24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingkah Pendidikan Tinggi bagi Wanita?

Isran Kamal by Isran Kamal
November 15, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di banyak keluarga Indonesia, pendidikan tinggi untuk perempuan masih sering dianggap “opsional.” Ada yang berkata, “yang penting bisa jadi ibu yang baik,” seolah-olah kemampuan mengasuh akan tumbuh otomatis tanpa bekal intelektual apa pun. Padahal, dalam psikologi perkembangan modern, kapasitas seorang ibu untuk mendidik dan menumbuhkan potensi anak sangat ditentukan oleh wawasan, literasi, dan kedalaman refleksi yang ia miliki dan hal tersebut terbentuk melalui pendidikan.

Fenomena ini semakin menarik ketika muncul narasi populer bahwa kecerdasan anak diwariskan terutama dari ibu. Narasi ini kemudian dijadikan alasan bahwa perempuan “harus pintar dulu sebelum punya anak.” Namun, secara ilmiah gagasan ini tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak mengubah gen, tetapi pendidikan mengubah cara seorang ibu berpikir, berinteraksi, memproses stres, dan menciptakan lingkungan rumah. Dan justru lingkungan inilah yang memiliki dampak terbesar pada perkembangan otak anak di tahun-tahun awal kehidupan.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan “perempuan juga berhak berkarier.” Pembicaraan ini perlu bergerak ke ranah yang lebih fundamental, yaitu bahwa kualitas pendidikan seorang ibu menentukan kualitas stimulasi kognitif, emosional, dan sosial yang diterima anak yang pada akhirnya memengaruhi kecerdasan dan masa depan mereka.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi perempuan bukan hanya tentang pemberdayaan perempuan; ini adalah investasi lintas generasi dalam kualitas manusia. Dan untuk memahami mengapa hal ini begitu krusial, kita perlu terlebih dahulu meluruskan kesalahpahaman tentang warisan genetika kecerdasan, sebelum melihat bagaimana pendidikan ibu benar-benar memengaruhi perkembangan anak.

Mitos vs Fakta: “IQ Diwarisi dari Ibu?”

Narasi bahwa kecerdasan “sepenuhnya diturunkan dari ibu” sering muncul dari salah tafsir terhadap penelitian tentang gen yang berada pada kromosom X. Karena perempuan memiliki dua kromosom X, mitos ini berkembang menjadi kesimpulan sederhana, “Berarti kecerdasan anak terutama berasal dari ibu.” Sayangnya, realitas genetika jauh lebih kompleks daripada itu.

Pertama, meskipun beberapa gen terkait fungsi kognitif memang berada di kromosom X, kecerdasan adalah sifat poligenik yang dipengaruhi ratusan hingga ribuan gen yang tersebar di berbagai bagian genom, bukan di satu kromosom saja. Studi kembar dan studi GWAS (genome-wide association studies) menunjukkan bahwa pewarisan intelegensi berasal dari kedua orang tua secara proporsional, bukan hanya ibu.

Kedua, memiliki gen tertentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi cerdas. Gen bekerja dalam konteks lingkungan, sebuah prinsip dalam psikologi genetika yang disebut gene–environment interaction. Artinya anak bisa memiliki predisposisi kecerdasan tinggi, tetapi tanpa lingkungan kognitif yang kaya (stimulasi, dukungan emosional, kesempatan belajar), potensi itu tidak akan muncul.

Ketiga, pendidikan ibu tidak mengubah gen, tetapi mengubah cara gen anak diekspresikan melalui epigenetik. Perilaku sehari-hari ibu misalnya pola komunikasi, respons terhadap stres, kebiasaan membaca, atau gaya pengasuhan mampu menguatkan atau melemahkan ekspresi gen yang berperan dalam pembentukan memori, bahasa, dan kontrol diri.

Dengan kata lain, mitos bahwa kecerdasan “hanya berasal dari ibu” boleh dinikmati sebagai obrolan warung kopi, tapi tidak bisa dijadikan pijakan ilmiah. Yang benar adalah anak mewarisi gen kecerdasan dari kedua orang tuanya, tapi potensi tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dan kapasitas pengasuhan ibu.

Dan di sinilah letak urgensinya, bukan apakah sang ibu “pintar secara genetis,” melainkan apakah sang ibu memiliki kompetensi kognitif, emosional, dan sosial yang memadai untuk membentuk lingkungan yang mendorong tumbuhnya kecerdasan anak. Untuk memahami mekanisme itu, kita perlu melihat mengapa pendidikan tinggi memiliki efek jangka panjang terhadap kualitas pengasuhan.

Mengapa Pendidikan Tinggi Perempuan Berdampak Besar pada Kualitas Perkembangan Anak?

Pendidikan tinggi pada perempuan memberikan efek berlapis yang secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas perkembangan anak, baik pada aspek kognitif, emosional, maupun sosial. Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki literasi kesehatan yang lebih baik, sehingga lebih mampu memahami kebutuhan gizi, imunisasi, pola tidur, dan stimulasi perkembangan anak. Pengetahuan ini penting karena fase awal kehidupan merupakan periode kritis bagi perkembangan saraf, dan keputusan-keputusan sederhana seperti pola makan atau akses layanan kesehatan yang dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan pada kemampuan kognitif jangka panjang.

Kemudian perempuan yang berpendidikan tinggi biasanya memiliki keterampilan kognitif dan linguistik yang lebih matang, sehingga mampu menyediakan lingkungan rumah yang lebih kaya stimulasi. Komunikasi yang lebih kompleks, interaksi yang lebih responsif, serta iklim emosional yang lebih stabil. Faktor-faktor ini telah berulang kali dikaitkan dengan peningkatan kemampuan bahasa, kontrol emosi, serta kemampuan memecahkan masalah pada anak.

Selain itu pendidikan tinggi berperan sebagai penyangga psikososial. Perempuan dengan pendidikan tinggi yang memadai cenderung memiliki efikasi diri yang lebih besar dalam mengasuh anak, mampu mengambil keputusan secara lebih otonom, dan lebih mampu mengelola stres. Penyesuaian psikologis ibu yang baik terbukti menjadi salah satu prediktor utama stabilitas emosional anak, terutama selama masa perkembangan awal.

Tidak hanya itu, perempuan dengan pendidikan tinggi biasanya memiliki peluang ekonomi lebih baik dan akses pada jaringan sosial maupun profesional yang lebih luas. Kondisi ini berkontribusi pada keamanan ekonomi rumah tangga, yang merupakan salah satu fondasi perkembangan anak yang sehat. Stabilitas ekonomi tidak hanya membuka akses pada sumber daya pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mengurangi stres keluarga yang dapat menghambat perkembangan psikologis anak.

Secara keseluruhan, efek-efek positif pendidikan tinggi perempuan terhadap perkembangan anak menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan bukan sekadar persoalan tradisi atau naluri, tetapi sangat terkait dengan kapasitas kognitif, emosional, dan sosial yang dimiliki ibu. Namun, untuk memahami pengaruh tersebut pada tingkat yang lebih mendalam, kita perlu melihat bagaimana perilaku pengasuhan sehari-hari secara langsung membentuk otak anak. Di sinilah perspektif neuropsikologi memainkan peran penting dalam menjelaskan mekanisme biologis yang menghubungkan perilaku ibu dengan perkembangan neural anak.

Neuropsikologi: Bagaimana Perilaku Ibu Mempengaruhi Otak Anak

Dari sudut pandang neuropsikologi, perilaku ibu selama masa perkembangan awal anak memiliki dampak yang mendalam terhadap struktur dan fungsi otak. Interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten antara ibu dan anak diketahui mendorong perkembangan optimal pada sistem limbik, terutama pada area seperti amigdala dan hipokampus yang berperan dalam regulasi emosi, memori, dan respons stres.

Pengasuhan yang sensitif membantu membentuk pola konektivitas neural yang stabil, yang kemudian mendukung kemampuan anak untuk mengendalikan emosi, membangun rasa aman, dan mengembangkan kapasitas kognitif. Selain itu, pengalaman sosial awal yang positif seperti sentuhan lembut, komunikasi verbal yang kaya, dan respons cepat terhadap kebutuhan anak akan mengaktifkan sistem reward dopaminergik dan sistem oksitosin.

Aktivasi ini tidak hanya memperkuat ikatan emosional ibu-anak tetapi juga mempercepat perkembangan jalur prefrontal, termasuk medial prefrontal cortex, yang terkait dengan fungsi eksekutif, empati, dan kemampuan mengambil perspektif. Pengasuhan responsif juga mengurangi aktivasi berlebihan pada sumbu HPA (hypothalamic–pituitary–adrenal axis), sehingga menurunkan risiko perkembangan pola stres kronis yang berdampak negatif pada pembelajaran dan kesehatan mental jangka panjang.

Sebaliknya, perilaku pengasuhan yang kurang responsif, tidak konsisten, atau penuh tekanan dapat menghasilkan dampak neuropsikologis yang signifikan. Stres berulang yang dialami anak, terutama pada tahun-tahun awal, berpotensi meningkatkan produksi kortisol pada tingkat yang tidak adaptif. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan dendrit pada hipokampus dan menghambat plastisitas sinaptik, yang berpengaruh pada kemampuan memori dan regulasi emosi.

Faktor-faktor seperti konflik keluarga, depresi ibu, atau kurangnya stimulasi juga dapat menghambat perkembangan konektivitas prefrontal, yang secara jangka panjang terkait dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, impulsivitas, dan kesulitan akademik. Otak anak tumbuh melalui proses interaksi antara gen dan lingkungan, dan perilaku ibu merupakan salah satu lingkungan paling signifikan di tahap awal kehidupan.

Dengan demikian, pemahaman neuropsikologi memperlihatkan bagaimana kualitas pengasuhan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kesejahteraan psikologis, dan kondisi sosial ibu secara langsung membentuk fondasi biologis yang menentukan arah perkembangan anak di tahun-tahun berikutnya.

Mendidik Perempuan = Mendidik Generasi

Pendidikan tinggi bagi perempuan bukan sekadar pencapaian individu, tetapi investasi strategis yang menentukan kualitas generasi berikutnya. Dari perspektif psikologis dan neurokognitif, perempuan yang berpendidikan memiliki kapasitas lebih kuat dalam menyediakan lingkungan pengasuhan yang aman, terstimulasi, dan responsif, tiga pilar yang sangat diperlukan untuk perkembangan otak anak pada masa-masa paling kritis dalam hidupnya. Dengan kata lain, efek pendidikan perempuan tidak berhenti pada peningkatan mobilitas sosial atau kemandirian ekonomi, tetapi meluas hingga membentuk fondasi biologis dan psikologis anak sejak usia dini.

Di level sosial, perempuan yang terdidik cenderung lebih mampu menyaring informasi, memahami isu perkembangan anak, serta mengambil keputusan pengasuhan dengan dasar pengetahuan, bukan sekadar norma turun-temurun.

Mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi emosional, serta metode stimulasi kognitif yang sesuai tahap perkembangan. Kombinasi antara literasi ilmiah dan stabilitas psikologis ini menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga memperkuat resiliensi anak dalam menghadapi dinamika dunia modern.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi perempuan adalah salah satu mekanisme paling efektif untuk meningkatkan kualitas populasi secara jangka panjang. Ketika seorang perempuan memperoleh pendidikan yang baik, dia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri tetapi secara langsung mempengaruhi kualitas perkembangan anak, struktur otak mereka, kapasitas belajar, dan kemampuan adaptasi mereka di masa depan. Maka ungkapan “mendidik perempuan berarti mendidik generasi” bukanlah slogan moral, melainkan kesimpulan empiris yang didukung berbagai bidang ilmu, mulai dari psikologi perkembangan hingga neurobiologi.[T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerempuanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Next Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co