PEMBANGUNAN di universitas dan fakultas telah mengubah wajah kampus sebagai tempat menimba ilmu yang nyaman. Perlahan tapi pasti, gedung-gedung tua di tiap fakultas mulai dibongkar dan dibangun gedung baru. Kesan angker dan mistis yang dulu disandang kampus mulai berkurang dengan bangunan baru.
Kesan angker dan mistis sebetulnya bukan hanya ada di kampus. Kantor-kantor pemerintahan yang sebagian merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda juga terkesan angker. Para pegawai sudah menganggap biasa munculnya cerita mistis di bangunan kuno kantor pemerintah.
Namun cerita berbeda datang dari kampus. Bangunan tua di kampus dengan cepat menjadi bahan pergunjingan. Peran mahasiswa dan media sosial yang dengan masif menarasikan cerita mistis di seputaran kampus, membuat kampus seolah menjadi sarang hantu. Pembangunan gedung baru diharapkan dapat mengubah kesan angker kampus.
Proyek pembangunan di fakultas misalnya, begitu memanjakan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Pintu gerbang kampus yang dulu hanya berupa pagar besi, kini dibuat gapura dengan desain yang modern. Tempat parkir kendaraan menjadi sangat luas dengan taman yang asri di kanan dan kiri.
Toilet kampus tidak lagi jorok seperti dulu. Kini siapa pun yang ke toilet terasa nyaman. Selain bersih, toilet kampus juga harum aroma parfum. Sepintas toilet yang ada di gedung baru mirip dengan toilet yang ada di hotel berbintang.
Dosen, pegawai, dan mahasiswa kini tak perlu lagi capai-capai berjalan menaiki tangga untuk menuju ruangan di lantai atas. Gedung baru fakultas telah dilengkapi lift untuk naik dan turun warga kampus. Tentu saja ini sangat membantu bagi dosen dan pegawai yang sudah lanjut usia. Menaiki tangga ke lantai atas membuat mereka ngos-ngosan.
Meski sudah berdiri gedung baru di kampus, kisah misteri dan menyeramkan tentang kampus tidak hilang begitu saja. Semua berasal dari cerita dari mulut ke mulut yang dituturkan dosen, pegawai, dan mahasiswa tentang bangunan kampus yang lama. Karenanya, walau sudah berdiri gedung megah, cerita mistis tentang kampus tetap saja membayangi siapa pun.
Lift di kampus sering dianggap sebagai salah satu tempat yang menyeramkan. Jika pegawai ada keperluan di lantai atas, perasaan merinding kerapkali muncul ketika berada di dalam lift sendirian. Begitu pula dosen dan mahasiswa yang kuliah di lantai atas. Suasana mencekam terasa saat berada dalam lift, apalagi pada kuliah sore dan malam hari.
***
Candrika Sari mengajar malam hari. Jadwal yang seharusnya di siang hari terpaksa ia geser menjadi malam, kebetulan di jam siang ia ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Agak malas sebetulnya Candrika Sari mengajar malam hari, apalagi ruang kuliah berada di lantai 4 di mana ia harus menggunakan lift. Jika melewati tangga biasa tentu sangat melelahkan.
Suasana kampus sepi di malam hari. Candrika Sari masuk ke dalam lift sendiri. Agak sedikit merinding. Meski gedung kuliah baru, namun aura menyeramkan tetap dirasakan. Candrika Sari hendak memencet tombol angka 4 ketika tiba-tiba seorang perempuan ikut masuk ke dalam lift. Candrika Sari menunda menutup lift dan mempersilakan perempuan itu masuk lift dan memencet angka 3.
Perempuan itu berpakaian serba putih dengan rambut sebahu. Wajahnya tampak pucat. Sekelebat ia menatap Candrika Sari sambil tersenyum. Namun senyumnya menyeramkan. Candrika Sari merinding, berharap lift melaju cepat menuju lantai 3 agar perempuan itu segera keluar. Tetapi yang ia rasakan lift berjalan sangat lambat.
Lift berhenti di lantai 3. Perempuan itu keluar begitu pintu terbuka. Sekilas ia masih sempat melontarkan senyum kepada Candrika Sari. Bau harum bunga melati mengiringi kepergian perempuan itu. Bulu kuduk Candrika Sari berdiri.
Saat pintu lift tertutup dan hendak naik ke lantai 4, terdengar nyanyian sepenggal lagu. “Malam ini tak ingin aku sendiri, kucari damai bersama bayangmu”. Sebuah penggalan lagu lawas yang dinyanyikan Dian Piesesha. Lagu itu dinyanyikan dengan nada mendayu oleh perempuan yang baru keluar dari lift. Candrika Sari terkejut. Ia sedikit gemetaran.
“Siapa perempuan itu? Apakah hantu..???” tanya Candrika Sari dalam hati di tengah ketakutan.
Pengalaman serupa dialami dosen lain, Ira Wardani. Ia telah mendengar cerita adanya perempuan misterius dari Candrika Sari. Oleh karenanya ia tidak berani sendirian berada di dalam lift. Apalagi bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Ira Wardani menunggu teman dosen lain, Yanuarianto yang mengajar sore hari di lantai 5.
Mereka berdua di dalam lift menuju lantai 5. Tidak ada orang lain yang ikut naik dari lantai 1, hanya Ira Wardani dan Yanuarianto. Namun ketika berada di lantai 2, lift berhenti. Ada orang yang akan menuju lantai atas.
Begitu pintu lift di lantai 2 terbuka, seorang perempuan masuk sambil tertunduk. Bau wangi bunga melati menyertai masuknya perempuan itu. Ira Wardani dan Yanuarianto saling pandang. Tampak wajah Ira Wardani seperti orang ketakutan. Sementara Yanuarianto berdebar mempersilakan perempuan itu masuk yang memencet lantai 3.
Perempuan berambut sebahu itu berdiri di sudut lift membelakangi Ira Wardani dan Yanuarianto. Saat lift berada di lantai 3, pintu lift terbuka. Perempuan misterius itu keluar sambil menatap Ira Wardani dan Yanuarianto. Kemudian ia melempar senyum dengan sorot mata menyeramkan.
Yanuarianto merinding, sedangkan Ira Wardani menutup mulutnya. Ia ingin menjerit histeris, namun ditahannya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Pintu lift lantai 3 kembali tertutup. Namun suasana mencekam masih mereka rasakan. Di luar lift, terdengar perempuan itu menyanyikan lagu Kau Selalu di Hatiku. Lagu tahun 1960-an yang dibawakan Ernie Djohan.
“Sambutlah tanganku ini, belailah dengan mesra, kasihmu hanya untukku, hingga akhir nanti”. Sepenggal refrain lagu dinyanyikan perempuan itu dengan suara yang menyedihkan. Lagu lawas itu terdengar sangat menyayat hati. Ira Wardani dan Yanuarianto bertambah merinding.
“Hantu perempuan..,” ucap Ira Wardani dengan nada gemetaran.
“Iya, selalu naik lift menuju lantai 3,” kata Yanuarianto sambil mengusap keringat di keningnya.
Suasana mencekam dan menyeramkan masih mereka rasakan saat tiba di lantai 5 dan keluar dari lift. Mereka serempak menengok ke kiri dan ke kanan, khawatir hantu perempuan itu berada di lantai 5. Ira Wardani usul, setelah kuliah selesai nanti tidak turun menggunakan lift; lewat tangga saja. Yanuarianto sepakat. Apalagi kuliah berakhir menjelang magrib. Jangan-jangan hantu perempuan itu akan masuk lift dan turun dari lantai 3.
***
Lantai 3 menjadi tempat yang menyeramkan bagi dosen, pegawai, dan mahasiswa yang menggunakan lift. Ketakutan akan bertemu hantu perempuan di dalam lift membuat siapa pun yang akan menuju lantai atas kampus selalu mengajak teman. Meski bersama orang lain, perempuan misterius yang diduga hantu itu kadang masih juga muncul.
Mahasiswa semester tiga Tutiek Handayani mengajak temannya, Caco Mulyana untuk menuju lantai 4. Kuliah dosen Yuli Hapsari sebenarnya pada pagi hari. Namun mereka tetap saja dibayangi ketakutan kalau harus menggunakan lift menuju ruang kuliah.
Pelan-pelan Tutiek Handayani memencet tombol lift angka 4. Tak Berapa lama pintu lift terbuka. Betapa terkejut Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Mereka melihat sosok perempuan berpakaian serba putih dengan rambut sebahu sudah berada di dalam lift. Mereka hendak mengurungkan niat untuk masuk lift, namun satu kaki mereka sudah berada di dalam lift. Terpaksa mereka masuk lif bersama perempuan misterius yang sering diceritakan orang.
Suasana mencekam dirasakan Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Tangan Tutiek mencengkeram lengan Caco. Tutiek begitu ketakutan. Apalagi perempuan itu sempat memandangnya dengan tatapan kosong. Aroma bunga melati tercium dalam lift yang sedang berjalan naik. Caco Mulyana berusaha menahan napas dan tidak menunjukkan rasa takut, agar Tutiek Handayani tidak bertambah takut.
Tepat di lantai 3 lift terhenti. Padahal tidak ada yang memencet angka 3 di dalam lift. Pintu lift masih tertutup rapat. Tetapi tiba-tiba perempuan itu keluar menembus pintu lift yang tertutup. Sebelum meninggalkan lift perempuan itu sempat melemparkan senyum kepada Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Sekejap lalu menghilang.
“Hantu….!!!” teriak Tutiek dan Caco berbarengan.
Belum hilang kekagetan dan ketakutan mereka, terdengar sayup-sayup suara nyanyian dari luar lift. “Jika tidak hari ini mungkin minggu depan, jika tidak minggu ini mungkin bulan depan, jika tidak bulan ini mungkin tahun depan”. Lagu folk yang biasanya dinyanyikan Batas Senja dengan merdu itu terasa menyeramkan. Suara perempuan itu terdengar lirih dan menyanyikan lagu Batas Senja dengan diiringi isak tangis.
Tutiek Handayani menutup telinganya tak ingin mendengar lagu itu. Padahal lagu Kita Usahakan Lagi itu sering dinyanyikan bersama teman-temannya. Caco Mulyana tidak dapat menyembunyikan lagi ketakutannya. Wajahnya tampak pucat. Suasana di dalam lift sangat mencekam. Begitu lift berhenti di lantai 4 dan pintu terbuka, mereka berhamburan berlarian menuju kelas. Tentu saja kelas menjadi heboh dengan cerita mereka tentang hantu perempuan di dalam lift.
Sejak peristiwa munculnya hantu perempuan yang bernyanyi, lift di kampus menjadi jarang digunakan. Terutama pada malam Jumat Kliwon. Dosen, pegawai, dan mahasiswa memilih berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Mereka takut bertemu hantu perempuan di dalam lift. Suasana ini membuat kampus menjadi tidak nyaman bagi banyak orang.
Menyikapi ketakutan di kampus, pihak pimpinan berinisiatif untuk mendatangi Mbah Ngatini, seorang wanita tokoh masyarakat yang juga tokoh adat di dekat kampus. Harapannya, hantu perempuan itu tidak lagi muncul di lift dan kampus menjadi tenang kembali.
“Itu makhluk halus perempuan yang dulu tinggal di atas pohon sengon di kampus. Pohon itu telah ditebang dan dijadikan bangunan, makanya ia selalu menuju ke lantai 3 di atas,” kata Mbah Ngatini kepada utusan fakultas yang menemuinya.
Mbah Ngatini menyarankan dilakukan ritual pembersihan makhluk halus yang biasa muncul di lift kampus. Semua persyaratan untuk ritual dipersiapkan Mbah Ngatini. Beraneka bunga dan dupa ditaruh di depan pintu lift.
Seekor ayam cemani disiapkan Mbah Ngatini. Ayam cemani adalah ayam yang berwarna hitam dan biasanya masih dere atau muda. Ayam ini di Jawa sering digunakan untuk ritual tolak bala, pembersihan atau pengusiran makhluk halus.
Kali ini ayam cemani dilepasliarkan Mbah Ngatini di hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Secara simbolis, hantu perempuan yang biasa muncul dilepas ke dalam hutan oleh Mbah Ngatini. Hantu perempuan yang sering menyanyikan lagu dengan irama sedih itu kini berada di atas pepohonan dalam hutan.
Lift kampus kembali digunakan oleh dosen, pegawai, dan mahasiswa untuk menuju lantai atas. Tidak ada lagi ketakutan untuk bertemu hantu perempuan di dalam lift. Meski suasana mencekam tetap saja masih dirasakan ketika berada di lift sendirian pada malam hari. Apalagi mahasiswa kadang berada di dalam lift sambil bersenandung kecil. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























