2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biografi Kultural Uang Kepeng

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 23, 2025
in Esai
Biografi Kultural Uang Kepeng

Uang kepeng | Foto: penulis

UANG kepeng datang dari jauh. Di geladak kapal-kapal perdagangan lampau, kepeng jadi sebuah angka. Alat tukar milik saudagar di nusantara. Fungsinya tunggal: transaksi. Kepeng berpindah dari kantong ke kantong, melintasi lautan, hanya mengenal konsep untung dan rugi.

Kemudian kepeng tiba di Bali.

Pulau Bali menyambutnya dengan cara yang berbeda. Warga pulau Dewata tidak hanya melihatnya sebagai angka, namun sebagai kemungkinan. Tanah ini memberinya napas baru. Logam yang tadinya hanya menghitung nilai barang, kini mulai diajak menghitung detak kosmos. Lubang perseginya bukan lagi sekadar pengait tali. Ia menjadi hao, sebuah pusat, jendela menuju yang tak terlihat. Aksara di permukaannya bukan lagi nama asing, malah menjadi mantra.

Inilah awal dari sebuah biografi yang luar biasa. Sebuah kisah tentang alkimia budaya. Kisah tentang bagaimana sebuah objek profan bisa bertransformasi menjadi salah satu pilar sakral dalam sebuah peradaban.

Ni Komang Ayu Astiti dalam Uang Kepeng Sepanjang Masa: Perspektif Arkeologi dan Ekonomi Kretif di Provinsi Bali (2014) dan Nyoman Arisanti melalui Uang Kepeng dalam Perspektif Masyarakat Hindu Bali di Era Globalisasi (2017) mengurai perjalanan ini. Kepeng bukan sekadar sejarah koin. Kepeng jadi cermin bagi karakter kebudayaan Bali itu sendiri: sebuah kemampuan luar biasa untuk menyerap, mengubah, dan memberi makna.

Kisah uang kepeng kerap dibungkus dalam romansa. Ada mitos populer tentang Putri dari Tiongkok, Tang Ci Keng, yang menikah dengan Raja Bali, Sri Jaya Pangus, pada abad ke-11. Mitos indah ini memberi kerangka naratif yang manis. Namun, data arkeologi bercerita lain.

Fakta menunjukkan Bali sebagai pemain global jauh sebelum mitos itu lahir. Catatan Dinasti Tang menyebut uang kepeng sudah beredar di Bali pada abad ke-7. Hampir 400 tahun sebelum era Sri Jaya Pangus. Penemuan belasan ribu keping di Pura Bukit Legundi Cemeng, Kintamani, memvalidasi ini. Koin-koin itu datang dari berbagai dinasti, dari Tiongkok, Vietnam, hingga Jepang.

Rakyat Bali bukanlah penerima pasif. Bali ialah simpul aktif dalam denyut perdagangan maritim Asia, pelabuhan kosmopolitan. Bali terhubung dengan dunia. Dan yang terpenting, selama berabad-abad, uang kepeng, atau pis bolong, adalah murni alat tukar. Kepeng ialah uang yang sah. Koin ini digunakan di pasar. Dipakai juga untuk membayar pajak.

Transformasi jadi inti dari kisah ini. Dari pasar yang riuh, kepeng dibawa ke pura. Dari alat bayar, kepeng jadi persembahan. Prasasti Sukawana AI tahun 882 Masehi telah mencatat fungsi ganda ini. Sejak saat itu, yang profan dan yang sakral hidup berdampingan dalam satu keping logam yang sama.

Inilah cerminan dari filosofi Bali. Tak ada pemisahan kaku antara dunia material (sekala) dan dunia spiritual (niskala). Keduanya menyatu. Uang kepeng menjadi perwujudan fisik dari filosofi ini, jadi jembatan penghubung.

Dalam ritual, kepeng tak lagi bernilai nominal. Kepeng menjadi sesari, sari pati, esensi material dari sebuah niat tulus. Kepeng menjadi pengurip-urip, napas yang menghidupkan sesaji, membuatnya “aktif” dan layak dipersembahkan. Kepeng dirangkai menjadi lamak, tamiang, dan rambut sedana. Uang kepeng tidak lagi membeli barang, malah penyempurna doa.

Mata Uang Abadi

Setiap kisah besar memiliki titik krisisnya. Dinasti Cina di seberang lautan tumbang. Kapal-kapal berhenti datang membawa kepingan baru. Stok kepeng kuno menipis. Penggunaan ritual yang konstan menguras apa yang tersisa.

Di sinilah karakter Bali bersinar. Kekosongan tidak melahirkan keputusasaan, malah melahirkan kreativitas. Didorong Bali Heritage Trust, para pande dan perajin meniupkan api pada tungku mereka. Mereka tidak sekadar meniru bentuk. Mereka melahirkan kembali esensinya.

Mereka menempa koin baru. Namun, mereka tidak membuatnya dari sembarang logam. Mereka membuatnya dari panca datu. Campuran lima logam suci: besi (Wisnu, utara), perak (Iswara, timur), tembaga (Brahma, selatan), emas (Mahadewa, barat), dan perunggu/kuningan (Siwa, tengah).

Ini langkah genius. Sebuah manuver teologis yang mendalam. Warga Bali mendefinisikan ulang konsep “keaslian”. Apa yang membuat kepeng itu sakral? Jawabannya bukan usia arkeologisnya. Bukan pula asal-usulnya dari Dinasti Tang. Yang membuatnya sakral adalah komposisi kosmologisnya.

Sebuah keping logam yang ditempa hari ini, dengan campuran panca datu yang benar dan niat yang suci, dianggap lebih “asli” dan lebih kuat secara spiritual untuk ritual daripada kepingan kuno yang kehilangan muatan spiritualnya. Keaslian bergeser dari urusan sejarah menjadi urusan spiritual. Bali tidak hanya mengadopsi. Bali mengambil alih “makna” dari objek itu.

Tindakan inovatif ini melahirkan sebuah ekosistem baru. Para perajin yang lahir untuk memenuhi kebutuhan ritual kini berdiri di persimpangan baru. Mereka menciptakan lingkaran resiliensi budaya.

Kebutuhan spiritual yang mendesak memicu inovasi lokal. Inovasi ini secara organik melahirkan peluang ekonomi baru. Bengkel-bengkel kerajinan tumbuh. Mereka tak hanya mencetak jinah upakara (koin untuk upacara). Mereka mulai merangkainya menjadi patung penari, anting-anting, hiasan interior, dan cinderamata.

Uang kepeng kini hidup dalam dua dunia. Di pura, kepeng tetap sakral. Di luar pura, koin ini menjadi mesin ekonomi kreatif. Kepeng pun melayani dua pasar: pasar ritual yang stabil dan konstan, dan pasar komersial yang estetis dan menguntungkan.

Inilah paradoks yang indah. Mesin ekonomi yang lahir dari kebutuhan spiritual, kini berbalik menopang praktik spiritual itu sendiri. Setiap upacara dipastikan takkan kekurangan kepingan logamnya. Kebutuhan spiritual mendorong mesin ekonomi. Mesin ekonomi menyediakan bahan bakar agar api spiritual tetap menyala.

Perjalanan uang kepeng merupakan metafora sempurna untuk kebudayaan Bali. Ini mengajarkan kita bahwa budaya bukanlah fosil yang rapuh, yang harus disimpan dalam kotak kaca. Budaya ialah sungai yang terus mengalir. Lentur, adaptif, dan luar biasa kreatif. Budaya menyerap unsur asing, mengunyahnya, dan melahirkannya kembali sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, sesuatu yang sepenuhnya miliknya.

Tentu, ada tantangan risiko komersialisasi yang mendangkalkan makna. Risiko eksploitasi perajin. Namun, sejarah kepeng ini memberi kita optimisme.

Nilai sejati uang kepeng tidak lagi terletak pada logamnya. Nilainya terletak pada makna yang dihembuskan budaya Bali ke dalamnya. Inilah bukti bahwa nilai sebuah benda tidak terletak pada materi, tapi pada cerita, pada niat, dan pada sirkulasinya dalam sebuah sistem kepercayaan. Mata uang iman. Dan itu, adalah nilai yang abadi. [T]

Gianyar, 2025

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Jaswanto

Tags: baliChinakebudayaan baliuang kepeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Next Post

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co