24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingkah Pendidikan Tinggi bagi Wanita?

Isran Kamal by Isran Kamal
November 15, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di banyak keluarga Indonesia, pendidikan tinggi untuk perempuan masih sering dianggap “opsional.” Ada yang berkata, “yang penting bisa jadi ibu yang baik,” seolah-olah kemampuan mengasuh akan tumbuh otomatis tanpa bekal intelektual apa pun. Padahal, dalam psikologi perkembangan modern, kapasitas seorang ibu untuk mendidik dan menumbuhkan potensi anak sangat ditentukan oleh wawasan, literasi, dan kedalaman refleksi yang ia miliki dan hal tersebut terbentuk melalui pendidikan.

Fenomena ini semakin menarik ketika muncul narasi populer bahwa kecerdasan anak diwariskan terutama dari ibu. Narasi ini kemudian dijadikan alasan bahwa perempuan “harus pintar dulu sebelum punya anak.” Namun, secara ilmiah gagasan ini tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak mengubah gen, tetapi pendidikan mengubah cara seorang ibu berpikir, berinteraksi, memproses stres, dan menciptakan lingkungan rumah. Dan justru lingkungan inilah yang memiliki dampak terbesar pada perkembangan otak anak di tahun-tahun awal kehidupan.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan “perempuan juga berhak berkarier.” Pembicaraan ini perlu bergerak ke ranah yang lebih fundamental, yaitu bahwa kualitas pendidikan seorang ibu menentukan kualitas stimulasi kognitif, emosional, dan sosial yang diterima anak yang pada akhirnya memengaruhi kecerdasan dan masa depan mereka.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi perempuan bukan hanya tentang pemberdayaan perempuan; ini adalah investasi lintas generasi dalam kualitas manusia. Dan untuk memahami mengapa hal ini begitu krusial, kita perlu terlebih dahulu meluruskan kesalahpahaman tentang warisan genetika kecerdasan, sebelum melihat bagaimana pendidikan ibu benar-benar memengaruhi perkembangan anak.

Mitos vs Fakta: “IQ Diwarisi dari Ibu?”

Narasi bahwa kecerdasan “sepenuhnya diturunkan dari ibu” sering muncul dari salah tafsir terhadap penelitian tentang gen yang berada pada kromosom X. Karena perempuan memiliki dua kromosom X, mitos ini berkembang menjadi kesimpulan sederhana, “Berarti kecerdasan anak terutama berasal dari ibu.” Sayangnya, realitas genetika jauh lebih kompleks daripada itu.

Pertama, meskipun beberapa gen terkait fungsi kognitif memang berada di kromosom X, kecerdasan adalah sifat poligenik yang dipengaruhi ratusan hingga ribuan gen yang tersebar di berbagai bagian genom, bukan di satu kromosom saja. Studi kembar dan studi GWAS (genome-wide association studies) menunjukkan bahwa pewarisan intelegensi berasal dari kedua orang tua secara proporsional, bukan hanya ibu.

Kedua, memiliki gen tertentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi cerdas. Gen bekerja dalam konteks lingkungan, sebuah prinsip dalam psikologi genetika yang disebut gene–environment interaction. Artinya anak bisa memiliki predisposisi kecerdasan tinggi, tetapi tanpa lingkungan kognitif yang kaya (stimulasi, dukungan emosional, kesempatan belajar), potensi itu tidak akan muncul.

Ketiga, pendidikan ibu tidak mengubah gen, tetapi mengubah cara gen anak diekspresikan melalui epigenetik. Perilaku sehari-hari ibu misalnya pola komunikasi, respons terhadap stres, kebiasaan membaca, atau gaya pengasuhan mampu menguatkan atau melemahkan ekspresi gen yang berperan dalam pembentukan memori, bahasa, dan kontrol diri.

Dengan kata lain, mitos bahwa kecerdasan “hanya berasal dari ibu” boleh dinikmati sebagai obrolan warung kopi, tapi tidak bisa dijadikan pijakan ilmiah. Yang benar adalah anak mewarisi gen kecerdasan dari kedua orang tuanya, tapi potensi tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dan kapasitas pengasuhan ibu.

Dan di sinilah letak urgensinya, bukan apakah sang ibu “pintar secara genetis,” melainkan apakah sang ibu memiliki kompetensi kognitif, emosional, dan sosial yang memadai untuk membentuk lingkungan yang mendorong tumbuhnya kecerdasan anak. Untuk memahami mekanisme itu, kita perlu melihat mengapa pendidikan tinggi memiliki efek jangka panjang terhadap kualitas pengasuhan.

Mengapa Pendidikan Tinggi Perempuan Berdampak Besar pada Kualitas Perkembangan Anak?

Pendidikan tinggi pada perempuan memberikan efek berlapis yang secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas perkembangan anak, baik pada aspek kognitif, emosional, maupun sosial. Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki literasi kesehatan yang lebih baik, sehingga lebih mampu memahami kebutuhan gizi, imunisasi, pola tidur, dan stimulasi perkembangan anak. Pengetahuan ini penting karena fase awal kehidupan merupakan periode kritis bagi perkembangan saraf, dan keputusan-keputusan sederhana seperti pola makan atau akses layanan kesehatan yang dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan pada kemampuan kognitif jangka panjang.

Kemudian perempuan yang berpendidikan tinggi biasanya memiliki keterampilan kognitif dan linguistik yang lebih matang, sehingga mampu menyediakan lingkungan rumah yang lebih kaya stimulasi. Komunikasi yang lebih kompleks, interaksi yang lebih responsif, serta iklim emosional yang lebih stabil. Faktor-faktor ini telah berulang kali dikaitkan dengan peningkatan kemampuan bahasa, kontrol emosi, serta kemampuan memecahkan masalah pada anak.

Selain itu pendidikan tinggi berperan sebagai penyangga psikososial. Perempuan dengan pendidikan tinggi yang memadai cenderung memiliki efikasi diri yang lebih besar dalam mengasuh anak, mampu mengambil keputusan secara lebih otonom, dan lebih mampu mengelola stres. Penyesuaian psikologis ibu yang baik terbukti menjadi salah satu prediktor utama stabilitas emosional anak, terutama selama masa perkembangan awal.

Tidak hanya itu, perempuan dengan pendidikan tinggi biasanya memiliki peluang ekonomi lebih baik dan akses pada jaringan sosial maupun profesional yang lebih luas. Kondisi ini berkontribusi pada keamanan ekonomi rumah tangga, yang merupakan salah satu fondasi perkembangan anak yang sehat. Stabilitas ekonomi tidak hanya membuka akses pada sumber daya pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mengurangi stres keluarga yang dapat menghambat perkembangan psikologis anak.

Secara keseluruhan, efek-efek positif pendidikan tinggi perempuan terhadap perkembangan anak menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan bukan sekadar persoalan tradisi atau naluri, tetapi sangat terkait dengan kapasitas kognitif, emosional, dan sosial yang dimiliki ibu. Namun, untuk memahami pengaruh tersebut pada tingkat yang lebih mendalam, kita perlu melihat bagaimana perilaku pengasuhan sehari-hari secara langsung membentuk otak anak. Di sinilah perspektif neuropsikologi memainkan peran penting dalam menjelaskan mekanisme biologis yang menghubungkan perilaku ibu dengan perkembangan neural anak.

Neuropsikologi: Bagaimana Perilaku Ibu Mempengaruhi Otak Anak

Dari sudut pandang neuropsikologi, perilaku ibu selama masa perkembangan awal anak memiliki dampak yang mendalam terhadap struktur dan fungsi otak. Interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten antara ibu dan anak diketahui mendorong perkembangan optimal pada sistem limbik, terutama pada area seperti amigdala dan hipokampus yang berperan dalam regulasi emosi, memori, dan respons stres.

Pengasuhan yang sensitif membantu membentuk pola konektivitas neural yang stabil, yang kemudian mendukung kemampuan anak untuk mengendalikan emosi, membangun rasa aman, dan mengembangkan kapasitas kognitif. Selain itu, pengalaman sosial awal yang positif seperti sentuhan lembut, komunikasi verbal yang kaya, dan respons cepat terhadap kebutuhan anak akan mengaktifkan sistem reward dopaminergik dan sistem oksitosin.

Aktivasi ini tidak hanya memperkuat ikatan emosional ibu-anak tetapi juga mempercepat perkembangan jalur prefrontal, termasuk medial prefrontal cortex, yang terkait dengan fungsi eksekutif, empati, dan kemampuan mengambil perspektif. Pengasuhan responsif juga mengurangi aktivasi berlebihan pada sumbu HPA (hypothalamic–pituitary–adrenal axis), sehingga menurunkan risiko perkembangan pola stres kronis yang berdampak negatif pada pembelajaran dan kesehatan mental jangka panjang.

Sebaliknya, perilaku pengasuhan yang kurang responsif, tidak konsisten, atau penuh tekanan dapat menghasilkan dampak neuropsikologis yang signifikan. Stres berulang yang dialami anak, terutama pada tahun-tahun awal, berpotensi meningkatkan produksi kortisol pada tingkat yang tidak adaptif. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan dendrit pada hipokampus dan menghambat plastisitas sinaptik, yang berpengaruh pada kemampuan memori dan regulasi emosi.

Faktor-faktor seperti konflik keluarga, depresi ibu, atau kurangnya stimulasi juga dapat menghambat perkembangan konektivitas prefrontal, yang secara jangka panjang terkait dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, impulsivitas, dan kesulitan akademik. Otak anak tumbuh melalui proses interaksi antara gen dan lingkungan, dan perilaku ibu merupakan salah satu lingkungan paling signifikan di tahap awal kehidupan.

Dengan demikian, pemahaman neuropsikologi memperlihatkan bagaimana kualitas pengasuhan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kesejahteraan psikologis, dan kondisi sosial ibu secara langsung membentuk fondasi biologis yang menentukan arah perkembangan anak di tahun-tahun berikutnya.

Mendidik Perempuan = Mendidik Generasi

Pendidikan tinggi bagi perempuan bukan sekadar pencapaian individu, tetapi investasi strategis yang menentukan kualitas generasi berikutnya. Dari perspektif psikologis dan neurokognitif, perempuan yang berpendidikan memiliki kapasitas lebih kuat dalam menyediakan lingkungan pengasuhan yang aman, terstimulasi, dan responsif, tiga pilar yang sangat diperlukan untuk perkembangan otak anak pada masa-masa paling kritis dalam hidupnya. Dengan kata lain, efek pendidikan perempuan tidak berhenti pada peningkatan mobilitas sosial atau kemandirian ekonomi, tetapi meluas hingga membentuk fondasi biologis dan psikologis anak sejak usia dini.

Di level sosial, perempuan yang terdidik cenderung lebih mampu menyaring informasi, memahami isu perkembangan anak, serta mengambil keputusan pengasuhan dengan dasar pengetahuan, bukan sekadar norma turun-temurun.

Mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi emosional, serta metode stimulasi kognitif yang sesuai tahap perkembangan. Kombinasi antara literasi ilmiah dan stabilitas psikologis ini menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga memperkuat resiliensi anak dalam menghadapi dinamika dunia modern.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi perempuan adalah salah satu mekanisme paling efektif untuk meningkatkan kualitas populasi secara jangka panjang. Ketika seorang perempuan memperoleh pendidikan yang baik, dia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri tetapi secara langsung mempengaruhi kualitas perkembangan anak, struktur otak mereka, kapasitas belajar, dan kemampuan adaptasi mereka di masa depan. Maka ungkapan “mendidik perempuan berarti mendidik generasi” bukanlah slogan moral, melainkan kesimpulan empiris yang didukung berbagai bidang ilmu, mulai dari psikologi perkembangan hingga neurobiologi.[T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerempuanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Next Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co