3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 29, 2025
in Panggung
Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Salah satu pementasan dalam panggung kolaborasi IAHN Mpu Kuturan dan UPMI Bali

WAKTU begitu cepat menunjukkan pukul tiga sore kala itu. Suasana di Sasana Budaya, 25 Oktober 2025, terasa sedikit tegang dan serius di awal. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) dan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan baru saja melewati beberapa sesi workshop seni dari para narasumber yang dikenal ahli di bidangnya.

Beberapa mahasiswa masih terlihat mengais atau mencari sisa semangatnya setelah mengikuti kegiatan sebelumnya. Namun, begitu sesi keempat dibuka, yaitu pementasan seni budaya, semua ketegangan perlahan mencair. Pementasan budaya kolaborasi yang sangat dinanti dengan antusias antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan yang menjadi salah satu agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali.

Dua mahasiswa dari IAHN Mpu Kuturan dengan topeng berwajah lucu sebagai pembawa acara datang dari balik panggung sukses mengalihkan perhatian semua audiens. Dengan gaya kocak dan celetukan spontan, keduanya berhasil memecah suasana kaku jadi hangat dan penuh tawa. Setiap lelucon yang dilontarkan mengundang senyum bahkan tawa renyah dari penonton, mereka amat pandai dalam mengulur waktu sembari menunggu sembari para pementas bersiap di belakang panggung.

Pementasan akhirnya dimulai, tepuk tangan penonton bergema ketika pembawa acara mengumumkan penampilan pertama. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) tampil dengan karya tari kreasi berjudul “Pratima”, yang merupakan simbol atau wujud Dewa/Dewi/Bhatara yang digunakan sebagai media pemujaan dalam Agama Hindu Bali.

Secara harfiah “Pratima” berarti kemiripan/representasi dalam Bahasa Sansekerta. Tari kreasi yang ditampilkan ini menggambarkan secara estetis melalui Pratima Sang Hyang Dedari, perwujudan Bidadari/Dewi Suci yang dipuja dalam keyakinan umat Hindu Bali untuk memohon keselamatan dan penolak bala. Tarian ini merupakan karya hasil eksplorasi 2 Dosen Prodi Pendidikan Sendratasik, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn. sebagai konseptor dan koreografer, serta Kadek Agung Sari Wiguna, S.Sn., M.Sn. sebagai komposer.

Begitu musik gamelan mulai terdengar, penonton langsung terhanyut. Para penari dengan busana dominan kuning keemasan itu bergerak luwes namun tajam da penuh tenaga. Gerakannya menggabungkan unsur klasik dengan kreasi modern yang dinamis. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika seorang penari diangkat ke atas bahu penari lain, gerakan ekstrem yang jarang terlihat dalam tarian tradisional dan tidak lupa dengan kejutan ketika para penari mengubah sedikit kostum yang dikenakan langsung di atas panggung membuat sorak kagum pun pecah dari penonton.

Tarian ini bukan hanya soal keindahan tubuh yang bergerak, tapi juga tentang spiritualitas yang diwujudkan melalui gerak dan irama. “Pratima” menjadi bukti bahwa tradisi bisa terus hidup, bahkan melalui bentuk-bentuk baru yang lebih segar tanpa kehilangan makna dasarnya.

Setalah penampilan menawan dari UPMI, giliran IAHN Mpu Kuturan mengambil alih panggung dengan garapan musik eksperimental berjudul “Ancak-Ancak Alit”. Karya musik kontemporer ini terinspirasi dari permainan tradisional dan lagu anak Curik-curik. Karya ini menggambarkan suatu suasana anak-anak yang bermain dengan penuh tawa dan semangat melalui bunyi gamelan yang riang serta enerjik ditampilkan kegembiraan, kebersamaan, dan keceriaan saat bermain.

Sejak alunan gamelan pertama berbunyi, suasana langsung berubah menjadi riuh. Bunyi-bunyi gamelan berpadu dengan nyanyian para pemain. Namun yang membuat karya ini unik bukan hanya pada garapan musik eksperimentalnya, melainkan pada komposisi panggungnya. Para pemain tidak hanya duduk memainkan alat musik, mereka juga berpindah posisi, kemudian bergantian memainkan instrumen yang berbeda.

Gerakan mereka tampak seperti permainan yang hidup. Di satu momen, dua penari lainnya yang berlakon sebagai anak-anak bermain datang dipertengahan, mereka berdua tampak bersenda gurau layaknya teman akrab, dilanjutkan dengan adegan kecil dimana mereka terlihat sedang bertengkar, lalu kemudian berbaikan dan menari bersama.

Di titik ini, penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga ikut merasakan energi masa kecil yang sederhana, riang, dan penuh tawa. “Ancak-Ancak Alit” berhasil membangkitkan nostalgia dan kesadaran akan pentingnya menjaga permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.

Melewati dua penampilan yang sarat makna budaya, suasana berubah lagi. Kali ini lebih ringan, santai, tapi tetap menghangatkan hati. Seorang mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia naik ke panggung membawa gitar. Dengan suara yang jernih dan percaya diri, ia membawakan dua lagu pop legendaris Indonesia, yaitu “Aku Milikmu” dari Dewa 19 dan “Hapus Aku” dari Nidji.

Nada-nada awal sudah cukup membuat para penonton ikut bersenandung. Tidak butuh waktu lama, sebagian besar mahasiswa ikut bernyanyi pelan sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri menikmati alunan lagu, beberapa bahkan bertepuk tangan mengikuti irama. Suasana berubah menjadi seperti konser kecil yang penuh keakraban. Lagu-lagu itu meski sederhana, sukses menjembatani suasana formal kegiatan menjadi lebih hidup daan cair. Semua yang hadir seolah melupakan sejenak lelahnya aktvitas hari itu dan tenggelam dalam kebersamaan.

Menuju penghujung acara, sebagai penutup, IAHN Mpu Kuturan kembali naik ke panggung dengan penampilan Joged Bumbung. Tarian rakyat Bali yang terkenal dengan unsur interaktifnya ini berhasil membuat suasana makin meriah. Dua penari yang tampil lincah dengan gerakan khas joget bumbung. Namun yang paling ditunggu tentu adalah momen “pengibing” naik ke atas panggung, ketika penonton diajak naik ke panggung untuk ikut menari adalah yang disebut pengibing. Beberapa “pengibing” bahkan menjadi sorotan karena gerakannya lebih heboh dari penarinya sendiri, membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Ada yang malu-malu, ada pula yang kabur saat diajak naik ke panggung, tapi justru itu yang membuat suasana makin pecah sehingga tanpa disadari sore itu berubah menjadi sore yang penuh dengan kenangan. Pementasan yang mungkin awalnya dijadwalkan hanya sebagai pelengkap kegiatan justru menjadi momen yang mempererat hubungan dua instansi dan memperlihatkan bagaimana seni bis menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan.

Kegiatan yang bertajuk “Jejak Tradisi, Napas Masa Kini: Kolaborasi UPMI dengan IAHN Mpu Kuturan” ini bukan hanya ajang pertunjukan seni, tapi juga cermin dari semangat kolaborasi lintas kampus. Melalui kerja sama antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan, kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan yang dilestarikan, tetapi juga sesuatu yang terus berkembang seiring waktu.

Setiap karya yang ditampilkan sore itu membawa pesan yang sama, bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya, bahwa modernitas dan budaya lokal bisa berdampingan dengan harmoni, dan juga bahwa seni dalam bentuk apapun selalu punya kekuatan untuk menyatukan orang-orang, bahkan hanya dalam satu panggung yang sama. Satu hal terasa jelas, jejak tradisi tidak akan pernah pudar selama masih ada generasi muda yang mau memberi napas baru bagi kebudayaan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu KuturanSeniUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Next Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co