23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 22, 2025
in Esai
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas. Esai itu bukan sekadar catatan jurnalistik, melainkan persembahan untuk Umbu Landu Paranggi (1943-2021), penyair misterius yang hidupnya menjelma legenda. Umbu dikenal sebagai sosok bohemian yang setia kepada puisi dan bukan kepada popularitas.

Dalam tulisannya, Putu Fajar Arcana menggambarkan bagaimana Umbu sejak muda telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada puisi. Dari Sumba ia berangkat ke Yogyakarta, menulis sajak-sajak yang membuatnya dihukum di sekolah, tetapi tidak pernah membuatnya gentar. Umbu menempuh jalan sunyi kepenyairan dengan cinta yang total dan pengabdian yang membabi buta kepada kesenian, tulis Arcana.

Cinta dalam konteks itu bukan romantisme, melainkan daya hidup. Sebuah kekuatan yang membuat seseorang tahan menghadapi kesunyian, kerja keras, dan ketidakpastian. Umbu tidak punya ambisi menjadi terkenal. Ia bahkan menghindar dari panggung ketika diberi penghargaan bergengsi. Ia memilih menghilang, sebab bagi Umbu, puisi adalah jalan pencarian, bukan tujuan akhir.

Dari Umbu, kita belajar bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi laku hidup. Ia menulis dalam puisinya yang terkenal, Melodia,

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan,

karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.

Larik itu seolah menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa bertahan di tengah hidup yang melelahkan, dunia kerja yang keras, atau hubungan yang sering retak karena kesalahpahaman.

Sebagai wartawan, saya sering mendapat tugas untuk meliput kegiatan DPRD Badung, Bali. Seperti biasa, setelah acara usai, para undangan dan wartawan mendapat nasi kotak sebagai makan siang. Saya tidak langsung memakannya, melainkan menaruhnya di dalam tas punggung yang selalu saya bawa saat liputan.

Setelah berpamitan kepada rekan-rekan wartawan, saya bergegas meninggalkan kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang megah. Di luar, langit mulai gelap. Mendung menggantung tebal. Saya menuju sebuah kedai kecil di dekat jalan masuk Puspem. Setelah memesan kopi panas, saya duduk di bangku kayu di pojok kedai. Tak lama kemudian, hujan turun deras.

Kopi saya nikmati perlahan. Sembari menunggu hujan reda, saya mengetik berita dari liputan tadi. Tak sampai tiga puluh menit, berita rampung dan saya kirimkan kepada redaktur. Di luar, hujan mulai menipis. Saya membuka aplikasi ojek online di ponsel, lalu memesan kurir untuk mengirim nasi kotak itu kepada tunangan saya di tempat kerjanya.

Beberapa menit kemudian, pengemudi datang menjemput ke kedai. Setelah membayar, ia segera meluncur ke arah tempat tunangan saya bekerja. Saya tahu, ia akan senang menerimanya. Hal sederhana seperti itu sudah sering saya lakukan. Entah mengapa, jika makan sendiri, selalu terasa ada yang kurang.

Tunangan saya banyak menolong saya selama di kota rantau ini. Ia menjadi teman berbagi, pendengar yang sabar, penenang di kala pikiran saya kacau. Ia tidak selalu sempurna, pun saya. Namun kami sama-sama belajar bertahan. Saya percaya, cinta bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih sabar.

Cintalah yang membuat diri bertahan, kata Umbu. Dan saya kini benar-benar mengerti maknanya.

Kadang cinta tidak perlu dirayakan dengan kata-kata besar. Ia cukup hadir dalam bentuk kecil, secangkir kopi panas di tengah hujan, sebuah nasi kotak yang dikirim diam-diam, pesan singkat bertuliskan “hati-hati di jalan”, atau tatapan lelah yang tetap mengandung harapan.

Cinta, seperti puisi bagi Umbu, adalah cara untuk menanam di ladang diri. Nandurin karang awak, kata Umbu suatu kali kepada Arcana di Pantai Sindhu, Sanur. Ia adalah proses menyemai dan mengolah batin agar tidak kering oleh rutinitas.

Saya sering berpikir betapa rapuhnya manusia tanpa cinta. Ia bisa cerdas, berprestasi, dan dihormati, tetapi sekaligus mudah hancur oleh kesepian. Hubungan bisa retak karena gengsi, persahabatan bisa renggang karena salah paham. Namun pada akhirnya, sesuatu yang misterius yang kita sebut cinta membuat kita mau memaafkan, mengulurkan tangan, dan kembali bicara dengan lembut.

Cinta juga yang membuat kita berani mengakui kesalahan. Kadang yang lebih sulit bukan memaafkan orang lain, melainkan memaafkan diri sendiri. Namun jika kita mencintai hidup, kita akan memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh kembali.

Begitulah, cinta adalah perekat segalanya. Ia tidak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi terasa dalam tindakan sehari-hari yang kecil dan tulus. Bahkan dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, ketika menulis berita yang barangkali biasa saja, cinta membuat saya bertahan kepada profesi, kepada pembaca, kepada hidup.

Umbu Landu Paranggi memang akhirnya memiliki buku kumpulan sajak tunggal, tapi itu diterbitkan sebagai penghormatan setelah beliau berpulang. Hidupnya sendiri adalah sajak yang terus ditulis ulang. Ia berjalan di jalan sunyi, namun langkahnya meninggalkan gema bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.

Dan kini saya percaya, memang cintalah yang membuat diri sesekali bertahan. Cinta kepada hidup, kepada pekerjaan, kepada orang-orang yang kita sayangi. Cinta yang sederhana, tetapi nyata.

Karena seperti kata Umbu,

“Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi.” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaPuisiUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co