12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan–Kuningan, Pendidikan, dan Autisme:  Merawat Dharma di Dalam Keluarga

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
November 17, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

DALAM riuh-rendah persiapan Galungan dan Kuningan, ketika janur mulai ditata, banten dirangkai, dan aroma dupa memenuhi udara, saya selalu merasa ada ruang batin yang diam-diam mengajak saya kembali belajar. Bahwa kemenangan dharma atas adharma bukan hanya ritual yang diulang setiap 210 hari; ia adalah cermin yang menagih kejujuran tentang apa saja yang sedang kita menangkan—atau sebenarnya sedang kita kalahkan—dalam keseharian kita sebagai manusia.

Di tengah kesibukan itu, saya merenungi perjalanan keluarga kami bersama Gangga, putra sulung saya yang berada dalam spektrum autisme. Dalam diamnya, dalam tantrumnya, dalam tawa kecilnya yang sederhana, Gangga menjadi guru yang dengan caranya sendiri menguji dan menegakkan dharma di rumah kami.

Galungan dan Kuningan mengajarkan bahwa dharma adalah cahaya yang menuntun manusia menuju kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan kelapangan jiwa. Namun dalam realitas sosial kita, dharma sering kali tumbang bukan oleh kejahatan besar, melainkan oleh ketidaktahuan kecil yang dibiarkan berlarut-larut: prasangka terhadap anak dengan autisme, komentar sinis ketika melihat tantrum, atau anggapan bahwa anak autis “kurang dididik” atau “kurang diajari”.

Adharma kadang tidak datang dalam rupa kegelapan; adharma datang dalam bentuk kebodohan yang dipelihara dan ketidakpedulian yang dianggap biasa. Dalam konteks inilah saya merasa perayaan Galungan dan Kuningan bukan lagi soal mitologi perang kosmis, melainkan tentang bagaimana kita—sebagai keluarga, masyarakat, dan negara—menghadapi kenyataan sosial bernama autisme dengan kepala jernih dan hati lapang.

Sebagai seorang papa dari Gangga, Galungan dan Kuningan tidak pernah lagi sekadar hari libur keagamaan. Ia adalah waktu paling jujur bagi saya untuk melihat kembali perjalanan kami. Gangga bukan anak yang bisa langsung memahami perubahan rutinitas akibat hari raya. Kadang ia gelisah melihat banyak orang, dimanapun. Kadang ia salah paham terhadap suara keras yang muncul saat persiapan upacara. Kadang ia justru tertawa sendiri sambil menghentakkan kaki tanpa sebab. Namun justru dari situ saya menyadari bahwa kemenangan dharma sering tidak terjadi dalam ruang-ruang besar penuh tepuk tangan; ia terjadi dalam momen kecil ketika saya, kami—belajar menahan suara, menurunkan ego, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memeluk tanpa syarat.

Dalam suasana perenungan itu, saya pun sadar bahwa saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan. Saya masih terus belajar mengelola hati, jiwa, dan kesabaran saya sendiri. Sebab bagi saya, bagi kami sebagai keluarga, Gangga adalah guru yang sering hadir dalam bentuk ujian. Ada hari-hari ketika teriakan Gangga begitu keras, ketika cubitan, gigitan, pukulan, atau tendangannya datang bertubi-tubi, ketika tamper tantrum itu kembali berulang tanpa bisa ditebak. Dan di tengah semua itu, saya sering kali duduk terdiam, merasa betapa panjang perjalanan kami selama 15 tahun ini.

Terkadang muncul rasa ingin menyerah. Terkadang saya bertanya dalam hati: apakah Gangga kelak mampu mandiri? Bagaimana nasibnya jika suatu hari saya tiada? Kalimat-kalimat dalam tulisan ini lahir dalam keadaan mata saya berkaca-kaca, karena menulis tentang Gangga berarti membuka luka yang sekaligus menjadi cahaya. Di titik-titik itulah saya kembali belajar bahwa mencintai anak dengan kondisi khusus bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan spiritual yang membentuk ulang diri saya sendiri sebagai seorang papa.

Dalam perenungan itu pula, saya ingin menanamkan kesadaran kepada kedua putra kami yang lain, Kanha dan Davka. Mereka tumbuh bersama seorang kakak yang unik, yang dunia dalamnya tidak selalu mereka pahami. Sebagai seorang papa, saya berusaha menanamkan pada mereka bahwa menerima bukan berarti memahami sepenuhnya. Mencintai tidak selalu membutuhkan logika yang tuntas. Saya ingin mereka tumbuh menjadi laki-laki yang dadanya lapang: yang kelak tidak hanya menerima Gangga, tetapi juga menerima teman-teman mereka yang mungkin berbeda, keluarga lain yang dititipkan anak dengan kondisi khusus, serta siapa pun yang membutuhkan ruang pengertian dalam hidupnya. Karena kemenangan dharma dalam keluarga bukan diukur dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk tetap mencintai meski situasi tak selalu mudah.

Namun Galungan dan Kuningan bukan semata panggilan spiritual personal; ia adalah pengingat sosial. Ketika kita bicara autisme, kita bicara tentang pendidikan, akses layanan, kebijakan negara, dan masa depan. Di Indonesia, angka prevalensi autisme terus meningkat, namun literasi masyarakat tentang autisme berkembang jauh lebih lambat. Banyak sekolah belum siap dengan pendidikan inklusif. Banyak guru tidak mendapatkan pelatihan memadai. Banyak keluarga masih berjuang sendirian. Bahkan di ruang publik pun, tantrum sering dianggap ulah nakal, bukan bentuk distress yang butuh dukungan. Jika dharma dalam konteks zaman dulu adalah keberanian menghadapi kekuatan gelap, maka dharma hari ini adalah keberanian menghadapi ketidakpahaman sistemik.

Di sinilah pendidikan menjadi medan dharma yang sesungguhnya. Pendidikan bukan sebatas kurikulum, tetapi ekosistem nilai yang membentuk cara pandang masyarakat. Sekolah—terutama di daerah—seharusnya menjadi tempat pertama yang mengajarkan murid bahwa tidak semua kecerdasan memakai suara, tidak semua kemampuan memakai kata-kata, dan tidak semua anak tumbuh dalam pola yang sama. Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi penjaga empati. Dan orang tua bukan hanya pelanggan sekolah, tetapi mitra yang ikut merawat nilai-nilai kemanusiaan. Jika kita ingin merayakan kemenangan dharma, maka jadikan pendidikan sebagai ruang di mana anak-anak biasa dan anak-anak dengan kondisi khusus berdiri sejajar: sama-sama berhak untuk bahagia, belajar, diterima, dan dihormati.

Sayangnya, realitas kita belum ke sana. Banyak kabupaten masih minim fasilitas terapi. Banyak orang tua harus menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan asesmen sederhana. Di sejumlah tempat, anak dengan ASD bahkan tidak diterima bersekolah karena dianggap “mengganggu kelas”. Dan lebih menyakitkan lagi, banyak keluarga diam-diam memendam malu. Mereka takut dicap, takut disalahkan, atau takut dianggap tidak mampu mendidik. Inilah bentuk adharma modern: ketika masyarakat gagal menjadi ruang aman bagi anak-anak yang berbeda.

Galungan–Kuningan memberikan kita bahasa spiritual untuk menata ulang pandangan itu. Bahwa setiap anak adalah titipan. Bahwa setiap jiwa memiliki dharma-nya sendiri. Bahwa di balik perbedaan, ada pelajaran. Dan bahwa tugas kita bukan mengubah anak agar sesuai ekspektasi dunia, tetapi mengubah dunia agar cukup ramah bagi anak-anak seperti mereka. Saya percaya, anak-anak dengan autisme bukan hadir untuk menguji iman kita kepada Tuhan; mereka hadir untuk menguji iman kita kepada sesama manusia.

Namun refleksi tidak cukup. Kita perlu gerakan. Kita perlu suara. Kita perlu keberanian menyentuh kebijakan. Pemerintah daerah harus mempercepat layanan skrining dini, memperbanyak pusat terapi terjangkau, menguatkan pelatihan guru, dan memastikan sekolah negeri benar-benar menerapkan pendidikan inklusif. Masyarakat perlu berhenti membandingkan anak dengan standar tunggal. Para orang tua perlu saling menguatkan, bukan saling menghakimi. Dan keluarga yang dikaruniai anak dengan kondisi khusus harus merasa bangga: karena mereka sedang menjalani bentuk tapa brata paling nyata—disiplin hati, pengendalian diri, dan kesabaran yang tidak diucapkan, tetapi dilatih setiap hari.

Di akhir perayaan Kuningan, kita selalu percaya bahwa para leluhur kembali ke kahyangan, meninggalkan pesan agar manusia menjalani kehidupan dengan kejujuran, kesabaran, dan terang batin. Bagi saya, terang batin itu hadir lewat Gangga. Lewat cara ia mengajak saya memahami tanpa kata, lewat tantrumnya yang memaksa saya belajar menenangkan diri, lewat pelukannya yang muncul tiba-tiba, lewat tawa kecilnya yang entah kenapa terasa menyembuhkan. Ia adalah dharma kecil dalam tubuh seorang anak.

Dan karena itu, artikel ini saya dedikasikan tidak hanya untuk Gangga, Kanha, dan Davka, tetapi untuk semua anak yang hidup berdampingan dengan autisme atau kondisi khusus lainnya. Untuk semua kakak-adik yang belajar mencintai dalam bentuk yang berbeda. Untuk semua orang tua yang setiap hari berjuang merawat cahaya di tengah gelapnya ketidakpahaman. Untuk semua guru yang memilih kesabaran ketimbang penolakan. Dan untuk semua masyarakat yang perlahan-lahan belajar bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan ruang bagi dharma semakin subur.

Galungan dan Kuningan mengajarkan bahwa kebaikan pada akhirnya selalu menang. Tetapi kemenangan itu tidak terjadi di pura, melainkan di dalam hati kita. Kemenangan itu hadir ketika kita memilih untuk memahami, bukan menghakimi. Menemani, bukan mencemooh. Merangkul, bukan menyingkirkan. Jika Bali ingin menjadi tanah yang menjunjung dharma, maka salah satu bentuk dharma tertinggi adalah memastikan setiap anak—apa pun kondisinya—memiliki ruang untuk tumbuh.

Kita tidak bisa mengubah semua orang dalam satu hari raya. Tetapi kita bisa memulai dari rumah kita sendiri. Dari cara kita menyikapi tantrum. Dari cara kita menunjukkan empati kepada keluarga lain. Dari cara kita mendidik anak-anak kita agar kelak menjadi manusia yang lebih utuh, lebih lembut, dan lebih adil.

Dan bila itu bisa kita lakukan, maka setiap hari sesungguhnya adalah Galungan. Setiap keluarga adalah medan dharma. Dan setiap anak adalah cahaya yang menuntun kita pulang kepada kemanusiaan kita sendiri. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: autismehari raya galunganHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Next Post

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co