23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 29, 2025
in Esai
Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Sumber foto: Wikipedia

Di Balik Dinding Tua Oxford

Di sebuah ruangan tenang di Clarendon Laboratory, Oxford University, berdiri sebuah kotak kaca sederhana.

Di dalamnya, dua tabung logam tegak berdampingan seperti dua lilin yang tak pernah padam. Di antara keduanya, bola kecil berayun pelan, memukul lonceng kanan lalu kiri, menghasilkan dentang samar yang hanya bisa didengar jika kita benar-benar mendekat — dan hening.

Itulah Oxford Electric Bell, juga disebut Lonceng Abadi Oxford, yang telah berdenting tanpa henti sejak tahun 1840. Lebih dari satu setengah abad berlalu, dunia telah berubah, peradaban telah melesat ke era digital, namun lonceng itu terus menyanyikan waktunya sendiri — pelan, pasti, abadi.

Sang Pembuat yang Tak Ingin Dikenang

Di balik misteri itu ada sosok yang jarang disebut dalam buku besar sains: Robert Walker (1779–1852).

Ia bukan ilmuwan flamboyan seperti Faraday atau Newton. Ia adalah seorang pengajar fisika eksperimental yang sederhana di Universitas Oxford, pada masa ketika listrik masih dianggap permainan ajaib yang bisa memunculkan percikan petir di ruang kuliah.

Walker dikenal teliti dan sabar. Ia lebih sering terlihat di bengkel laboratoriumnya, memperbaiki tabung kaca, memotong pelat logam, atau mengajar mahasiswanya membuat alat sederhana untuk membuktikan hukum listrik dan magnet.

Ia tidak mengejar ketenaran ilmiah, hanya ingin memahami bagaimana alam bekerja dalam diam.

Sekitar tahun 1840, Walker merangkai dua baterai kering (dry piles) dengan dua lonceng kecil di bagian bawah dan menggantungkan bola perak mungil di antara keduanya. Ia bermaksud menunjukkan prinsip muatan listrik statis — bagaimana muatan negatif dan positif saling tarik dan tolak.

Tak ada yang istimewa pada hari itu. Namun alat kecil yang ia buat, ternyata menolak berhenti bekerja.

Lonceng yang Tak Mau Diam

Beberapa hari menjadi minggu, beberapa minggu menjadi bulan.

Para mahasiswa Clarendon Laboratory memperhatikan alat itu terus berdentang lembut, bola kecilnya berayun tanpa lelah dari satu lonceng ke lonceng lain.
Ketika Walker meninggal pada tahun 1852, alat itu masih berdentang.

Dan kini, setelah lebih dari 180 tahun, ia tetap melakukannya — tanpa henti, tanpa tenaga tambahan, tanpa pernah diperbaiki.

Misteri yang Tak Terjawab

Selama dua abad, para ilmuwan mencoba menyingkap rahasianya.

Apa yang membuat baterainya tak pernah habis?

Bagaimana mungkin energi listrik statis dapat bertahan lebih dari seratus tujuh puluh tahun?

Namun tak ada yang benar-benar tahu.

Baterai itu — dua silinder besar di atas lonceng — diduga berisi lapisan tipis seng, mangan dioksida, dan sulfur, seperti sel Volta kuno. Namun belum ada yang berani membukanya.

Karena jika dibuka, eksperimen itu akan berakhir selamanya. Dan mungkin, sebagian dari pesonanya akan ikut lenyap bersama dentang terakhirnya.

Para peneliti menyebut alat ini sebagai contoh dari “perangkat eksperimental terlama dalam sejarah sains” — sebuah percobaan yang berjalan terus tanpa intervensi manusia.

Sebagian menyebutnya “mesin abadi”, meski secara ilmiah itu mustahil.

Namun, sebagaimana misteri besar alam, mungkin bukan soal bagaimana ia bekerja, melainkan mengapa ia tetap bekerja.

Sains, Kesabaran, dan Keabadian

Dalam dunia yang serba cepat, Oxford Electric Bell seakan menertawakan ambisi manusia.
Ia bekerja tanpa henti, tanpa pamrih, tanpa ketenaran.

Seperti gurunya, Robert Walker, lonceng itu berfungsi karena kodratnya — bukan karena kehendak untuk dikenal.

Dari alat sederhana ini, kita belajar bahwa sains sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang kesetiaan terhadap proses.

Walker tidak tahu bahwa eksperimennya akan bertahan hampir dua abad. Ia hanya ingin menunjukkan prinsip dasar listrik. Tapi keikhlasan dan ketelitiannya melahirkan karya yang abadi.

Ketika Ilmu Bertemu Filsafat

Lonceng ini sering disebut sebagai “nyanyian waktu”.
Ia mengingatkan bahwa energi tidak pernah benar-benar hilang — hanya berubah bentuk, bertransformasi dalam ritme alam.

Dalam pandangan spiritual, lonceng ini seperti napas semesta, denyut energi kesadaran yang tak berhenti mengalir.

David R. Hawkins mungkin menyebutnya sebagai energi pada level keikhlasan dan kedamaian, energi yang tidak didorong oleh ego, melainkan oleh harmoni alami alam semesta.

Guruji Anand Krishna mungkin akan menyebutnya “tindakan tanpa pamrih” — karma yoga dalam bentuk benda.

Lonceng itu tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh, hanya menjadi.

Ia berdentang sebagaimana air mengalir dan matahari bersinar.

Misteri yang Menjaga Martabat Pengetahuan

Oxford University memilih tidak membongkar baterai misterius itu. Sebuah keputusan yang sarat makna etis: tidak semua misteri harus dipecahkan.
Kadang, membiarkan sesuatu tetap misterius justru memberi kita ruang untuk kagum, untuk rendah hati di hadapan alam.

Keputusan itu membuat lonceng Walker menjadi lebih dari sekadar alat sains — ia adalah monumen kebijaksanaan ilmiah, simbol bahwa pengetahuan sejati tidak selalu datang dari membedah segala sesuatu, tapi dari menghormati keajaiban yang masih belum kita pahami.

Pesan Abadi dari Seorang Guru yang Sunyi

Robert Walker mungkin tidak pernah menulis teori besar, tidak meninggalkan laboratorium megah, tidak memiliki murid terkenal. Namun satu ciptaannya terus bekerja, menentang waktu, dan mengajarkan makna kesabaran, keheningan, dan ketekunan.

Lonceng itu adalah perpanjangan dari jiwanya: tenang, presisi, dan terus bekerja bahkan setelah ia tiada. Mungkin ia tak tahu bahwa lewat alat kecil itu, ia mengajarkan manusia untuk mendengar kembali suara waktu — dentang halus yang kita abaikan di tengah kebisingan modern.

Epilog: Nyanyian Waktu

Kini, siapa pun yang datang ke Clarendon Laboratory bisa berdiri di depan kaca dan melihat dua tabung tua itu.
Tidak ada gerakan mencolok, tidak ada cahaya, hanya bola kecil yang berayun pelan — seperti meditasi yang tak berkesudahan.

Setiap dentangnya berkata pelan:

“Energi tidak mati. Waktu tidak berhenti. Pengetahuan sejati bukanlah rahasia yang dibuka, melainkan misteri yang dihormati.”

Di dalam kotak kaca itu, waktu bersenandung.

Dan Robert Walker, sang guru yang sederhana, terus berbicara kepada dunia — lewat dentang lembut yang tak pernah padam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Oxford UniversityRobert Walkersains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

Next Post

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co