23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biografi Kultural Uang Kepeng

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 23, 2025
in Esai
Biografi Kultural Uang Kepeng

Uang kepeng | Foto: penulis

UANG kepeng datang dari jauh. Di geladak kapal-kapal perdagangan lampau, kepeng jadi sebuah angka. Alat tukar milik saudagar di nusantara. Fungsinya tunggal: transaksi. Kepeng berpindah dari kantong ke kantong, melintasi lautan, hanya mengenal konsep untung dan rugi.

Kemudian kepeng tiba di Bali.

Pulau Bali menyambutnya dengan cara yang berbeda. Warga pulau Dewata tidak hanya melihatnya sebagai angka, namun sebagai kemungkinan. Tanah ini memberinya napas baru. Logam yang tadinya hanya menghitung nilai barang, kini mulai diajak menghitung detak kosmos. Lubang perseginya bukan lagi sekadar pengait tali. Ia menjadi hao, sebuah pusat, jendela menuju yang tak terlihat. Aksara di permukaannya bukan lagi nama asing, malah menjadi mantra.

Inilah awal dari sebuah biografi yang luar biasa. Sebuah kisah tentang alkimia budaya. Kisah tentang bagaimana sebuah objek profan bisa bertransformasi menjadi salah satu pilar sakral dalam sebuah peradaban.

Ni Komang Ayu Astiti dalam Uang Kepeng Sepanjang Masa: Perspektif Arkeologi dan Ekonomi Kretif di Provinsi Bali (2014) dan Nyoman Arisanti melalui Uang Kepeng dalam Perspektif Masyarakat Hindu Bali di Era Globalisasi (2017) mengurai perjalanan ini. Kepeng bukan sekadar sejarah koin. Kepeng jadi cermin bagi karakter kebudayaan Bali itu sendiri: sebuah kemampuan luar biasa untuk menyerap, mengubah, dan memberi makna.

Kisah uang kepeng kerap dibungkus dalam romansa. Ada mitos populer tentang Putri dari Tiongkok, Tang Ci Keng, yang menikah dengan Raja Bali, Sri Jaya Pangus, pada abad ke-11. Mitos indah ini memberi kerangka naratif yang manis. Namun, data arkeologi bercerita lain.

Fakta menunjukkan Bali sebagai pemain global jauh sebelum mitos itu lahir. Catatan Dinasti Tang menyebut uang kepeng sudah beredar di Bali pada abad ke-7. Hampir 400 tahun sebelum era Sri Jaya Pangus. Penemuan belasan ribu keping di Pura Bukit Legundi Cemeng, Kintamani, memvalidasi ini. Koin-koin itu datang dari berbagai dinasti, dari Tiongkok, Vietnam, hingga Jepang.

Rakyat Bali bukanlah penerima pasif. Bali ialah simpul aktif dalam denyut perdagangan maritim Asia, pelabuhan kosmopolitan. Bali terhubung dengan dunia. Dan yang terpenting, selama berabad-abad, uang kepeng, atau pis bolong, adalah murni alat tukar. Kepeng ialah uang yang sah. Koin ini digunakan di pasar. Dipakai juga untuk membayar pajak.

Transformasi jadi inti dari kisah ini. Dari pasar yang riuh, kepeng dibawa ke pura. Dari alat bayar, kepeng jadi persembahan. Prasasti Sukawana AI tahun 882 Masehi telah mencatat fungsi ganda ini. Sejak saat itu, yang profan dan yang sakral hidup berdampingan dalam satu keping logam yang sama.

Inilah cerminan dari filosofi Bali. Tak ada pemisahan kaku antara dunia material (sekala) dan dunia spiritual (niskala). Keduanya menyatu. Uang kepeng menjadi perwujudan fisik dari filosofi ini, jadi jembatan penghubung.

Dalam ritual, kepeng tak lagi bernilai nominal. Kepeng menjadi sesari, sari pati, esensi material dari sebuah niat tulus. Kepeng menjadi pengurip-urip, napas yang menghidupkan sesaji, membuatnya “aktif” dan layak dipersembahkan. Kepeng dirangkai menjadi lamak, tamiang, dan rambut sedana. Uang kepeng tidak lagi membeli barang, malah penyempurna doa.

Mata Uang Abadi

Setiap kisah besar memiliki titik krisisnya. Dinasti Cina di seberang lautan tumbang. Kapal-kapal berhenti datang membawa kepingan baru. Stok kepeng kuno menipis. Penggunaan ritual yang konstan menguras apa yang tersisa.

Di sinilah karakter Bali bersinar. Kekosongan tidak melahirkan keputusasaan, malah melahirkan kreativitas. Didorong Bali Heritage Trust, para pande dan perajin meniupkan api pada tungku mereka. Mereka tidak sekadar meniru bentuk. Mereka melahirkan kembali esensinya.

Mereka menempa koin baru. Namun, mereka tidak membuatnya dari sembarang logam. Mereka membuatnya dari panca datu. Campuran lima logam suci: besi (Wisnu, utara), perak (Iswara, timur), tembaga (Brahma, selatan), emas (Mahadewa, barat), dan perunggu/kuningan (Siwa, tengah).

Ini langkah genius. Sebuah manuver teologis yang mendalam. Warga Bali mendefinisikan ulang konsep “keaslian”. Apa yang membuat kepeng itu sakral? Jawabannya bukan usia arkeologisnya. Bukan pula asal-usulnya dari Dinasti Tang. Yang membuatnya sakral adalah komposisi kosmologisnya.

Sebuah keping logam yang ditempa hari ini, dengan campuran panca datu yang benar dan niat yang suci, dianggap lebih “asli” dan lebih kuat secara spiritual untuk ritual daripada kepingan kuno yang kehilangan muatan spiritualnya. Keaslian bergeser dari urusan sejarah menjadi urusan spiritual. Bali tidak hanya mengadopsi. Bali mengambil alih “makna” dari objek itu.

Tindakan inovatif ini melahirkan sebuah ekosistem baru. Para perajin yang lahir untuk memenuhi kebutuhan ritual kini berdiri di persimpangan baru. Mereka menciptakan lingkaran resiliensi budaya.

Kebutuhan spiritual yang mendesak memicu inovasi lokal. Inovasi ini secara organik melahirkan peluang ekonomi baru. Bengkel-bengkel kerajinan tumbuh. Mereka tak hanya mencetak jinah upakara (koin untuk upacara). Mereka mulai merangkainya menjadi patung penari, anting-anting, hiasan interior, dan cinderamata.

Uang kepeng kini hidup dalam dua dunia. Di pura, kepeng tetap sakral. Di luar pura, koin ini menjadi mesin ekonomi kreatif. Kepeng pun melayani dua pasar: pasar ritual yang stabil dan konstan, dan pasar komersial yang estetis dan menguntungkan.

Inilah paradoks yang indah. Mesin ekonomi yang lahir dari kebutuhan spiritual, kini berbalik menopang praktik spiritual itu sendiri. Setiap upacara dipastikan takkan kekurangan kepingan logamnya. Kebutuhan spiritual mendorong mesin ekonomi. Mesin ekonomi menyediakan bahan bakar agar api spiritual tetap menyala.

Perjalanan uang kepeng merupakan metafora sempurna untuk kebudayaan Bali. Ini mengajarkan kita bahwa budaya bukanlah fosil yang rapuh, yang harus disimpan dalam kotak kaca. Budaya ialah sungai yang terus mengalir. Lentur, adaptif, dan luar biasa kreatif. Budaya menyerap unsur asing, mengunyahnya, dan melahirkannya kembali sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, sesuatu yang sepenuhnya miliknya.

Tentu, ada tantangan risiko komersialisasi yang mendangkalkan makna. Risiko eksploitasi perajin. Namun, sejarah kepeng ini memberi kita optimisme.

Nilai sejati uang kepeng tidak lagi terletak pada logamnya. Nilainya terletak pada makna yang dihembuskan budaya Bali ke dalamnya. Inilah bukti bahwa nilai sebuah benda tidak terletak pada materi, tapi pada cerita, pada niat, dan pada sirkulasinya dalam sebuah sistem kepercayaan. Mata uang iman. Dan itu, adalah nilai yang abadi. [T]

Gianyar, 2025

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Jaswanto

Tags: baliChinakebudayaan baliuang kepeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Next Post

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co