24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
November 3, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

KITA hidup di zaman ketika satu gerakan ibu jari bisa menentukan nasib perhatian kita. Scroll itu kelihatannya sepele, ringan, cepat, dan menghibur, tapi pelan-pelan bisa menggerus kemampuan paling berharga yaitu fokus. Saat “scroll” jadi tanpa batas, “fokus” lama-lama kandas. Lalu pertanyaannya: siapa yang seharusnya pegang kendali, kita atau layar di tangan kita? Di sinilah cerita ini dimulai. Bukan dari teori yang jauh, melainkan dari keseharian paling sederhana yang sering kita alami tanpa sadar.

Kadang semuanya terjadi begitu saja. Kita tahu ada kewajiban, kerjaan, dan tugas yang mungkin sudah direncanakan, namun fokus rasanya buyar. Tangan refleks buka ponsel, scroll tanpa arah, kemudian sadar waktu kebuang sia-sia.

Pelan-pelan saya mulai paham, ini soal brainrot. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah penurunan fungsi otak yang meliputi kemampuan berpikir melemah, memori dan daya ingat berkurang, dan fungsi kognitif menurun. Kondisi yang cukup berbahaya karena sudah mulai mengganggu pusat inti dari kendali yang kita punya, yaitu otak.  Pemicu utamanya sederhana, salah satunya screen time berlebihan, terutama dari konten pendek yang receh, meme, atau hal-hal anomali.

Beberapa penelitian menyebutkan penggunaan layar yang berlebihan untuk hiburan dapat menurunkan fokus dan konsentrasi. Menurut Journal of American College Health, ada penelitian yang melibatkan 372 mahasiswa, ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara waktu yang dihabiskan di depan layar (“screen time“) dengan tingkat kecemasan, depresi, dan stres yang lebih tinggi. 

“Kalian ngerasa nggak?” Belakangan ini kita jadi suka scrolling terus. Bahkan di waktu-waktu yang cukup random. Misalnya saat lagi nonton Youtube atau TV pun kita bisa sambil scrolling, bahkan nongkrong pun bukannya ngobrol, malah sibuk dengan layar. Memang, kalau kita lihat dampak dari brain load ini sangat relate dengan generasi saat ini. Basis konten sekarang sudah jauh beda dari dulu. Ditambah, algoritma sekarang diatur sedemikian rupa yang bisa membuat kita jadi candu.

Tapi pertanyaannya “Kenapa sih screen time bisa sebegitu kuat memengaruhi otak kita?” Nah, untuk menjawab itu, kita harus paham dulu mekanisme kerja otak. Kita sudah tahu seberapa bahaya dampak brain load akibat penggunaan sosial media dan scrolling konten receh. Tapi kita belum tahu alasan kenapa semua efek itu bisa terjadi. Apa yang terjadi di dalam otak sehingga efek jangka panjang muncul? Kita bedah satu-satu di sini, supaya ketika kita bener-bener tahu alasan dan sebabnya dengan jelas, itu bisa memberi keinginan buat melakukan tindakan.

Pertama, otak punya reward system atau sistem hadiah. Ini sistem alami yang buat kita merasa senang dan termotivasi saat melakukan hal-hal bermanfaat seperti olahraga, belajar, ngobrol, atau baca buku. Semua itu mengaktifkan dopamine neurotransmitter yang membuat puas dan ingin melakukan aktivitas itu lagi. Nah, di era teknologi sekarang, sumber dopamine bisa diaktifkan mudah seperti scroll TikTok dan buka Instagram. Masalahnya, otak suka yang cepat dan efisien, tapi tidak mengetahui itu baik atau buruk. Otak bilang “Eh, ada cara gampang untuk dapat kesenangan tanpa harus belajar atau olahraga” yaitu scrolling yang mendistruksi motivasi alami. Kesenangan datang tanpa perjuangan, akhirya kita jadi malas melakukan hal-hal penting.

Kedua, sifat eskapism (pelarian). Otak kita punya mekanisme untuk kabur dari realita. Ini cara alami otak buat deal with stress, rasa cemas, atau emosi negatif. Proses meredakan emosi negatif itu adalah coping mechanism. Coping yang baik dan sehat contohnya olahraga, meditasi, jurnaling, atau curhat sama teman. Aktivitas ini bantu otak memproses emosi, bukan cuma menekan atau menghindar. Tapi kenyataannya, banyak orang tidak sadar dan memilih pelarian instan seperti scroll terus-terusan, dan binge watching tanpa kenal waktu. Ini membuat kita terjebak di lingkaran setan. Emosi tidak diolah, hanya ditekan sementara. Hal ini menjadi pola kebiasaan yaitu setiap cemas dan khawatir, larinya ke sosial media.

Ketiga, otak punya dua sistem berpikir yaitu sistem cepat dan instan, serta sistem lambat tapi mendalam. Saat kita terlalu sering konsumsi konten cepat seperti video singkat dan hiburan receh, yang sering dilatih di otak hanya sistem cepat. Sedangkan sistem lambat yang penting untuk kita berpikir kritis dan mendalam, jadi semakin lemah karena jarang dipakai. Hasilnya, kita sulit berpikir kritis, sulit fokus, dan mudah terdistraksi. Ketika coba fokus agak lama, kita tidak tahan, dan terganggu karena otak terbiasa ingin informasi yang cepat dan instan saja.

Keempat, otak kita punya sifat sosial yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory. Dulu, perbandingan sosial berguna seperti belajar dari yang lebih sukses, terdorong jadi rajin dan produktif dalam lingkup kecil yang setara. Tapi di era sosial media, perbandingan yang terjadi tidak lagi setara, melainkan ke versi terkurasi dari kehidupan orang lain. Kita membandingkan highlight orang lain dengan behind the scene kita. Sekarang kita membandingkan diri dengan ribuan, jutaan orang yang menampilkan versi terbaiknya, bahkan orang yang tidak kita kenal. Ini menimbulkan fenomena seperti “standar TikTok,” membuat standar kita bias dan tidak realistis.

Itulah mekanisme otak saat kita terbiasa mengonsumsi konten sosial media secara berlebihan, yang akhirnya bisa menimbulkan efek jangka panjang yaitu brain rot. Kalau ditanya apakah dampaknya permanen? Jawabannya bukan, karena otak kita punya kekuatan neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pengalaman serta kebiasaan baru yang kita lakukan secara konsisten).

Otak kita plastis, fleksibel, dan ini memengaruhi empat mekanisme kerja otak tadi. Sederhananya, cara kerja otak bisa dibentuk ulang. Kalau selama ini kita membiasakan otak mengkonsumsi konten pendek, receh, instan, maka otak terbentuk untuk selalu mencari hal cepat dan mudah. Tapi kalau kita melatih otak dengan kegiatan menantang yang butuh fokus seperti baca buku, riset, mempelajari hal baru, atau menekuni hobi baru, maka otak membangun jalur-jalur yang lebih sehat. Otak jadi terbiasa melakukan hal produktif lain yaitu fokus, berpikir mendalam, dan berpikir kritis.

Pada akhirnya, otak kita adalah cerita yang kita tulis berulang ulang. “Brainrot” hanyalah bab yang bisa ditutup, sedangkan neuroplastisitas memberi kita pena untuk menulis ulang. Pilih satu kebiasaan kecil hari ini, misalnya menunda scroll, membaca sampai tuntas, atau duduk hening lima menit, lalu ulangi besok. Perubahan besar lahir dari langkah sederhana yang setia. Hidup kembali diarahkan oleh kita, bukan oleh layar. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: brain rotkesehatan mentalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Next Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co