6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biografi Kultural Uang Kepeng

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 23, 2025
in Esai
Biografi Kultural Uang Kepeng

Uang kepeng | Foto: penulis

UANG kepeng datang dari jauh. Di geladak kapal-kapal perdagangan lampau, kepeng jadi sebuah angka. Alat tukar milik saudagar di nusantara. Fungsinya tunggal: transaksi. Kepeng berpindah dari kantong ke kantong, melintasi lautan, hanya mengenal konsep untung dan rugi.

Kemudian kepeng tiba di Bali.

Pulau Bali menyambutnya dengan cara yang berbeda. Warga pulau Dewata tidak hanya melihatnya sebagai angka, namun sebagai kemungkinan. Tanah ini memberinya napas baru. Logam yang tadinya hanya menghitung nilai barang, kini mulai diajak menghitung detak kosmos. Lubang perseginya bukan lagi sekadar pengait tali. Ia menjadi hao, sebuah pusat, jendela menuju yang tak terlihat. Aksara di permukaannya bukan lagi nama asing, malah menjadi mantra.

Inilah awal dari sebuah biografi yang luar biasa. Sebuah kisah tentang alkimia budaya. Kisah tentang bagaimana sebuah objek profan bisa bertransformasi menjadi salah satu pilar sakral dalam sebuah peradaban.

Ni Komang Ayu Astiti dalam Uang Kepeng Sepanjang Masa: Perspektif Arkeologi dan Ekonomi Kretif di Provinsi Bali (2014) dan Nyoman Arisanti melalui Uang Kepeng dalam Perspektif Masyarakat Hindu Bali di Era Globalisasi (2017) mengurai perjalanan ini. Kepeng bukan sekadar sejarah koin. Kepeng jadi cermin bagi karakter kebudayaan Bali itu sendiri: sebuah kemampuan luar biasa untuk menyerap, mengubah, dan memberi makna.

Kisah uang kepeng kerap dibungkus dalam romansa. Ada mitos populer tentang Putri dari Tiongkok, Tang Ci Keng, yang menikah dengan Raja Bali, Sri Jaya Pangus, pada abad ke-11. Mitos indah ini memberi kerangka naratif yang manis. Namun, data arkeologi bercerita lain.

Fakta menunjukkan Bali sebagai pemain global jauh sebelum mitos itu lahir. Catatan Dinasti Tang menyebut uang kepeng sudah beredar di Bali pada abad ke-7. Hampir 400 tahun sebelum era Sri Jaya Pangus. Penemuan belasan ribu keping di Pura Bukit Legundi Cemeng, Kintamani, memvalidasi ini. Koin-koin itu datang dari berbagai dinasti, dari Tiongkok, Vietnam, hingga Jepang.

Rakyat Bali bukanlah penerima pasif. Bali ialah simpul aktif dalam denyut perdagangan maritim Asia, pelabuhan kosmopolitan. Bali terhubung dengan dunia. Dan yang terpenting, selama berabad-abad, uang kepeng, atau pis bolong, adalah murni alat tukar. Kepeng ialah uang yang sah. Koin ini digunakan di pasar. Dipakai juga untuk membayar pajak.

Transformasi jadi inti dari kisah ini. Dari pasar yang riuh, kepeng dibawa ke pura. Dari alat bayar, kepeng jadi persembahan. Prasasti Sukawana AI tahun 882 Masehi telah mencatat fungsi ganda ini. Sejak saat itu, yang profan dan yang sakral hidup berdampingan dalam satu keping logam yang sama.

Inilah cerminan dari filosofi Bali. Tak ada pemisahan kaku antara dunia material (sekala) dan dunia spiritual (niskala). Keduanya menyatu. Uang kepeng menjadi perwujudan fisik dari filosofi ini, jadi jembatan penghubung.

Dalam ritual, kepeng tak lagi bernilai nominal. Kepeng menjadi sesari, sari pati, esensi material dari sebuah niat tulus. Kepeng menjadi pengurip-urip, napas yang menghidupkan sesaji, membuatnya “aktif” dan layak dipersembahkan. Kepeng dirangkai menjadi lamak, tamiang, dan rambut sedana. Uang kepeng tidak lagi membeli barang, malah penyempurna doa.

Mata Uang Abadi

Setiap kisah besar memiliki titik krisisnya. Dinasti Cina di seberang lautan tumbang. Kapal-kapal berhenti datang membawa kepingan baru. Stok kepeng kuno menipis. Penggunaan ritual yang konstan menguras apa yang tersisa.

Di sinilah karakter Bali bersinar. Kekosongan tidak melahirkan keputusasaan, malah melahirkan kreativitas. Didorong Bali Heritage Trust, para pande dan perajin meniupkan api pada tungku mereka. Mereka tidak sekadar meniru bentuk. Mereka melahirkan kembali esensinya.

Mereka menempa koin baru. Namun, mereka tidak membuatnya dari sembarang logam. Mereka membuatnya dari panca datu. Campuran lima logam suci: besi (Wisnu, utara), perak (Iswara, timur), tembaga (Brahma, selatan), emas (Mahadewa, barat), dan perunggu/kuningan (Siwa, tengah).

Ini langkah genius. Sebuah manuver teologis yang mendalam. Warga Bali mendefinisikan ulang konsep “keaslian”. Apa yang membuat kepeng itu sakral? Jawabannya bukan usia arkeologisnya. Bukan pula asal-usulnya dari Dinasti Tang. Yang membuatnya sakral adalah komposisi kosmologisnya.

Sebuah keping logam yang ditempa hari ini, dengan campuran panca datu yang benar dan niat yang suci, dianggap lebih “asli” dan lebih kuat secara spiritual untuk ritual daripada kepingan kuno yang kehilangan muatan spiritualnya. Keaslian bergeser dari urusan sejarah menjadi urusan spiritual. Bali tidak hanya mengadopsi. Bali mengambil alih “makna” dari objek itu.

Tindakan inovatif ini melahirkan sebuah ekosistem baru. Para perajin yang lahir untuk memenuhi kebutuhan ritual kini berdiri di persimpangan baru. Mereka menciptakan lingkaran resiliensi budaya.

Kebutuhan spiritual yang mendesak memicu inovasi lokal. Inovasi ini secara organik melahirkan peluang ekonomi baru. Bengkel-bengkel kerajinan tumbuh. Mereka tak hanya mencetak jinah upakara (koin untuk upacara). Mereka mulai merangkainya menjadi patung penari, anting-anting, hiasan interior, dan cinderamata.

Uang kepeng kini hidup dalam dua dunia. Di pura, kepeng tetap sakral. Di luar pura, koin ini menjadi mesin ekonomi kreatif. Kepeng pun melayani dua pasar: pasar ritual yang stabil dan konstan, dan pasar komersial yang estetis dan menguntungkan.

Inilah paradoks yang indah. Mesin ekonomi yang lahir dari kebutuhan spiritual, kini berbalik menopang praktik spiritual itu sendiri. Setiap upacara dipastikan takkan kekurangan kepingan logamnya. Kebutuhan spiritual mendorong mesin ekonomi. Mesin ekonomi menyediakan bahan bakar agar api spiritual tetap menyala.

Perjalanan uang kepeng merupakan metafora sempurna untuk kebudayaan Bali. Ini mengajarkan kita bahwa budaya bukanlah fosil yang rapuh, yang harus disimpan dalam kotak kaca. Budaya ialah sungai yang terus mengalir. Lentur, adaptif, dan luar biasa kreatif. Budaya menyerap unsur asing, mengunyahnya, dan melahirkannya kembali sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, sesuatu yang sepenuhnya miliknya.

Tentu, ada tantangan risiko komersialisasi yang mendangkalkan makna. Risiko eksploitasi perajin. Namun, sejarah kepeng ini memberi kita optimisme.

Nilai sejati uang kepeng tidak lagi terletak pada logamnya. Nilainya terletak pada makna yang dihembuskan budaya Bali ke dalamnya. Inilah bukti bahwa nilai sebuah benda tidak terletak pada materi, tapi pada cerita, pada niat, dan pada sirkulasinya dalam sebuah sistem kepercayaan. Mata uang iman. Dan itu, adalah nilai yang abadi. [T]

Gianyar, 2025

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Jaswanto

Tags: baliChinakebudayaan baliuang kepeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Next Post

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co