22 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
October 23, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

“Idupé ngangsan ngewehan, swadharma ngangsan ngeliunan, nanging de kanti ngaénang cening ulah pati.” – Pitutur Bape

LIRIK lagu Noes Bluez ini seperti tamparan halus. Jujur tapi hangat. Hidup memang semakin terasa berat, omongan orang kian tajam, cinta kadang cuma mampir lalu pergi. Kewajiban juga bertambah, bantu keluarga, kerja, belajar, jaga nama baik. Rasanya penuh dan sesak. Namun di tengah sesak itu, ada pesan yang tegas “De kanti ngaénang cening ulah pati” (jangan sampai kamu bunuh diri).

Ungkapan sederhana ini cocok untuk menggambarkan kebiasaan kita yang sering meremehkan kata-kata. Dalam percakapan via chat atau kolom komentar, kalimat pedas mudah sekali keluar. Dalihnya “cuma bercanda” padahal bercanda yang menampar harga diri orang lain itu namanya bully (perundungan). Begitu pula patah hati seperti cinta kandas. Diselingkuhi dan janji yang putus di tengah jalan. Pada budaya kita yang sangat menjunjung nama baik keluarga dan banjar, rasa malu dan kecewa bisa terasa berkali lipat. Sesuatu yang terlihat di luar mungkin sebuah senyum, tetapi di dalam ada pedih yang mungkin berkecamuk. Semua itu adalah beberapa faktor yang belakangan ini kita kerap dengar sebagai alasan untuk ulah pati (bunuh diri).

Mengapa sampai ulah pati? Karena saat rasa sakit tidak diberi tempat aman untuk bercerita, pikiran bisa menjorok ke sudut paling gelap. “Aku merepotkan, aku memalukan, lebih baik selesai.”

Ini bukan sekadar soal iman atau kemauan yang lemah. Ini tentang beban yang terlalu berat untuk dipikul seorang diri. Ketika ruang bicara dipersempit oleh kalimat “sing ngelah lek (tidak tahu malu)” ketika dukungan datang dalam bentuk ceramah, ketika layar ponsel jadi panggung cemooh, maka pintu harapan tampak seperti tembok. Di sinilah kita, sebagai orang Bali, perlu hadir “menyama braya” bukan hanya konsep upacara, tapi napas keseharian.

Mari kita renung sebentar. Hidup kita seberantakan apa pun, selalu bergerak. Hari ini gelap, besok bisa agak terang. Ulah pati menutup semua kemungkinan itu. Ia mematikan peluang yang mungkin baru datang lusa. Ia juga meninggalkan luka panjang untuk orang tua, saudara, sahabat, bahkan tetangga yang diam-diam peduli. Jadi, sebelum kita berkata “capek, selesai,” tanyakan dulu: benarkah tidak ada pintu lain?

Bully bukan hiburan. Ia adalah kekerasan yang dibungkus tawa. Ejek fisik, hina keluarga, singgung agama, sebar privasi. Semuanya melukai. Luka itu tidak selalu tampak, tapi bisa menghantam rasa percaya diri, semangat belajar, dan kemauan untuk hidup. Di sinilah peran kita sebagai teman ataupun sahabat, bahkan sebagai netizen.

Berhenti menormalisasi candaan yang menusuk. Kalau melihat ada yang dirundung, jangan cuma jadi penonton. Alihkan, bela dengan sopan, laporkan. Diam itu bukan netral, diam memperpanjang luka. Masalahnya, budaya kita kadang mengajarkan “kuat = diam”. Kita bangga pada yang tahan banting, tapi lupa memuji yang berani minta tolong. Padahal berani ngomong adalah bagian dari swadharma (tanggung jawab menjaga hidup sendiri dan hidup sesama).

Di titik ini, kita perlu sadar bahwa jalan keluar bukan hanya “menguatkan” korban, melainkan membangun empati yang bekerja. Empati berarti hadir utuh, seperti mendengar tanpa menyela, mengakui rasa tanpa menggurui, dan menahan diri dari kalimat-kalimat yang mematikan harapan seperti “sudahlah, banyak yang lebih susah.” Tanyakan hal sederhana namun dalam “Bagian mana yang paling berat sekarang?” “Apa yang kamu butuhkan hari ini agar bisa bertahan?”

Gunakan bahasa yang tidak menghakimi “aku paham ini menyakitkan” alih-alih memberi label “kamu terlalu baper.” Itulah wujud menyama braya yang konkret membuat orang merasa cukup aman untuk tetap hidup hari ini, dan besok.

Lalu, tentang patah hati. Janji manis bisa putus di tengah jalan, harapan yang kita rawat pelan-pelan bisa runtuh dalam semalam. Siapa pun bisa mengalaminya. Kita sering terjebak gengsi, seperti halnya hubungan harus berhasil, kalau tidak malu keluarga. Padahal patah hati adalah bagian dari belajar mencintai dan mencintai diri.

Wajar sedih, wajar menangis, wajar kehilangan arah. Namun satu hubungan yang gagal tidak menentukan seluruh hidupmu. Masih ada keluarga yang menunggu pelukanmu, sahabat yang ingin mendengar ceritamu, dan hari esok yang belum kamu jalani. Hati patah bisa disambung, pelan-pelan, asal kita tidak mematahkan hidup kita sendiri.

Hidup memang kadang berat, tetapi kamu tidak sendirian. Fajar selalu datang, bukan karena masalah menghilang, melainkan karena kamu punya orang-orang yang siap menjadi penerang. Maka, ketika hati retak dan kata-kata orang terasa racun, pegang ini: “Nanging de kanti ngaénang cening ulah pati.” Pulanglah ke orang-orang yang mencintaimu. Biarkan kami mendengar, memeluk, dan berjalan pelan bersamamu. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Jaswanto

Tags: bunuh diripatah hatirenunganulah pati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [37]: Gerimis Malam di Ruang Generator

Next Post

Biografi Kultural Uang Kepeng

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Biografi Kultural Uang Kepeng

Biografi Kultural Uang Kepeng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co