12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
October 23, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

“Idupé ngangsan ngewehan, swadharma ngangsan ngeliunan, nanging de kanti ngaénang cening ulah pati.” – Pitutur Bape

LIRIK lagu Noes Bluez ini seperti tamparan halus. Jujur tapi hangat. Hidup memang semakin terasa berat, omongan orang kian tajam, cinta kadang cuma mampir lalu pergi. Kewajiban juga bertambah, bantu keluarga, kerja, belajar, jaga nama baik. Rasanya penuh dan sesak. Namun di tengah sesak itu, ada pesan yang tegas “De kanti ngaénang cening ulah pati” (jangan sampai kamu bunuh diri).

Ungkapan sederhana ini cocok untuk menggambarkan kebiasaan kita yang sering meremehkan kata-kata. Dalam percakapan via chat atau kolom komentar, kalimat pedas mudah sekali keluar. Dalihnya “cuma bercanda” padahal bercanda yang menampar harga diri orang lain itu namanya bully (perundungan). Begitu pula patah hati seperti cinta kandas. Diselingkuhi dan janji yang putus di tengah jalan. Pada budaya kita yang sangat menjunjung nama baik keluarga dan banjar, rasa malu dan kecewa bisa terasa berkali lipat. Sesuatu yang terlihat di luar mungkin sebuah senyum, tetapi di dalam ada pedih yang mungkin berkecamuk. Semua itu adalah beberapa faktor yang belakangan ini kita kerap dengar sebagai alasan untuk ulah pati (bunuh diri).

Mengapa sampai ulah pati? Karena saat rasa sakit tidak diberi tempat aman untuk bercerita, pikiran bisa menjorok ke sudut paling gelap. “Aku merepotkan, aku memalukan, lebih baik selesai.”

Ini bukan sekadar soal iman atau kemauan yang lemah. Ini tentang beban yang terlalu berat untuk dipikul seorang diri. Ketika ruang bicara dipersempit oleh kalimat “sing ngelah lek (tidak tahu malu)” ketika dukungan datang dalam bentuk ceramah, ketika layar ponsel jadi panggung cemooh, maka pintu harapan tampak seperti tembok. Di sinilah kita, sebagai orang Bali, perlu hadir “menyama braya” bukan hanya konsep upacara, tapi napas keseharian.

Mari kita renung sebentar. Hidup kita seberantakan apa pun, selalu bergerak. Hari ini gelap, besok bisa agak terang. Ulah pati menutup semua kemungkinan itu. Ia mematikan peluang yang mungkin baru datang lusa. Ia juga meninggalkan luka panjang untuk orang tua, saudara, sahabat, bahkan tetangga yang diam-diam peduli. Jadi, sebelum kita berkata “capek, selesai,” tanyakan dulu: benarkah tidak ada pintu lain?

Bully bukan hiburan. Ia adalah kekerasan yang dibungkus tawa. Ejek fisik, hina keluarga, singgung agama, sebar privasi. Semuanya melukai. Luka itu tidak selalu tampak, tapi bisa menghantam rasa percaya diri, semangat belajar, dan kemauan untuk hidup. Di sinilah peran kita sebagai teman ataupun sahabat, bahkan sebagai netizen.

Berhenti menormalisasi candaan yang menusuk. Kalau melihat ada yang dirundung, jangan cuma jadi penonton. Alihkan, bela dengan sopan, laporkan. Diam itu bukan netral, diam memperpanjang luka. Masalahnya, budaya kita kadang mengajarkan “kuat = diam”. Kita bangga pada yang tahan banting, tapi lupa memuji yang berani minta tolong. Padahal berani ngomong adalah bagian dari swadharma (tanggung jawab menjaga hidup sendiri dan hidup sesama).

Di titik ini, kita perlu sadar bahwa jalan keluar bukan hanya “menguatkan” korban, melainkan membangun empati yang bekerja. Empati berarti hadir utuh, seperti mendengar tanpa menyela, mengakui rasa tanpa menggurui, dan menahan diri dari kalimat-kalimat yang mematikan harapan seperti “sudahlah, banyak yang lebih susah.” Tanyakan hal sederhana namun dalam “Bagian mana yang paling berat sekarang?” “Apa yang kamu butuhkan hari ini agar bisa bertahan?”

Gunakan bahasa yang tidak menghakimi “aku paham ini menyakitkan” alih-alih memberi label “kamu terlalu baper.” Itulah wujud menyama braya yang konkret membuat orang merasa cukup aman untuk tetap hidup hari ini, dan besok.

Lalu, tentang patah hati. Janji manis bisa putus di tengah jalan, harapan yang kita rawat pelan-pelan bisa runtuh dalam semalam. Siapa pun bisa mengalaminya. Kita sering terjebak gengsi, seperti halnya hubungan harus berhasil, kalau tidak malu keluarga. Padahal patah hati adalah bagian dari belajar mencintai dan mencintai diri.

Wajar sedih, wajar menangis, wajar kehilangan arah. Namun satu hubungan yang gagal tidak menentukan seluruh hidupmu. Masih ada keluarga yang menunggu pelukanmu, sahabat yang ingin mendengar ceritamu, dan hari esok yang belum kamu jalani. Hati patah bisa disambung, pelan-pelan, asal kita tidak mematahkan hidup kita sendiri.

Hidup memang kadang berat, tetapi kamu tidak sendirian. Fajar selalu datang, bukan karena masalah menghilang, melainkan karena kamu punya orang-orang yang siap menjadi penerang. Maka, ketika hati retak dan kata-kata orang terasa racun, pegang ini: “Nanging de kanti ngaénang cening ulah pati.” Pulanglah ke orang-orang yang mencintaimu. Biarkan kami mendengar, memeluk, dan berjalan pelan bersamamu. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Jaswanto

Tags: bunuh diripatah hatirenunganulah pati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [37]: Gerimis Malam di Ruang Generator

Next Post

Biografi Kultural Uang Kepeng

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Biografi Kultural Uang Kepeng

Biografi Kultural Uang Kepeng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co