23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan–Kuningan, Pendidikan, dan Autisme:  Merawat Dharma di Dalam Keluarga

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
November 17, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

DALAM riuh-rendah persiapan Galungan dan Kuningan, ketika janur mulai ditata, banten dirangkai, dan aroma dupa memenuhi udara, saya selalu merasa ada ruang batin yang diam-diam mengajak saya kembali belajar. Bahwa kemenangan dharma atas adharma bukan hanya ritual yang diulang setiap 210 hari; ia adalah cermin yang menagih kejujuran tentang apa saja yang sedang kita menangkan—atau sebenarnya sedang kita kalahkan—dalam keseharian kita sebagai manusia.

Di tengah kesibukan itu, saya merenungi perjalanan keluarga kami bersama Gangga, putra sulung saya yang berada dalam spektrum autisme. Dalam diamnya, dalam tantrumnya, dalam tawa kecilnya yang sederhana, Gangga menjadi guru yang dengan caranya sendiri menguji dan menegakkan dharma di rumah kami.

Galungan dan Kuningan mengajarkan bahwa dharma adalah cahaya yang menuntun manusia menuju kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan kelapangan jiwa. Namun dalam realitas sosial kita, dharma sering kali tumbang bukan oleh kejahatan besar, melainkan oleh ketidaktahuan kecil yang dibiarkan berlarut-larut: prasangka terhadap anak dengan autisme, komentar sinis ketika melihat tantrum, atau anggapan bahwa anak autis “kurang dididik” atau “kurang diajari”.

Adharma kadang tidak datang dalam rupa kegelapan; adharma datang dalam bentuk kebodohan yang dipelihara dan ketidakpedulian yang dianggap biasa. Dalam konteks inilah saya merasa perayaan Galungan dan Kuningan bukan lagi soal mitologi perang kosmis, melainkan tentang bagaimana kita—sebagai keluarga, masyarakat, dan negara—menghadapi kenyataan sosial bernama autisme dengan kepala jernih dan hati lapang.

Sebagai seorang papa dari Gangga, Galungan dan Kuningan tidak pernah lagi sekadar hari libur keagamaan. Ia adalah waktu paling jujur bagi saya untuk melihat kembali perjalanan kami. Gangga bukan anak yang bisa langsung memahami perubahan rutinitas akibat hari raya. Kadang ia gelisah melihat banyak orang, dimanapun. Kadang ia salah paham terhadap suara keras yang muncul saat persiapan upacara. Kadang ia justru tertawa sendiri sambil menghentakkan kaki tanpa sebab. Namun justru dari situ saya menyadari bahwa kemenangan dharma sering tidak terjadi dalam ruang-ruang besar penuh tepuk tangan; ia terjadi dalam momen kecil ketika saya, kami—belajar menahan suara, menurunkan ego, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memeluk tanpa syarat.

Dalam suasana perenungan itu, saya pun sadar bahwa saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan. Saya masih terus belajar mengelola hati, jiwa, dan kesabaran saya sendiri. Sebab bagi saya, bagi kami sebagai keluarga, Gangga adalah guru yang sering hadir dalam bentuk ujian. Ada hari-hari ketika teriakan Gangga begitu keras, ketika cubitan, gigitan, pukulan, atau tendangannya datang bertubi-tubi, ketika tamper tantrum itu kembali berulang tanpa bisa ditebak. Dan di tengah semua itu, saya sering kali duduk terdiam, merasa betapa panjang perjalanan kami selama 15 tahun ini.

Terkadang muncul rasa ingin menyerah. Terkadang saya bertanya dalam hati: apakah Gangga kelak mampu mandiri? Bagaimana nasibnya jika suatu hari saya tiada? Kalimat-kalimat dalam tulisan ini lahir dalam keadaan mata saya berkaca-kaca, karena menulis tentang Gangga berarti membuka luka yang sekaligus menjadi cahaya. Di titik-titik itulah saya kembali belajar bahwa mencintai anak dengan kondisi khusus bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan spiritual yang membentuk ulang diri saya sendiri sebagai seorang papa.

Dalam perenungan itu pula, saya ingin menanamkan kesadaran kepada kedua putra kami yang lain, Kanha dan Davka. Mereka tumbuh bersama seorang kakak yang unik, yang dunia dalamnya tidak selalu mereka pahami. Sebagai seorang papa, saya berusaha menanamkan pada mereka bahwa menerima bukan berarti memahami sepenuhnya. Mencintai tidak selalu membutuhkan logika yang tuntas. Saya ingin mereka tumbuh menjadi laki-laki yang dadanya lapang: yang kelak tidak hanya menerima Gangga, tetapi juga menerima teman-teman mereka yang mungkin berbeda, keluarga lain yang dititipkan anak dengan kondisi khusus, serta siapa pun yang membutuhkan ruang pengertian dalam hidupnya. Karena kemenangan dharma dalam keluarga bukan diukur dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk tetap mencintai meski situasi tak selalu mudah.

Namun Galungan dan Kuningan bukan semata panggilan spiritual personal; ia adalah pengingat sosial. Ketika kita bicara autisme, kita bicara tentang pendidikan, akses layanan, kebijakan negara, dan masa depan. Di Indonesia, angka prevalensi autisme terus meningkat, namun literasi masyarakat tentang autisme berkembang jauh lebih lambat. Banyak sekolah belum siap dengan pendidikan inklusif. Banyak guru tidak mendapatkan pelatihan memadai. Banyak keluarga masih berjuang sendirian. Bahkan di ruang publik pun, tantrum sering dianggap ulah nakal, bukan bentuk distress yang butuh dukungan. Jika dharma dalam konteks zaman dulu adalah keberanian menghadapi kekuatan gelap, maka dharma hari ini adalah keberanian menghadapi ketidakpahaman sistemik.

Di sinilah pendidikan menjadi medan dharma yang sesungguhnya. Pendidikan bukan sebatas kurikulum, tetapi ekosistem nilai yang membentuk cara pandang masyarakat. Sekolah—terutama di daerah—seharusnya menjadi tempat pertama yang mengajarkan murid bahwa tidak semua kecerdasan memakai suara, tidak semua kemampuan memakai kata-kata, dan tidak semua anak tumbuh dalam pola yang sama. Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi penjaga empati. Dan orang tua bukan hanya pelanggan sekolah, tetapi mitra yang ikut merawat nilai-nilai kemanusiaan. Jika kita ingin merayakan kemenangan dharma, maka jadikan pendidikan sebagai ruang di mana anak-anak biasa dan anak-anak dengan kondisi khusus berdiri sejajar: sama-sama berhak untuk bahagia, belajar, diterima, dan dihormati.

Sayangnya, realitas kita belum ke sana. Banyak kabupaten masih minim fasilitas terapi. Banyak orang tua harus menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan asesmen sederhana. Di sejumlah tempat, anak dengan ASD bahkan tidak diterima bersekolah karena dianggap “mengganggu kelas”. Dan lebih menyakitkan lagi, banyak keluarga diam-diam memendam malu. Mereka takut dicap, takut disalahkan, atau takut dianggap tidak mampu mendidik. Inilah bentuk adharma modern: ketika masyarakat gagal menjadi ruang aman bagi anak-anak yang berbeda.

Galungan–Kuningan memberikan kita bahasa spiritual untuk menata ulang pandangan itu. Bahwa setiap anak adalah titipan. Bahwa setiap jiwa memiliki dharma-nya sendiri. Bahwa di balik perbedaan, ada pelajaran. Dan bahwa tugas kita bukan mengubah anak agar sesuai ekspektasi dunia, tetapi mengubah dunia agar cukup ramah bagi anak-anak seperti mereka. Saya percaya, anak-anak dengan autisme bukan hadir untuk menguji iman kita kepada Tuhan; mereka hadir untuk menguji iman kita kepada sesama manusia.

Namun refleksi tidak cukup. Kita perlu gerakan. Kita perlu suara. Kita perlu keberanian menyentuh kebijakan. Pemerintah daerah harus mempercepat layanan skrining dini, memperbanyak pusat terapi terjangkau, menguatkan pelatihan guru, dan memastikan sekolah negeri benar-benar menerapkan pendidikan inklusif. Masyarakat perlu berhenti membandingkan anak dengan standar tunggal. Para orang tua perlu saling menguatkan, bukan saling menghakimi. Dan keluarga yang dikaruniai anak dengan kondisi khusus harus merasa bangga: karena mereka sedang menjalani bentuk tapa brata paling nyata—disiplin hati, pengendalian diri, dan kesabaran yang tidak diucapkan, tetapi dilatih setiap hari.

Di akhir perayaan Kuningan, kita selalu percaya bahwa para leluhur kembali ke kahyangan, meninggalkan pesan agar manusia menjalani kehidupan dengan kejujuran, kesabaran, dan terang batin. Bagi saya, terang batin itu hadir lewat Gangga. Lewat cara ia mengajak saya memahami tanpa kata, lewat tantrumnya yang memaksa saya belajar menenangkan diri, lewat pelukannya yang muncul tiba-tiba, lewat tawa kecilnya yang entah kenapa terasa menyembuhkan. Ia adalah dharma kecil dalam tubuh seorang anak.

Dan karena itu, artikel ini saya dedikasikan tidak hanya untuk Gangga, Kanha, dan Davka, tetapi untuk semua anak yang hidup berdampingan dengan autisme atau kondisi khusus lainnya. Untuk semua kakak-adik yang belajar mencintai dalam bentuk yang berbeda. Untuk semua orang tua yang setiap hari berjuang merawat cahaya di tengah gelapnya ketidakpahaman. Untuk semua guru yang memilih kesabaran ketimbang penolakan. Dan untuk semua masyarakat yang perlahan-lahan belajar bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan ruang bagi dharma semakin subur.

Galungan dan Kuningan mengajarkan bahwa kebaikan pada akhirnya selalu menang. Tetapi kemenangan itu tidak terjadi di pura, melainkan di dalam hati kita. Kemenangan itu hadir ketika kita memilih untuk memahami, bukan menghakimi. Menemani, bukan mencemooh. Merangkul, bukan menyingkirkan. Jika Bali ingin menjadi tanah yang menjunjung dharma, maka salah satu bentuk dharma tertinggi adalah memastikan setiap anak—apa pun kondisinya—memiliki ruang untuk tumbuh.

Kita tidak bisa mengubah semua orang dalam satu hari raya. Tetapi kita bisa memulai dari rumah kita sendiri. Dari cara kita menyikapi tantrum. Dari cara kita menunjukkan empati kepada keluarga lain. Dari cara kita mendidik anak-anak kita agar kelak menjadi manusia yang lebih utuh, lebih lembut, dan lebih adil.

Dan bila itu bisa kita lakukan, maka setiap hari sesungguhnya adalah Galungan. Setiap keluarga adalah medan dharma. Dan setiap anak adalah cahaya yang menuntun kita pulang kepada kemanusiaan kita sendiri. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: autismehari raya galunganHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Next Post

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co