25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 25, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kita tahu beberapa waktu lalu, publik kembali diguncang  berita tragis dimana seorang mahasiswa dikabarkan mengakhiri hidupnya setelah konon mengalami bullying alias perundungan di kampusnya. Tidak hanya sampai di situ, kasus ini juga menyeret selebgram Kekeyi. Foto Kekeyi digunakan sebagai bahan lelucon dan disamakan dengan pose korban saat tergeletak. 

Kekeyi tentu saja merasa tidak tahu-menahu soal kasus tersebut, namun dalam hal ini dia merasa sangat direndahkan dan terguncang secara mental karena fotonya dijadikan bahan ejekan. Bukan hanya satu kali ini saja perundungan membawa korban. Masih banyak kasus perundungan lain yang tak kalah menyedihkan. Komentar publik kemudian terbelah menjadi dua. Yang satu pihak berempati, namun pihak lainnya kurang berempati,  dengan berpendapat semestinya korban lebih kuat, lebih tangguh. Mereka berpendapat masa segitu saja korban sampai mengakhiri hidupnya.  

Ungkapan semacam itu sepertinya terdengar sederhana, tapi di situlah letak masalahnya, bahwa kita terlalu sering menuntut ketahanan mental dari korban, bukan dari pelakunya. Kita memuja mental toughness, tapi hanya untuk mereka yang disakiti, bukan untuk mereka yang menyakiti. Padahal kalau mau teliti, orang yang tega mempermalukan orang lain, menyebar hinaan, atau menekan temannya sampai hancur perasaannya, itu jelas bukan orang kuat. Itu tanda lemahnya kendali diri sekaligus miskinnya empati. 

Dalam psikologi modern, ketahanan mental atau mental toughness bukan cuma soal bertahan di tengah tekanan. Ketahanan mental artinya juga mampu mengelola impuls, dorongan untuk marah, menghina, atau keinginan menguasai. Clough dan Strycharczyk (2015) menyebut empat pilar mental toughness, yaitu kontrol, komitmen, tantangan, dan kepercayaan diri. 

Yang menarik di sini, keempatnya bisa, dan seharusnya, bukan hanya diterapkan pada korban, tapi pada pelakunya juga. Orang yang benar-benar kuat mentalnya tentu mampu mengendalikan ego, berkomitmen pada kebaikan, mampu melihat perbedaan sebagai tantangan, dan merasa percaya diri tanpa perlu merendahkan orang lain.

Dari Stoikisme ke Eksistensialisme

Marcus Aurelius, kaisar yang juga seorang filsuf Stoik, menulis dalam Meditations begini, “Kekuatan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, tapi menguasai diri sendiri.” Ini definisi ketahanan mental yang paling elegan paling mantap saya kira, karena bersumber dari kekuatan batin yang tenang, bukan kekerasan yang menindas. 

Epictetus bahkan lebih tajam, “Manusia tidak terganggu oleh kejadian, melainkan oleh cara mereka memandang kejadian itu.” Artinya di sini, pelaku bully itu sesungguhnya diperbudak oleh pikirannya sendiri, di mana ia tidak kuat menghadapi rasa tidak aman yang kemudian ia alihkan ke orang lain. 

Sementara Seneca mengingatkan bahwa amarah adalah bentuk kegilaan sesaat.  Orang bijak tidak bereaksi, tapi merenung. Ini seharusnya jadi prinsip pendidikan karakter, agar diajarkan kepada anak-anak untuk tidak harus menang dalam setiap situasi, tapi mereka harus bisa menahan diri ketika tahu dirinya bisa melukai orang lain. 

Lalu di era modern tampil Kierkegaard dan Nietzsche, yang menyoroti sisi eksistensial. Mereka berpendapat bahwa kita harus memilih dan bertanggung jawab atas eksistensi kita. Namun ada bedanya, Nietzsche menantang manusia untuk menjadi Übermensch, yaitu manusia kuat justru karena ia menolak menjadi budak kebencian. Dalam dunia sekarang, yang disebut sebagai manusia unggul bukan mereka yang paling keras di media sosial, tapi justru yang paling mampu menahan diri bahkan ketika punya kemampuan untuk menghancurlumatkan orang lain. 

Jean-Paul Sartre menambahkan suatu perspektif kebebasan.  Manusia bebas memilih tindakannya, tapi sekaligus juga musti bertanggung jawab penuh atas akibatnya. Jadi setiap pelaku perundungan baik secara sadar atau tidak, sebenarnya sedang dalam kondisi memilih untuk menyakiti. Dan tanggung jawab moral itu jatuh pada dirinya, tidak bisa serta merta dialihkan ke korban dengan kalimat “kenapa nggak tahan?” 

Di era digital ini, perundungan tak lagi terbatas di halaman sekolah atau kampus. Perundungan menular lewat visual di layar, lewat kolom komentar, juga lewat canda-canda kecil yang sebenarnya mematikan pelan-pelan. Dunia modern kita sadari memang penuh tekanan, di mana algoritma menuntut performa, pekerjaan menuntut hasil dan target, serta media sosial menuntut citra nan sempurna. 

Ironisnya, semua ini membuat kita kehilangan empati. Kita menilai kesedihan orang lain dengan standar kekuatan pribadi kita sendiri. Kita lupa bahwa tidak semua orang tumbuh dalam kondisi yang sama dengan kita, dengan dukungan yang sama, dengan daya pulih yang juga sama.  Maka kalau Marcus Aurelius hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Stop saja, kalau cuma ingin viral, sementara dirimu dibiarkan larut menjadi alat algoritma.” Jadi menurutnya, kekuatan sejati bukan pada dominasi fisik, tapi pada penguasaan diri dan keteguhan moral. Karena di balik setiap hinaan yang viral, kita harus sadar ada pribadi yang benar-benar merasa sakit hati. 

Bukan Daya Tahan Korban, tapi Tanggung Jawab yang Kuat

Persoalan ini memang serius kalau kita melihat berbagai dampak yang bisa ditimbulkannya. Dalam hemat saya, sudah saatnya paradigma dibalik.  Resilience alias daya tahan memang penting, tapi ia tidak boleh manjadi tameng moral bagi masyarakat untuk lepas tangan. Kita perlu menanamkan adanya tanggung jawab moral bagi mereka yang punya kekuatan sosial, posisi, atau sekadar keberanian, untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut sebagai alat dominasi.

Kuat bukan sekadar berarti tak bisa menangis. Kuat juga berarti berani mengakui, bahwa setiap manusia rentan, dan karena itu kita tak boleh menginjak-injak orang yang lain.  Karena dunia kita ini akan lebih baik bukan karena lebih banyak orang yang tahan disakiti. Dunia butuh lebih banyak orang yang kuat untuk mampu tidak menyakiti sesamanya.

Sebelum benar-benar lupa, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali ajaran Mahatma Gandhi, Ahimsa, bahwa menyakiti orang lain, bahkan secara verbal, adalah pelanggaran moral. Sepertinya sudah banyak kita bicara tentang ajaran para filsuf. Asalkan kita sadar bahwa yang akan kita sakiti itu juga umat kesayangan Tuhan, saya kira itu sudah cukup. Tapi tentu saja, kembali lagi,  itu tergantung pada kualitas hubungan masing-masing pribadi dengan Sang Khalik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bullyingperundungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Next Post

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co