14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarot dan  Psikologi: Antara Simbol, Validasi Emosi, dan Bias Kognitif

Isran Kamal by Isran Kamal
November 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAROT sedang berada dalam masa keemasannya. Di TikTok, Instagram, hingga marketplace, kartu tarot muncul di mana-mana, mulai dari sesi reading live, rekomendasi karier berdasarkan kartu, sampai paket “healing melalui tarot” yang laris manis.

Yang menarik, pengguna terbesarnya bukan lagi komunitas spiritual tradisional, melainkan remaja dan dewasa muda yang tumbuh di era internet. Tarot berubah dari sekadar alat ramalan menjadi cultural moment yang memberi ruang aman bagi orang-orang yang sedang bingung, patah, atau butuh validasi emosional cepat.

Popularitas ini bukan tanpa alasan. Generasi sekarang hidup dalam tekanan tinggi seperti tuntutan akademik, tuntutan kerja, relasi yang kompleks, dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Dalam situasi seperti ini, tarot menawarkan sesuatu yang jarang diberikan kehidupan modern yaitu  berupa sense of clarity.

Tarot memberi kesan bahwa hidup yang kacau bisa diterjemahkan dalam simbol, pola, dan narasi. Bahkan ketika seseorang tidak benar-benar percaya bahwa kartu dapat “melihat masa depan,” banyak yang tetap merasa terbantu secara emosional.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apa yang sebenarnya membuat tarot begitu terasa relevan bagi publik? Jika tarot bukan metode ilmiah untuk memprediksi masa depan, mengapa jutaan orang merasa “tersentuh,” “ditampar realita,” atau “jadi tercerahkan” setelah satu sesi reading? Jawabannya justru banyak berakar pada psikologi manusia dimana hal ini berkaitan dengan cara kita mencari makna, memahami diri, dan meredakan kecemasan.

Untuk itu, kita perlu membedah tarot bukan sebagai benda mistik, tetapi sebagai fenomena psikologis. Dan untuk memulai, kita harus memahami bagaimana simbol-simbol tarot bekerja pada pikiran manusia.

Tarot sebagai Bahasa Simbol: Kenapa Kartu Bisa “Berbicara” ke Pikiran Manusia

Tarot bekerja bukan karena memiliki kekuatan supranatural, tetapi karena tarot memanfaatkan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu kemampuan kita menafsirkan simbol dan mencari makna dalam pola. Psikologi kognitif sudah lama menunjukkan bahwa manusia adalah meaning-making creatures. Kita cenderung menghubungkan gambar, warna, dan metafora dengan pengalaman pribadi, lalu menyusunnya menjadi narasi yang terasa relevan.

Setiap kartu tarot entah itu The Fool, The Tower, atau The Empress mengandung simbol arketipal yang sudah dikenali oleh banyak budaya. Perjalanan, ketakutan, kehancuran, kelimpahan, kasih sayang, kehilangan, kelahiran baru. Ini membuat tarot bekerja seperti “bahasa proyek” bagi pikiran bawah sadar. Kita melihat motif umum dan otomatis menghubungkannya dengan fase hidup kita sendiri.

Prinsip psikologi persepsi juga berperan di sini. Ketika menghadapi stimulus ambigu, otak manusia akan berusaha mengisi kekosongan makna dengan pengalaman subjektif. Ini serupa dengan bagaimana kita melihat bentuk wajah di awan, atau merasa lirik lagu tertentu “ngena banget” padahal lagu itu ditulis untuk pengalaman orang lain.

Dalam konteks tarot, simbol-simbol itu bertindak sebagai mirror, bukan oracle. Kartu tidak memberi jawaban objektif, simbol tersebut memicu refleksi internal yang kemudian kita rasakan sebagai “pesan” atau “insight.” Karena itu dua orang yang membaca kartu sama bisa menghasilkan interpretasi yang sepenuhnya berbeda yang menentukan bukan kartunya, tetapi dunia psikologis orang yang membaca.

Di sinilah kekuatan sekaligus keterbatasan tarot, kartu tarot bisa sangat resonan secara emosional, namun justru karena sangat subjektif, tarot tidak dapat berfungsi sebagai alat prediksi yang bisa diuji secara ilmiah.

Sisi Positif Tarot dari Perspektif Psikologis

Meskipun tarot tidak memiliki dasar empiris sebagai alat prediksi, bukan berarti tarot tidak memiliki nilai psikologis. Banyak orang terutama remaja dan dewasa muda yang menggunakan tarot bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memahami diri sendiri. Di sinilah tarot berfungsi sebagai medium refleksi yang dapat membantu proses emosi dan pengambilan keputusan.

Pertama, tarot dapat memfasilitasi refleksi diri yang terstruktur. Melalui simbol-simbol yang kaya makna, orang terdorong menanyakan hal-hal yang jarang mereka hadapi dalam rutinitas seperti, “Kenapa aku takut mengambil keputusan?” “Apa yang sedang aku hindari?” “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” Dalam psikologi, ini sejalan dengan proses guided introspection, yakni metode mendorong individu mengeksplorasi pikiran dan perasaannya lewat stimulus tertentu.

Kedua, tarot berfungsi sebagai alat validasi emosional. Banyak pengguna merasa “didengar” atau “dipahami,” bukan karena kartunya akurat, tetapi karena interpretasi pembacanya mampu menangkap dinamika emosional yang sedang berlangsung. Dalam konteks kesehatan mental, pengalaman merasa dipahami meski diperantarai simbol dapat meredakan kecemasan dan meningkatkan kejelasan kognitif.

Ketiga, tarot dapat memicu percakapan emosional yang sulit. Bagi sebagian orang, membicarakan masalah hidup secara langsung terasa berat atau mengancam. Dengan adanya media simbolik, pembicaraan bisa diarahkan melalui metafora, membuatnya lebih aman. Fenomena ini mirip dengan teknik projective storytelling yang digunakan dalam psikologi, dimana seseorang mengekspresikan konflik internal melalui cerita atau gambar.

Keempat, tarot membantu individu melihat masalah dari perspektif alternatif. Saat menghadapi dilema, kartu-kartu tarot kadang “memaksa” pengguna untuk mempertimbangkan sisi lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Meskipun tidak objektif, proses ini menghasilkan fleksibilitas kognitif, suatu komponen penting dalam kemampuan pemecahan masalah.

Selain itu, tarot juga memiliki fungsi ritualistik yang menenangkan. Aktivitas merapikan kartu, menarik satu kartu, lalu merenungkannya menciptakan momen jeda yang mirip praktik mindfulness. Dalam ritme hidup yang cepat, momen hening seperti ini menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak dan mengatur ulang emosi.

Dengan kata lain kekuatan tarot bukan pada prediksi, tetapi pada kemampuannya membuka ruang reflektif yang sering kali sulit kita ciptakan sendiri.

Mengapa Tarot Terasa Akurat? Barnum Effect and  Cognitive Bias

Salah satu alasan terbesar banyak orang merasa “kok bacaan tarot pas banget ya?” adalah karena otak manusia memang sangat mudah memberi makna pada informasi yang samar. Ada beberapa mekanisme psikologis yang membuat bacaan tarot terasa relevan, meskipun isinya sebenarnya cukup umum atau bisa berlaku buat siapa saja.

Barnum Effect

Efek Barnum adalah kecenderungan kita untuk menganggap deskripsi yang samar dan luas sebagai gambaran yang sangat personal. Misalnya:

  • “Kamu tipe yang peduli sama orang lain, tapi kadang merasa nggak dihargai.
  • “Siapa sih yang nggak pernah ngerasa begitu?

      Kartu-kartu tarot sering menggunakan simbol yang fleksibel misal “The Moon”, “The Lovers”, “The Tower” yang maknanya sangat bisa disesuaikan dengan pengalaman pribadi. Akhirnya, otak kita “mengisi celah” itu sendiri dengan detail hidup kita, sehingga bacaan terasa akurat.

      Confirmation Bias

      Ketika kita sudah ingin mencari jawaban, kita cenderung memperhatikan bagian bacaan yang cocok dengan situasi kita, dan mengabaikan yang tidak cocok. Misalnya kartu memperingatkan “akan ada konflik kecil”. Kalau hari itu kamu cekcok kecil dengan teman, kamu langsung: “Nah kan bener.” Kalau nggak ada apa-apa? Ya… kita lupa. Otak kita memilih data yang mendukung ekspektasi.

      Availability Heuristic

      Ini adalah bias di mana kita menganggap sesuatu itu benar atau penting hanya karena kita bisa dengan mudah mengingat contoh yang relevan. Contoh: tarot bilang “kamu sedang banyak beban emosional.” Kita langsung ingat satu masalah yang lagi bikin stres padahal masalah kecil itu mungkin cuma sebagian kecil dari hari-hari kita.

      Ambiguity Advantage

      Lucu tapi nyata, prediksi yang samar lebih sering dianggap akurat daripada prediksi yang spesifik. Kartu tarot justru kuat di sini. Simbol-simbolnya tidak pernah memberi jawaban rigid seperti “tanggal 12 kamu akan dapat pekerjaan baru”, tapi lebih seperti “ada peluang baru yang membutuhkan kesiapan mental”. Karena tidak spesifik, peluang “tepat” jadi tinggi.

      Emotional Resonance

      Kita biasanya membaca tarot saat sedang galau, bimbang, atau butuh pencerahan. Dalam kondisi emosional seperti itu, kita lebih terbuka terhadap makna apa pun yang terasa menenangkan atau memvalidasi perasaan. Bacaan yang memberi pengakuan terhadap emosi kita sering terasa sangat benar bukan karena prediksinya akurat, tetapi karena kita merasa didengar.

      Maka dapat dipahami bahwa akurasi tarot sering kali bukan berasal dari kemampuan prediktif kartu itu sendiri, melainkan dari cara otak kita memproses informasi yang ambigu. Efek Barnum, bias konfirmasi, dan kebutuhan emosional kita membuat simbol-simbol tarot terasa sangat personal. Bacaan yang sifatnya fleksibel memberi ruang bagi kita untuk mengisi makna dengan pengalaman pribadi, sehingga muncullah ilusi “ketepatan”. Dengan memahami cara kerja psikologis ini, kita bisa menikmati tarot tanpa terseret oleh kesan akurat yang sebenarnya muncul dari pikiran kita sendiri.

      Nah, di titik ini kita bisa melihat bahwa tarot bekerja sangat kuat pada ranah persepsi dan itu nggak salah, selama kita sadar batasannya. Tapi justru karena tarot terasa begitu akurat, di sinilah risiko psikologis mulai muncul. Ketika bacaan yang sifatnya simbolik dan interpretatif berubah menjadi dasar keputusan hidup, atau ketika kontrol personal bergeser dari diri kita ke “kartu”, dampaknya bisa jadi cukup signifikan. Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya, apa saja risiko yang perlu diwaspadai ketika tarot mulai memengaruhi rasa kendali dan arah hidup seseorang.

      Ketika Tarot Menggeser Kendali Hidup

      Meski tarot bisa menjadi ruang refleksi yang bermanfaat, sisi rentannya muncul ketika seseorang mulai memperlakukan kartu sebagai sumber kepastian. Dalam situasi stres, cemas, atau bingung mengambil keputusan, individu cenderung mencari pegangan yang terasa stabil. Tarot dengan simbol dan narasi yang tampak meyakinkan dapat memberi ilusi arah, tetapi justru di situlah jebakannya. Ketika interpretasi kartu mulai diposisikan setara dengan penilaian rasional, atau bahkan menggantikannya sama sekali, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan otonom perlahan melemah.

      Risiko lain muncul ketika tarot dijadikan “otoritas moral” yang menentukan hubungan, pekerjaan, atau langkah penting hidup. Ketergantungan seperti ini membuat individu menunda tanggung jawab pribadi, dan pada akhirnya mengaburkan kemampuan mereka untuk menilai realitas secara objektif. Dari perspektif klinis, pola ini bisa beresonansi dengan mekanisme pelarian, dimana individu lebih memilih jawaban instan daripada proses berpikir yang mungkin menantang atau tidak nyaman.

      Pada level sosial, tarot juga bisa memperkuat bias atau keyakinan yang tidak akurat. Jika seseorang membaca kartu melalui perspektif yang penuh ketakutan atau asumsi negatif, bacaan itu justru akan memperkuat persepsi tersebut yang kemudian membentuk lingkaran setan yang sebenarnya berasal dari pikiran sendiri, bukan dari “pesan kartu”. Tanpa disadari, tarot dapat berubah dari media eksplorasi menjadi alat amplifikasi kekhawatiran.

      Namun, penting ditekankan bahwa risiko-risiko ini bukanlah produk tarot sebagai alat, melainkan cara pengguna memaknai dan bergantung padanya. Tarot tidak berbahaya pada dirinya sendiri yang berbahaya adalah ketika kontrol psikologis bergeser dari diri ke objek simbolik.

      Pada akhirnya, tarot bukan harus ditempatkan sebagai musuh sains atau sekutu tak tergantikan dalam mengambil keputusan. Tarot berada di tengah-tengah. Sebuah alat naratif yang dapat membantu refleksi diri, memperluas imajinasi psikologis, dan memberi ruang untuk memahami perasaan yang sulit dijelaskan. Kebermanfaatannya muncul ketika kita tahu batasnya.

      Dengan memahami sisi positifnya, mengenali bias kognitif yang membuatnya terasa akurat, dan menyadari risiko ketika tarot mulai menggeser kendali personal, kita bisa menikmati tarot sebagai medium refleksi bukan kompas hidup. Tarot paling sehat ketika menjadi sarana untuk berdialog dengan diri sendiri, bukan pengganti penilaian rasional. Pada titik itu, tarot bukan lagi tentang ramalan, tetapi tentang cara kita memberi bahasa pada pengalaman manusia yang kompleks. [T]

      Penulis: Isran Kamal
      Editor: Adnyana Ole

      Tags: kartu tarotPsikologisimbolTarot
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

      Next Post

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Isran Kamal

      Isran Kamal

      Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

      Related Posts

      Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

      by Afgan Fadilla
      July 13, 2026
      0
      Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

      PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

      Read moreDetails

      HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

      by Sugi Lanus
      July 12, 2026
      0
      PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

      — Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

      Read moreDetails

      Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

      by I Wayan Artika
      July 12, 2026
      0
      Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

      Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

      Read moreDetails

      Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

      by Agung Bawantara
      July 12, 2026
      0
      Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

      Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

      Read moreDetails

      Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

      by Wayan Gde Yudane
      July 11, 2026
      0
      Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

      ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

      Read moreDetails

      Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

      by I Gede Made Surya Darma
      July 10, 2026
      0
      Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

      DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

      Read moreDetails

      Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

      by Chusmeru
      July 10, 2026
      0
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

      Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

      Read moreDetails

      Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

      by Nur Inayah Yushar
      July 9, 2026
      0
      Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

      SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

      Read moreDetails

      Bali, Surga yang Sudah Overload

      by Agung Sudarsa
      July 9, 2026
      0
      Bali, Surga yang Sudah Overload

      Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

      Read moreDetails

      Bunglon di Republik Kita

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      July 8, 2026
      0
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

      DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

      Read moreDetails
      Next Post
      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

        23 shares
        Share 23 Tweet 0
      • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

        0 shares
        Share 0 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
      Khas

      Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

      DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

      by Nyoman Budarsana
      July 14, 2026
      Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
      Panggung

      Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

      BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

      by Nyoman Budarsana
      July 14, 2026
      Ketika Waktu Berpindah Tangan
      Ulas Musik

      Ketika Waktu Berpindah Tangan

      Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

      by Ahmad Sihabudin
      July 13, 2026
      Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
      Tualang

      Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

      MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

      by Chusmeru
      July 13, 2026
      Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
      Khas

      Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

       “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

      by Dede Putra Wiguna
      July 13, 2026
      Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
      Esai

      Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

      PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

      by Afgan Fadilla
      July 13, 2026
      Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
      Panggung

      Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

      DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

      by Nyoman Budarsana
      July 13, 2026
      Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
      Panggung

      Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

      DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

      by Nyoman Budarsana
      July 13, 2026
      “Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
      Panggung

      “Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

      PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

      by Nyoman Budarsana
      July 13, 2026
      Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
      Panggung

      Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

      Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

      by Nyoman Budarsana
      July 12, 2026
      PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
      Esai

      HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

      — Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

      by Sugi Lanus
      July 12, 2026
      Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
      Khas

      Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

      PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

      by Dede Putra Wiguna
      July 12, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co