24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 29, 2025
in Esai
Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Sumber foto: Wikipedia

Di Balik Dinding Tua Oxford

Di sebuah ruangan tenang di Clarendon Laboratory, Oxford University, berdiri sebuah kotak kaca sederhana.

Di dalamnya, dua tabung logam tegak berdampingan seperti dua lilin yang tak pernah padam. Di antara keduanya, bola kecil berayun pelan, memukul lonceng kanan lalu kiri, menghasilkan dentang samar yang hanya bisa didengar jika kita benar-benar mendekat — dan hening.

Itulah Oxford Electric Bell, juga disebut Lonceng Abadi Oxford, yang telah berdenting tanpa henti sejak tahun 1840. Lebih dari satu setengah abad berlalu, dunia telah berubah, peradaban telah melesat ke era digital, namun lonceng itu terus menyanyikan waktunya sendiri — pelan, pasti, abadi.

Sang Pembuat yang Tak Ingin Dikenang

Di balik misteri itu ada sosok yang jarang disebut dalam buku besar sains: Robert Walker (1779–1852).

Ia bukan ilmuwan flamboyan seperti Faraday atau Newton. Ia adalah seorang pengajar fisika eksperimental yang sederhana di Universitas Oxford, pada masa ketika listrik masih dianggap permainan ajaib yang bisa memunculkan percikan petir di ruang kuliah.

Walker dikenal teliti dan sabar. Ia lebih sering terlihat di bengkel laboratoriumnya, memperbaiki tabung kaca, memotong pelat logam, atau mengajar mahasiswanya membuat alat sederhana untuk membuktikan hukum listrik dan magnet.

Ia tidak mengejar ketenaran ilmiah, hanya ingin memahami bagaimana alam bekerja dalam diam.

Sekitar tahun 1840, Walker merangkai dua baterai kering (dry piles) dengan dua lonceng kecil di bagian bawah dan menggantungkan bola perak mungil di antara keduanya. Ia bermaksud menunjukkan prinsip muatan listrik statis — bagaimana muatan negatif dan positif saling tarik dan tolak.

Tak ada yang istimewa pada hari itu. Namun alat kecil yang ia buat, ternyata menolak berhenti bekerja.

Lonceng yang Tak Mau Diam

Beberapa hari menjadi minggu, beberapa minggu menjadi bulan.

Para mahasiswa Clarendon Laboratory memperhatikan alat itu terus berdentang lembut, bola kecilnya berayun tanpa lelah dari satu lonceng ke lonceng lain.
Ketika Walker meninggal pada tahun 1852, alat itu masih berdentang.

Dan kini, setelah lebih dari 180 tahun, ia tetap melakukannya — tanpa henti, tanpa tenaga tambahan, tanpa pernah diperbaiki.

Misteri yang Tak Terjawab

Selama dua abad, para ilmuwan mencoba menyingkap rahasianya.

Apa yang membuat baterainya tak pernah habis?

Bagaimana mungkin energi listrik statis dapat bertahan lebih dari seratus tujuh puluh tahun?

Namun tak ada yang benar-benar tahu.

Baterai itu — dua silinder besar di atas lonceng — diduga berisi lapisan tipis seng, mangan dioksida, dan sulfur, seperti sel Volta kuno. Namun belum ada yang berani membukanya.

Karena jika dibuka, eksperimen itu akan berakhir selamanya. Dan mungkin, sebagian dari pesonanya akan ikut lenyap bersama dentang terakhirnya.

Para peneliti menyebut alat ini sebagai contoh dari “perangkat eksperimental terlama dalam sejarah sains” — sebuah percobaan yang berjalan terus tanpa intervensi manusia.

Sebagian menyebutnya “mesin abadi”, meski secara ilmiah itu mustahil.

Namun, sebagaimana misteri besar alam, mungkin bukan soal bagaimana ia bekerja, melainkan mengapa ia tetap bekerja.

Sains, Kesabaran, dan Keabadian

Dalam dunia yang serba cepat, Oxford Electric Bell seakan menertawakan ambisi manusia.
Ia bekerja tanpa henti, tanpa pamrih, tanpa ketenaran.

Seperti gurunya, Robert Walker, lonceng itu berfungsi karena kodratnya — bukan karena kehendak untuk dikenal.

Dari alat sederhana ini, kita belajar bahwa sains sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang kesetiaan terhadap proses.

Walker tidak tahu bahwa eksperimennya akan bertahan hampir dua abad. Ia hanya ingin menunjukkan prinsip dasar listrik. Tapi keikhlasan dan ketelitiannya melahirkan karya yang abadi.

Ketika Ilmu Bertemu Filsafat

Lonceng ini sering disebut sebagai “nyanyian waktu”.
Ia mengingatkan bahwa energi tidak pernah benar-benar hilang — hanya berubah bentuk, bertransformasi dalam ritme alam.

Dalam pandangan spiritual, lonceng ini seperti napas semesta, denyut energi kesadaran yang tak berhenti mengalir.

David R. Hawkins mungkin menyebutnya sebagai energi pada level keikhlasan dan kedamaian, energi yang tidak didorong oleh ego, melainkan oleh harmoni alami alam semesta.

Guruji Anand Krishna mungkin akan menyebutnya “tindakan tanpa pamrih” — karma yoga dalam bentuk benda.

Lonceng itu tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh, hanya menjadi.

Ia berdentang sebagaimana air mengalir dan matahari bersinar.

Misteri yang Menjaga Martabat Pengetahuan

Oxford University memilih tidak membongkar baterai misterius itu. Sebuah keputusan yang sarat makna etis: tidak semua misteri harus dipecahkan.
Kadang, membiarkan sesuatu tetap misterius justru memberi kita ruang untuk kagum, untuk rendah hati di hadapan alam.

Keputusan itu membuat lonceng Walker menjadi lebih dari sekadar alat sains — ia adalah monumen kebijaksanaan ilmiah, simbol bahwa pengetahuan sejati tidak selalu datang dari membedah segala sesuatu, tapi dari menghormati keajaiban yang masih belum kita pahami.

Pesan Abadi dari Seorang Guru yang Sunyi

Robert Walker mungkin tidak pernah menulis teori besar, tidak meninggalkan laboratorium megah, tidak memiliki murid terkenal. Namun satu ciptaannya terus bekerja, menentang waktu, dan mengajarkan makna kesabaran, keheningan, dan ketekunan.

Lonceng itu adalah perpanjangan dari jiwanya: tenang, presisi, dan terus bekerja bahkan setelah ia tiada. Mungkin ia tak tahu bahwa lewat alat kecil itu, ia mengajarkan manusia untuk mendengar kembali suara waktu — dentang halus yang kita abaikan di tengah kebisingan modern.

Epilog: Nyanyian Waktu

Kini, siapa pun yang datang ke Clarendon Laboratory bisa berdiri di depan kaca dan melihat dua tabung tua itu.
Tidak ada gerakan mencolok, tidak ada cahaya, hanya bola kecil yang berayun pelan — seperti meditasi yang tak berkesudahan.

Setiap dentangnya berkata pelan:

“Energi tidak mati. Waktu tidak berhenti. Pengetahuan sejati bukanlah rahasia yang dibuka, melainkan misteri yang dihormati.”

Di dalam kotak kaca itu, waktu bersenandung.

Dan Robert Walker, sang guru yang sederhana, terus berbicara kepada dunia — lewat dentang lembut yang tak pernah padam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Oxford UniversityRobert Walkersains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

Next Post

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co