24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 17, 2025
in Esai
Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Prof. Satjipto Rahardjo dan Fritjof Capra | Foto: Google

DALAM sejarah pemikiran kontemporer, jarang sekali seorang ilmuwan fisika sistem dan seorang pakar hukum Indonesia berdialog melalui karya, pikiran, dan semangat zamannya. Namun itulah yang terjadi antara Fritjof Capra—fisikawan teoretis yang menggagas paradigma holistik—dan Prof. Satjipto Rahardjo, penggagas Hukum Progresif. Meski berasal dari disiplin berbeda, keduanya menyuarakan hal yang sama: kita sedang berada pada titik balik peradaban, dan paradigma lama tidak lagi memadai untuk realitas modern yang kompleks.

Buku Capra, The Turning Point, menjadi salah satu referensi penting dalam gagasan Hukum Progresif Satjipto. Di dalamnya, Capra menegaskan bahwa dunia tengah memasuki “titik balik” menuju cara berpikir baru. Satjipto menangkap gagasan besar itu dan menerjemahkannya ke dalam bidang hukum, melahirkan revolusi pemikiran yang menggeser hukum dari sekadar mesin aturan menuju sistem yang hidup.

Artikel ini menelusuri dialog intelektual keduanya: bagaimana Hukum Progresif tumbuh dari kritik Capra atas paradigma mekanistik, serta bagaimana gagasan “titik balik” memberi landasan filosofis bagi transformasi hukum Indonesia.

Krisis Paradigma: Dunia Mekanistik yang Runtuh

Capra menggambarkan abad ke-20 sebagai puncak keruntuhan paradigma mekanistik—cara berpikir yang memandang alam, manusia, dan masyarakat sebagai mesin dengan bagian-bagian yang terpisah. Dalam paradigma ini, sesuatu dianggap benar jika:

  • dapat diukur,
  • dapat diprediksi secara linear,
  • dapat dikendalikan melalui aturan,
  • dan dapat dipisah-pisahkan dari konteksnya.

Capra menilai cara berpikir inilah penyebab krisis ekologi, krisis sosial, dan krisis spiritual. Kehancuran alam, alienasi manusia modern, dan kegagalan institusi bukan sekadar kecelakaan sejarah—melainkan tanda bahwa paradigma mekanistik sudah rusak dari akarnya.

Satjipto melihat hal yang sama dalam hukum Indonesia: hukum diperlakukan sebagai mesin aturan, bukan sebagai ruang moral dan kemanusiaan.

Di sini, resonansi pemikiran keduanya terlihat jelas.

Satjipto Rahardjo: Hukum Bukan Mesin, Melainkan Organisme

Dalam pandangan hukum tradisional yang positivistik, hukum dianggap netral, objektif, dan bebas nilai. Tugas hakim adalah “mengaplikasikan aturan” seolah-olah ia adalah operator mesin.

Satjipto menggugat keras model ini. Baginya:

  • hukum bukan mesin,
  • hakim bukan robot,
  • dan masyarakat bukan objek pasif.

Ia memandang hukum sebagai sistem yang hidup, berubah bersama kehidupan sosial dan manusia yang menghidupinya. Sikap ini sangat Capra-sentris, karena paralel dengan anggapan Capra bahwa alam adalah jaringan hubungan (web of life) yang tidak dapat dipahami secara potongan-potongan.

Jika Capra menolak reduksionisme dalam sains, Satjipto menolak reduksionisme dalam hukum.

Paradigma Holistik: Titik Temu Capra dan Satjipto

Menurut Capra, dunia membutuhkan “paradigma holistik”: cara berpikir yang melihat keseluruhan, keterhubungan, konteks, nilai, dan dinamika.

Satjipto menerjemahkan gagasan itu dalam konteks hukum:

1. Hukum harus kontekstual

Tidak cukup membaca teks undang-undang; harus melihat realitas sosial yang melingkupinya.

2. Hukum harus memihak manusia

Hukum progresif menegaskan: “hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.”

3. Keadilan lebih penting daripada prosedur

Jika ada kesenjangan antara aturan dan keadilan substantif, tugas penegak hukum adalah berpihak pada keadilan.

4. Penegak hukum adalah subjek beretika

Seperti fisika kuantum yang menempatkan pengamat sebagai bagian dari sistem, hukum progresif menegaskan bahwa kesadaran hakim menentukan hasil hukum.

Di sinilah pesona dialog Capra–Satjipto: fisika modern memberikan legitimasi epistemologis bagi transformasi hukum.

Penolakan terhadap Fragmentasi Pengetahuan

Capra menyoroti masalah fundamental modernitas: pengetahuan dipisah-pisah, sehingga moral terlepas dari teknologi, manusia dari alam, dan hukum dari keadilan.

Satjipto mengkritik hal yang sama dalam dunia hukum: sering kali persoalan hukum ditangani seolah-olah ia steril dari sosiologi, politik, etika, atau psikologi. Hukum progresif menegaskan bahwa penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya.

Dengan demikian, hukum progresif mengembalikan hukum ke jantung kemanusiaan, sebagaimana Capra mengembalikan sains ke jantung ekologi dan spiritualitas.

Kesadaran sebagai Kunci: Dari Sains ke Etika Hukum

Salah satu gagasan terpenting Capra adalah bahwa perubahan besar tidak mungkin terjadi tanpa transformasi kesadaran. Teknologi dan aturan tidak cukup; manusia yang menjalankan sistem harus berubah cara berpikirnya.

Satjipto menggemakan hal ini dalam hukum:

  • korupsi tidak bisa diberantas hanya dengan UU,
  • keadilan tidak akan hadir hanya dengan prosedur,
  • penegakan hukum tidak akan bermartabat tanpa etika penegaknya.

Dengan demikian, kesadaran adalah inti dari hukum progresif.
Dan ini selaras dengan filsafat Capra: transformasi peradaban menuntut transformasi batin.

Titik Balik Peradaban = Titik Balik Hukum

Capra menyebut bahwa kita berada pada “the turning point”—momen ketika cara berpikir lama tidak lagi bekerja, dan sesuatu yang baru harus lahir.

Satjipto melihat hukum Indonesia berada dalam kondisi yang sama:
aturan banyak, tetapi keadilan tidak muncul; prosedur lengkap, tetapi manusia menderita.

Oleh karena itu, ia menyerukan revolusi paradigma: hukum progresif sebagai lompatan dari legalisme menuju hukum yang humanis.

Mengapa Capra Penting bagi Satjipto?

Ada tiga alasan utama mengapa The Turning Point menjadi rujukan penting bagi Satjipto:

1. Memberi landasan filsafat ilmu

Capra menyediakan kerangka epistemologis bahwa cara berpikir mekanistik harus ditinggalkan.

2. Menunjukkan bahwa disiplin berbeda dapat saling mengilhami

Jika fisika bisa berubah dari mekanistik ke kuantum, maka hukum pun bisa berubah dari positivistik ke progresif.

3. Menghubungkan hukum dengan jaringan kehidupan

Paradigma holistik Capra menguatkan gagasan Satjipto bahwa hukum adalah bagian dari kultur, moral, dan dinamika sosial.

Dua Jalan Menuju Kesadaran Baru

Fritjof Capra mengajak umat manusia menuju paradigma holistik, ekologis, dan spiritual. Prof. Satjipto Rahardjo mengajak bangsa Indonesia menuju hukum yang manusiawi, adaptif, dan progresif.

Keduanya berbicara kepada zaman yang sama: zaman krisis dan perubahan besar.
Keduanya menawarkan arah baru: paradigma kesadaran.

Maka dapat dikatakan:

Capra memberi “titik balik” bagi peradaban,
dan Satjipto menerjemahkan “titik balik” itu ke dalam hukum Indonesia.

Hukum progresif menjadi bukti nyata bahwa sains dan hukum dapat bertemu dalam panggilan yang sama: membebaskan manusia dan memulihkan martabat kehidupan.

Pertanyaan besar dan mendasar adalah, punyakah kita penegak hukum berintegritas seperti Albertina Ho, Hoegeng, Adnan Buyung Nasutian dan tokoh berintegritas lainnya yang setara? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Fritjof CaprahukumProf. Satjipto Rahardjo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan–Kuningan, Pendidikan, dan Autisme:  Merawat Dharma di Dalam Keluarga

Next Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co