13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 17, 2025
in Esai
Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Prof. Satjipto Rahardjo dan Fritjof Capra | Foto: Google

DALAM sejarah pemikiran kontemporer, jarang sekali seorang ilmuwan fisika sistem dan seorang pakar hukum Indonesia berdialog melalui karya, pikiran, dan semangat zamannya. Namun itulah yang terjadi antara Fritjof Capra—fisikawan teoretis yang menggagas paradigma holistik—dan Prof. Satjipto Rahardjo, penggagas Hukum Progresif. Meski berasal dari disiplin berbeda, keduanya menyuarakan hal yang sama: kita sedang berada pada titik balik peradaban, dan paradigma lama tidak lagi memadai untuk realitas modern yang kompleks.

Buku Capra, The Turning Point, menjadi salah satu referensi penting dalam gagasan Hukum Progresif Satjipto. Di dalamnya, Capra menegaskan bahwa dunia tengah memasuki “titik balik” menuju cara berpikir baru. Satjipto menangkap gagasan besar itu dan menerjemahkannya ke dalam bidang hukum, melahirkan revolusi pemikiran yang menggeser hukum dari sekadar mesin aturan menuju sistem yang hidup.

Artikel ini menelusuri dialog intelektual keduanya: bagaimana Hukum Progresif tumbuh dari kritik Capra atas paradigma mekanistik, serta bagaimana gagasan “titik balik” memberi landasan filosofis bagi transformasi hukum Indonesia.

Krisis Paradigma: Dunia Mekanistik yang Runtuh

Capra menggambarkan abad ke-20 sebagai puncak keruntuhan paradigma mekanistik—cara berpikir yang memandang alam, manusia, dan masyarakat sebagai mesin dengan bagian-bagian yang terpisah. Dalam paradigma ini, sesuatu dianggap benar jika:

  • dapat diukur,
  • dapat diprediksi secara linear,
  • dapat dikendalikan melalui aturan,
  • dan dapat dipisah-pisahkan dari konteksnya.

Capra menilai cara berpikir inilah penyebab krisis ekologi, krisis sosial, dan krisis spiritual. Kehancuran alam, alienasi manusia modern, dan kegagalan institusi bukan sekadar kecelakaan sejarah—melainkan tanda bahwa paradigma mekanistik sudah rusak dari akarnya.

Satjipto melihat hal yang sama dalam hukum Indonesia: hukum diperlakukan sebagai mesin aturan, bukan sebagai ruang moral dan kemanusiaan.

Di sini, resonansi pemikiran keduanya terlihat jelas.

Satjipto Rahardjo: Hukum Bukan Mesin, Melainkan Organisme

Dalam pandangan hukum tradisional yang positivistik, hukum dianggap netral, objektif, dan bebas nilai. Tugas hakim adalah “mengaplikasikan aturan” seolah-olah ia adalah operator mesin.

Satjipto menggugat keras model ini. Baginya:

  • hukum bukan mesin,
  • hakim bukan robot,
  • dan masyarakat bukan objek pasif.

Ia memandang hukum sebagai sistem yang hidup, berubah bersama kehidupan sosial dan manusia yang menghidupinya. Sikap ini sangat Capra-sentris, karena paralel dengan anggapan Capra bahwa alam adalah jaringan hubungan (web of life) yang tidak dapat dipahami secara potongan-potongan.

Jika Capra menolak reduksionisme dalam sains, Satjipto menolak reduksionisme dalam hukum.

Paradigma Holistik: Titik Temu Capra dan Satjipto

Menurut Capra, dunia membutuhkan “paradigma holistik”: cara berpikir yang melihat keseluruhan, keterhubungan, konteks, nilai, dan dinamika.

Satjipto menerjemahkan gagasan itu dalam konteks hukum:

1. Hukum harus kontekstual

Tidak cukup membaca teks undang-undang; harus melihat realitas sosial yang melingkupinya.

2. Hukum harus memihak manusia

Hukum progresif menegaskan: “hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.”

3. Keadilan lebih penting daripada prosedur

Jika ada kesenjangan antara aturan dan keadilan substantif, tugas penegak hukum adalah berpihak pada keadilan.

4. Penegak hukum adalah subjek beretika

Seperti fisika kuantum yang menempatkan pengamat sebagai bagian dari sistem, hukum progresif menegaskan bahwa kesadaran hakim menentukan hasil hukum.

Di sinilah pesona dialog Capra–Satjipto: fisika modern memberikan legitimasi epistemologis bagi transformasi hukum.

Penolakan terhadap Fragmentasi Pengetahuan

Capra menyoroti masalah fundamental modernitas: pengetahuan dipisah-pisah, sehingga moral terlepas dari teknologi, manusia dari alam, dan hukum dari keadilan.

Satjipto mengkritik hal yang sama dalam dunia hukum: sering kali persoalan hukum ditangani seolah-olah ia steril dari sosiologi, politik, etika, atau psikologi. Hukum progresif menegaskan bahwa penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya.

Dengan demikian, hukum progresif mengembalikan hukum ke jantung kemanusiaan, sebagaimana Capra mengembalikan sains ke jantung ekologi dan spiritualitas.

Kesadaran sebagai Kunci: Dari Sains ke Etika Hukum

Salah satu gagasan terpenting Capra adalah bahwa perubahan besar tidak mungkin terjadi tanpa transformasi kesadaran. Teknologi dan aturan tidak cukup; manusia yang menjalankan sistem harus berubah cara berpikirnya.

Satjipto menggemakan hal ini dalam hukum:

  • korupsi tidak bisa diberantas hanya dengan UU,
  • keadilan tidak akan hadir hanya dengan prosedur,
  • penegakan hukum tidak akan bermartabat tanpa etika penegaknya.

Dengan demikian, kesadaran adalah inti dari hukum progresif.
Dan ini selaras dengan filsafat Capra: transformasi peradaban menuntut transformasi batin.

Titik Balik Peradaban = Titik Balik Hukum

Capra menyebut bahwa kita berada pada “the turning point”—momen ketika cara berpikir lama tidak lagi bekerja, dan sesuatu yang baru harus lahir.

Satjipto melihat hukum Indonesia berada dalam kondisi yang sama:
aturan banyak, tetapi keadilan tidak muncul; prosedur lengkap, tetapi manusia menderita.

Oleh karena itu, ia menyerukan revolusi paradigma: hukum progresif sebagai lompatan dari legalisme menuju hukum yang humanis.

Mengapa Capra Penting bagi Satjipto?

Ada tiga alasan utama mengapa The Turning Point menjadi rujukan penting bagi Satjipto:

1. Memberi landasan filsafat ilmu

Capra menyediakan kerangka epistemologis bahwa cara berpikir mekanistik harus ditinggalkan.

2. Menunjukkan bahwa disiplin berbeda dapat saling mengilhami

Jika fisika bisa berubah dari mekanistik ke kuantum, maka hukum pun bisa berubah dari positivistik ke progresif.

3. Menghubungkan hukum dengan jaringan kehidupan

Paradigma holistik Capra menguatkan gagasan Satjipto bahwa hukum adalah bagian dari kultur, moral, dan dinamika sosial.

Dua Jalan Menuju Kesadaran Baru

Fritjof Capra mengajak umat manusia menuju paradigma holistik, ekologis, dan spiritual. Prof. Satjipto Rahardjo mengajak bangsa Indonesia menuju hukum yang manusiawi, adaptif, dan progresif.

Keduanya berbicara kepada zaman yang sama: zaman krisis dan perubahan besar.
Keduanya menawarkan arah baru: paradigma kesadaran.

Maka dapat dikatakan:

Capra memberi “titik balik” bagi peradaban,
dan Satjipto menerjemahkan “titik balik” itu ke dalam hukum Indonesia.

Hukum progresif menjadi bukti nyata bahwa sains dan hukum dapat bertemu dalam panggilan yang sama: membebaskan manusia dan memulihkan martabat kehidupan.

Pertanyaan besar dan mendasar adalah, punyakah kita penegak hukum berintegritas seperti Albertina Ho, Hoegeng, Adnan Buyung Nasutian dan tokoh berintegritas lainnya yang setara? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Fritjof CaprahukumProf. Satjipto Rahardjo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan–Kuningan, Pendidikan, dan Autisme:  Merawat Dharma di Dalam Keluarga

Next Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co