6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Luh Sukastri dan Wayan Bintaning Tentang Hidup-Mati Tenun Songket Jinengdalem, Buleleng

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
November 4, 2025
in Khas
Cerita Luh Sukastri dan Wayan Bintaning Tentang Hidup-Mati Tenun Songket Jinengdalem, Buleleng

Wayan Bintaning, (kanan) dan Luh Sukastri

KAIN tenun dari Desa Jinengdalem, Buleleng, selalu punya cerita menarik di tengah zaman yang terus berubah. Dan cerita itu selalu saja datang dari perempuan.

Luh Sukastri, salah satu perempuan itu. Lihatlah, ia duduk selonjoran di depan alat tenun tradisional dari kayu. Jemarinya lincah memainkan sehelai benang sutra dan matanya tetap fokus pada benang yang terulur di depannya. Di sela bunyi ketukan alat tenun, perempuan asal Desa Jinengdalem ini bercerita tentang dunia tenun songket yang telah ia tekuni sejak masih anak-anak.

Kisahnya bermula dari motif-motif kecil. Ia menenun sejak kelas 2 SD, diajari langsung oleh ibunya yang juga seorang penenun. “Awalnya belajar nenun, baru SMP bikin motif. Dulu motif pertama saya itu cakra kurung, lalu mawar. Itu motif dasar yang diajarkan ibu,” kenangnya.

Motif Baru, Jiwa Baru

Puluhan tahun bergelut di dunia songket, perempuan berusia 47 tahun itu menenun berdasarkan intuisi dan ingatan. Setiap motif lahir langsung dari pikirannya, tanpa sketsa di atas kertas. Ia mengaku hanya membuat sketsa kalau ada pesanan khusus.

“Biasanya pelanggan mengirim contoh gambar atau request motif, saya buat sketsanya sambil ubah sedikit, tambahkan variasi, biar beda,” tuturnya sambil menatap kain yang tengah ia kerjakan.

Luh Sukastri di tengah proses membuat motif | Foto: Angga

Saat ini songket paling laris adalah motif lama seperti cakra kurung, mawar, dan pucuk.  Namun, Sukastri berani bekreasi tanpa mengikuti tren. Ia berkreasi, menciptakan variasi motif kala rau kecil di sela-selanya disisipkan motif bunga, matahari, dan rantai agar bidang kain tak tampak kosong. Menurutnya, variasi penting agar pembeli tidak jenuh.

“Kalau motifnya baru, pembeli semangat lihatnya. Harga dinaikin dikit juga mereka berani ambil. Tapi kalau yang itu-itu aja, harganya makin turun,” ujarnya jujur.

Terbukti kain songket kreasinya memiliki banyak peminat dan telah dipasarkan di Bangli, Poni’s Songket, dan Pertenunan Artha Dharma. Harga satu kain songket berkisar antara Rp5 juta hingga Rp12 juta, tergantung tingkat kerumitan motif dan pewarnaannya.

Dari Benang Sutra ke Kehidupan

Harga premium itu sebanding dengan prosesnya. Dalam sebulan, ia hanya bisa menyelesaikan satu hingga dua kain songket. Motif kreasi sendiri bisa memakan waktu hingga tiga hari untuk satu bagian, bandingkan dengan motif  dipasaran yang bisa ia selesaikan dalam dua jam.

Wayan Bintaning menenun pola motif Bungan Padang

Proses panjang tidak selalu mulus terkadang saat pewarnaan salah dan motif rusak. ”Kalau rusak sedikit bisa diperbaiki, tapi kalau robek tidak bisa diperbaiki,” katanya pasrah.

Proses menjadi songket dimulai dari ngelos benang sutra (menggulung benang ke dalam cag-cag), nganyinin (merapikan dan menghitung jumlah benang yang diperlukan agar tidak kusut).

Kemudian, benang diwarnai menggunakan pewarna alam dan pewarna basis atau sintetis, tergantung permintaan pembeli. Untuk pewarna alam, ia memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya seperti batang padi menghasilkan warna hijau tua, daun mangga wani menghasilkan merah keunguan, dan kayu jati merah kecoklatan.

Setelah diwarnai, proses berlanjut ke pembuatan motif hingga menenun. Proses akhir adalah lasem (penguat warna), tujuannya agar songket lebih nyaman, lembut, dan tidak luntur.

Kain tenun Jinengdalem motif Singa | Foto: Angga

Bagi Sukastri, menenun adalah cara untuk tetap produktif. Ia bisa tetap di rumah sambil mengurus anak dan membantu perekonomian keluarga. “Kerja di rumah bisa sambil istirahat, bisa ngurus anak juga. Hasilnya cukup buat kebutuhan sekolah anak,” katanya sambil tersenyum bangga.

Ia bekerja setiap hari dari pukul 10 pagi hingga sore, dengan jeda istirahat siang. “Saya tidak pernah maksa diri. Kalau capek, berhenti dulu. Bikin motif itu butuh pikiran jernih. Nggak bisa dipaksa,” ucapnya.

Dari hasil menenun, ia bisa menyekolahkan kedua putranya. Kendatipun pekerjaannya tidak selalu lancar, ada masa sepi dan masa ramai. Biasanya, pesanan meningkat menjelang rahinan Purnama Kapat dan Purnama Kedasa, ketika warga Bali memakai songket saat upacara.

”Tiga bulan menjelang odalan, pembeli sudah mulai pesan dan request motif,” tuturnya.

Yang Tersisa dari Sebuah Desa Songket

Kini, hanya tiga perempuan di Desa Jinengdalem yang masih bisa membuat motif songket secara utuh. Lainnya hanya mampu menenun pola yang sudah jadi. “Yang susah itu bikin motif. Sekarang orang tidak mau belajar, katanya pusing.,” ucapnya.

Sukastri mengungkapan menenun bisa jadi penghidupan kalau tekun, tapi anak-anak muda enggan belajar dan gengsi. Merasa malu jika laki-laki berprofesi sebagai penenun. Mereka lebih memilih bekerja di kota atau di sektor pariwisata.

“Kalau semua anak muda di desa mau ke luar negeri, siapa nanti yang jaga warisan songket ini?” katanya lirih. “Dulu di Beratan banyak perajin songket. Sekarang sudah punah. Tidak ada penerus,” imbuhnya.

Wayan Bintaning menenun pola motif Pucuk | Foto: Angga

Meski begitu, Sukastri tetap berusaha mengajarkan dasar-dasar menenun kepada anak-anak muda di sekitarnya. “Saya ajak aja dulu, biar pegang benang, dengar suaraalat tenun. Kalau udah biasa, lama-lama jatuh cinta sendiri,” katanya penuh harap.

Tenun sebagai Terapi Pikiran

Di teras rumah yang sama, suara alat tenun lain terdengar lebih pelan. Wayan Bintaning, mertua Luh Sukastri yang berusia 75 tahun. Ia adalah penenun songket senior di Desa Jinengdalem, dan seperti menantunya.

Bintaning telah menenun sejak masih duduk di bangku SD. Bintaning duduk dengan tenang di depan alat tenun tuanya. Meski tubuhnya sudah renta ia tetap menolak berhenti menenun.

”Saya masih kuat, cuma duduknya tidak bisa lama karena sakit punggung,” katanya lembut.

Saat ini, ia lebih banyak membantu membuat pola-pola dasar, sementara Sukastri berkreasi dengan motif baru. Meski terbatas, ia tetap memilih menenun agar tidak merasa bosan dan tetap produktif.

Kain tenun Jinengdalem | Foto: Angga

Bagi perempuan sepuh itu, tenun juga obat bagi hati dan pikiran. “Kalau orang tua diam aja, malah kelihatan sakit. Tapi kalau ada kerjaan, pikirannya fokus ke situ, jadi sehat,” ujarnya bijak.

Setiap hari, benang demi benang sutra bergerak di alat tenun milik Sukastri dan Bintaning. Suara tak-tak-tak dari alat tenun hidup di tangan-tangan yang setia, bukti bahwa dua perempuan ini berdaya, tetap sibuk, dan tetap hidup jaga tradisi. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengDesa Jinengdalemkain songketkain tenuntenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Next Post

Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co