6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Emi Suy by Emi Suy
October 20, 2025
in Khas
Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Shinta (YASMI), Emi Suy (Penyair), Ika (YASMI)

JAKARTA, 18 Oktober 2025. Siang yang basah menutup doa yang panjang. Setelah suara lintas iman berhenti bergetar di Ballroom Kuningan City Mall, langit tiba-tiba berubah warna: kelabu, berat, lalu pecah menjadi hujan deras. Air itu seperti jawaban dari langit bahwa doa-doa yang baru saja dilantunkan anak bangsa tak berhenti di udara, melainkan diterima di pelataran kasih Tuhan.

Di ruang megah yang hangat oleh cahaya, sekitar seribu lima ratus manusia berdiri dalam satu napas. Tidak ada jarak antara rosario dan tasbih, antara dupa dan hio. Yang ada hanyalah manusia yang menundukkan kepala, mencari Tuhan dalam wajah Indonesia. Acara “Indonesia Berdoa: Bersatu, Berkeadilan, dan Sejahtera Melalui Semangat Kolaborasi” menjadi pertemuan batin yang langka di tengah zaman yang gaduh.

Acara “Doa untuk Indonesia” ini selain dihadiri Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, Ketua Pembina FORMAS Hashim Djojohadikusumo, Ketua Umum FORMAS Yohanes Handoyo Budhisedjati, Mahfud MD, Habib Luthfi bin Yahya, serta sejumlah tokoh nasional dan para pejabat termasuk pimpinan ormas lintas agama.

Nama-nama itu bukan sekadar daftar pejabat, melainkan tanda bahwa doa kali ini sungguh lintas sekat—lintas jabatan, lintas keyakinan, lintas kepentingan. Mereka duduk dalam satu ruang, menunduk dalam keheningan yang sama: Indonesia.

Hujan yang turun selepas doa seolah membawa pesan dari langit: bahwa air rahmat hanya turun ketika bumi berhenti saling membakar. Bahwa pertemuan manusia di bawah atap iman yang berbeda, tapi dengan hati yang sama, adalah bentuk paling lembut dari keindonesiaan yang kita rindukan.

Doa yang Menyatukan, Bukan Menyalahkan

Dr. H. Serian Wijatno, Ketua Panitia dan sekaligus Ketua Dewan Pakar FORMAS, berbicara dengan suara lembut namun tajam maknanya: doa bukan pelarian dari kenyataan, melainkan jalan menuju kebangkitan.

 “Kami adalah anak-anak bangsa yang ingin menundukkan kepala, menenangkan hati, dan menyerahkan seluruh harapan kepada Tuhan,” ujarnya.

Baginya, doa lintas iman adalah kekuatan spiritual yang bisa memperkuat persatuan bangsa, seperti sungai-sungai kecil yang bermuara ke laut besar bernama Indonesia.

Serian mengingatkan: bangsa yang besar selalu memiliki kekuatan spiritual yang mempersatukan. Dari masjid hingga gereja, dari pura hingga vihara, dari klenteng hingga rumah sederhana semua ruang suci itu memantulkan gema yang sama: cinta, persaudaraan, dan pengharapan.

Ia mengajak seluruh warga berdoa bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan tindakan, kolaborasi, dan kasih.

Lukisan Tuhan dan Cermin Kebangsaan

Prof. KH. Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI, menambahkan nada lembut dari podium. Ia menyebut keberagaman Indonesia sebagai “lukisan Tuhan yang terindah di dunia.”

 “Kebhinekaan ini adalah lukisan Tuhan, tidak boleh ada siapa pun yang merusaknya,” ucapnya.

Kalimat itu bergema seperti doa yang memeluk semua iman. Ia menegaskan perlunya memperbanyak ruang spiritualitas membangun lebih banyak tempat berdoa daripada tempat yang menumbuhkan kekerasan batin. Sebab semakin banyak rumah bagi Tuhan, semakin lapang hati bangsa ini untuk saling memahami.

Kolaborasi yang Menghidupkan

Sementara Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pembina FORMAS, menegaskan bahwa bangsa yang kuat harus mencari titik temu, bukan menajamkan perbedaan.

Ia mengingatkan bahaya polarisasi dan menegaskan pentingnya mengawal pemerintahan agar bersih dari korupsi. Hashim menyebut program seperti Sekolah Rakyat sebagai bentuk nyata kolaborasi moral untuk memperbaiki nasib jutaan anak bangsa.

Dan Yohanes Handoyo Budhisedjati, Ketua Umum FORMAS, menutup dengan pesan yang merangkul seluruh makna perhelatan itu : bahwa doa lintas agama ini adalah perayaan satu tahun FORMAS, tetapi sesungguhnya lebih dari itu ia adalah tanda kesadaran spiritual kolektif bangsa yang rindu pulih dan berbenah menuju Indonesia Emas 2045.

Bangsa yang makmur bukan hanya karena ekonomi, tapi karena nilai dan keadaban yang tumbuh dari hati manusia-manusia jujur.

Puisi Sebagai Doa

Dalam suasana yang penuh getar itu, aku—Emi Suy turut mempersembahkan sebuah puisi berjudul “Indonesia Berdoa”. Puisi ini saya tulis khusus untuk acara ini, setelah berbincang panjang dengan Shinta Hudiarto—penggiat toleransi dari Yayasan Amal Bhakti Sahabat Madani Indonesia, yang menjadi konseptor kolaborasi antara pembacaan puisi dan lantunan alat musik Sape khas Kalimantan oleh Petrus Sandi.

Saya menulisnya dengan seluruh kesadaran batin tentang arah dan tema acara Indonesia Berdoa, kemudian menyerahkan naskah itu kepada Shinta untuk dikurasi dan dikoreksi,  selanjutnya diberikan kepada Bapak Yohanes Handoyo Budhisedjati dan Bapak Dr. H. Serian Wijatno untuk direview. Keduanya menyetujui puisi itu untuk dibacakan dalam acara ini, dengan doa agar setiap katanya menjadi cahaya kecil bagi bangsa.

Puisi ini lahir dari luka dan harapan; dari jeritan nurani yang menelusuri setiap sila Pancasila—menanyakan apakah nilai-nilai itu masih hidup di dalam diri kita. Isi puisi mencerminkan kondisi Indonesia hari ini. Berangkat dari kenyataan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila telah nyaris ditinggalkan. Isinya mewakili jeritan nurani anak bangsa, sekaligus doa memohon pengampunan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kami tidak ingin menyalahkan penguasa, tetapi mengajak setiap warga untuk melihat ke dalam diri sendiri  bahwa kerusakan bangsa ini tidak hanya lahir dari kebijakan yang salah, melainkan juga dari kelalaian kolektif kita semua.

Puisi ini tidak menuding siapa-siapa. Ia hanya memantulkan wajah kita di cermin sejarah  tentang Pancasila yang menangis, kemanusiaan yang terabai, dan persatuan yang harus dihidupkan kembali dari hati, bukan dari slogan.

Dan akhirnya, puisi itu berbisik lirih:

“Biarlah doa ini menjadi nyala kecil, nyala yang membakar ego, meleburkan dendam, menyatukan kembali bangsa ini dalam kasih-Mu yang tak terbagi.”

Bait-bait itu saya bacakan perlahan bersama Ozi sang pembaca Text Pancasila diiringi petikan sape yang hening dan purba.

Nada-nada kayu Kalimantan mengalun seperti air di hulu membawa kata ke dalam hati yang lama kering oleh bising dunia.

Banyak yang terdiam lama setelahnya.

Seolah setiap baris membuka ruang perenungan baru: bahwa jalan spiritual bangsa ini harus dimulai dari dalam diri setiap anak negeri.

Berikut ini saya tampilkan keseluruhan puisi yang dibacakan di atas panggung acara Indonesia Berdoa.’

PUISI INDONESIA BERDOA
(karya : Emi Suy)

BAGIAN 1 – PANCASILA MENANGIS

Pancasila
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa
Tapi doa dipagari
Dan rumah ibadah dijaga aparat bersenjata
Agama-agama saling menuding
Seolah Tuhan bisa diperebutkan
Bukankah Tuhan lebih dekat dari nadi kita?
Ego manusia kita saja yang tak sanggup
menyerap sifat kasih dan sayangNya.

Pancasila
Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Tapi penduduk sekedar diperlakukan sebagai angka
Kemiskinan dipaksa diam
Suaranya hanya dihitung saat pemilu
Rakyat kecil hanya bisa menatap kosong melihat segelintir pejabat menari di atas pajak yang dikumpulkan dari keringat dan darahnya.

Pancasila
Tiga, Persatuan Indonesia
Atau ini hanya slogan di baliho kampanye ?
Bendera satu warna
tapi suku-suku masih saling curiga
Anak Papua diabaikan
Perempuan Tionghoa dihina dan diperkosa
Minoritas menutup mulut agar tak dipersekusi
Sementara yang kuat tertawa di televisi.

Pancasila
Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat…
Tapi hikmat sudah tak lagi jadi cahaya !
Kebijaksanaan berdiri dengan pincang !
Reformasi sudah lewat
tapi negeri ini belum beranjak ke mana-mana
Apanya yang dimusyawarahkan ?
Siapa yang sesungguhnya mereka wakili ?

Pancasila
Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Mimpi !
Cuma bayangan di buku pelajaran !
Tanah air yang seharusnya jadi rahim kesejahteraan habis diperkosa, diperdagangkan,
ditumpuk jadi gunung kekayaan bagi segelintir orang.

Masihkah Pancasila menjadi pedoman hidup kita ?
Atau hati kita yang semakin retak membiarkannya jadi penghias buku sejarah ?

BAGIAN 2 – NYALA KECIL UNTUK NEGERI

Tuhan,
kami datang dengan wajah yang berdebu sejarah,
wajah yang menyimpan noda dari kelalaian panjang.
Kami lelah bersembunyi di balik alasan,
lelah menuding pemerintah semata.

Sebab luka bangsa ini
bukan hanya karena tangan yang memegang kuasa,
tetapi juga karena hati kami sendiri
yang membiarkan retakan kecil tumbuh
tanpa pernah kami rawat,
seperti pohon yang layu di kebun sendiri.

Kami tahu, Tuhan,
kesalahan ini bukan milik satu pihak,
tetapi milik kita semua.
Kami menutup mata ketika keadilan dirundung,
kami bungkam saat dusta menjadi udara sehari-hari,
kami sibuk dengan urusan kecil
sementara rumah besar bernama negeri
hampir runtuh oleh abai kami sendiri.

Ampuni kami, Tuhan.
Hari ini kami berdiri di hadapan-Mu,
bukan sebagai pejabat atau rakyat,
bukan sebagai si kaya atau si miskin,
tetapi sebagai manusia yang sama-sama rapuh,
sama-sama haus,
sama-sama penuh alpa.

Hari ini, Tuhan,
izinkan kami bersujud dengan jujur mengakui bahwa bangsa ini jatuh
karena kelalaian kami bersama.
Dan dengan kesadaran ini,
beri kami keberanian untuk berubah.
Bukan esok,
bukan lusa,
tetapi kini,
mulai dari diri kami sendiri.

Bangsa ini, Tuhan,
adalah cermin yang memantulkan diri kami.
Dan cermin itu retak,
bukan hanya oleh tangan yang lalai,
tetapi juga oleh goresan-goresan kecil
yang kami biarkan menganga,
di ruang-ruang sunyi hati kami.

Kami mentertawakan dusta
seakan itu bukan racun.
Kami membiarkan korupsi kecil
menjadi kebiasaan yang diterima.
Kami menyimpan kebencian dalam ruang keluarga,
hingga rumah besar bernama negeri
perlahan menjelma menjadi rumah penuh luka.

Kami sadar, Tuhan,
retakan kecil yang diabaikan
akan membesar menjadi jurang.
Dan kini,
bangsa ini nyaris pecah
karena kami terlalu sering memilih diam.

Kami bangga dengan semboyan:
Bhinneka Tunggal Ika.
Kami menuliskannya di lambang negara,
mengajarkannya kepada anak-anak,
menyebutnya dalam pidato.

Namun lihatlah, Tuhan:
suku saling mencaci hanya karena beda tradisi,
kampung terbelah hanya karena beda agama,
keluarga tercerai berai hanya karena beda pilihan.

Kami bicara persatuan,
namun diam-diam menyimpan dendam.
Kami bangga dengan semboyan,
namun tak sanggup menghidupkannya.

Ampuni kami, Tuhan.
Negara yang indah ini
telah kami koyak dengan tangan sendiri,
seperti kain yang dirajut panjang,
lalu kami robek sepotong demi sepotong.

Tuhan,
biarlah doa ini menjadi nyala kecil:
nyala yang membakar ego,
meleburkan dendam,
menyatukan kembali bangsa ini
dalam kasih-Mu yang tak terbagi.

Ajari kami, Tuhan,
untuk memulai dari diri sendiri:
dari cara memperlakukan tetangga,
dari kejujuran di meja kerja,
dari kesetiaan menjaga amanah kecil,
sebelum bicara tentang negeri yang besar.

Indonesia berdoa, Tuhan.
Dengan kesadaran pahit
bahwa salah ini adalah salah kami bersama,
dan pertobatan ini
hanya mungkin jika dijalani bersama.

Biarlah doa ini
menjadi gerakan batin yang tak berakhir,
seperti sungai yang terus mengalir,
mengikis kerak lama,
membawa benih-benih baru,
hingga negeri ini benar-benar bangkit dan bertumbuh.

Aamiin

Jakarta, Oktober 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: IndonesiaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Next Post

Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam "A Business Proposal" (2025)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co