3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 20, 2025
in Esai
Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebuah Kejutan dari Harvard

Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi tertinggi di antara 22 negara yang disurvei dalam hal flourishing, atau kesejahteraan menyeluruh, sebagaimana diunggah fb Good News from Indonesia.

Laporan ini bukan sekadar survei kebahagiaan biasa. Dilaksanakan oleh Human Flourishing Program, Harvard University, bekerja sama dengan Baylor University dan Gallup Inc., studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari enam benua. Data dikumpulkan antara 2023 dan 2024, dengan publikasi resmi pada awal 2025.

Negara peserta meliputi: Indonesia, India, China, Hong Kong, Jepang, Filipina, Vietnam, Australia, Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Kolombia, Meksiko, Israel, Arab Saudi, dan Selandia Baru.

Indonesia berada di urutan pertama — diikuti oleh Filipina, Vietnam, Nigeria, India, Kolombia, Brasil, Mesir, Meksiko, dan Selandia Baru — menandakan bahwa flourishing bukan monopoli negara kaya, melainkan hasil keseimbangan antara makna hidup, hubungan sosial, dan kebajikan pribadi.

Apa yang Diukur: Lebih dari Sekadar Bahagia

GFS tidak menilai kebahagiaan dangkal atau pendapatan per kapita. Ia mengukur enam dimensi kehidupan:

  1. Kebahagiaan dan kepuasan hidup,
  2. Kesehatan fisik dan mental,
  3. Makna dan tujuan hidup,
  4. Karakter dan kebajikan,
  5. Hubungan sosial yang erat, dan
  6. Stabilitas material dan finansial.

Dari enam aspek tersebut, lima pertama dihitung dalam Flourishing Index (FI), sedangkan jika aspek material ditambahkan menjadi Secure Flourishing Index (SFI).

Indonesia unggul di lima domain non-material: hubungan sosial, makna hidup, karakter, dan spiritualitas — jauh melampaui negara-negara dengan ekonomi lebih maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau Jerman.

Sementara itu, negara-negara berpendapatan tinggi justru menunjukkan paradoks: finansial kuat, tetapi mengalami krisis makna dan keterhubungan sosial. Sebuah ironi dunia modern yang semakin individualistik.

Refleksi atas Cermin Sosial

Apakah hasil ini bukti keberhasilan pemerintah? Ataukah sekadar cermin dari daya tahan sosial-budaya bangsa?

Periode survei (2023–2024) menunjukkan bahwa hasil ini adalah refleksi masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, bukan dampak langsung pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo Subianto (dilantik Oktober 2024).

Namun demikian, data ini tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi dan sosial selama satu dekade terakhir. Infrastruktur yang meluas, penurunan kemiskinan ekstrem, dan perluasan digitalisasi pelayanan publik berperan dalam membangun rasa sejahtera yang lebih merata.

Meski begitu, flourishing tidak hanya lahir dari kebijakan. Nilai-nilai seperti gotong-royong, rasa syukur, dan spiritualitas keseharian juga memainkan peran besar. Harvard Gazette bahkan menulis bahwa “Indonesia’s strong sense of belonging and religious meaning largely contributes to its top ranking.”

Artinya, kebahagiaan kita bersumber dari keterhubungan sosial dan spiritualitas, bukan sekadar dari angka ekonomi.

Antara Kebanggaan dan Kehati-hatian

Mudah sekali menjadikan hasil ini sebagai bahan kebanggaan nasional. Namun jika dibaca secara lebih jernih, hasil ini seharusnya menjadi pengingat moral dan spiritual.

Kita unggul dalam makna hidup dan hubungan sosial, tetapi bagaimana dengan stabilitas finansial, kesehatan mental, atau ketimpangan sosial yang masih nyata di lapangan?

Rasa “bermakna” tidak selalu berarti “berdaya”. Banyak masyarakat yang menemukan ketenangan batin di tengah keterbatasan, tetapi masih terpinggirkan secara struktural. Maka, skor tinggi ini tidak boleh membuat kita lengah. Ia justru menantang kita untuk menjembatani antara kesejahteraan batin dan keadilan sosial.

Flourishing sejati bukan hanya tentang merasa cukup, tapi juga tentang memberi ruang bagi orang lain untuk ikut berkembang.

Belajar dari Dunia

Dari 22 negara, tampak kontras yang menarik:

  • Negara-negara berpendapatan tinggi seperti AS, Inggris, Jerman, Jepang cenderung rendah dalam makna hidup dan hubungan sosial.
  • Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Nigeria justru tinggi dalam makna, karakter, dan spiritualitas.

Ini menunjukkan bahwa modernitas tanpa makna bisa menjadi sumber kehampaan baru.
Bahwa kemajuan material tidak menjamin rasa “hidup utuh”.

Namun sebaliknya, spiritualitas tanpa keadilan sosial juga rapuh. Indonesia mesti belajar dari negara-negara yang berhasil menyeimbangkan keduanya — seperti Selandia Baru, yang menempati posisi sepuluh besar dengan keseimbangan antara kesejahteraan material dan mental.

Jalan ke Depan: Dari Flourishing Menuju Kesadaran

Apa pelajaran bagi bangsa ini?

Pertama, flourishing adalah proses, bukan pencapaian akhir.
Ia memerlukan perawatan terus-menerus — baik oleh kebijakan negara, maupun oleh kesadaran individu.
Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan pembangunan, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas akses kesehatan mental, maka flourishing bisa menjadi arah pembangunan nasional, bukan sekadar berita viral sesaat.

Kedua, spiritualitas perlu diterjemahkan menjadi solidaritas sosial.
Kebahagiaan pribadi baru bermakna ketika ia menular menjadi empati dan kepedulian.
Gotong-royong, kesederhanaan, dan rasa syukur bukan romantisme masa lalu, melainkan modal sosial yang menjadikan Indonesia unik di tengah dunia yang kehilangan makna.

Ketiga, pemerintah dan masyarakat perlu membangun indikator kesejahteraan baru — tidak hanya GDP atau pendapatan per kapita, tetapi ukuran kebahagiaan, keterhubungan sosial, dan kesadaran ekologis.

Melampaui Statistik

Kita boleh bersyukur, tetapi tidak berbangga diri secara berlebihan.
Flourishing Indonesia bukan prestasi satu rezim, melainkan hasil panjang dari daya hidup bangsa yang mampu menemukan makna dalam keterbatasan.

Data Harvard hanyalah cermin; yang menentukan arah langkah kita adalah kesadaran.
Seperti ungkapan bijak yang indah: “Tat Twam Asi” — aku adalah kamu, kamu adalah aku, dimana kita mampu melihat Sang Ilahi yang sama pada setiap wujud kehidupan, bukan saja manusia tetapi semua makhluk, fauna, maupun flora.

Selama kita masih melihat kesejahteraan orang lain sebagai bagian dari kesejahteraan kita sendiri, maka Indonesia akan terus flourish, tidak hanya dalam survei, tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Indonesiakebahagiaanrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Next Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co