SIDANG pembaca yang budiman, kita tahu beberapa waktu lalu, publik kembali diguncang berita tragis dimana seorang mahasiswa dikabarkan mengakhiri hidupnya setelah konon mengalami bullying alias perundungan di kampusnya. Tidak hanya sampai di situ, kasus ini juga menyeret selebgram Kekeyi. Foto Kekeyi digunakan sebagai bahan lelucon dan disamakan dengan pose korban saat tergeletak.
Kekeyi tentu saja merasa tidak tahu-menahu soal kasus tersebut, namun dalam hal ini dia merasa sangat direndahkan dan terguncang secara mental karena fotonya dijadikan bahan ejekan. Bukan hanya satu kali ini saja perundungan membawa korban. Masih banyak kasus perundungan lain yang tak kalah menyedihkan. Komentar publik kemudian terbelah menjadi dua. Yang satu pihak berempati, namun pihak lainnya kurang berempati, dengan berpendapat semestinya korban lebih kuat, lebih tangguh. Mereka berpendapat masa segitu saja korban sampai mengakhiri hidupnya.
Ungkapan semacam itu sepertinya terdengar sederhana, tapi di situlah letak masalahnya, bahwa kita terlalu sering menuntut ketahanan mental dari korban, bukan dari pelakunya. Kita memuja mental toughness, tapi hanya untuk mereka yang disakiti, bukan untuk mereka yang menyakiti. Padahal kalau mau teliti, orang yang tega mempermalukan orang lain, menyebar hinaan, atau menekan temannya sampai hancur perasaannya, itu jelas bukan orang kuat. Itu tanda lemahnya kendali diri sekaligus miskinnya empati.
Dalam psikologi modern, ketahanan mental atau mental toughness bukan cuma soal bertahan di tengah tekanan. Ketahanan mental artinya juga mampu mengelola impuls, dorongan untuk marah, menghina, atau keinginan menguasai. Clough dan Strycharczyk (2015) menyebut empat pilar mental toughness, yaitu kontrol, komitmen, tantangan, dan kepercayaan diri.
Yang menarik di sini, keempatnya bisa, dan seharusnya, bukan hanya diterapkan pada korban, tapi pada pelakunya juga. Orang yang benar-benar kuat mentalnya tentu mampu mengendalikan ego, berkomitmen pada kebaikan, mampu melihat perbedaan sebagai tantangan, dan merasa percaya diri tanpa perlu merendahkan orang lain.
Dari Stoikisme ke Eksistensialisme
Marcus Aurelius, kaisar yang juga seorang filsuf Stoik, menulis dalam Meditations begini, “Kekuatan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, tapi menguasai diri sendiri.” Ini definisi ketahanan mental yang paling elegan paling mantap saya kira, karena bersumber dari kekuatan batin yang tenang, bukan kekerasan yang menindas.
Epictetus bahkan lebih tajam, “Manusia tidak terganggu oleh kejadian, melainkan oleh cara mereka memandang kejadian itu.” Artinya di sini, pelaku bully itu sesungguhnya diperbudak oleh pikirannya sendiri, di mana ia tidak kuat menghadapi rasa tidak aman yang kemudian ia alihkan ke orang lain.
Sementara Seneca mengingatkan bahwa amarah adalah bentuk kegilaan sesaat. Orang bijak tidak bereaksi, tapi merenung. Ini seharusnya jadi prinsip pendidikan karakter, agar diajarkan kepada anak-anak untuk tidak harus menang dalam setiap situasi, tapi mereka harus bisa menahan diri ketika tahu dirinya bisa melukai orang lain.
Lalu di era modern tampil Kierkegaard dan Nietzsche, yang menyoroti sisi eksistensial. Mereka berpendapat bahwa kita harus memilih dan bertanggung jawab atas eksistensi kita. Namun ada bedanya, Nietzsche menantang manusia untuk menjadi Übermensch, yaitu manusia kuat justru karena ia menolak menjadi budak kebencian. Dalam dunia sekarang, yang disebut sebagai manusia unggul bukan mereka yang paling keras di media sosial, tapi justru yang paling mampu menahan diri bahkan ketika punya kemampuan untuk menghancurlumatkan orang lain.
Jean-Paul Sartre menambahkan suatu perspektif kebebasan. Manusia bebas memilih tindakannya, tapi sekaligus juga musti bertanggung jawab penuh atas akibatnya. Jadi setiap pelaku perundungan baik secara sadar atau tidak, sebenarnya sedang dalam kondisi memilih untuk menyakiti. Dan tanggung jawab moral itu jatuh pada dirinya, tidak bisa serta merta dialihkan ke korban dengan kalimat “kenapa nggak tahan?”
Di era digital ini, perundungan tak lagi terbatas di halaman sekolah atau kampus. Perundungan menular lewat visual di layar, lewat kolom komentar, juga lewat canda-canda kecil yang sebenarnya mematikan pelan-pelan. Dunia modern kita sadari memang penuh tekanan, di mana algoritma menuntut performa, pekerjaan menuntut hasil dan target, serta media sosial menuntut citra nan sempurna.
Ironisnya, semua ini membuat kita kehilangan empati. Kita menilai kesedihan orang lain dengan standar kekuatan pribadi kita sendiri. Kita lupa bahwa tidak semua orang tumbuh dalam kondisi yang sama dengan kita, dengan dukungan yang sama, dengan daya pulih yang juga sama. Maka kalau Marcus Aurelius hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Stop saja, kalau cuma ingin viral, sementara dirimu dibiarkan larut menjadi alat algoritma.” Jadi menurutnya, kekuatan sejati bukan pada dominasi fisik, tapi pada penguasaan diri dan keteguhan moral. Karena di balik setiap hinaan yang viral, kita harus sadar ada pribadi yang benar-benar merasa sakit hati.
Bukan Daya Tahan Korban, tapi Tanggung Jawab yang Kuat
Persoalan ini memang serius kalau kita melihat berbagai dampak yang bisa ditimbulkannya. Dalam hemat saya, sudah saatnya paradigma dibalik. Resilience alias daya tahan memang penting, tapi ia tidak boleh manjadi tameng moral bagi masyarakat untuk lepas tangan. Kita perlu menanamkan adanya tanggung jawab moral bagi mereka yang punya kekuatan sosial, posisi, atau sekadar keberanian, untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut sebagai alat dominasi.
Kuat bukan sekadar berarti tak bisa menangis. Kuat juga berarti berani mengakui, bahwa setiap manusia rentan, dan karena itu kita tak boleh menginjak-injak orang yang lain. Karena dunia kita ini akan lebih baik bukan karena lebih banyak orang yang tahan disakiti. Dunia butuh lebih banyak orang yang kuat untuk mampu tidak menyakiti sesamanya.
Sebelum benar-benar lupa, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali ajaran Mahatma Gandhi, Ahimsa, bahwa menyakiti orang lain, bahkan secara verbal, adalah pelanggaran moral. Sepertinya sudah banyak kita bicara tentang ajaran para filsuf. Asalkan kita sadar bahwa yang akan kita sakiti itu juga umat kesayangan Tuhan, saya kira itu sudah cukup. Tapi tentu saja, kembali lagi, itu tergantung pada kualitas hubungan masing-masing pribadi dengan Sang Khalik. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI


























