2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Bagai Kuda, Pejabatnya Perlu Kacamata Kuda

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA hidup dalam era di mana publik nampaknya semakin sinis terhadap pejabat. Setiap kali muncul kasus korupsi, publik makin yakin bahwa semua pejabat jatuhnya sama saja. Dalam teori komunikasi politik, kondisi ini dikenal sebagai spiral of cynicism (Cappella & Jamieson, 1997), sebuah kondisi ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan siapa yang jujur dan siapa yang korup. Fenomena ini muncul lantaran publik terlalu sering disuguhi berita buruk.

Akibatnya, bahkan pejabat yang benar-benar bekerja keras pun sering dianggap sekadar melakukan pencitraan. Fenomena ini menciptakan semacam kabut moral yang tebal. Pejabat yang memang ingin hidup bersih terjebak dalam sistem yang kotor, sementara yang kotor berlindung di balik jargon-jargon moral. Publik jadinya makin bingung, mana yang tulus, mana pula yang manipulatif?

Menjadi pejabat di Indonesia hari ini adalah pekerjaan yang paradoksal, di satu sisi penuh kehormatan, di sisi lain penuh kecurigaan. Setiap langkah dan gerik mereka ditonton diawasi,  setiap keputusan ditafsirkan, dan setiap senyuman bisa disyakwasangka sebagai tipu daya. Tak bisa ditampik, dalam benak publik, pejabat sering kali tampil bukan sebagai pelayan rakyat, tetapi sebagai pengelola kepentingan, pengatur proyek, dan menempatkan para pemain dalam permainan kekuasaan yang ruwet bagai benang kusut.

Padahal, yang ada di lubuk hati rakyat yang paling dalam, mereka pasti berharap para pemimpin mereka bekerja keras, memegang teguh kejujuran, dan berpihak pada rakyat. Tetapi, tiga hal itu, yang kelihatannya mudah diucapkan, menjadi sangat impossible ketika bersentuhan dengan realitas kekuasaan di negeri ini.

Rakyat Kecil dan Etika “Kacamata Kuda”

Masih ingat saat era Jokowi pernah menyalakan semangat nasional dengan jargon “kerja, kerja, kerja.” Awalnya, frasa itu seperti suntikan energi baru, bahwa kemajuan bangsa kita mau tak mau harus dimulai dari etos kerja. Tapi seiring waktu, banyak yang merasa bahwa slogan itu kemudian kehilangan ruh moralnya. Kerja keras berubah menjadi rutinitas administratif dan produktivitas jadi alat propaganda. Søren Kierkegaard menyebut keadaan semacam ini sebagai the despair of purposelessness, keputusasaan yang datang ketika manusia bekerja tanpa tahu untuk apa.

Dalam dunia pejabat, kerja keras tanpa arah moral adalah kesibukan yang sia-sia,  sibuk menandatangani, sibuk meresmikan, sibuk memposting kegiatan, tapi kehilangan arah etis dari mengapa semua itu dilakukan. Boleh jadi di situlah tragedi pejabat modern dimana mereka bekerja keras agar tampak bekerja keras, bukan agar rakyat benar-benar merasakan hasil kerja itu. Dan di mata rakyat, kerja keras yang tak membawa keadilan hanyalah teater birokrasi yang melelahkan.

Sementara itu, rakyat kecil sudah sejak lama hidup dalam makna sejati dari kerja keras. Tengok saja lagu Koes Plus  yang berjudul  “Jemu”. Lagu sejatinya adalah rekaman situasi sosial dan politik yang valid dari suatu masyarakat. Lagu itu menjadi cermin sosial yang masih relevan hari ini, yakni rakyat masih “kerja keras bagai kuda.” Lirik itu bukan sekadar keluhan, tapi observasi jenius tentang struktur sosial kita. Rakyat bekerja siang malam, sering tanpa imbalan yang sepadan. Tapi justru dari merekalah lahir etika kerja sejati sebut saja ketekunan, kesabaran, dan fokus pada tujuan.

Kalau kita tarik ke ranah simbolik, kuda pekerja biasanya memakai kacamata kuda.  “Kacamata kuda” itu sendiri adalah pelajaran moral. Kuda diberi kacamata bukan untuk membutakan pandangan, melainkan untuk menjaga fokus. Ia tidak boleh menoleh ke kanan dan kiri agar tak tergoda, tak teralihkan, dan tetap berjalan di jalurnya.

Nah, inilah ironi besar kita, rakyat kecil bekerja dengan kacamata kuda, sementara pejabat justru bekerja dengan kacamata lensa wide. Mereka mampu melihat ke mana-mana bukan untuk memahami rakyat, tetapi untuk menjangkau peluang pribadi yang lebih luas. Fokus mereka melebar, tapi moral mereka menyempit.

Kerja Keras sebagai Kerja Batin

Kerja keras sosok  pejabat bukan berarti senang lembur di kantor atau rajin rapat ini-itu. Dalam ranah moral publik, kerja keras yang sejati adalah kerja batin dalam upaya terus-menerus untuk menahan diri dari korupsi, dari kongkalikong, dan dari kompromi yang membutakan hati nurani. Ini jenis kerja keras yang tidak tampak di kamera  wartawan dan postingan IG, tapi faktor yang menentukan apakah seorang pejabat masih punya integritas.

Nietzsche pernah mengingatkan, “He who fights with monsters must take care lest he thereby become a monster.” Terjemahan bebasnya, ketika seseorang berjuang menghadapi sistem yang kotor, ia harus berhati-hati agar tidak ikut menjadi kotor. Nah, di Indonesia, dengan sistem sekarang, pejabat jujur yang berani melawan arus seringkali justru tersingkir, sementara mereka yang pandai menyesuaikan diri akan bertahan dan tambah makmur. Atau malah pejabat yang jujur lama-lama ketularan jadi keblinger.

Karena itulah, kerja keras dalam konteks pejabat sebenarnya bukan soal produktivitas teknis, tetapi soal disiplin moral. Kerja keras berarti terus menjaga arah di tengah sistem yang menggoda untuk menyeleweng. Seorang pejabat yang mampu menolak kesempatan untuk memperkaya diri padahal peluang itu terbuka lebar, telah melakukan kerja keras yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan proyek prestisius macam Whoosh yang lagi ramai lagi sekarang.

Tentu saja, pejabat juga manusia. Mereka punya keluarga, kebutuhan, bahkan ambisi. Karena itu, idealisme bahwa pejabat harus “tanpa kepentingan pribadi sama sekali” tidak realistis. Yang penting, adalah kemampuan untuk memilah. Inilah yang oleh Aristoteles disebut phronesis, suatu kebijaksanaan praktis. Orang bijak bukan yang bebas dari keinginan, melainkan yang tahu kapan dan sejauh mana keinginannya boleh diikuti. Kepentingan pribadi boleh ada, asalkan tunduk pada kepentingan publik.

Masalahnya, banyak pejabat gagal membedakan mana yang legal tapi tidak pantas, dan mana yang pantas tapi tidak legal. Nietzsche kembali menyindir hal ini dengan pahit, “Many people are moral merely because they are too timid to be immoral.” Banyak pejabat tampak seolah jujur bukan karena punya prinsip, tetapi karena takut ketahuan. Mereka berhenti bukan karena sadar moral, tapi karena cemas akan hukuman. Di situ integritas berubah menjadi strategi bertahan hidup, bukan lagi kompas etika.

Kacamata Kuda sebagai Etika Pejabat

Mungkin kita perlu belajar lagi dari metafora sederhana tadi, kacamata kuda. Ia bukan alat untuk menutup dunia, tapi untuk menyempitkan pandangan agar tidak kehilangan arah. Dalam konteks para pejabat, “kacamata kuda” bisa dimaknai sebagai batas moral, suatu disiplin yang membuat seseorang tetap fokus pada mandat publik, bukan tergoda oleh peluang pribadi yang tampak menggiurkan.

Kacamata kuda bukan berarti menolak semua peluang, tapi menyaringnya dengan kesadaran etis. Jika peluang itu legal dan sesuai mandat, bolehlah diambil. Tapi kalau peluang itu justru mengaburkan fokus pelayanan publik, maka harus dibiarkan lewat. Itulah kerja keras yang sesungguhnya, agar tidak berubah menjadi monster kecil di dalam sistem.

Di sisi lain, rakyat kecil sudah jemu. Mereka jemu bukan karena malas bekerja, tapi karena merasa kerja keras mereka tidak pernah berbanding lurus dengan hasil. Sementara pejabat berretorika tentang kerja keras di podium, rakyat sudah menjalankannya di sawah, di pasar, di pabrik, di jalanan.

Kita sebagai rakyat berhak berharap mereka punya kacamata kuda moral yang membuat mereka fokus pada tujuan, setia pada mandat, dan tidak sibuk menoleh ke segala arah untuk mencari kesempatan pribadi.  

Maka, di tengah slogan-slogan nyaring yang kosong, mungkin kita perlu mengingat kembali kebijaksanaan sederhana dari lagu Koes Plus dengan lirik “kerja keras bagai kuda.” Sebuah kalimat yang lahir dari perut rakyat, tapi sebenarnya layak ditujukan kepada mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Karena di negeri yang sedang jemu ini, kerja keras tanpa moral bukan lagi kebajikan, melainkan bentuk baru dari kemalasan nurani. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: pejabatrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dr. Nyoman Suardina dan Elegi Seekor Domba

Next Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Pesta Sesi Dengar "Before It Burns": Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co