17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biografi Kultural Uang Kepeng

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 23, 2025
in Esai
Biografi Kultural Uang Kepeng

Uang kepeng | Foto: penulis

UANG kepeng datang dari jauh. Di geladak kapal-kapal perdagangan lampau, kepeng jadi sebuah angka. Alat tukar milik saudagar di nusantara. Fungsinya tunggal: transaksi. Kepeng berpindah dari kantong ke kantong, melintasi lautan, hanya mengenal konsep untung dan rugi.

Kemudian kepeng tiba di Bali.

Pulau Bali menyambutnya dengan cara yang berbeda. Warga pulau Dewata tidak hanya melihatnya sebagai angka, namun sebagai kemungkinan. Tanah ini memberinya napas baru. Logam yang tadinya hanya menghitung nilai barang, kini mulai diajak menghitung detak kosmos. Lubang perseginya bukan lagi sekadar pengait tali. Ia menjadi hao, sebuah pusat, jendela menuju yang tak terlihat. Aksara di permukaannya bukan lagi nama asing, malah menjadi mantra.

Inilah awal dari sebuah biografi yang luar biasa. Sebuah kisah tentang alkimia budaya. Kisah tentang bagaimana sebuah objek profan bisa bertransformasi menjadi salah satu pilar sakral dalam sebuah peradaban.

Ni Komang Ayu Astiti dalam Uang Kepeng Sepanjang Masa: Perspektif Arkeologi dan Ekonomi Kretif di Provinsi Bali (2014) dan Nyoman Arisanti melalui Uang Kepeng dalam Perspektif Masyarakat Hindu Bali di Era Globalisasi (2017) mengurai perjalanan ini. Kepeng bukan sekadar sejarah koin. Kepeng jadi cermin bagi karakter kebudayaan Bali itu sendiri: sebuah kemampuan luar biasa untuk menyerap, mengubah, dan memberi makna.

Kisah uang kepeng kerap dibungkus dalam romansa. Ada mitos populer tentang Putri dari Tiongkok, Tang Ci Keng, yang menikah dengan Raja Bali, Sri Jaya Pangus, pada abad ke-11. Mitos indah ini memberi kerangka naratif yang manis. Namun, data arkeologi bercerita lain.

Fakta menunjukkan Bali sebagai pemain global jauh sebelum mitos itu lahir. Catatan Dinasti Tang menyebut uang kepeng sudah beredar di Bali pada abad ke-7. Hampir 400 tahun sebelum era Sri Jaya Pangus. Penemuan belasan ribu keping di Pura Bukit Legundi Cemeng, Kintamani, memvalidasi ini. Koin-koin itu datang dari berbagai dinasti, dari Tiongkok, Vietnam, hingga Jepang.

Rakyat Bali bukanlah penerima pasif. Bali ialah simpul aktif dalam denyut perdagangan maritim Asia, pelabuhan kosmopolitan. Bali terhubung dengan dunia. Dan yang terpenting, selama berabad-abad, uang kepeng, atau pis bolong, adalah murni alat tukar. Kepeng ialah uang yang sah. Koin ini digunakan di pasar. Dipakai juga untuk membayar pajak.

Transformasi jadi inti dari kisah ini. Dari pasar yang riuh, kepeng dibawa ke pura. Dari alat bayar, kepeng jadi persembahan. Prasasti Sukawana AI tahun 882 Masehi telah mencatat fungsi ganda ini. Sejak saat itu, yang profan dan yang sakral hidup berdampingan dalam satu keping logam yang sama.

Inilah cerminan dari filosofi Bali. Tak ada pemisahan kaku antara dunia material (sekala) dan dunia spiritual (niskala). Keduanya menyatu. Uang kepeng menjadi perwujudan fisik dari filosofi ini, jadi jembatan penghubung.

Dalam ritual, kepeng tak lagi bernilai nominal. Kepeng menjadi sesari, sari pati, esensi material dari sebuah niat tulus. Kepeng menjadi pengurip-urip, napas yang menghidupkan sesaji, membuatnya “aktif” dan layak dipersembahkan. Kepeng dirangkai menjadi lamak, tamiang, dan rambut sedana. Uang kepeng tidak lagi membeli barang, malah penyempurna doa.

Mata Uang Abadi

Setiap kisah besar memiliki titik krisisnya. Dinasti Cina di seberang lautan tumbang. Kapal-kapal berhenti datang membawa kepingan baru. Stok kepeng kuno menipis. Penggunaan ritual yang konstan menguras apa yang tersisa.

Di sinilah karakter Bali bersinar. Kekosongan tidak melahirkan keputusasaan, malah melahirkan kreativitas. Didorong Bali Heritage Trust, para pande dan perajin meniupkan api pada tungku mereka. Mereka tidak sekadar meniru bentuk. Mereka melahirkan kembali esensinya.

Mereka menempa koin baru. Namun, mereka tidak membuatnya dari sembarang logam. Mereka membuatnya dari panca datu. Campuran lima logam suci: besi (Wisnu, utara), perak (Iswara, timur), tembaga (Brahma, selatan), emas (Mahadewa, barat), dan perunggu/kuningan (Siwa, tengah).

Ini langkah genius. Sebuah manuver teologis yang mendalam. Warga Bali mendefinisikan ulang konsep “keaslian”. Apa yang membuat kepeng itu sakral? Jawabannya bukan usia arkeologisnya. Bukan pula asal-usulnya dari Dinasti Tang. Yang membuatnya sakral adalah komposisi kosmologisnya.

Sebuah keping logam yang ditempa hari ini, dengan campuran panca datu yang benar dan niat yang suci, dianggap lebih “asli” dan lebih kuat secara spiritual untuk ritual daripada kepingan kuno yang kehilangan muatan spiritualnya. Keaslian bergeser dari urusan sejarah menjadi urusan spiritual. Bali tidak hanya mengadopsi. Bali mengambil alih “makna” dari objek itu.

Tindakan inovatif ini melahirkan sebuah ekosistem baru. Para perajin yang lahir untuk memenuhi kebutuhan ritual kini berdiri di persimpangan baru. Mereka menciptakan lingkaran resiliensi budaya.

Kebutuhan spiritual yang mendesak memicu inovasi lokal. Inovasi ini secara organik melahirkan peluang ekonomi baru. Bengkel-bengkel kerajinan tumbuh. Mereka tak hanya mencetak jinah upakara (koin untuk upacara). Mereka mulai merangkainya menjadi patung penari, anting-anting, hiasan interior, dan cinderamata.

Uang kepeng kini hidup dalam dua dunia. Di pura, kepeng tetap sakral. Di luar pura, koin ini menjadi mesin ekonomi kreatif. Kepeng pun melayani dua pasar: pasar ritual yang stabil dan konstan, dan pasar komersial yang estetis dan menguntungkan.

Inilah paradoks yang indah. Mesin ekonomi yang lahir dari kebutuhan spiritual, kini berbalik menopang praktik spiritual itu sendiri. Setiap upacara dipastikan takkan kekurangan kepingan logamnya. Kebutuhan spiritual mendorong mesin ekonomi. Mesin ekonomi menyediakan bahan bakar agar api spiritual tetap menyala.

Perjalanan uang kepeng merupakan metafora sempurna untuk kebudayaan Bali. Ini mengajarkan kita bahwa budaya bukanlah fosil yang rapuh, yang harus disimpan dalam kotak kaca. Budaya ialah sungai yang terus mengalir. Lentur, adaptif, dan luar biasa kreatif. Budaya menyerap unsur asing, mengunyahnya, dan melahirkannya kembali sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, sesuatu yang sepenuhnya miliknya.

Tentu, ada tantangan risiko komersialisasi yang mendangkalkan makna. Risiko eksploitasi perajin. Namun, sejarah kepeng ini memberi kita optimisme.

Nilai sejati uang kepeng tidak lagi terletak pada logamnya. Nilainya terletak pada makna yang dihembuskan budaya Bali ke dalamnya. Inilah bukti bahwa nilai sebuah benda tidak terletak pada materi, tapi pada cerita, pada niat, dan pada sirkulasinya dalam sebuah sistem kepercayaan. Mata uang iman. Dan itu, adalah nilai yang abadi. [T]

Gianyar, 2025

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Jaswanto

Tags: baliChinakebudayaan baliuang kepeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Next Post

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Posisi Budaya Bali dalam Pusaran Industri Global Sebaiknya Ditinjau Ulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co