24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 20, 2025
in Esai
Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebuah Kejutan dari Harvard

Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi tertinggi di antara 22 negara yang disurvei dalam hal flourishing, atau kesejahteraan menyeluruh, sebagaimana diunggah fb Good News from Indonesia.

Laporan ini bukan sekadar survei kebahagiaan biasa. Dilaksanakan oleh Human Flourishing Program, Harvard University, bekerja sama dengan Baylor University dan Gallup Inc., studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari enam benua. Data dikumpulkan antara 2023 dan 2024, dengan publikasi resmi pada awal 2025.

Negara peserta meliputi: Indonesia, India, China, Hong Kong, Jepang, Filipina, Vietnam, Australia, Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Kolombia, Meksiko, Israel, Arab Saudi, dan Selandia Baru.

Indonesia berada di urutan pertama — diikuti oleh Filipina, Vietnam, Nigeria, India, Kolombia, Brasil, Mesir, Meksiko, dan Selandia Baru — menandakan bahwa flourishing bukan monopoli negara kaya, melainkan hasil keseimbangan antara makna hidup, hubungan sosial, dan kebajikan pribadi.

Apa yang Diukur: Lebih dari Sekadar Bahagia

GFS tidak menilai kebahagiaan dangkal atau pendapatan per kapita. Ia mengukur enam dimensi kehidupan:

  1. Kebahagiaan dan kepuasan hidup,
  2. Kesehatan fisik dan mental,
  3. Makna dan tujuan hidup,
  4. Karakter dan kebajikan,
  5. Hubungan sosial yang erat, dan
  6. Stabilitas material dan finansial.

Dari enam aspek tersebut, lima pertama dihitung dalam Flourishing Index (FI), sedangkan jika aspek material ditambahkan menjadi Secure Flourishing Index (SFI).

Indonesia unggul di lima domain non-material: hubungan sosial, makna hidup, karakter, dan spiritualitas — jauh melampaui negara-negara dengan ekonomi lebih maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau Jerman.

Sementara itu, negara-negara berpendapatan tinggi justru menunjukkan paradoks: finansial kuat, tetapi mengalami krisis makna dan keterhubungan sosial. Sebuah ironi dunia modern yang semakin individualistik.

Refleksi atas Cermin Sosial

Apakah hasil ini bukti keberhasilan pemerintah? Ataukah sekadar cermin dari daya tahan sosial-budaya bangsa?

Periode survei (2023–2024) menunjukkan bahwa hasil ini adalah refleksi masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, bukan dampak langsung pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo Subianto (dilantik Oktober 2024).

Namun demikian, data ini tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi dan sosial selama satu dekade terakhir. Infrastruktur yang meluas, penurunan kemiskinan ekstrem, dan perluasan digitalisasi pelayanan publik berperan dalam membangun rasa sejahtera yang lebih merata.

Meski begitu, flourishing tidak hanya lahir dari kebijakan. Nilai-nilai seperti gotong-royong, rasa syukur, dan spiritualitas keseharian juga memainkan peran besar. Harvard Gazette bahkan menulis bahwa “Indonesia’s strong sense of belonging and religious meaning largely contributes to its top ranking.”

Artinya, kebahagiaan kita bersumber dari keterhubungan sosial dan spiritualitas, bukan sekadar dari angka ekonomi.

Antara Kebanggaan dan Kehati-hatian

Mudah sekali menjadikan hasil ini sebagai bahan kebanggaan nasional. Namun jika dibaca secara lebih jernih, hasil ini seharusnya menjadi pengingat moral dan spiritual.

Kita unggul dalam makna hidup dan hubungan sosial, tetapi bagaimana dengan stabilitas finansial, kesehatan mental, atau ketimpangan sosial yang masih nyata di lapangan?

Rasa “bermakna” tidak selalu berarti “berdaya”. Banyak masyarakat yang menemukan ketenangan batin di tengah keterbatasan, tetapi masih terpinggirkan secara struktural. Maka, skor tinggi ini tidak boleh membuat kita lengah. Ia justru menantang kita untuk menjembatani antara kesejahteraan batin dan keadilan sosial.

Flourishing sejati bukan hanya tentang merasa cukup, tapi juga tentang memberi ruang bagi orang lain untuk ikut berkembang.

Belajar dari Dunia

Dari 22 negara, tampak kontras yang menarik:

  • Negara-negara berpendapatan tinggi seperti AS, Inggris, Jerman, Jepang cenderung rendah dalam makna hidup dan hubungan sosial.
  • Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Nigeria justru tinggi dalam makna, karakter, dan spiritualitas.

Ini menunjukkan bahwa modernitas tanpa makna bisa menjadi sumber kehampaan baru.
Bahwa kemajuan material tidak menjamin rasa “hidup utuh”.

Namun sebaliknya, spiritualitas tanpa keadilan sosial juga rapuh. Indonesia mesti belajar dari negara-negara yang berhasil menyeimbangkan keduanya — seperti Selandia Baru, yang menempati posisi sepuluh besar dengan keseimbangan antara kesejahteraan material dan mental.

Jalan ke Depan: Dari Flourishing Menuju Kesadaran

Apa pelajaran bagi bangsa ini?

Pertama, flourishing adalah proses, bukan pencapaian akhir.
Ia memerlukan perawatan terus-menerus — baik oleh kebijakan negara, maupun oleh kesadaran individu.
Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan pembangunan, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas akses kesehatan mental, maka flourishing bisa menjadi arah pembangunan nasional, bukan sekadar berita viral sesaat.

Kedua, spiritualitas perlu diterjemahkan menjadi solidaritas sosial.
Kebahagiaan pribadi baru bermakna ketika ia menular menjadi empati dan kepedulian.
Gotong-royong, kesederhanaan, dan rasa syukur bukan romantisme masa lalu, melainkan modal sosial yang menjadikan Indonesia unik di tengah dunia yang kehilangan makna.

Ketiga, pemerintah dan masyarakat perlu membangun indikator kesejahteraan baru — tidak hanya GDP atau pendapatan per kapita, tetapi ukuran kebahagiaan, keterhubungan sosial, dan kesadaran ekologis.

Melampaui Statistik

Kita boleh bersyukur, tetapi tidak berbangga diri secara berlebihan.
Flourishing Indonesia bukan prestasi satu rezim, melainkan hasil panjang dari daya hidup bangsa yang mampu menemukan makna dalam keterbatasan.

Data Harvard hanyalah cermin; yang menentukan arah langkah kita adalah kesadaran.
Seperti ungkapan bijak yang indah: “Tat Twam Asi” — aku adalah kamu, kamu adalah aku, dimana kita mampu melihat Sang Ilahi yang sama pada setiap wujud kehidupan, bukan saja manusia tetapi semua makhluk, fauna, maupun flora.

Selama kita masih melihat kesejahteraan orang lain sebagai bagian dari kesejahteraan kita sendiri, maka Indonesia akan terus flourish, tidak hanya dalam survei, tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Indonesiakebahagiaanrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Next Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co