24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
October 20, 2025
in Ulas Film
Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Film A Business Proposal (2025)

Sebagai orang yang hidup di negara dunia ketiga dengan konteks kehidupan masyarakat sub-urban, film dengan genre romance merupakan hiburan bagi manusia yang hidup dalam keterasingan akibat modernisasi. Hal inilah yang membuat bagaimana sinetron romance yang cenderung cheesy masih banyak diminati oleh khalayak ramai. Meskipun secara penulisan cerita masih cenderung monoton dan repetitif dengan alur yang sangat mudah untuk ditebak. Tapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa film dan sinetron cheesy romance masih mendapatkan “ruang” di pasar perfilman Indonesia.

Terlepas dari kontroversi film A Business Proposal (2025)yang sempat viral di sosial media, saya memutuskan untuk menonton film yang merupakan adaptasi dari series Korea Selatan dengan judul yang sama ini di Netflix. Saya rasa film ini memang masih belum matang secara sempurna, baik dari segi penulisan maupun eksekusi. Namun, yang menjadi catatan penting adalah tulisan saya di sini tidak berniat untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk membangun sinema Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.

Plot dan Story Beat yang Monoton

Hal pertama yang membuat saya menganggap bahwa formula yang digunakan dalam film ini merupakan formula film romantis yang sudah usang ialah penggunaan story beat dan penulisan struktur cerita yang kuno sehingga terkesan drama romantis dalam sinetron dan FTV di Indonesia. Inilah yang membuat film garapan Rako Prijanto ini terkesan cheesy layaknya roman picisan belaka. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam film romance adalah poin meet cute dan titik kulminasi dalam cerita.

Poin pertemuan kedua karakter yang dapat saya katakan sebagai inciting incident dalam film ini terjadi karena tokoh Sari, yang diperankan oleh Ariel Tatum, harus menggantikan sahabatnya, Yasmin (diperankan oleh Caitlin Halderman) untuk bertemu dengan laki-laki yang dipilih oleh ayah Yasmin sebagai jodohnya, yakni Utama (diperankan oleh Abidzar Al-Ghifari). Dari momen inilah Business Proposal terjadi karena permintaan Yasmin kepada Sari. Pertemuan yang tidak terduga ini terjadi juga karena diperkuat dengan tawaran dari Yasmin yang akan membayar Sari dengan uang yang cukup besar jumlahnya.

Sari yang memiliki kendala hutang keluarga karena adiknya, Reza (diperankan oleh Fatih Unru), yang bermain judi online dan menyebabkan hutang yang banyak bagi keluarganya tergoda dengan tawaran Yasmin dan bersedia untuk menggantikan Yasmin bertemu dengan Utama.

Business Proposal yang ditawarkan oleh Yasmin inilah yang menjadi inciting incident dari film ini. Dan pertemuan yang tidak sengaja antara Sari dan Utama merupakan momen meet cute dari film ini. aspek meet cute yang dipakai dalam cerita film ini cenderung masih klise layaknya sinetron ataupun FTV, atau mungkin lakorn (sinetron Thailand).

Titik kulminasi dalam cerita film ini juga cenderung monoton. Di mana titik kulminasi hanya memperlihatkan dilema yang dialami oleh Utama antara melepaskan Sari atau tidak. Dan pada akhirnya Utama mau menerima Sari setelah mengetahui latar belakangnya dan bersedia membantu dia. Hal ini tidak ada bedanya dengan cerita-cerita picisan yang cheesy seperti FTV maupun Sinetron.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan cerita dalam film ini akan dikembangkan seperti apa, perlu diingat juga bahwa film ini merupakan adaptasi dari Series dengan judul yang sama. Namun, mengetahui film ini sempat memasuki peringkat 1 di Netflix yang membuat saya berefleksi dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya selera film dari masyarakat Indonesia itu? Apakah mungkin roman picisan seperti inilah yang benar-benar dicari oleh masyarakat Indonesia?

Plot yang Cenderung Misoginistik

Hal lain yang saya perhatikan dalam plot film ini ialah penulisan cerita yang terkesan menggambarkan princess trope dan damsel in distress. Di mana kedua aspek ini merupakan model cerita yang banyak terdapat di dalam dongeng-dongeng klasik yang menggambarkan karakter “tuan putri” dan sosok “pangeran”. Dapat dikatakan bahwa sosok tuan putri disini merupakan sosok yang inferior dan menunggu sosok pangeran yang datang sebagai penyelamat bagi dirinya, sehingga sosok pangeran disini digambarkan sebagai sosok yang superior. Pola seperti ini banyak ditemukan dalam cerita-cerita disney’s princess era klasik dan juga dongeng-dongeng era Victorian.

Princess trope syndrome dan damsel in distress dalam plot (karakter laki-laki yang mempersonifikasikan sosok “pangeran” yang menyelamatkan sosok tuan putri yang inferior) A Bussiness Proposal nampak dalam karakter Sari dan Utama. Sari disini digambarkan sebagai sosok yang inferior karena kendala yang dialaminya dan Utama hadir sebagai sosok “pangeran” penyelamat yang hadir ke dalam kehidupan Sari. Saya menyebut ini sebagai pola damsel ini distress karena karakter Sari di sini digambarkan sebagai sosok yang powerless, sedangkan Utama digambarkan sebagai sosok yang mempunyai power paling tinggi dalam cerita film ini. Film ini seakan-akan ingin menggambarkan bahwa jika Utama tidak hadir dalam kehidupan Sari, maka kehidupan Sari akan “berakhir”.

Saya melihat bahwa film ini hanyalah bentuk variasi dari berbagai cerita-cerita putri fantasy di zaman dahulu. Yang di mana cerita tersebut menunjukkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan diselamatkan oleh sosok “pangeran” yang akhirnya membuatnya jatuh cinta hingga akhirnya mereka berpacaran. Sehingga film ini pun tidak lebih daripada cerita dengan gaya Victorian klasik seperti naskah-naskah drama milik Shakespeare yang coba disesuaikan dengan konteks Indonesia. Maka bukanlah suatu hinaan jika saya mengatakan cerita di film ini cenderung cheesy dan mencoba menggambarkan perempuan sebagai sosok yang inferior.

Visual, Warna, dan Wardrobe yang non-Simbolik

Hal terakhir yang menggelitik saya ketika menonton film ini ialah penggunaan visual dan warna yang minim statement dan motivasi. Mungkin dapat saya katakan bahwa visual dan warna dalam film ini bersifat non-simbolik. Ketika saya menonton film ini, saya hanya melihat bahwa karakter Sari disini dalam banyak adegan menggunakan warna earth tone, dan karakter Utama menggunakan warna gelap dan biru. Tapi yang saya pertanyakan ialah apa makna dari pemilihan warna ini? apa motivasinya? Bukankah seharusnya pemilihan warna dapat mendukung segi pembangunan cerita, bahkan menyiratkan apa yang tersembunyi dibalik setiap karakter. Sehingga saya melihat kurangnya aspek simbolik pada bagian pemilihan warna di dalam film ini.

Pemilihan properti dan pembangunan set juga hal yang saya perhatikan di dalam film ini. Yang coba saya kritisi ialah karakter Sari dalam film ini. karakter ini digambarkan sebagai karakter yang sedang berjuang untuk melunasi hutang keluarganya, dan hal inilah yang membuatnya mau untuk melakukan segala hal demi uang. Namun, yang menggelitik saya ialah penampilan Sari bukan seperti orang yang sedang terlilit hutang dan kesusahan jika diperhatikan barang-barang yang dimilikinya dan busananya. Saya mengacu pada Hierarchy of Needs yang digagas oleh Abraham Maslow.

Dapat dilihat bahwa jika orang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, ia tidak akan mencari kebutuhan akan rasa aman hingga kebutuhan aktualisasi diri. Hal ini nampak dari karakter Sari yang menunjukkan bahwa ia akan melakukan segalanya demi uang karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi, sehingga ia tidak memikirkan mengenai rasa aman hingga aktualisasi diri.

Namun properti yang digambarkan seperti barang-barang yang dimiliki Sari (mulai dari motor, gawai, hingga busana) menunjukkan bahwa Sari dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Saya melihat hal ini sebagai bentuk ketidak-konsisten-an yang ada di dalam film ini sehingga ini menjadi salah satu dari sekian banyak lubang yang ada di dalam film ini. Mungkin memang hal ini hanyalah hal sepele. Namun, jika pengembangan dalam film ini memperhatikan aspek Hierarchy of Needs, saya yakin film ini akan menjadi film yang cukup matang sebagai film layar lebar.

Dari keseluruhan tulisan ini, saya hanya mencoba untuk memberikan kritik dan saran agar di film-film selanjutnya setiap aspek yang ada dapat diperhatikan. Terlepas dari fakta bahwa film ini merupakan adaptasi, bagi saya, film ini masih banyak memiliki lubang yang harus ditambal. Kembali lagi pada pesan saya di awal, tujuan saya dalam tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan agar sinema Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik dan bisa bersaing di pasar global. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Film Indonesiafilm korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Next Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co