24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
October 20, 2025
in Ulas Film
Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Film A Business Proposal (2025)

Sebagai orang yang hidup di negara dunia ketiga dengan konteks kehidupan masyarakat sub-urban, film dengan genre romance merupakan hiburan bagi manusia yang hidup dalam keterasingan akibat modernisasi. Hal inilah yang membuat bagaimana sinetron romance yang cenderung cheesy masih banyak diminati oleh khalayak ramai. Meskipun secara penulisan cerita masih cenderung monoton dan repetitif dengan alur yang sangat mudah untuk ditebak. Tapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa film dan sinetron cheesy romance masih mendapatkan “ruang” di pasar perfilman Indonesia.

Terlepas dari kontroversi film A Business Proposal (2025)yang sempat viral di sosial media, saya memutuskan untuk menonton film yang merupakan adaptasi dari series Korea Selatan dengan judul yang sama ini di Netflix. Saya rasa film ini memang masih belum matang secara sempurna, baik dari segi penulisan maupun eksekusi. Namun, yang menjadi catatan penting adalah tulisan saya di sini tidak berniat untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk membangun sinema Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.

Plot dan Story Beat yang Monoton

Hal pertama yang membuat saya menganggap bahwa formula yang digunakan dalam film ini merupakan formula film romantis yang sudah usang ialah penggunaan story beat dan penulisan struktur cerita yang kuno sehingga terkesan drama romantis dalam sinetron dan FTV di Indonesia. Inilah yang membuat film garapan Rako Prijanto ini terkesan cheesy layaknya roman picisan belaka. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam film romance adalah poin meet cute dan titik kulminasi dalam cerita.

Poin pertemuan kedua karakter yang dapat saya katakan sebagai inciting incident dalam film ini terjadi karena tokoh Sari, yang diperankan oleh Ariel Tatum, harus menggantikan sahabatnya, Yasmin (diperankan oleh Caitlin Halderman) untuk bertemu dengan laki-laki yang dipilih oleh ayah Yasmin sebagai jodohnya, yakni Utama (diperankan oleh Abidzar Al-Ghifari). Dari momen inilah Business Proposal terjadi karena permintaan Yasmin kepada Sari. Pertemuan yang tidak terduga ini terjadi juga karena diperkuat dengan tawaran dari Yasmin yang akan membayar Sari dengan uang yang cukup besar jumlahnya.

Sari yang memiliki kendala hutang keluarga karena adiknya, Reza (diperankan oleh Fatih Unru), yang bermain judi online dan menyebabkan hutang yang banyak bagi keluarganya tergoda dengan tawaran Yasmin dan bersedia untuk menggantikan Yasmin bertemu dengan Utama.

Business Proposal yang ditawarkan oleh Yasmin inilah yang menjadi inciting incident dari film ini. Dan pertemuan yang tidak sengaja antara Sari dan Utama merupakan momen meet cute dari film ini. aspek meet cute yang dipakai dalam cerita film ini cenderung masih klise layaknya sinetron ataupun FTV, atau mungkin lakorn (sinetron Thailand).

Titik kulminasi dalam cerita film ini juga cenderung monoton. Di mana titik kulminasi hanya memperlihatkan dilema yang dialami oleh Utama antara melepaskan Sari atau tidak. Dan pada akhirnya Utama mau menerima Sari setelah mengetahui latar belakangnya dan bersedia membantu dia. Hal ini tidak ada bedanya dengan cerita-cerita picisan yang cheesy seperti FTV maupun Sinetron.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan cerita dalam film ini akan dikembangkan seperti apa, perlu diingat juga bahwa film ini merupakan adaptasi dari Series dengan judul yang sama. Namun, mengetahui film ini sempat memasuki peringkat 1 di Netflix yang membuat saya berefleksi dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya selera film dari masyarakat Indonesia itu? Apakah mungkin roman picisan seperti inilah yang benar-benar dicari oleh masyarakat Indonesia?

Plot yang Cenderung Misoginistik

Hal lain yang saya perhatikan dalam plot film ini ialah penulisan cerita yang terkesan menggambarkan princess trope dan damsel in distress. Di mana kedua aspek ini merupakan model cerita yang banyak terdapat di dalam dongeng-dongeng klasik yang menggambarkan karakter “tuan putri” dan sosok “pangeran”. Dapat dikatakan bahwa sosok tuan putri disini merupakan sosok yang inferior dan menunggu sosok pangeran yang datang sebagai penyelamat bagi dirinya, sehingga sosok pangeran disini digambarkan sebagai sosok yang superior. Pola seperti ini banyak ditemukan dalam cerita-cerita disney’s princess era klasik dan juga dongeng-dongeng era Victorian.

Princess trope syndrome dan damsel in distress dalam plot (karakter laki-laki yang mempersonifikasikan sosok “pangeran” yang menyelamatkan sosok tuan putri yang inferior) A Bussiness Proposal nampak dalam karakter Sari dan Utama. Sari disini digambarkan sebagai sosok yang inferior karena kendala yang dialaminya dan Utama hadir sebagai sosok “pangeran” penyelamat yang hadir ke dalam kehidupan Sari. Saya menyebut ini sebagai pola damsel ini distress karena karakter Sari di sini digambarkan sebagai sosok yang powerless, sedangkan Utama digambarkan sebagai sosok yang mempunyai power paling tinggi dalam cerita film ini. Film ini seakan-akan ingin menggambarkan bahwa jika Utama tidak hadir dalam kehidupan Sari, maka kehidupan Sari akan “berakhir”.

Saya melihat bahwa film ini hanyalah bentuk variasi dari berbagai cerita-cerita putri fantasy di zaman dahulu. Yang di mana cerita tersebut menunjukkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan diselamatkan oleh sosok “pangeran” yang akhirnya membuatnya jatuh cinta hingga akhirnya mereka berpacaran. Sehingga film ini pun tidak lebih daripada cerita dengan gaya Victorian klasik seperti naskah-naskah drama milik Shakespeare yang coba disesuaikan dengan konteks Indonesia. Maka bukanlah suatu hinaan jika saya mengatakan cerita di film ini cenderung cheesy dan mencoba menggambarkan perempuan sebagai sosok yang inferior.

Visual, Warna, dan Wardrobe yang non-Simbolik

Hal terakhir yang menggelitik saya ketika menonton film ini ialah penggunaan visual dan warna yang minim statement dan motivasi. Mungkin dapat saya katakan bahwa visual dan warna dalam film ini bersifat non-simbolik. Ketika saya menonton film ini, saya hanya melihat bahwa karakter Sari disini dalam banyak adegan menggunakan warna earth tone, dan karakter Utama menggunakan warna gelap dan biru. Tapi yang saya pertanyakan ialah apa makna dari pemilihan warna ini? apa motivasinya? Bukankah seharusnya pemilihan warna dapat mendukung segi pembangunan cerita, bahkan menyiratkan apa yang tersembunyi dibalik setiap karakter. Sehingga saya melihat kurangnya aspek simbolik pada bagian pemilihan warna di dalam film ini.

Pemilihan properti dan pembangunan set juga hal yang saya perhatikan di dalam film ini. Yang coba saya kritisi ialah karakter Sari dalam film ini. karakter ini digambarkan sebagai karakter yang sedang berjuang untuk melunasi hutang keluarganya, dan hal inilah yang membuatnya mau untuk melakukan segala hal demi uang. Namun, yang menggelitik saya ialah penampilan Sari bukan seperti orang yang sedang terlilit hutang dan kesusahan jika diperhatikan barang-barang yang dimilikinya dan busananya. Saya mengacu pada Hierarchy of Needs yang digagas oleh Abraham Maslow.

Dapat dilihat bahwa jika orang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, ia tidak akan mencari kebutuhan akan rasa aman hingga kebutuhan aktualisasi diri. Hal ini nampak dari karakter Sari yang menunjukkan bahwa ia akan melakukan segalanya demi uang karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi, sehingga ia tidak memikirkan mengenai rasa aman hingga aktualisasi diri.

Namun properti yang digambarkan seperti barang-barang yang dimiliki Sari (mulai dari motor, gawai, hingga busana) menunjukkan bahwa Sari dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Saya melihat hal ini sebagai bentuk ketidak-konsisten-an yang ada di dalam film ini sehingga ini menjadi salah satu dari sekian banyak lubang yang ada di dalam film ini. Mungkin memang hal ini hanyalah hal sepele. Namun, jika pengembangan dalam film ini memperhatikan aspek Hierarchy of Needs, saya yakin film ini akan menjadi film yang cukup matang sebagai film layar lebar.

Dari keseluruhan tulisan ini, saya hanya mencoba untuk memberikan kritik dan saran agar di film-film selanjutnya setiap aspek yang ada dapat diperhatikan. Terlepas dari fakta bahwa film ini merupakan adaptasi, bagi saya, film ini masih banyak memiliki lubang yang harus ditambal. Kembali lagi pada pesan saya di awal, tujuan saya dalam tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan agar sinema Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik dan bisa bersaing di pasar global. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Film Indonesiafilm korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Next Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co