7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya: Dari Chaos ke Chaosmos Kembali ke Chaos

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 2, 2018
in Ulasan

 

Practically speaking, there is no ‘creation from nothing’ “ex nihilo”. Put another way, everything is in the middle. (Pope, 2005)

Kurang lebih begini, tak ada yang bermula dari tiada. Semuanya ada di tengah (dalam proses menjadi). 

KUTIPAN di atas sangat mewakili perjalanan festival ini. Sebelum benar-benar berakhirnya perhelatan akbar Festival Monolog 100 Putu Wijaya ini, saya ingin melakukan refleksi terhadap perjalanan festival selama hampir setahun ini (Maret-Desember 2017). Penting bagi siapa saja yang ingin menelusuri perkembangan teater modern di Bali, mencatat perjalanan festival ini, termasuk saya.

Festival ini lahir dari sebuah hipotesis (yang boleh saja salah) bahwa teater modern di Bali sedang dalam kondisi chaos, kritis, kehilangan semangat, lesu darah, loyo, dan lemah. Adanya pertunjukan teater “dalam rangka” program pemerintah, pertunjukan teater musiman, asal-asalan, atau “sekadar” pertunjukan teater di komunitas-komunitas terasa tetap tak juga membangkitkan iklim berteater dengan baik.

Sementara masing-masing dari kita ada di posisi chaos juga, setiap hari media sosial memborbardir kepala kita dengan berbagai isu, tidak banyak yang bisa berbuat kecuali diam-diam ikut nge-share dan membuat riuh di kepala dan di luar kepala. Chaos seperti menjadi bagian dari nama kita, ikut kemana-mana, ikut ke pasar, ikut ke rumah sakit, ikut ke sekolah, kampus, hingga ke tempat tidur dan kamar mandi. Sumber chaos itu ada dimana-mana, dan kita dengan mudah terkontaminasi.

Lalu dimana teater saat chaos terjadi? Apa sumbangsih teater? Dimana kita berpijak, akan kemana, mengapa dan untuk apa. Bagaimana kita berkontribusi menyuarakan kegilaan di tengah chaos ini. Pertanyaan seriusnya, bagaimana teknisnya? Darimana dananya? Siapa panitianya? Dimana tempatnya? Siapa penggeraknya? Dan sebagainya.

Berawal obrolan ringan di media sosial, saya, Putu Satria Kusuma dan Made Adnyana Ole, mengambil ‘nada dasar’ festival ini adalah buku kumpulan  100 monolog Putu Wijaya, yang ternyata naskahnya berjumlah lebih dari 100 yaitu 118.

Jadi kalau dipikir, nada dasarnya saja sudah chaos, apalagi festivalnya. Akhirnya singkat cerita, di balik chaosnya naskah Putu Wijaya ini, kami memberanikan diri menggarap festival ini dalam suasana chaos juga. Rapat darurat lewat WA, messenger, dan telepon, semua dilakukan dalam suasana chaos. Tidak ada jadwal formal, tidak ada donatur formal, tidak ada tempat formal, semuanya melayang-layang di kepala kami, ide bermunculan, dan semua bergerak kadang dari khayalan. Konsepnya ada, tapi kalau dirunut, konsep itu berkembang dalam chaos juga.

Untungnya, dimulai bersama senimanseniman muda penuh semangat dan dalam perjalanan kami banyak ketemu kawan-kawan yang sama ‘chaos’nya. Ada kawan setia dan muda, Wayan Sumahardika dan Manik Sukadana dari Teater Kalangan, ada kawan-kawan muda di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan senior kami Pak Hardiman yang sangat semangat, juga ada adik-adik di Teater Kontras SMAN 1 Singaraja, Galang Kangin SMAN 4 Singaraja, dan Teater Sembilan Pohon SMAN Bali Mandara.

Ternyata ini meluas lagi chaosnya hingga ke Bali, hasil telpon sana telpon sini, wa sana wa sini, Bli Putu Satria berhasil membuat seniman-seniman lain turun berkontribusi. Sebut saja Nyoman Erawan, Cok Sawitri, hingga para dokter yang lama tidak berteater seperti Ary Dhuarsa, Eka Kusmawan dan Sahadewa. Betapa ini membuktikan bahwa teater terus hidup di jantung para pecintanya.

Komunitas-komunitas lainpun berhamburan menyumbangkan monolognya, dari jadwal yang tersebar di bulan Maret hingga Desember. Dan puncaknya, Desember. Benar-benar “hujan” monolog terjadi di bulan penuh hujan ini. Tercatat hampir lima puluh monolog terjadi di bulan Desember. Seperti yang diduga, chaos ini disebabkan budaya kita yang menggarap sesuatu dalam suasana dikejar deadline, sehingga numpuklah pementasan di bulan Desember, menggenapi, bahkan melebihi ekspekstasi 100 monolog.

Bahkan ada satu hari dimana tiga pementasan berlangsung di waktu sama di tiga tempat berbeda, yaitu tanggal 22 Desember dimana ada pementasan monolog di Denpasar di dua tempat dan di Tabanan satu tempat.

Ini membuktikan bahwa jadwalpun sangat chaos. Tak lupa juga, ada beberapa komunitas yang mendadak mengundurkan diri, atau tak jadi pentas dengan beberapa alasan. Semuanya mengalir saja, tak ada sanksi, tak ada kekecewaan atau kemarahan, yang ada permakluman-permakluman. Ya bisa tahun depan dicoba lagi, begitu kami kadang nyeletuk seolah festival ini akan ada tahun depan. Sombong sekali, hehe.

Sedikit bicara soal angka, jumlah pementasan hingga malam ini adalah 109 monolog, dan jika diangkakan, ini bisa membuat mata membelalak. Jika dirata ratakan satu komunitas atau satu pementasan saja biayanya minimal 3 juta rupiah, berarti monolog ini menghabiskan biaya kurang lebih 327 juta rupiah, setara sebuah BTN mungil di Singaraja.

Jika lebih dikhususkan lagi bagi pementasan yang berbiaya besar seperti pentas Bli Nyoman Erawan, tentu biayanya lebih besar lagi. Di beberapa sekolah misalnya, kru pementasan sangat besar, melibatkan dana sekolah, atau dana komunitas teater sekolah, yang kalau dihitung juga besar.

Lalu apa kabar panitianya, kalau panitia diberi uang saku untuk bayar pulsa atau bensin, tentu bisa lebih besar lagi. Kalau dihitung, loh ya. Tapi, ini semua kan tidak dihitung, karena berawal dari chaos menuju chaos lagi. Yang penting bahagia, begitu kira-kira.

Tapi apa pencapaian festival ini? Chaos melulu dari tadi. Tentu, karena saya bagian dari festival ini, maka saya bilang, pencapaian festival ini adalah menciptakan chaos-chaos baru di dunia teater. Chaos-chaos baru ini lahir dari generasi jaman now di teater misalnya chaos di Teater Kalangan. Bukan chaos pengertian asal-asalan, chaos ala Teater Kalangan ini sangat bagus, bahkan berpotensi menuju “teater kreativitas baru” di dunia perteateran modern di Bali.

Untuk itu, ijinkan saya bicara sedikit soal teori Creativity dimana peran chaos sangat besar dalam melahirkan kreativitas dan produktivitas, tapi pertanyaannya apakah itu chaos dalam kreativitas. Bagi Rob Pope (2005) sesungguhnya kreativitas adalah sesuatu yang lahir dari sesuatu yang sudah ada. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lahir dari nol. Melainkan semua berasal dari evolusi atau adaptasi seperti teori Charles Darwin.

Darwin dalam bukunya The Origin of Species (1859, yang diterbitkan lagi tahun 1968) dalam chapter Natural Selection (halaman 147) menerangkan bahwa  jika sebuah spesies tidak mampu menyesuaikan diri, memodifikasi, atau tidak mampu berkembang, maka dia akan musnah. Maka, sebuah spesies akan terus berkembang menyesuaikan diri atau selalu membenahi diri atau memodifikasi diri. Ini mirip dalam kondisi chaos dimana bagian-bagian dari sebuah struktur tidak berbentuk beraturan.

Hal ini juga dibahas dalam buku Creativity Rob Pope (2005), dimana creativity terbentuk dari chaos-chaos yang berkesinambungan. Bahwa semua unsur di semesta ini terbentuk dari chaos (tak berbentuk) menuju cosmos (bentuk).

Dan psikoanalis Carl Jung mengatakan, “in all chaos there is cosmos, in all disorder a secret order”. Teater pun demikian. Teater lahir dari chaos di dunia nyata dan menghasilkan chaos berpikir dan pada akhirnya akan menghasilkan kreativitas baru, dimana di setiap chaos ada cosmos yang memungkinkan ia bergerak.

Dalam konteks ini, kosmos  (semesta) berputar atau berevolusi. Tanpa ada chaos, mustahil kosmos bergulir. Istilah ini disebut chaosmos. Chaosmos adalah istilah yang dibuat oleh James Joyce yang sangat terkenal dengan karyanya Ulysses dan The Dubliners yang merupakan perpaduan chaos menuju kosmos. Chaos (tidak terstruktur) membentuk kosmos (terstruktur). Disebut chaosmos karena kosmos tak bisa berdiri sendiri tanpa chaos. Demikianlah pula teater terjadi dengan chaos menuju cosmos dalam waktu yang tak bisa ditentukan.

Dengan demikian maka, perayaan festival ini adalah perjalanan dari chaos menuju chaosmos dan terus bergulir menuju chaos chaos lain yang menjanjikan evolusi baru. (T)

Referensi :

  • Darwin, Charles. 1968. The Origin of Species. Penguin Classics.
  • Pope, Rob. 2005. Creativity: Theory, History, Practice. Routledge.
  • Jung, Carl. https://creativesystemsthinking.wordpress.com/2014/03/06/in-all-chaos-there-is-a-cosmos-carl-jung/

Catatan:

  • Esai ini dibacakan sebagai semacam refleksi yang dibacakan dalam acara penutupan Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 30 Desember 2017
Tags: baliFestival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologPutu WijayaTeater
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Antrabez, dari Penjara ke Denfest – Lalu Ribuan Orang Bernyanyi Bersama

Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Tunjung Tutur Danau Tamblingan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Tunjung Tutur Danau Tamblingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co