2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [37]: Gerimis Malam di Ruang Generator

Chusmeru by Chusmeru
October 23, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KULIAH yang nyaman adalah kuliah tanpa gangguan. Kuliah dalam ruang AC dan kedap suara menjadikan mahasiswa lebih betah. Banyak kampus yang belum memiliki ruangan seperti itu, sehingga saat perkuliahan suara bising kendaraan yang lalu lalang di depan kampus terdengar hingga ke ruang kuliah.

Banyak bentuk gangguan yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam perkuliahan. Mahasiswa yang datang terlambat ketika kuliah sudah dimulai kadang juga mengganggu kenyamanan. Dosen harus menghentikan sejenak perkuliahan hingga mahasiswa itu duduk. Malah ada dosen yang kehilangan fokus dalam mengajar jika ada mahasiswa yang datang terlambat.

Bunyi ponsel saat kuliah berlangsung sering menimbulkan gangguan kuliah. Bukan hanya dering telepon dari ponsel mahasiswa, tetapi juga ponsel dosen. Karenanya, di awal pertemuan biasanya dilakukan kontrak perkuliahan yang mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mahasiswa dan dosen selama kuliah berlangsung.

Satu gangguan yang paling membuat tidak nyaman saat kuliah adalah listrik yang padam. Semua bisa menjadi berantakan. Ketika dosen sedang asyik menerangkan mati kuliah, tiba-tiba listrik di kampus padam. Kadang memang ada pemberitahuan awal dari PLN tentang informasi pemadaman listrik atau gangguan jaringan. Namun kapan tepatnya listrik padam sulit ditebak.

Mengatasi ketidaknyamanan itu, pihak kampus menyiapkan generator listrik yang dapat digunakan saat aliran listrik padam. Kapasitas generator biasanya tergantung pada kebutuhan daya dan peralatan yang ada di kampus. Generator dengan kapasitas 100 kVA dianggap cukup bagi sebuah fakultas untuk mengantisipasi padamnya listrik.

Generator di tempat Wagirun dan Sujadi bekerja ditempatkan di sebuah ruangan dekat pos Satpam. Meski ada teknisi yang menangani generator, kadang Wagirun dan Sujadi yang bekerja sebagai Satpam harus paham soal urusan generator. Kadang aliran listrik di kampus padam saat sore atau malam di mana semua pegawai sudah pulang. Giliran mereka yang jaga malam di pos Satpam terpaksa turun tangan ke ruang generator.

Kampus di mana Wagirun dan Sujadi bekerja akitivitasnya bukan hanya di pagi dan siang hari. Sore dan malam hari juga masih ada perkuliahan untuk program magister dan doktor. Bila turun hujan lebat dan petir menyambar, kadang aliran listrik di seputar kampus padam cukup lama. Maka mau tak mau mereka harus menghidupkan generator listrik

***

Satpam fakultas ada empat orang yang bekerja bergiliran, piket pagi sampai sore dan piket sore hingga dini hari. Wagirun dan Sujadi kerap mendapat giliran yang sama, piket sore. Mereka akan bertugas sejak sore, malam, hingga subuh tiba. Jika listrik padam, mereka tidak harus bersusah-payah menghidupkan generator, karena letak ruangan yang persis di sebelah pos Satpam.

Malam ini Wagirun dan Sujadi sudah berada di pos Satpam. Mendung bergelayut di langit. Sepertinya akan turun hujan. Wagirun sudah menyiapkan jas hujan dan payung untuk berkeliling kampus bila turun hujan. Sujadi juga sudah siap sedia kopi sachet untuk bekal malam jika mata terasa mengantuk.

Rintik gerimis turun di pelataran kampus. Hari belum begitu malam. Kuliah di program magister dan program doktor masih berlangsung. Kampus di kota yang berhawa sejuk ini semakin dingin bila malam tiba. Apalagi turun gerimis. Wagirun mengamati kalender yang terpasang di pos Satpam. Masih tanggal muda. Semangat kerja mereka masih menyala.

Saat mengamati kalender, tiba-tiba listrik di kampus padam. Padahal tidak ada petir dan badai. Hanya gerimis kecil. Wagirun dan Sujadi terkejut. Mengapa listrik padam di saat hujan gerimis. Wagirun teringat apa yang dilihatnya di kalender.

“Sekarang hari Senin Wage, malam Selasa Kliwon,” kata Wagirun di tengah kegelapan.

“Haahh..?!” Hanya itu yang terucap dari mulut Sujadi.

Wagirun menyalakan senter untuk menuju ruang generator. Ia tidak ingin mendapat komplin dari mahasiswa dan teguran dari dosen lantaran terlambat menghidupkan generator. Kuliah tentu sedang terhenti karena padamnya listrik.

Gerimis kecil tak menghalangi Wagirun. Ia buka pintu ruang generator. Dengan senter yang dibawa ia gunakan untuk penerangan di dalam ruang generator. Betapa kaget Wagirun. Ketika sinar senter ia arahkan ke generator listrik, berdiri seorang perempuan menggunakan daster hitam. Wajahnya pucat menatap Wagirun.

“Astaga.. siapa kamu..???!” tanya Wagirun sedikit gugup dan takut.

“Saya numpang berteduh, Pak..,” jawab perempuan itu pelan.

Wagirun merinding. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa masuk ke ruang generator. Ruangan itu selalu terkunci. Pasti ini hantu, pikir Wagirun. Dengan tangan gemetaran ia segera memencet tombol start pada generator. Kampus terang kembali. Berbarengan dengan itu, perempuan di dalam ruang generator menghilang. Wagirun berlari ke pos Satpam.

Sujadi heran dan kaget melihat Wagirun datang tergopoh-gopoh seperti orang ketakutan.

“Ada apa…?” tanya Sujadi

“Ada hantu perempuan di ruang generator,” kata Wagirun dengan suara bergetar.

Sujadi terkejut. Ia segera membuat kopi untuk menghilangkan rasa takutnya. Wagirun duduk di kursi pos Satpam dengan dada yang masih berdebar. Gerimis sudah mulai reda. Aliran listrik dari PLN juga sudah menyala kembali. Wagirun bergegas mematikan kembali tombol start di generator. Aura menyeramkan masih dirasakan di ruang generator, meski hantu perempuan itu telah menghilang.

***

Sepuluh hari berikutnya Wagirun dan Sujadi kembali tugas piket malam. Menjelang magrib mereka berdua sudah di pos Satpam. Hari Kamis Wage, malam Jumat Kliwon. Keduanya tahu malam Jumat Kliwon selalu terjadi hal misterius di kampus. Walau mereka kerap menjumpai hal menyeramkan, bukan berarti mereka tidak takut. Gemetar dan mencekam selalu saja mereka rasakan.

Gerimis turun ketika hari memasuki gelap malam. Sujadi keluar pos Satpam dan mendongak ke atas untuk melihat kondisi langit yang mendung. Wagirun mengecek senter apakah masih berfungsi. Mereka saling tatap memberi isyarat akan terjadi sesuatu jika turun hujan di malam Jumat Kliwon.

Gerimis kian lebat. Dan mendadak listrik di kampus padam. Wagirun meminta Sujadi yang menghidupkan generator listrik. Sujadi sedikit ragu. Apalagi lampu yang padam hanya di area kampus. Sedangkan lampu di pemukiman penduduk dan pertokoan di dekat kampus lampu terlihat masih menyala terang.

Perlahan Sujadi berjalan menuju ruang generator sambil membawa senter. Perlahan pula ia buka pintu ruang generator. Entah mengapa perasaan Sujadi tidak enak saat hendak masuk ke ruangan. Apa yang diceritakan Wagirun membayangi persaannya.

Nafas Sujadi serasa mau berhenti. Dadanya berdebar kencang. Bulu rambut di lengannya berdiri. Di sudut ruang generator berdiri seorang perempuan memakai daster hitam dengan tatapan kosong. Keringat dingin keluar dari kening Sujadi. Ia mencoba untuk tetap berdiri kokoh di tengah ketakutannya. Perempuan itu tersenyum kepada Sujadi. Suasana mencekam di ruang generator. Sujadi tidak berani menatap hantu perempuan itu.

“Kamu siapa..!!!???” tanya Sujadi dengan suara agak parau.

“Saya numpang berteduh, Pak..,” jawab perempuan itu sambil tersenyum ke arah Sujadi.

Sujadi makin ketakutan. Namun ia mencoba sekuat tenaga untuk berada di ruang generator. Lampu di kampus tidak boleh dibiarkan padam terlalu lama, karena akan mengganggu perkuliahan.

“Kamu tinggal di mana..?” Sujadi memberanikan diri bertanya. Padahal ia tahu bahwa perempuan yang ada di hadapannya adalah hantu, bukan manusia biasa.

“Rumah saya di kampung sebelah, Pak,” jawab perempuan itu sambil memegangi rambutnya.

Sujadi tak mampu lagi menahan rasa takutnya. Secepatnya ia tekan tombol start pada generator. Lampu di kampus kembali menyala, dan hantu perempuan itu pun menghilang. Sujadi merasa lega, meski dadanya masih tetap berdegup kencang. Ia bergegas menuju pos Satpam. Hujan di pelataran kampus mulai reda.

“Ada apa..?” tanya Wagirun begitu dilihatnya Sujadi ketakutan.

“Hantu perempuan itu muncul lagi,” jawab Sujadi dengan napas tersengal-sengal.

Munculnya hantu perempuan di ruang generator bukan hanya sekali terjadi. Setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon, jika gerimis turun di kampus, aliran listrik di kampus pasti padam. Hantu perempuan itu akan menampakkan diri di sudut ruang generator. Meski bukan hanya sekali Wagirun dan Sujadi melihat perempuan itu, mereka tetap saja takut. Perempuan itu bukan manusia biasa, tetapi hantu yang menumpang berteduh saat gerimis turun.

Anehnya, hantu perempuan itu hanya muncul pada malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon bila turun gerimis. Namun jika tidak gerimis, meskipun di dua malam keramat, hantu perempuan itu tidak muncul. Begitu pun aliran listrik di kampus tidak padam jika tidak turun gerimis di malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Wagirun dan Sujadi tak mengerti tentang keanehan itu. Hanya penduduk di sekitar kampus yang paham tentang misteri hantu perempuan di ruang generator. Berdasarkan cerita penduduk, dahulu ada perempuan warga kampung sebelah yang mengalami musibah di tempat yang sekarang dipakai sebagai ruang generator. Musibah seperti apa, penduduk setempat tidak menjelaskan secara rinci. Perempuan itu diceritakan tewas mengenaskan pada malam Selasa Kliwon, dan jasadnya baru ditemukan penduduk pada malam Jumat Kliwon. Ada yang menduga perempuan itu korban pembunuhan. Namun hingga kini tak terungkap siapa pembunuhnya.

Beberapa orang di sekitar kampus menyarankan kepada Wagirun dan Sujadi untuk menaruh payung kertas di depan ruang generator setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Terutama jika diperkirakan turun hujan pada kedua malam itu. Payung kertas digunakan orang-orang zaman dahulu jika hujan turun. Payung kertas juga sering digunakan untuk memayungi batu nisan di tanah makam.Tidak terjadi lagi lampu padam di saat gerimis pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon sejak ditaruh payung kertas di depan ruang generator. Barangkali perempuan itu tak perlu lagi berteduh di ruang generator untuk pulang ke kampungnya. Atau bisa jadi payung kertas itu telah membantunya menerobos gerimis di tengah malam. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Budaya Sudah Melenceng, Ingat Pesan Lama: “Don’t Change Bali, Let Bali Change the Visitors.”

Next Post

“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

"Ulah Pati" Karena "Bully" dan Patah Hati?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co