24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 17, 2025
in Esai
Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Prof. Satjipto Rahardjo dan Fritjof Capra | Foto: Google

DALAM sejarah pemikiran kontemporer, jarang sekali seorang ilmuwan fisika sistem dan seorang pakar hukum Indonesia berdialog melalui karya, pikiran, dan semangat zamannya. Namun itulah yang terjadi antara Fritjof Capra—fisikawan teoretis yang menggagas paradigma holistik—dan Prof. Satjipto Rahardjo, penggagas Hukum Progresif. Meski berasal dari disiplin berbeda, keduanya menyuarakan hal yang sama: kita sedang berada pada titik balik peradaban, dan paradigma lama tidak lagi memadai untuk realitas modern yang kompleks.

Buku Capra, The Turning Point, menjadi salah satu referensi penting dalam gagasan Hukum Progresif Satjipto. Di dalamnya, Capra menegaskan bahwa dunia tengah memasuki “titik balik” menuju cara berpikir baru. Satjipto menangkap gagasan besar itu dan menerjemahkannya ke dalam bidang hukum, melahirkan revolusi pemikiran yang menggeser hukum dari sekadar mesin aturan menuju sistem yang hidup.

Artikel ini menelusuri dialog intelektual keduanya: bagaimana Hukum Progresif tumbuh dari kritik Capra atas paradigma mekanistik, serta bagaimana gagasan “titik balik” memberi landasan filosofis bagi transformasi hukum Indonesia.

Krisis Paradigma: Dunia Mekanistik yang Runtuh

Capra menggambarkan abad ke-20 sebagai puncak keruntuhan paradigma mekanistik—cara berpikir yang memandang alam, manusia, dan masyarakat sebagai mesin dengan bagian-bagian yang terpisah. Dalam paradigma ini, sesuatu dianggap benar jika:

  • dapat diukur,
  • dapat diprediksi secara linear,
  • dapat dikendalikan melalui aturan,
  • dan dapat dipisah-pisahkan dari konteksnya.

Capra menilai cara berpikir inilah penyebab krisis ekologi, krisis sosial, dan krisis spiritual. Kehancuran alam, alienasi manusia modern, dan kegagalan institusi bukan sekadar kecelakaan sejarah—melainkan tanda bahwa paradigma mekanistik sudah rusak dari akarnya.

Satjipto melihat hal yang sama dalam hukum Indonesia: hukum diperlakukan sebagai mesin aturan, bukan sebagai ruang moral dan kemanusiaan.

Di sini, resonansi pemikiran keduanya terlihat jelas.

Satjipto Rahardjo: Hukum Bukan Mesin, Melainkan Organisme

Dalam pandangan hukum tradisional yang positivistik, hukum dianggap netral, objektif, dan bebas nilai. Tugas hakim adalah “mengaplikasikan aturan” seolah-olah ia adalah operator mesin.

Satjipto menggugat keras model ini. Baginya:

  • hukum bukan mesin,
  • hakim bukan robot,
  • dan masyarakat bukan objek pasif.

Ia memandang hukum sebagai sistem yang hidup, berubah bersama kehidupan sosial dan manusia yang menghidupinya. Sikap ini sangat Capra-sentris, karena paralel dengan anggapan Capra bahwa alam adalah jaringan hubungan (web of life) yang tidak dapat dipahami secara potongan-potongan.

Jika Capra menolak reduksionisme dalam sains, Satjipto menolak reduksionisme dalam hukum.

Paradigma Holistik: Titik Temu Capra dan Satjipto

Menurut Capra, dunia membutuhkan “paradigma holistik”: cara berpikir yang melihat keseluruhan, keterhubungan, konteks, nilai, dan dinamika.

Satjipto menerjemahkan gagasan itu dalam konteks hukum:

1. Hukum harus kontekstual

Tidak cukup membaca teks undang-undang; harus melihat realitas sosial yang melingkupinya.

2. Hukum harus memihak manusia

Hukum progresif menegaskan: “hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.”

3. Keadilan lebih penting daripada prosedur

Jika ada kesenjangan antara aturan dan keadilan substantif, tugas penegak hukum adalah berpihak pada keadilan.

4. Penegak hukum adalah subjek beretika

Seperti fisika kuantum yang menempatkan pengamat sebagai bagian dari sistem, hukum progresif menegaskan bahwa kesadaran hakim menentukan hasil hukum.

Di sinilah pesona dialog Capra–Satjipto: fisika modern memberikan legitimasi epistemologis bagi transformasi hukum.

Penolakan terhadap Fragmentasi Pengetahuan

Capra menyoroti masalah fundamental modernitas: pengetahuan dipisah-pisah, sehingga moral terlepas dari teknologi, manusia dari alam, dan hukum dari keadilan.

Satjipto mengkritik hal yang sama dalam dunia hukum: sering kali persoalan hukum ditangani seolah-olah ia steril dari sosiologi, politik, etika, atau psikologi. Hukum progresif menegaskan bahwa penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya.

Dengan demikian, hukum progresif mengembalikan hukum ke jantung kemanusiaan, sebagaimana Capra mengembalikan sains ke jantung ekologi dan spiritualitas.

Kesadaran sebagai Kunci: Dari Sains ke Etika Hukum

Salah satu gagasan terpenting Capra adalah bahwa perubahan besar tidak mungkin terjadi tanpa transformasi kesadaran. Teknologi dan aturan tidak cukup; manusia yang menjalankan sistem harus berubah cara berpikirnya.

Satjipto menggemakan hal ini dalam hukum:

  • korupsi tidak bisa diberantas hanya dengan UU,
  • keadilan tidak akan hadir hanya dengan prosedur,
  • penegakan hukum tidak akan bermartabat tanpa etika penegaknya.

Dengan demikian, kesadaran adalah inti dari hukum progresif.
Dan ini selaras dengan filsafat Capra: transformasi peradaban menuntut transformasi batin.

Titik Balik Peradaban = Titik Balik Hukum

Capra menyebut bahwa kita berada pada “the turning point”—momen ketika cara berpikir lama tidak lagi bekerja, dan sesuatu yang baru harus lahir.

Satjipto melihat hukum Indonesia berada dalam kondisi yang sama:
aturan banyak, tetapi keadilan tidak muncul; prosedur lengkap, tetapi manusia menderita.

Oleh karena itu, ia menyerukan revolusi paradigma: hukum progresif sebagai lompatan dari legalisme menuju hukum yang humanis.

Mengapa Capra Penting bagi Satjipto?

Ada tiga alasan utama mengapa The Turning Point menjadi rujukan penting bagi Satjipto:

1. Memberi landasan filsafat ilmu

Capra menyediakan kerangka epistemologis bahwa cara berpikir mekanistik harus ditinggalkan.

2. Menunjukkan bahwa disiplin berbeda dapat saling mengilhami

Jika fisika bisa berubah dari mekanistik ke kuantum, maka hukum pun bisa berubah dari positivistik ke progresif.

3. Menghubungkan hukum dengan jaringan kehidupan

Paradigma holistik Capra menguatkan gagasan Satjipto bahwa hukum adalah bagian dari kultur, moral, dan dinamika sosial.

Dua Jalan Menuju Kesadaran Baru

Fritjof Capra mengajak umat manusia menuju paradigma holistik, ekologis, dan spiritual. Prof. Satjipto Rahardjo mengajak bangsa Indonesia menuju hukum yang manusiawi, adaptif, dan progresif.

Keduanya berbicara kepada zaman yang sama: zaman krisis dan perubahan besar.
Keduanya menawarkan arah baru: paradigma kesadaran.

Maka dapat dikatakan:

Capra memberi “titik balik” bagi peradaban,
dan Satjipto menerjemahkan “titik balik” itu ke dalam hukum Indonesia.

Hukum progresif menjadi bukti nyata bahwa sains dan hukum dapat bertemu dalam panggilan yang sama: membebaskan manusia dan memulihkan martabat kehidupan.

Pertanyaan besar dan mendasar adalah, punyakah kita penegak hukum berintegritas seperti Albertina Ho, Hoegeng, Adnan Buyung Nasutian dan tokoh berintegritas lainnya yang setara? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Fritjof CaprahukumProf. Satjipto Rahardjo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan–Kuningan, Pendidikan, dan Autisme:  Merawat Dharma di Dalam Keluarga

Next Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co