seperti “ada peluang baru yang membutuhkan kesiapan mental”. Karena tidak spesifik, peluang “tepat” jadi tinggi.

      Emotional Resonance

      Kita biasanya membaca tarot saat sedang galau, bimbang, atau butuh pencerahan. Dalam kondisi emosional seperti itu, kita lebih terbuka terhadap makna apa pun yang terasa menenangkan atau memvalidasi perasaan. Bacaan yang memberi pengakuan terhadap emosi kita sering terasa sangat benar bukan karena prediksinya akurat, tetapi karena kita merasa didengar.

      Maka dapat dipahami bahwa akurasi tarot sering kali bukan berasal dari kemampuan prediktif kartu itu sendiri, melainkan dari cara otak kita memproses informasi yang ambigu. Efek Barnum, bias konfirmasi, dan kebutuhan emosional kita membuat simbol-simbol tarot terasa sangat personal. Bacaan yang sifatnya fleksibel memberi ruang bagi kita untuk mengisi makna dengan pengalaman pribadi, sehingga muncullah ilusi “ketepatan”. Dengan memahami cara kerja psikologis ini, kita bisa menikmati tarot tanpa terseret oleh kesan akurat yang sebenarnya muncul dari pikiran kita sendiri.

      Nah, di titik ini kita bisa melihat bahwa tarot bekerja sangat kuat pada ranah persepsi dan itu nggak salah, selama kita sadar batasannya. Tapi justru karena tarot terasa begitu akurat, di sinilah risiko psikologis mulai muncul. Ketika bacaan yang sifatnya simbolik dan interpretatif berubah menjadi dasar keputusan hidup, atau ketika kontrol personal bergeser dari diri kita ke “kartu”, dampaknya bisa jadi cukup signifikan. Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya, apa saja risiko yang perlu diwaspadai ketika tarot mulai memengaruhi rasa kendali dan arah hidup seseorang.

      Ketika Tarot Menggeser Kendali Hidup

      Meski tarot bisa menjadi ruang refleksi yang bermanfaat, sisi rentannya muncul ketika seseorang mulai memperlakukan kartu sebagai sumber kepastian. Dalam situasi stres, cemas, atau bingung mengambil keputusan, individu cenderung mencari pegangan yang terasa stabil. Tarot dengan simbol dan narasi yang tampak meyakinkan dapat memberi ilusi arah, tetapi justru di situlah jebakannya. Ketika interpretasi kartu mulai diposisikan setara dengan penilaian rasional, atau bahkan menggantikannya sama sekali, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan otonom perlahan melemah.

      Risiko lain muncul ketika tarot dijadikan “otoritas moral” yang menentukan hubungan, pekerjaan, atau langkah penting hidup. Ketergantungan seperti ini membuat individu menunda tanggung jawab pribadi, dan pada akhirnya mengaburkan kemampuan mereka untuk menilai realitas secara objektif. Dari perspektif klinis, pola ini bisa beresonansi dengan mekanisme pelarian, dimana individu lebih memilih jawaban instan daripada proses berpikir yang mungkin menantang atau tidak nyaman.

      Pada level sosial, tarot juga bisa memperkuat bias atau keyakinan yang tidak akurat. Jika seseorang membaca kartu melalui perspektif yang penuh ketakutan atau asumsi negatif, bacaan itu justru akan memperkuat persepsi tersebut yang kemudian membentuk lingkaran setan yang sebenarnya berasal dari pikiran sendiri, bukan dari “pesan kartu”. Tanpa disadari, tarot dapat berubah dari media eksplorasi menjadi alat amplifikasi kekhawatiran.

      Namun, penting ditekankan bahwa risiko-risiko ini bukanlah produk tarot sebagai alat, melainkan cara pengguna memaknai dan bergantung padanya. Tarot tidak berbahaya pada dirinya sendiri yang berbahaya adalah ketika kontrol psikologis bergeser dari diri ke objek simbolik.

      Pada akhirnya, tarot bukan harus ditempatkan sebagai musuh sains atau sekutu tak tergantikan dalam mengambil keputusan. Tarot berada di tengah-tengah. Sebuah alat naratif yang dapat membantu refleksi diri, memperluas imajinasi psikologis, dan memberi ruang untuk memahami perasaan yang sulit dijelaskan. Kebermanfaatannya muncul ketika kita tahu batasnya.

      Dengan memahami sisi positifnya, mengenali bias kognitif yang membuatnya terasa akurat, dan menyadari risiko ketika tarot mulai menggeser kendali personal, kita bisa menikmati tarot sebagai medium refleksi bukan kompas hidup. Tarot paling sehat ketika menjadi sarana untuk berdialog dengan diri sendiri, bukan pengganti penilaian rasional. Pada titik itu, tarot bukan lagi tentang ramalan, tetapi tentang cara kita memberi bahasa pada pengalaman manusia yang kompleks. [T]

      Penulis: Isran Kamal
      Editor: Adnyana Ole

      Tags: kartu tarotPsikologisimbolTarot
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

      Next Post

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Isran Kamal

      Isran Kamal

      Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

      Related Posts

      Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

      by Vito Prasetyo
      October 2, 2026
      0
      Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

      KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

      Read moreDetails

      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

      by Ari Murdimanto
      October 2, 2026
      0
      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

      Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

      Read moreDetails

      Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

      by Tri Nugroho Adi
      October 2, 2026
      0
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

      SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

      Read moreDetails

      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

      by I Wayan Yudana
      October 1, 2026
      0
      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

      SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

      Read moreDetails

      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

      by Teguh Wahyu Pranata
      October 1, 2026
      0
      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

      ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

      Read moreDetails

      Manusia Purba di Kota Denpasar

      by Angga Wijaya
      October 1, 2026
      0
      Manusia Purba di Kota Denpasar

      SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

      Read moreDetails

      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

      by Agung Sudarsa
      September 30, 2026
      0
      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

      vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

      Read moreDetails

      Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

      by Chusmeru
      September 30, 2026
      0
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

      DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

      Read moreDetails

      Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

      by Putu Arya Nugraha
      September 29, 2026
      0
      Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

      PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

      Read moreDetails

      Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

      by Ahmad Hirzan Anwari
      September 29, 2026
      0
      Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

      PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

      Read moreDetails
      Next Post
      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

        0 shares
        Share 0 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
      Esai

      Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

      KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

      by Vito Prasetyo
      October 2, 2026
      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
      Esai

      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

      Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

      by Ari Murdimanto
      October 2, 2026
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
      Esai

      Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

      SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

      by Tri Nugroho Adi
      October 2, 2026
      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
      Esai

      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

      SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

      by I Wayan Yudana
      October 1, 2026
      Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
      Khas

      Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

      Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

      by Rusdy Ulu
      October 1, 2026
      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
      Esai

      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

      ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

      by Teguh Wahyu Pranata
      October 1, 2026
      Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
      Panggung

      Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

      PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

      by Nyoman Budarsana
      October 1, 2026
      Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
      Pop

      Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

      ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

      by Nyoman Budarsana
      October 1, 2026
      Manusia Purba di Kota Denpasar
      Esai

      Manusia Purba di Kota Denpasar

      SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

      by Angga Wijaya
      October 1, 2026
      Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
      Khas

      Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

      “CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

      by Dede Putra Wiguna
      October 1, 2026
      Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
      Olahraga

      Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

      KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

      by Jaswanto
      October 1, 2026
      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
      Esai

      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

      vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

      by Agung Sudarsa
      September 30, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co