12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [37]: Gerimis Malam di Ruang Generator

Chusmeru by Chusmeru
October 23, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KULIAH yang nyaman adalah kuliah tanpa gangguan. Kuliah dalam ruang AC dan kedap suara menjadikan mahasiswa lebih betah. Banyak kampus yang belum memiliki ruangan seperti itu, sehingga saat perkuliahan suara bising kendaraan yang lalu lalang di depan kampus terdengar hingga ke ruang kuliah.

Banyak bentuk gangguan yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam perkuliahan. Mahasiswa yang datang terlambat ketika kuliah sudah dimulai kadang juga mengganggu kenyamanan. Dosen harus menghentikan sejenak perkuliahan hingga mahasiswa itu duduk. Malah ada dosen yang kehilangan fokus dalam mengajar jika ada mahasiswa yang datang terlambat.

Bunyi ponsel saat kuliah berlangsung sering menimbulkan gangguan kuliah. Bukan hanya dering telepon dari ponsel mahasiswa, tetapi juga ponsel dosen. Karenanya, di awal pertemuan biasanya dilakukan kontrak perkuliahan yang mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mahasiswa dan dosen selama kuliah berlangsung.

Satu gangguan yang paling membuat tidak nyaman saat kuliah adalah listrik yang padam. Semua bisa menjadi berantakan. Ketika dosen sedang asyik menerangkan mati kuliah, tiba-tiba listrik di kampus padam. Kadang memang ada pemberitahuan awal dari PLN tentang informasi pemadaman listrik atau gangguan jaringan. Namun kapan tepatnya listrik padam sulit ditebak.

Mengatasi ketidaknyamanan itu, pihak kampus menyiapkan generator listrik yang dapat digunakan saat aliran listrik padam. Kapasitas generator biasanya tergantung pada kebutuhan daya dan peralatan yang ada di kampus. Generator dengan kapasitas 100 kVA dianggap cukup bagi sebuah fakultas untuk mengantisipasi padamnya listrik.

Generator di tempat Wagirun dan Sujadi bekerja ditempatkan di sebuah ruangan dekat pos Satpam. Meski ada teknisi yang menangani generator, kadang Wagirun dan Sujadi yang bekerja sebagai Satpam harus paham soal urusan generator. Kadang aliran listrik di kampus padam saat sore atau malam di mana semua pegawai sudah pulang. Giliran mereka yang jaga malam di pos Satpam terpaksa turun tangan ke ruang generator.

Kampus di mana Wagirun dan Sujadi bekerja akitivitasnya bukan hanya di pagi dan siang hari. Sore dan malam hari juga masih ada perkuliahan untuk program magister dan doktor. Bila turun hujan lebat dan petir menyambar, kadang aliran listrik di seputar kampus padam cukup lama. Maka mau tak mau mereka harus menghidupkan generator listrik

***

Satpam fakultas ada empat orang yang bekerja bergiliran, piket pagi sampai sore dan piket sore hingga dini hari. Wagirun dan Sujadi kerap mendapat giliran yang sama, piket sore. Mereka akan bertugas sejak sore, malam, hingga subuh tiba. Jika listrik padam, mereka tidak harus bersusah-payah menghidupkan generator, karena letak ruangan yang persis di sebelah pos Satpam.

Malam ini Wagirun dan Sujadi sudah berada di pos Satpam. Mendung bergelayut di langit. Sepertinya akan turun hujan. Wagirun sudah menyiapkan jas hujan dan payung untuk berkeliling kampus bila turun hujan. Sujadi juga sudah siap sedia kopi sachet untuk bekal malam jika mata terasa mengantuk.

Rintik gerimis turun di pelataran kampus. Hari belum begitu malam. Kuliah di program magister dan program doktor masih berlangsung. Kampus di kota yang berhawa sejuk ini semakin dingin bila malam tiba. Apalagi turun gerimis. Wagirun mengamati kalender yang terpasang di pos Satpam. Masih tanggal muda. Semangat kerja mereka masih menyala.

Saat mengamati kalender, tiba-tiba listrik di kampus padam. Padahal tidak ada petir dan badai. Hanya gerimis kecil. Wagirun dan Sujadi terkejut. Mengapa listrik padam di saat hujan gerimis. Wagirun teringat apa yang dilihatnya di kalender.

“Sekarang hari Senin Wage, malam Selasa Kliwon,” kata Wagirun di tengah kegelapan.

“Haahh..?!” Hanya itu yang terucap dari mulut Sujadi.

Wagirun menyalakan senter untuk menuju ruang generator. Ia tidak ingin mendapat komplin dari mahasiswa dan teguran dari dosen lantaran terlambat menghidupkan generator. Kuliah tentu sedang terhenti karena padamnya listrik.

Gerimis kecil tak menghalangi Wagirun. Ia buka pintu ruang generator. Dengan senter yang dibawa ia gunakan untuk penerangan di dalam ruang generator. Betapa kaget Wagirun. Ketika sinar senter ia arahkan ke generator listrik, berdiri seorang perempuan menggunakan daster hitam. Wajahnya pucat menatap Wagirun.

“Astaga.. siapa kamu..???!” tanya Wagirun sedikit gugup dan takut.

“Saya numpang berteduh, Pak..,” jawab perempuan itu pelan.

Wagirun merinding. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa masuk ke ruang generator. Ruangan itu selalu terkunci. Pasti ini hantu, pikir Wagirun. Dengan tangan gemetaran ia segera memencet tombol start pada generator. Kampus terang kembali. Berbarengan dengan itu, perempuan di dalam ruang generator menghilang. Wagirun berlari ke pos Satpam.

Sujadi heran dan kaget melihat Wagirun datang tergopoh-gopoh seperti orang ketakutan.

“Ada apa…?” tanya Sujadi

“Ada hantu perempuan di ruang generator,” kata Wagirun dengan suara bergetar.

Sujadi terkejut. Ia segera membuat kopi untuk menghilangkan rasa takutnya. Wagirun duduk di kursi pos Satpam dengan dada yang masih berdebar. Gerimis sudah mulai reda. Aliran listrik dari PLN juga sudah menyala kembali. Wagirun bergegas mematikan kembali tombol start di generator. Aura menyeramkan masih dirasakan di ruang generator, meski hantu perempuan itu telah menghilang.

***

Sepuluh hari berikutnya Wagirun dan Sujadi kembali tugas piket malam. Menjelang magrib mereka berdua sudah di pos Satpam. Hari Kamis Wage, malam Jumat Kliwon. Keduanya tahu malam Jumat Kliwon selalu terjadi hal misterius di kampus. Walau mereka kerap menjumpai hal menyeramkan, bukan berarti mereka tidak takut. Gemetar dan mencekam selalu saja mereka rasakan.

Gerimis turun ketika hari memasuki gelap malam. Sujadi keluar pos Satpam dan mendongak ke atas untuk melihat kondisi langit yang mendung. Wagirun mengecek senter apakah masih berfungsi. Mereka saling tatap memberi isyarat akan terjadi sesuatu jika turun hujan di malam Jumat Kliwon.

Gerimis kian lebat. Dan mendadak listrik di kampus padam. Wagirun meminta Sujadi yang menghidupkan generator listrik. Sujadi sedikit ragu. Apalagi lampu yang padam hanya di area kampus. Sedangkan lampu di pemukiman penduduk dan pertokoan di dekat kampus lampu terlihat masih menyala terang.

Perlahan Sujadi berjalan menuju ruang generator sambil membawa senter. Perlahan pula ia buka pintu ruang generator. Entah mengapa perasaan Sujadi tidak enak saat hendak masuk ke ruangan. Apa yang diceritakan Wagirun membayangi persaannya.

Nafas Sujadi serasa mau berhenti. Dadanya berdebar kencang. Bulu rambut di lengannya berdiri. Di sudut ruang generator berdiri seorang perempuan memakai daster hitam dengan tatapan kosong. Keringat dingin keluar dari kening Sujadi. Ia mencoba untuk tetap berdiri kokoh di tengah ketakutannya. Perempuan itu tersenyum kepada Sujadi. Suasana mencekam di ruang generator. Sujadi tidak berani menatap hantu perempuan itu.

“Kamu siapa..!!!???” tanya Sujadi dengan suara agak parau.

“Saya numpang berteduh, Pak..,” jawab perempuan itu sambil tersenyum ke arah Sujadi.

Sujadi makin ketakutan. Namun ia mencoba sekuat tenaga untuk berada di ruang generator. Lampu di kampus tidak boleh dibiarkan padam terlalu lama, karena akan mengganggu perkuliahan.

“Kamu tinggal di mana..?” Sujadi memberanikan diri bertanya. Padahal ia tahu bahwa perempuan yang ada di hadapannya adalah hantu, bukan manusia biasa.

“Rumah saya di kampung sebelah, Pak,” jawab perempuan itu sambil memegangi rambutnya.

Sujadi tak mampu lagi menahan rasa takutnya. Secepatnya ia tekan tombol start pada generator. Lampu di kampus kembali menyala, dan hantu perempuan itu pun menghilang. Sujadi merasa lega, meski dadanya masih tetap berdegup kencang. Ia bergegas menuju pos Satpam. Hujan di pelataran kampus mulai reda.

“Ada apa..?” tanya Wagirun begitu dilihatnya Sujadi ketakutan.

“Hantu perempuan itu muncul lagi,” jawab Sujadi dengan napas tersengal-sengal.

Munculnya hantu perempuan di ruang generator bukan hanya sekali terjadi. Setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon, jika gerimis turun di kampus, aliran listrik di kampus pasti padam. Hantu perempuan itu akan menampakkan diri di sudut ruang generator. Meski bukan hanya sekali Wagirun dan Sujadi melihat perempuan itu, mereka tetap saja takut. Perempuan itu bukan manusia biasa, tetapi hantu yang menumpang berteduh saat gerimis turun.

Anehnya, hantu perempuan itu hanya muncul pada malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon bila turun gerimis. Namun jika tidak gerimis, meskipun di dua malam keramat, hantu perempuan itu tidak muncul. Begitu pun aliran listrik di kampus tidak padam jika tidak turun gerimis di malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Wagirun dan Sujadi tak mengerti tentang keanehan itu. Hanya penduduk di sekitar kampus yang paham tentang misteri hantu perempuan di ruang generator. Berdasarkan cerita penduduk, dahulu ada perempuan warga kampung sebelah yang mengalami musibah di tempat yang sekarang dipakai sebagai ruang generator. Musibah seperti apa, penduduk setempat tidak menjelaskan secara rinci. Perempuan itu diceritakan tewas mengenaskan pada malam Selasa Kliwon, dan jasadnya baru ditemukan penduduk pada malam Jumat Kliwon. Ada yang menduga perempuan itu korban pembunuhan. Namun hingga kini tak terungkap siapa pembunuhnya.

Beberapa orang di sekitar kampus menyarankan kepada Wagirun dan Sujadi untuk menaruh payung kertas di depan ruang generator setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Terutama jika diperkirakan turun hujan pada kedua malam itu. Payung kertas digunakan orang-orang zaman dahulu jika hujan turun. Payung kertas juga sering digunakan untuk memayungi batu nisan di tanah makam.Tidak terjadi lagi lampu padam di saat gerimis pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon sejak ditaruh payung kertas di depan ruang generator. Barangkali perempuan itu tak perlu lagi berteduh di ruang generator untuk pulang ke kampungnya. Atau bisa jadi payung kertas itu telah membantunya menerobos gerimis di tengah malam. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Budaya Sudah Melenceng, Ingat Pesan Lama: “Don’t Change Bali, Let Bali Change the Visitors.”

Next Post

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

"Ulah Pati" Karena "Bully" dan Patah Hati?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co