12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 20, 2025
in Esai
Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebuah Kejutan dari Harvard

Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi tertinggi di antara 22 negara yang disurvei dalam hal flourishing, atau kesejahteraan menyeluruh, sebagaimana diunggah fb Good News from Indonesia.

Laporan ini bukan sekadar survei kebahagiaan biasa. Dilaksanakan oleh Human Flourishing Program, Harvard University, bekerja sama dengan Baylor University dan Gallup Inc., studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari enam benua. Data dikumpulkan antara 2023 dan 2024, dengan publikasi resmi pada awal 2025.

Negara peserta meliputi: Indonesia, India, China, Hong Kong, Jepang, Filipina, Vietnam, Australia, Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Kolombia, Meksiko, Israel, Arab Saudi, dan Selandia Baru.

Indonesia berada di urutan pertama — diikuti oleh Filipina, Vietnam, Nigeria, India, Kolombia, Brasil, Mesir, Meksiko, dan Selandia Baru — menandakan bahwa flourishing bukan monopoli negara kaya, melainkan hasil keseimbangan antara makna hidup, hubungan sosial, dan kebajikan pribadi.

Apa yang Diukur: Lebih dari Sekadar Bahagia

GFS tidak menilai kebahagiaan dangkal atau pendapatan per kapita. Ia mengukur enam dimensi kehidupan:

  1. Kebahagiaan dan kepuasan hidup,
  2. Kesehatan fisik dan mental,
  3. Makna dan tujuan hidup,
  4. Karakter dan kebajikan,
  5. Hubungan sosial yang erat, dan
  6. Stabilitas material dan finansial.

Dari enam aspek tersebut, lima pertama dihitung dalam Flourishing Index (FI), sedangkan jika aspek material ditambahkan menjadi Secure Flourishing Index (SFI).

Indonesia unggul di lima domain non-material: hubungan sosial, makna hidup, karakter, dan spiritualitas — jauh melampaui negara-negara dengan ekonomi lebih maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau Jerman.

Sementara itu, negara-negara berpendapatan tinggi justru menunjukkan paradoks: finansial kuat, tetapi mengalami krisis makna dan keterhubungan sosial. Sebuah ironi dunia modern yang semakin individualistik.

Refleksi atas Cermin Sosial

Apakah hasil ini bukti keberhasilan pemerintah? Ataukah sekadar cermin dari daya tahan sosial-budaya bangsa?

Periode survei (2023–2024) menunjukkan bahwa hasil ini adalah refleksi masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, bukan dampak langsung pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo Subianto (dilantik Oktober 2024).

Namun demikian, data ini tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi dan sosial selama satu dekade terakhir. Infrastruktur yang meluas, penurunan kemiskinan ekstrem, dan perluasan digitalisasi pelayanan publik berperan dalam membangun rasa sejahtera yang lebih merata.

Meski begitu, flourishing tidak hanya lahir dari kebijakan. Nilai-nilai seperti gotong-royong, rasa syukur, dan spiritualitas keseharian juga memainkan peran besar. Harvard Gazette bahkan menulis bahwa “Indonesia’s strong sense of belonging and religious meaning largely contributes to its top ranking.”

Artinya, kebahagiaan kita bersumber dari keterhubungan sosial dan spiritualitas, bukan sekadar dari angka ekonomi.

Antara Kebanggaan dan Kehati-hatian

Mudah sekali menjadikan hasil ini sebagai bahan kebanggaan nasional. Namun jika dibaca secara lebih jernih, hasil ini seharusnya menjadi pengingat moral dan spiritual.

Kita unggul dalam makna hidup dan hubungan sosial, tetapi bagaimana dengan stabilitas finansial, kesehatan mental, atau ketimpangan sosial yang masih nyata di lapangan?

Rasa “bermakna” tidak selalu berarti “berdaya”. Banyak masyarakat yang menemukan ketenangan batin di tengah keterbatasan, tetapi masih terpinggirkan secara struktural. Maka, skor tinggi ini tidak boleh membuat kita lengah. Ia justru menantang kita untuk menjembatani antara kesejahteraan batin dan keadilan sosial.

Flourishing sejati bukan hanya tentang merasa cukup, tapi juga tentang memberi ruang bagi orang lain untuk ikut berkembang.

Belajar dari Dunia

Dari 22 negara, tampak kontras yang menarik:

  • Negara-negara berpendapatan tinggi seperti AS, Inggris, Jerman, Jepang cenderung rendah dalam makna hidup dan hubungan sosial.
  • Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Nigeria justru tinggi dalam makna, karakter, dan spiritualitas.

Ini menunjukkan bahwa modernitas tanpa makna bisa menjadi sumber kehampaan baru.
Bahwa kemajuan material tidak menjamin rasa “hidup utuh”.

Namun sebaliknya, spiritualitas tanpa keadilan sosial juga rapuh. Indonesia mesti belajar dari negara-negara yang berhasil menyeimbangkan keduanya — seperti Selandia Baru, yang menempati posisi sepuluh besar dengan keseimbangan antara kesejahteraan material dan mental.

Jalan ke Depan: Dari Flourishing Menuju Kesadaran

Apa pelajaran bagi bangsa ini?

Pertama, flourishing adalah proses, bukan pencapaian akhir.
Ia memerlukan perawatan terus-menerus — baik oleh kebijakan negara, maupun oleh kesadaran individu.
Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan pembangunan, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas akses kesehatan mental, maka flourishing bisa menjadi arah pembangunan nasional, bukan sekadar berita viral sesaat.

Kedua, spiritualitas perlu diterjemahkan menjadi solidaritas sosial.
Kebahagiaan pribadi baru bermakna ketika ia menular menjadi empati dan kepedulian.
Gotong-royong, kesederhanaan, dan rasa syukur bukan romantisme masa lalu, melainkan modal sosial yang menjadikan Indonesia unik di tengah dunia yang kehilangan makna.

Ketiga, pemerintah dan masyarakat perlu membangun indikator kesejahteraan baru — tidak hanya GDP atau pendapatan per kapita, tetapi ukuran kebahagiaan, keterhubungan sosial, dan kesadaran ekologis.

Melampaui Statistik

Kita boleh bersyukur, tetapi tidak berbangga diri secara berlebihan.
Flourishing Indonesia bukan prestasi satu rezim, melainkan hasil panjang dari daya hidup bangsa yang mampu menemukan makna dalam keterbatasan.

Data Harvard hanyalah cermin; yang menentukan arah langkah kita adalah kesadaran.
Seperti ungkapan bijak yang indah: “Tat Twam Asi” — aku adalah kamu, kamu adalah aku, dimana kita mampu melihat Sang Ilahi yang sama pada setiap wujud kehidupan, bukan saja manusia tetapi semua makhluk, fauna, maupun flora.

Selama kita masih melihat kesejahteraan orang lain sebagai bagian dari kesejahteraan kita sendiri, maka Indonesia akan terus flourish, tidak hanya dalam survei, tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Indonesiakebahagiaanrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Next Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co