14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan–Kuningan, Pendidikan, dan Autisme:  Merawat Dharma di Dalam Keluarga

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
November 17, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

DALAM riuh-rendah persiapan Galungan dan Kuningan, ketika janur mulai ditata, banten dirangkai, dan aroma dupa memenuhi udara, saya selalu merasa ada ruang batin yang diam-diam mengajak saya kembali belajar. Bahwa kemenangan dharma atas adharma bukan hanya ritual yang diulang setiap 210 hari; ia adalah cermin yang menagih kejujuran tentang apa saja yang sedang kita menangkan—atau sebenarnya sedang kita kalahkan—dalam keseharian kita sebagai manusia.

Di tengah kesibukan itu, saya merenungi perjalanan keluarga kami bersama Gangga, putra sulung saya yang berada dalam spektrum autisme. Dalam diamnya, dalam tantrumnya, dalam tawa kecilnya yang sederhana, Gangga menjadi guru yang dengan caranya sendiri menguji dan menegakkan dharma di rumah kami.

Galungan dan Kuningan mengajarkan bahwa dharma adalah cahaya yang menuntun manusia menuju kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan kelapangan jiwa. Namun dalam realitas sosial kita, dharma sering kali tumbang bukan oleh kejahatan besar, melainkan oleh ketidaktahuan kecil yang dibiarkan berlarut-larut: prasangka terhadap anak dengan autisme, komentar sinis ketika melihat tantrum, atau anggapan bahwa anak autis “kurang dididik” atau “kurang diajari”.

Adharma kadang tidak datang dalam rupa kegelapan; adharma datang dalam bentuk kebodohan yang dipelihara dan ketidakpedulian yang dianggap biasa. Dalam konteks inilah saya merasa perayaan Galungan dan Kuningan bukan lagi soal mitologi perang kosmis, melainkan tentang bagaimana kita—sebagai keluarga, masyarakat, dan negara—menghadapi kenyataan sosial bernama autisme dengan kepala jernih dan hati lapang.

Sebagai seorang papa dari Gangga, Galungan dan Kuningan tidak pernah lagi sekadar hari libur keagamaan. Ia adalah waktu paling jujur bagi saya untuk melihat kembali perjalanan kami. Gangga bukan anak yang bisa langsung memahami perubahan rutinitas akibat hari raya. Kadang ia gelisah melihat banyak orang, dimanapun. Kadang ia salah paham terhadap suara keras yang muncul saat persiapan upacara. Kadang ia justru tertawa sendiri sambil menghentakkan kaki tanpa sebab. Namun justru dari situ saya menyadari bahwa kemenangan dharma sering tidak terjadi dalam ruang-ruang besar penuh tepuk tangan; ia terjadi dalam momen kecil ketika saya, kami—belajar menahan suara, menurunkan ego, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memeluk tanpa syarat.

Dalam suasana perenungan itu, saya pun sadar bahwa saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan. Saya masih terus belajar mengelola hati, jiwa, dan kesabaran saya sendiri. Sebab bagi saya, bagi kami sebagai keluarga, Gangga adalah guru yang sering hadir dalam bentuk ujian. Ada hari-hari ketika teriakan Gangga begitu keras, ketika cubitan, gigitan, pukulan, atau tendangannya datang bertubi-tubi, ketika tamper tantrum itu kembali berulang tanpa bisa ditebak. Dan di tengah semua itu, saya sering kali duduk terdiam, merasa betapa panjang perjalanan kami selama 15 tahun ini.

Terkadang muncul rasa ingin menyerah. Terkadang saya bertanya dalam hati: apakah Gangga kelak mampu mandiri? Bagaimana nasibnya jika suatu hari saya tiada? Kalimat-kalimat dalam tulisan ini lahir dalam keadaan mata saya berkaca-kaca, karena menulis tentang Gangga berarti membuka luka yang sekaligus menjadi cahaya. Di titik-titik itulah saya kembali belajar bahwa mencintai anak dengan kondisi khusus bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan spiritual yang membentuk ulang diri saya sendiri sebagai seorang papa.

Dalam perenungan itu pula, saya ingin menanamkan kesadaran kepada kedua putra kami yang lain, Kanha dan Davka. Mereka tumbuh bersama seorang kakak yang unik, yang dunia dalamnya tidak selalu mereka pahami. Sebagai seorang papa, saya berusaha menanamkan pada mereka bahwa menerima bukan berarti memahami sepenuhnya. Mencintai tidak selalu membutuhkan logika yang tuntas. Saya ingin mereka tumbuh menjadi laki-laki yang dadanya lapang: yang kelak tidak hanya menerima Gangga, tetapi juga menerima teman-teman mereka yang mungkin berbeda, keluarga lain yang dititipkan anak dengan kondisi khusus, serta siapa pun yang membutuhkan ruang pengertian dalam hidupnya. Karena kemenangan dharma dalam keluarga bukan diukur dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk tetap mencintai meski situasi tak selalu mudah.

Namun Galungan dan Kuningan bukan semata panggilan spiritual personal; ia adalah pengingat sosial. Ketika kita bicara autisme, kita bicara tentang pendidikan, akses layanan, kebijakan negara, dan masa depan. Di Indonesia, angka prevalensi autisme terus meningkat, namun literasi masyarakat tentang autisme berkembang jauh lebih lambat. Banyak sekolah belum siap dengan pendidikan inklusif. Banyak guru tidak mendapatkan pelatihan memadai. Banyak keluarga masih berjuang sendirian. Bahkan di ruang publik pun, tantrum sering dianggap ulah nakal, bukan bentuk distress yang butuh dukungan. Jika dharma dalam konteks zaman dulu adalah keberanian menghadapi kekuatan gelap, maka dharma hari ini adalah keberanian menghadapi ketidakpahaman sistemik.

Di sinilah pendidikan menjadi medan dharma yang sesungguhnya. Pendidikan bukan sebatas kurikulum, tetapi ekosistem nilai yang membentuk cara pandang masyarakat. Sekolah—terutama di daerah—seharusnya menjadi tempat pertama yang mengajarkan murid bahwa tidak semua kecerdasan memakai suara, tidak semua kemampuan memakai kata-kata, dan tidak semua anak tumbuh dalam pola yang sama. Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi penjaga empati. Dan orang tua bukan hanya pelanggan sekolah, tetapi mitra yang ikut merawat nilai-nilai kemanusiaan. Jika kita ingin merayakan kemenangan dharma, maka jadikan pendidikan sebagai ruang di mana anak-anak biasa dan anak-anak dengan kondisi khusus berdiri sejajar: sama-sama berhak untuk bahagia, belajar, diterima, dan dihormati.

Sayangnya, realitas kita belum ke sana. Banyak kabupaten masih minim fasilitas terapi. Banyak orang tua harus menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan asesmen sederhana. Di sejumlah tempat, anak dengan ASD bahkan tidak diterima bersekolah karena dianggap “mengganggu kelas”. Dan lebih menyakitkan lagi, banyak keluarga diam-diam memendam malu. Mereka takut dicap, takut disalahkan, atau takut dianggap tidak mampu mendidik. Inilah bentuk adharma modern: ketika masyarakat gagal menjadi ruang aman bagi anak-anak yang berbeda.

Galungan–Kuningan memberikan kita bahasa spiritual untuk menata ulang pandangan itu. Bahwa setiap anak adalah titipan. Bahwa setiap jiwa memiliki dharma-nya sendiri. Bahwa di balik perbedaan, ada pelajaran. Dan bahwa tugas kita bukan mengubah anak agar sesuai ekspektasi dunia, tetapi mengubah dunia agar cukup ramah bagi anak-anak seperti mereka. Saya percaya, anak-anak dengan autisme bukan hadir untuk menguji iman kita kepada Tuhan; mereka hadir untuk menguji iman kita kepada sesama manusia.

Namun refleksi tidak cukup. Kita perlu gerakan. Kita perlu suara. Kita perlu keberanian menyentuh kebijakan. Pemerintah daerah harus mempercepat layanan skrining dini, memperbanyak pusat terapi terjangkau, menguatkan pelatihan guru, dan memastikan sekolah negeri benar-benar menerapkan pendidikan inklusif. Masyarakat perlu berhenti membandingkan anak dengan standar tunggal. Para orang tua perlu saling menguatkan, bukan saling menghakimi. Dan keluarga yang dikaruniai anak dengan kondisi khusus harus merasa bangga: karena mereka sedang menjalani bentuk tapa brata paling nyata—disiplin hati, pengendalian diri, dan kesabaran yang tidak diucapkan, tetapi dilatih setiap hari.

Di akhir perayaan Kuningan, kita selalu percaya bahwa para leluhur kembali ke kahyangan, meninggalkan pesan agar manusia menjalani kehidupan dengan kejujuran, kesabaran, dan terang batin. Bagi saya, terang batin itu hadir lewat Gangga. Lewat cara ia mengajak saya memahami tanpa kata, lewat tantrumnya yang memaksa saya belajar menenangkan diri, lewat pelukannya yang muncul tiba-tiba, lewat tawa kecilnya yang entah kenapa terasa menyembuhkan. Ia adalah dharma kecil dalam tubuh seorang anak.

Dan karena itu, artikel ini saya dedikasikan tidak hanya untuk Gangga, Kanha, dan Davka, tetapi untuk semua anak yang hidup berdampingan dengan autisme atau kondisi khusus lainnya. Untuk semua kakak-adik yang belajar mencintai dalam bentuk yang berbeda. Untuk semua orang tua yang setiap hari berjuang merawat cahaya di tengah gelapnya ketidakpahaman. Untuk semua guru yang memilih kesabaran ketimbang penolakan. Dan untuk semua masyarakat yang perlahan-lahan belajar bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan ruang bagi dharma semakin subur.

Galungan dan Kuningan mengajarkan bahwa kebaikan pada akhirnya selalu menang. Tetapi kemenangan itu tidak terjadi di pura, melainkan di dalam hati kita. Kemenangan itu hadir ketika kita memilih untuk memahami, bukan menghakimi. Menemani, bukan mencemooh. Merangkul, bukan menyingkirkan. Jika Bali ingin menjadi tanah yang menjunjung dharma, maka salah satu bentuk dharma tertinggi adalah memastikan setiap anak—apa pun kondisinya—memiliki ruang untuk tumbuh.

Kita tidak bisa mengubah semua orang dalam satu hari raya. Tetapi kita bisa memulai dari rumah kita sendiri. Dari cara kita menyikapi tantrum. Dari cara kita menunjukkan empati kepada keluarga lain. Dari cara kita mendidik anak-anak kita agar kelak menjadi manusia yang lebih utuh, lebih lembut, dan lebih adil.

Dan bila itu bisa kita lakukan, maka setiap hari sesungguhnya adalah Galungan. Setiap keluarga adalah medan dharma. Dan setiap anak adalah cahaya yang menuntun kita pulang kepada kemanusiaan kita sendiri. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: autismehari raya galunganHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Next Post

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Prof. Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, dan Titik Balik Fritjof Capra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co