25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 22, 2025
in Esai
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas. Esai itu bukan sekadar catatan jurnalistik, melainkan persembahan untuk Umbu Landu Paranggi (1943-2021), penyair misterius yang hidupnya menjelma legenda. Umbu dikenal sebagai sosok bohemian yang setia kepada puisi dan bukan kepada popularitas.

Dalam tulisannya, Putu Fajar Arcana menggambarkan bagaimana Umbu sejak muda telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada puisi. Dari Sumba ia berangkat ke Yogyakarta, menulis sajak-sajak yang membuatnya dihukum di sekolah, tetapi tidak pernah membuatnya gentar. Umbu menempuh jalan sunyi kepenyairan dengan cinta yang total dan pengabdian yang membabi buta kepada kesenian, tulis Arcana.

Cinta dalam konteks itu bukan romantisme, melainkan daya hidup. Sebuah kekuatan yang membuat seseorang tahan menghadapi kesunyian, kerja keras, dan ketidakpastian. Umbu tidak punya ambisi menjadi terkenal. Ia bahkan menghindar dari panggung ketika diberi penghargaan bergengsi. Ia memilih menghilang, sebab bagi Umbu, puisi adalah jalan pencarian, bukan tujuan akhir.

Dari Umbu, kita belajar bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi laku hidup. Ia menulis dalam puisinya yang terkenal, Melodia,

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan,

karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.

Larik itu seolah menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa bertahan di tengah hidup yang melelahkan, dunia kerja yang keras, atau hubungan yang sering retak karena kesalahpahaman.

Sebagai wartawan, saya sering mendapat tugas untuk meliput kegiatan DPRD Badung, Bali. Seperti biasa, setelah acara usai, para undangan dan wartawan mendapat nasi kotak sebagai makan siang. Saya tidak langsung memakannya, melainkan menaruhnya di dalam tas punggung yang selalu saya bawa saat liputan.

Setelah berpamitan kepada rekan-rekan wartawan, saya bergegas meninggalkan kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang megah. Di luar, langit mulai gelap. Mendung menggantung tebal. Saya menuju sebuah kedai kecil di dekat jalan masuk Puspem. Setelah memesan kopi panas, saya duduk di bangku kayu di pojok kedai. Tak lama kemudian, hujan turun deras.

Kopi saya nikmati perlahan. Sembari menunggu hujan reda, saya mengetik berita dari liputan tadi. Tak sampai tiga puluh menit, berita rampung dan saya kirimkan kepada redaktur. Di luar, hujan mulai menipis. Saya membuka aplikasi ojek online di ponsel, lalu memesan kurir untuk mengirim nasi kotak itu kepada tunangan saya di tempat kerjanya.

Beberapa menit kemudian, pengemudi datang menjemput ke kedai. Setelah membayar, ia segera meluncur ke arah tempat tunangan saya bekerja. Saya tahu, ia akan senang menerimanya. Hal sederhana seperti itu sudah sering saya lakukan. Entah mengapa, jika makan sendiri, selalu terasa ada yang kurang.

Tunangan saya banyak menolong saya selama di kota rantau ini. Ia menjadi teman berbagi, pendengar yang sabar, penenang di kala pikiran saya kacau. Ia tidak selalu sempurna, pun saya. Namun kami sama-sama belajar bertahan. Saya percaya, cinta bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih sabar.

Cintalah yang membuat diri bertahan, kata Umbu. Dan saya kini benar-benar mengerti maknanya.

Kadang cinta tidak perlu dirayakan dengan kata-kata besar. Ia cukup hadir dalam bentuk kecil, secangkir kopi panas di tengah hujan, sebuah nasi kotak yang dikirim diam-diam, pesan singkat bertuliskan “hati-hati di jalan”, atau tatapan lelah yang tetap mengandung harapan.

Cinta, seperti puisi bagi Umbu, adalah cara untuk menanam di ladang diri. Nandurin karang awak, kata Umbu suatu kali kepada Arcana di Pantai Sindhu, Sanur. Ia adalah proses menyemai dan mengolah batin agar tidak kering oleh rutinitas.

Saya sering berpikir betapa rapuhnya manusia tanpa cinta. Ia bisa cerdas, berprestasi, dan dihormati, tetapi sekaligus mudah hancur oleh kesepian. Hubungan bisa retak karena gengsi, persahabatan bisa renggang karena salah paham. Namun pada akhirnya, sesuatu yang misterius yang kita sebut cinta membuat kita mau memaafkan, mengulurkan tangan, dan kembali bicara dengan lembut.

Cinta juga yang membuat kita berani mengakui kesalahan. Kadang yang lebih sulit bukan memaafkan orang lain, melainkan memaafkan diri sendiri. Namun jika kita mencintai hidup, kita akan memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh kembali.

Begitulah, cinta adalah perekat segalanya. Ia tidak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi terasa dalam tindakan sehari-hari yang kecil dan tulus. Bahkan dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, ketika menulis berita yang barangkali biasa saja, cinta membuat saya bertahan kepada profesi, kepada pembaca, kepada hidup.

Umbu Landu Paranggi memang akhirnya memiliki buku kumpulan sajak tunggal, tapi itu diterbitkan sebagai penghormatan setelah beliau berpulang. Hidupnya sendiri adalah sajak yang terus ditulis ulang. Ia berjalan di jalan sunyi, namun langkahnya meninggalkan gema bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.

Dan kini saya percaya, memang cintalah yang membuat diri sesekali bertahan. Cinta kepada hidup, kepada pekerjaan, kepada orang-orang yang kita sayangi. Cinta yang sederhana, tetapi nyata.

Karena seperti kata Umbu,

“Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi.” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaPuisiUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co