14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
October 20, 2025
in Ulas Film
Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Film A Business Proposal (2025)

Sebagai orang yang hidup di negara dunia ketiga dengan konteks kehidupan masyarakat sub-urban, film dengan genre romance merupakan hiburan bagi manusia yang hidup dalam keterasingan akibat modernisasi. Hal inilah yang membuat bagaimana sinetron romance yang cenderung cheesy masih banyak diminati oleh khalayak ramai. Meskipun secara penulisan cerita masih cenderung monoton dan repetitif dengan alur yang sangat mudah untuk ditebak. Tapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa film dan sinetron cheesy romance masih mendapatkan “ruang” di pasar perfilman Indonesia.

Terlepas dari kontroversi film A Business Proposal (2025)yang sempat viral di sosial media, saya memutuskan untuk menonton film yang merupakan adaptasi dari series Korea Selatan dengan judul yang sama ini di Netflix. Saya rasa film ini memang masih belum matang secara sempurna, baik dari segi penulisan maupun eksekusi. Namun, yang menjadi catatan penting adalah tulisan saya di sini tidak berniat untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk membangun sinema Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.

Plot dan Story Beat yang Monoton

Hal pertama yang membuat saya menganggap bahwa formula yang digunakan dalam film ini merupakan formula film romantis yang sudah usang ialah penggunaan story beat dan penulisan struktur cerita yang kuno sehingga terkesan drama romantis dalam sinetron dan FTV di Indonesia. Inilah yang membuat film garapan Rako Prijanto ini terkesan cheesy layaknya roman picisan belaka. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam film romance adalah poin meet cute dan titik kulminasi dalam cerita.

Poin pertemuan kedua karakter yang dapat saya katakan sebagai inciting incident dalam film ini terjadi karena tokoh Sari, yang diperankan oleh Ariel Tatum, harus menggantikan sahabatnya, Yasmin (diperankan oleh Caitlin Halderman) untuk bertemu dengan laki-laki yang dipilih oleh ayah Yasmin sebagai jodohnya, yakni Utama (diperankan oleh Abidzar Al-Ghifari). Dari momen inilah Business Proposal terjadi karena permintaan Yasmin kepada Sari. Pertemuan yang tidak terduga ini terjadi juga karena diperkuat dengan tawaran dari Yasmin yang akan membayar Sari dengan uang yang cukup besar jumlahnya.

Sari yang memiliki kendala hutang keluarga karena adiknya, Reza (diperankan oleh Fatih Unru), yang bermain judi online dan menyebabkan hutang yang banyak bagi keluarganya tergoda dengan tawaran Yasmin dan bersedia untuk menggantikan Yasmin bertemu dengan Utama.

Business Proposal yang ditawarkan oleh Yasmin inilah yang menjadi inciting incident dari film ini. Dan pertemuan yang tidak sengaja antara Sari dan Utama merupakan momen meet cute dari film ini. aspek meet cute yang dipakai dalam cerita film ini cenderung masih klise layaknya sinetron ataupun FTV, atau mungkin lakorn (sinetron Thailand).

Titik kulminasi dalam cerita film ini juga cenderung monoton. Di mana titik kulminasi hanya memperlihatkan dilema yang dialami oleh Utama antara melepaskan Sari atau tidak. Dan pada akhirnya Utama mau menerima Sari setelah mengetahui latar belakangnya dan bersedia membantu dia. Hal ini tidak ada bedanya dengan cerita-cerita picisan yang cheesy seperti FTV maupun Sinetron.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan cerita dalam film ini akan dikembangkan seperti apa, perlu diingat juga bahwa film ini merupakan adaptasi dari Series dengan judul yang sama. Namun, mengetahui film ini sempat memasuki peringkat 1 di Netflix yang membuat saya berefleksi dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya selera film dari masyarakat Indonesia itu? Apakah mungkin roman picisan seperti inilah yang benar-benar dicari oleh masyarakat Indonesia?

Plot yang Cenderung Misoginistik

Hal lain yang saya perhatikan dalam plot film ini ialah penulisan cerita yang terkesan menggambarkan princess trope dan damsel in distress. Di mana kedua aspek ini merupakan model cerita yang banyak terdapat di dalam dongeng-dongeng klasik yang menggambarkan karakter “tuan putri” dan sosok “pangeran”. Dapat dikatakan bahwa sosok tuan putri disini merupakan sosok yang inferior dan menunggu sosok pangeran yang datang sebagai penyelamat bagi dirinya, sehingga sosok pangeran disini digambarkan sebagai sosok yang superior. Pola seperti ini banyak ditemukan dalam cerita-cerita disney’s princess era klasik dan juga dongeng-dongeng era Victorian.

Princess trope syndrome dan damsel in distress dalam plot (karakter laki-laki yang mempersonifikasikan sosok “pangeran” yang menyelamatkan sosok tuan putri yang inferior) A Bussiness Proposal nampak dalam karakter Sari dan Utama. Sari disini digambarkan sebagai sosok yang inferior karena kendala yang dialaminya dan Utama hadir sebagai sosok “pangeran” penyelamat yang hadir ke dalam kehidupan Sari. Saya menyebut ini sebagai pola damsel ini distress karena karakter Sari di sini digambarkan sebagai sosok yang powerless, sedangkan Utama digambarkan sebagai sosok yang mempunyai power paling tinggi dalam cerita film ini. Film ini seakan-akan ingin menggambarkan bahwa jika Utama tidak hadir dalam kehidupan Sari, maka kehidupan Sari akan “berakhir”.

Saya melihat bahwa film ini hanyalah bentuk variasi dari berbagai cerita-cerita putri fantasy di zaman dahulu. Yang di mana cerita tersebut menunjukkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan diselamatkan oleh sosok “pangeran” yang akhirnya membuatnya jatuh cinta hingga akhirnya mereka berpacaran. Sehingga film ini pun tidak lebih daripada cerita dengan gaya Victorian klasik seperti naskah-naskah drama milik Shakespeare yang coba disesuaikan dengan konteks Indonesia. Maka bukanlah suatu hinaan jika saya mengatakan cerita di film ini cenderung cheesy dan mencoba menggambarkan perempuan sebagai sosok yang inferior.

Visual, Warna, dan Wardrobe yang non-Simbolik

Hal terakhir yang menggelitik saya ketika menonton film ini ialah penggunaan visual dan warna yang minim statement dan motivasi. Mungkin dapat saya katakan bahwa visual dan warna dalam film ini bersifat non-simbolik. Ketika saya menonton film ini, saya hanya melihat bahwa karakter Sari disini dalam banyak adegan menggunakan warna earth tone, dan karakter Utama menggunakan warna gelap dan biru. Tapi yang saya pertanyakan ialah apa makna dari pemilihan warna ini? apa motivasinya? Bukankah seharusnya pemilihan warna dapat mendukung segi pembangunan cerita, bahkan menyiratkan apa yang tersembunyi dibalik setiap karakter. Sehingga saya melihat kurangnya aspek simbolik pada bagian pemilihan warna di dalam film ini.

Pemilihan properti dan pembangunan set juga hal yang saya perhatikan di dalam film ini. Yang coba saya kritisi ialah karakter Sari dalam film ini. karakter ini digambarkan sebagai karakter yang sedang berjuang untuk melunasi hutang keluarganya, dan hal inilah yang membuatnya mau untuk melakukan segala hal demi uang. Namun, yang menggelitik saya ialah penampilan Sari bukan seperti orang yang sedang terlilit hutang dan kesusahan jika diperhatikan barang-barang yang dimilikinya dan busananya. Saya mengacu pada Hierarchy of Needs yang digagas oleh Abraham Maslow.

Dapat dilihat bahwa jika orang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, ia tidak akan mencari kebutuhan akan rasa aman hingga kebutuhan aktualisasi diri. Hal ini nampak dari karakter Sari yang menunjukkan bahwa ia akan melakukan segalanya demi uang karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi, sehingga ia tidak memikirkan mengenai rasa aman hingga aktualisasi diri.

Namun properti yang digambarkan seperti barang-barang yang dimiliki Sari (mulai dari motor, gawai, hingga busana) menunjukkan bahwa Sari dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Saya melihat hal ini sebagai bentuk ketidak-konsisten-an yang ada di dalam film ini sehingga ini menjadi salah satu dari sekian banyak lubang yang ada di dalam film ini. Mungkin memang hal ini hanyalah hal sepele. Namun, jika pengembangan dalam film ini memperhatikan aspek Hierarchy of Needs, saya yakin film ini akan menjadi film yang cukup matang sebagai film layar lebar.

Dari keseluruhan tulisan ini, saya hanya mencoba untuk memberikan kritik dan saran agar di film-film selanjutnya setiap aspek yang ada dapat diperhatikan. Terlepas dari fakta bahwa film ini merupakan adaptasi, bagi saya, film ini masih banyak memiliki lubang yang harus ditambal. Kembali lagi pada pesan saya di awal, tujuan saya dalam tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan agar sinema Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik dan bisa bersaing di pasar global. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Film Indonesiafilm korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Next Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co