14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 20, 2025
in Esai
Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebuah Kejutan dari Harvard

Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi tertinggi di antara 22 negara yang disurvei dalam hal flourishing, atau kesejahteraan menyeluruh, sebagaimana diunggah fb Good News from Indonesia.

Laporan ini bukan sekadar survei kebahagiaan biasa. Dilaksanakan oleh Human Flourishing Program, Harvard University, bekerja sama dengan Baylor University dan Gallup Inc., studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari enam benua. Data dikumpulkan antara 2023 dan 2024, dengan publikasi resmi pada awal 2025.

Negara peserta meliputi: Indonesia, India, China, Hong Kong, Jepang, Filipina, Vietnam, Australia, Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Kolombia, Meksiko, Israel, Arab Saudi, dan Selandia Baru.

Indonesia berada di urutan pertama — diikuti oleh Filipina, Vietnam, Nigeria, India, Kolombia, Brasil, Mesir, Meksiko, dan Selandia Baru — menandakan bahwa flourishing bukan monopoli negara kaya, melainkan hasil keseimbangan antara makna hidup, hubungan sosial, dan kebajikan pribadi.

Apa yang Diukur: Lebih dari Sekadar Bahagia

GFS tidak menilai kebahagiaan dangkal atau pendapatan per kapita. Ia mengukur enam dimensi kehidupan:

  1. Kebahagiaan dan kepuasan hidup,
  2. Kesehatan fisik dan mental,
  3. Makna dan tujuan hidup,
  4. Karakter dan kebajikan,
  5. Hubungan sosial yang erat, dan
  6. Stabilitas material dan finansial.

Dari enam aspek tersebut, lima pertama dihitung dalam Flourishing Index (FI), sedangkan jika aspek material ditambahkan menjadi Secure Flourishing Index (SFI).

Indonesia unggul di lima domain non-material: hubungan sosial, makna hidup, karakter, dan spiritualitas — jauh melampaui negara-negara dengan ekonomi lebih maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau Jerman.

Sementara itu, negara-negara berpendapatan tinggi justru menunjukkan paradoks: finansial kuat, tetapi mengalami krisis makna dan keterhubungan sosial. Sebuah ironi dunia modern yang semakin individualistik.

Refleksi atas Cermin Sosial

Apakah hasil ini bukti keberhasilan pemerintah? Ataukah sekadar cermin dari daya tahan sosial-budaya bangsa?

Periode survei (2023–2024) menunjukkan bahwa hasil ini adalah refleksi masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, bukan dampak langsung pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo Subianto (dilantik Oktober 2024).

Namun demikian, data ini tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi dan sosial selama satu dekade terakhir. Infrastruktur yang meluas, penurunan kemiskinan ekstrem, dan perluasan digitalisasi pelayanan publik berperan dalam membangun rasa sejahtera yang lebih merata.

Meski begitu, flourishing tidak hanya lahir dari kebijakan. Nilai-nilai seperti gotong-royong, rasa syukur, dan spiritualitas keseharian juga memainkan peran besar. Harvard Gazette bahkan menulis bahwa “Indonesia’s strong sense of belonging and religious meaning largely contributes to its top ranking.”

Artinya, kebahagiaan kita bersumber dari keterhubungan sosial dan spiritualitas, bukan sekadar dari angka ekonomi.

Antara Kebanggaan dan Kehati-hatian

Mudah sekali menjadikan hasil ini sebagai bahan kebanggaan nasional. Namun jika dibaca secara lebih jernih, hasil ini seharusnya menjadi pengingat moral dan spiritual.

Kita unggul dalam makna hidup dan hubungan sosial, tetapi bagaimana dengan stabilitas finansial, kesehatan mental, atau ketimpangan sosial yang masih nyata di lapangan?

Rasa “bermakna” tidak selalu berarti “berdaya”. Banyak masyarakat yang menemukan ketenangan batin di tengah keterbatasan, tetapi masih terpinggirkan secara struktural. Maka, skor tinggi ini tidak boleh membuat kita lengah. Ia justru menantang kita untuk menjembatani antara kesejahteraan batin dan keadilan sosial.

Flourishing sejati bukan hanya tentang merasa cukup, tapi juga tentang memberi ruang bagi orang lain untuk ikut berkembang.

Belajar dari Dunia

Dari 22 negara, tampak kontras yang menarik:

  • Negara-negara berpendapatan tinggi seperti AS, Inggris, Jerman, Jepang cenderung rendah dalam makna hidup dan hubungan sosial.
  • Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Nigeria justru tinggi dalam makna, karakter, dan spiritualitas.

Ini menunjukkan bahwa modernitas tanpa makna bisa menjadi sumber kehampaan baru.
Bahwa kemajuan material tidak menjamin rasa “hidup utuh”.

Namun sebaliknya, spiritualitas tanpa keadilan sosial juga rapuh. Indonesia mesti belajar dari negara-negara yang berhasil menyeimbangkan keduanya — seperti Selandia Baru, yang menempati posisi sepuluh besar dengan keseimbangan antara kesejahteraan material dan mental.

Jalan ke Depan: Dari Flourishing Menuju Kesadaran

Apa pelajaran bagi bangsa ini?

Pertama, flourishing adalah proses, bukan pencapaian akhir.
Ia memerlukan perawatan terus-menerus — baik oleh kebijakan negara, maupun oleh kesadaran individu.
Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan pembangunan, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas akses kesehatan mental, maka flourishing bisa menjadi arah pembangunan nasional, bukan sekadar berita viral sesaat.

Kedua, spiritualitas perlu diterjemahkan menjadi solidaritas sosial.
Kebahagiaan pribadi baru bermakna ketika ia menular menjadi empati dan kepedulian.
Gotong-royong, kesederhanaan, dan rasa syukur bukan romantisme masa lalu, melainkan modal sosial yang menjadikan Indonesia unik di tengah dunia yang kehilangan makna.

Ketiga, pemerintah dan masyarakat perlu membangun indikator kesejahteraan baru — tidak hanya GDP atau pendapatan per kapita, tetapi ukuran kebahagiaan, keterhubungan sosial, dan kesadaran ekologis.

Melampaui Statistik

Kita boleh bersyukur, tetapi tidak berbangga diri secara berlebihan.
Flourishing Indonesia bukan prestasi satu rezim, melainkan hasil panjang dari daya hidup bangsa yang mampu menemukan makna dalam keterbatasan.

Data Harvard hanyalah cermin; yang menentukan arah langkah kita adalah kesadaran.
Seperti ungkapan bijak yang indah: “Tat Twam Asi” — aku adalah kamu, kamu adalah aku, dimana kita mampu melihat Sang Ilahi yang sama pada setiap wujud kehidupan, bukan saja manusia tetapi semua makhluk, fauna, maupun flora.

Selama kita masih melihat kesejahteraan orang lain sebagai bagian dari kesejahteraan kita sendiri, maka Indonesia akan terus flourish, tidak hanya dalam survei, tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Indonesiakebahagiaanrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Next Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co