2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
October 23, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

“Idupé ngangsan ngewehan, swadharma ngangsan ngeliunan, nanging de kanti ngaénang cening ulah pati.” – Pitutur Bape

LIRIK lagu Noes Bluez ini seperti tamparan halus. Jujur tapi hangat. Hidup memang semakin terasa berat, omongan orang kian tajam, cinta kadang cuma mampir lalu pergi. Kewajiban juga bertambah, bantu keluarga, kerja, belajar, jaga nama baik. Rasanya penuh dan sesak. Namun di tengah sesak itu, ada pesan yang tegas “De kanti ngaénang cening ulah pati” (jangan sampai kamu bunuh diri).

Ungkapan sederhana ini cocok untuk menggambarkan kebiasaan kita yang sering meremehkan kata-kata. Dalam percakapan via chat atau kolom komentar, kalimat pedas mudah sekali keluar. Dalihnya “cuma bercanda” padahal bercanda yang menampar harga diri orang lain itu namanya bully (perundungan). Begitu pula patah hati seperti cinta kandas. Diselingkuhi dan janji yang putus di tengah jalan. Pada budaya kita yang sangat menjunjung nama baik keluarga dan banjar, rasa malu dan kecewa bisa terasa berkali lipat. Sesuatu yang terlihat di luar mungkin sebuah senyum, tetapi di dalam ada pedih yang mungkin berkecamuk. Semua itu adalah beberapa faktor yang belakangan ini kita kerap dengar sebagai alasan untuk ulah pati (bunuh diri).

Mengapa sampai ulah pati? Karena saat rasa sakit tidak diberi tempat aman untuk bercerita, pikiran bisa menjorok ke sudut paling gelap. “Aku merepotkan, aku memalukan, lebih baik selesai.”

Ini bukan sekadar soal iman atau kemauan yang lemah. Ini tentang beban yang terlalu berat untuk dipikul seorang diri. Ketika ruang bicara dipersempit oleh kalimat “sing ngelah lek (tidak tahu malu)” ketika dukungan datang dalam bentuk ceramah, ketika layar ponsel jadi panggung cemooh, maka pintu harapan tampak seperti tembok. Di sinilah kita, sebagai orang Bali, perlu hadir “menyama braya” bukan hanya konsep upacara, tapi napas keseharian.

Mari kita renung sebentar. Hidup kita seberantakan apa pun, selalu bergerak. Hari ini gelap, besok bisa agak terang. Ulah pati menutup semua kemungkinan itu. Ia mematikan peluang yang mungkin baru datang lusa. Ia juga meninggalkan luka panjang untuk orang tua, saudara, sahabat, bahkan tetangga yang diam-diam peduli. Jadi, sebelum kita berkata “capek, selesai,” tanyakan dulu: benarkah tidak ada pintu lain?

Bully bukan hiburan. Ia adalah kekerasan yang dibungkus tawa. Ejek fisik, hina keluarga, singgung agama, sebar privasi. Semuanya melukai. Luka itu tidak selalu tampak, tapi bisa menghantam rasa percaya diri, semangat belajar, dan kemauan untuk hidup. Di sinilah peran kita sebagai teman ataupun sahabat, bahkan sebagai netizen.

Berhenti menormalisasi candaan yang menusuk. Kalau melihat ada yang dirundung, jangan cuma jadi penonton. Alihkan, bela dengan sopan, laporkan. Diam itu bukan netral, diam memperpanjang luka. Masalahnya, budaya kita kadang mengajarkan “kuat = diam”. Kita bangga pada yang tahan banting, tapi lupa memuji yang berani minta tolong. Padahal berani ngomong adalah bagian dari swadharma (tanggung jawab menjaga hidup sendiri dan hidup sesama).

Di titik ini, kita perlu sadar bahwa jalan keluar bukan hanya “menguatkan” korban, melainkan membangun empati yang bekerja. Empati berarti hadir utuh, seperti mendengar tanpa menyela, mengakui rasa tanpa menggurui, dan menahan diri dari kalimat-kalimat yang mematikan harapan seperti “sudahlah, banyak yang lebih susah.” Tanyakan hal sederhana namun dalam “Bagian mana yang paling berat sekarang?” “Apa yang kamu butuhkan hari ini agar bisa bertahan?”

Gunakan bahasa yang tidak menghakimi “aku paham ini menyakitkan” alih-alih memberi label “kamu terlalu baper.” Itulah wujud menyama braya yang konkret membuat orang merasa cukup aman untuk tetap hidup hari ini, dan besok.

Lalu, tentang patah hati. Janji manis bisa putus di tengah jalan, harapan yang kita rawat pelan-pelan bisa runtuh dalam semalam. Siapa pun bisa mengalaminya. Kita sering terjebak gengsi, seperti halnya hubungan harus berhasil, kalau tidak malu keluarga. Padahal patah hati adalah bagian dari belajar mencintai dan mencintai diri.

Wajar sedih, wajar menangis, wajar kehilangan arah. Namun satu hubungan yang gagal tidak menentukan seluruh hidupmu. Masih ada keluarga yang menunggu pelukanmu, sahabat yang ingin mendengar ceritamu, dan hari esok yang belum kamu jalani. Hati patah bisa disambung, pelan-pelan, asal kita tidak mematahkan hidup kita sendiri.

Hidup memang kadang berat, tetapi kamu tidak sendirian. Fajar selalu datang, bukan karena masalah menghilang, melainkan karena kamu punya orang-orang yang siap menjadi penerang. Maka, ketika hati retak dan kata-kata orang terasa racun, pegang ini: “Nanging de kanti ngaénang cening ulah pati.” Pulanglah ke orang-orang yang mencintaimu. Biarkan kami mendengar, memeluk, dan berjalan pelan bersamamu. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Jaswanto

Tags: bunuh diripatah hatirenunganulah pati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [37]: Gerimis Malam di Ruang Generator

Next Post

Biografi Kultural Uang Kepeng

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Biografi Kultural Uang Kepeng

Biografi Kultural Uang Kepeng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co