25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi C: Putra Putri Ibu Pertiwi Menuju Indonesia Emas

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 28, 2025
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

Lagu “Bangunlah Putra-Putri Ibu Pertiwi” Iwan Fals (Virgiawan Listanto), adalah himne patriotik yang mengajak masyarakat Indonesia untuk bangun, bersatu, dan menghargai Ibu Pertiwi (Tanah Air) sebagai sosok ibu yang melindungi dan memberi kehidupan, serta menjunjung tinggi nilai Pancasila. 

Liriknya dengan tegas mengajak generasi muda untuk membela dan membangun negeri berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa. Seperti dalam lirik Terbanglah garudaku singkirkan kutu-kutu di sayapmu, berkibarlah benderaku singkirkan benalu di tiangmu, Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan pada dunia, bahwa sebenarnya kita mampu.

Seruan untuk bangkit dari segala kesulitan dan bersatu demi kemajuan bangsa, seperti halnya menyambut pagi yang baru. Sejarah memang tidak boleh dilupakan, tapi itu sesaat bercermin karena masa depan lebih luas untuk kita bangun seluas Wawasan Nusantara kita. Ibu Pertiwi membutuhkan kerja cerdas para pemuda tidak tersandera oleh masa lalu sejarah kita.

Saatnya pemuda pewaris negeri ini mengambil peran penting, untuk membawa Ibu Pertiwi terbang tinggi, terbanglah setinggi langit agar para kutu, benalu negeri ini lenyap tertiup angin ketegasan dalam menindak segala kecurangan para kutu, dan benalu negeri ini.

“Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi” bukan sekadar lagu yang bersifat menghibur saja, melainkan sebuah lagu instrospeksi diri kita sebagai suatu bangsa. Lagu ini membawa pesan moral dan semangat perjuangan yang kuat, mengajak kaum muda untuk bangkit dan aktif dalam pembangunan bangsa Indonesia. Mari kita fokus membangun dengan kemampuan, kompetensi yang kita miliki, jangan terprovokasi dan mau diadu domba oleh orang-orang yang iri pada kebesaran dan kekayaan tanah air kita. Ibu Pertiwi sangat membutuhkan karya dari setiap generasi dan masanya.

Personifikasi Ibu Pertiwi sebagai tanah air Indonesia, “Ibu Pertiwi”, simbol cinta mendalam terhadap negara dan perwujudan alam serta lingkungan hidup yang memberikan kehidupan kepada rakyatnya. Ibu Pertiwi sudah banyak memberi dan menyiapkan segala yang ada di perut buminya, kandungan lautnya, lebat hutan dan kesuburan raga tanahnya. Ibu Pertiwi  sebuah perwujudan tanah air Indonesia.

Sejak masa prasejarah, berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara sudah menghormati roh alam dan kekuatan bumi, mereka mengibaratkannya sebagai ibu yang memberikan kehidupan, sebagai dewi alam dan lingkungan hidup. Setelah diserapnya pengaruh Hindu sejak awal millenia pertama di Nusantara, dia dikenal sebagai Dewi Pertiwi, dewi bumi. Meskipun Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan, perwujudan fisik dan citranya jarang ditampilkan di media massa Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_Pertiwi# )

Lirik lagu ini mendorong para pemuda untuk bangun pagi, menghargai, dan menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi negara yang menjadi dasar persatuan bangsa. Secara  eksplisit menekankan pentingnya generasi muda untuk berperan aktif dalam membangun dan membela negara, serta menjunjung tinggi simbol-simbol negara seperti bendera merah putih dan lambang Garuda Pancasila, ke kancah prestasi internasional dalam segala bidang pekerjaan, ilmu, seni, dan olahraga.

Senandung lirik yang menghentak,

“Hei.., jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu, … Mentari pagi sudah membumbung tinggi bangun…Bangunlah putra-putri Ibu Pertiwi, Mari mandi dan gosok gigi. Setelah itu kita berjanji, Tadi pagi, esok hari, atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut. Sang Saka bukan sandang pembalut dan coba kau dengarkan Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut yang hanya berisikan harapan,
yang hanya berisikan khayalan”.

***

Menurut berbagai sumber, narasi dalam seminar, pidato para pejabat sering mengemukan, bahwa Indonesia segera memasuki puncak bonus demografi pada tahun 2030 mendatang. Di masa itu, jumlah penduduk berusia produktif akan lebih banyak dibandingkan penduduk nonproduktif, jumlah pemuda akan berlimpah.

Bonus demografi Indonesia pada  gelombang pertama di tahun 2010 hingga 2020 trejadi pada segmen penduduk produktif 52,63 persen yang menanggung 1 lansia per 100 penduduk dan 5 balita per 100 penduduk. Tren positif mengenai bonus demografi ini sepertinya masih akan berlanjut pada tahun 2020-2030.

Tingginya persentase usia produktif ini dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia apabila pemerintah dan stakeholder dengan bersama-sama mempersiapkan generasi muda yang berkualitas, berkarakter positif, kreatif, mampu berkolaborasi dan saling terkoneksi antara satu pemuda dan pemuda lainnya di setiap kota di Indonesia. Akan tetapi, bila sebaliknya, maka akan muncul permasalahan seperti pengangguran yang besar dan menjadi beban bagi negara. Bahkan bukan tidak mungkin dapat menjadi sumber ketegangan sosial di tengah masyarakat, mengingat potensinya yang besar.

Pemuda saat ini sering juga dijuluki sebagai Generasi C atau Gen C, istilah yang pertama kali ditemukan oleh Youtube. Gen C adalah connected generation atau gerenasi yang selalu terkoneksi. Mereka gemar membuat konten (creation), mengkurasi konten (curation), serta membangun komunitas daring dan intens dengan aktivitas digital (connected).

Gen C bisa berumur dari 15 sampai 70 tahun. Usia 70 tahun masuk generasi ini bila mereka selalu terkoneksi dengan internet. Untuk memasuki pasar ASEAN saat ini siapa pun tak terkecuali terelebih pemuda, mutlak diperlukan memiliki  kompetensi ‘4C’. Critical Thinking, Communication,  Collaboration, Creativity and Inovation . Empat kompetensi ini harus dibina baik dalam pendidikan di perguruan tinggi, maupun pada tingkat SLTA (https://www.kemenkopmk.go.id/kompetensi-4c-untuk-manusia-indonesia-masa-kini)

Fenomena dan prediksi bonus demografi menjadikan peran pemuda akan  menjadi sangat besar dalam rangka menuju Indonesia Emas. Semoga tidak sebaliknya, menjadi beban negara. Presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah berkata: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.  Ayo, “Bangunlah Putra Putri Pertiwi” Indonesia, bangkit dari keraguan, tunjukkan pada mereka kita mampu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Lengut” Bahasa Remaja Putri dalam Lomba Dharmawacana Berbahasa Bali Utsawa Dharma Gita 2025

Next Post

Menyalakan Api Semangat Pemuda: Belajar dari Einstein dan Menuhin Untuk Indonesia Jaya — Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menyalakan Api Semangat Pemuda: Belajar dari Einstein dan Menuhin Untuk Indonesia Jaya — Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Menyalakan Api Semangat Pemuda: Belajar dari Einstein dan Menuhin Untuk Indonesia Jaya -- Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co