3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
October 20, 2025
in Ulas Film
Formula Film Romantis yang Sudah Usang dalam “A Business Proposal” (2025)

Film A Business Proposal (2025)

Sebagai orang yang hidup di negara dunia ketiga dengan konteks kehidupan masyarakat sub-urban, film dengan genre romance merupakan hiburan bagi manusia yang hidup dalam keterasingan akibat modernisasi. Hal inilah yang membuat bagaimana sinetron romance yang cenderung cheesy masih banyak diminati oleh khalayak ramai. Meskipun secara penulisan cerita masih cenderung monoton dan repetitif dengan alur yang sangat mudah untuk ditebak. Tapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa film dan sinetron cheesy romance masih mendapatkan “ruang” di pasar perfilman Indonesia.

Terlepas dari kontroversi film A Business Proposal (2025)yang sempat viral di sosial media, saya memutuskan untuk menonton film yang merupakan adaptasi dari series Korea Selatan dengan judul yang sama ini di Netflix. Saya rasa film ini memang masih belum matang secara sempurna, baik dari segi penulisan maupun eksekusi. Namun, yang menjadi catatan penting adalah tulisan saya di sini tidak berniat untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk membangun sinema Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.

Plot dan Story Beat yang Monoton

Hal pertama yang membuat saya menganggap bahwa formula yang digunakan dalam film ini merupakan formula film romantis yang sudah usang ialah penggunaan story beat dan penulisan struktur cerita yang kuno sehingga terkesan drama romantis dalam sinetron dan FTV di Indonesia. Inilah yang membuat film garapan Rako Prijanto ini terkesan cheesy layaknya roman picisan belaka. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam film romance adalah poin meet cute dan titik kulminasi dalam cerita.

Poin pertemuan kedua karakter yang dapat saya katakan sebagai inciting incident dalam film ini terjadi karena tokoh Sari, yang diperankan oleh Ariel Tatum, harus menggantikan sahabatnya, Yasmin (diperankan oleh Caitlin Halderman) untuk bertemu dengan laki-laki yang dipilih oleh ayah Yasmin sebagai jodohnya, yakni Utama (diperankan oleh Abidzar Al-Ghifari). Dari momen inilah Business Proposal terjadi karena permintaan Yasmin kepada Sari. Pertemuan yang tidak terduga ini terjadi juga karena diperkuat dengan tawaran dari Yasmin yang akan membayar Sari dengan uang yang cukup besar jumlahnya.

Sari yang memiliki kendala hutang keluarga karena adiknya, Reza (diperankan oleh Fatih Unru), yang bermain judi online dan menyebabkan hutang yang banyak bagi keluarganya tergoda dengan tawaran Yasmin dan bersedia untuk menggantikan Yasmin bertemu dengan Utama.

Business Proposal yang ditawarkan oleh Yasmin inilah yang menjadi inciting incident dari film ini. Dan pertemuan yang tidak sengaja antara Sari dan Utama merupakan momen meet cute dari film ini. aspek meet cute yang dipakai dalam cerita film ini cenderung masih klise layaknya sinetron ataupun FTV, atau mungkin lakorn (sinetron Thailand).

Titik kulminasi dalam cerita film ini juga cenderung monoton. Di mana titik kulminasi hanya memperlihatkan dilema yang dialami oleh Utama antara melepaskan Sari atau tidak. Dan pada akhirnya Utama mau menerima Sari setelah mengetahui latar belakangnya dan bersedia membantu dia. Hal ini tidak ada bedanya dengan cerita-cerita picisan yang cheesy seperti FTV maupun Sinetron.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan cerita dalam film ini akan dikembangkan seperti apa, perlu diingat juga bahwa film ini merupakan adaptasi dari Series dengan judul yang sama. Namun, mengetahui film ini sempat memasuki peringkat 1 di Netflix yang membuat saya berefleksi dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya selera film dari masyarakat Indonesia itu? Apakah mungkin roman picisan seperti inilah yang benar-benar dicari oleh masyarakat Indonesia?

Plot yang Cenderung Misoginistik

Hal lain yang saya perhatikan dalam plot film ini ialah penulisan cerita yang terkesan menggambarkan princess trope dan damsel in distress. Di mana kedua aspek ini merupakan model cerita yang banyak terdapat di dalam dongeng-dongeng klasik yang menggambarkan karakter “tuan putri” dan sosok “pangeran”. Dapat dikatakan bahwa sosok tuan putri disini merupakan sosok yang inferior dan menunggu sosok pangeran yang datang sebagai penyelamat bagi dirinya, sehingga sosok pangeran disini digambarkan sebagai sosok yang superior. Pola seperti ini banyak ditemukan dalam cerita-cerita disney’s princess era klasik dan juga dongeng-dongeng era Victorian.

Princess trope syndrome dan damsel in distress dalam plot (karakter laki-laki yang mempersonifikasikan sosok “pangeran” yang menyelamatkan sosok tuan putri yang inferior) A Bussiness Proposal nampak dalam karakter Sari dan Utama. Sari disini digambarkan sebagai sosok yang inferior karena kendala yang dialaminya dan Utama hadir sebagai sosok “pangeran” penyelamat yang hadir ke dalam kehidupan Sari. Saya menyebut ini sebagai pola damsel ini distress karena karakter Sari di sini digambarkan sebagai sosok yang powerless, sedangkan Utama digambarkan sebagai sosok yang mempunyai power paling tinggi dalam cerita film ini. Film ini seakan-akan ingin menggambarkan bahwa jika Utama tidak hadir dalam kehidupan Sari, maka kehidupan Sari akan “berakhir”.

Saya melihat bahwa film ini hanyalah bentuk variasi dari berbagai cerita-cerita putri fantasy di zaman dahulu. Yang di mana cerita tersebut menunjukkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan diselamatkan oleh sosok “pangeran” yang akhirnya membuatnya jatuh cinta hingga akhirnya mereka berpacaran. Sehingga film ini pun tidak lebih daripada cerita dengan gaya Victorian klasik seperti naskah-naskah drama milik Shakespeare yang coba disesuaikan dengan konteks Indonesia. Maka bukanlah suatu hinaan jika saya mengatakan cerita di film ini cenderung cheesy dan mencoba menggambarkan perempuan sebagai sosok yang inferior.

Visual, Warna, dan Wardrobe yang non-Simbolik

Hal terakhir yang menggelitik saya ketika menonton film ini ialah penggunaan visual dan warna yang minim statement dan motivasi. Mungkin dapat saya katakan bahwa visual dan warna dalam film ini bersifat non-simbolik. Ketika saya menonton film ini, saya hanya melihat bahwa karakter Sari disini dalam banyak adegan menggunakan warna earth tone, dan karakter Utama menggunakan warna gelap dan biru. Tapi yang saya pertanyakan ialah apa makna dari pemilihan warna ini? apa motivasinya? Bukankah seharusnya pemilihan warna dapat mendukung segi pembangunan cerita, bahkan menyiratkan apa yang tersembunyi dibalik setiap karakter. Sehingga saya melihat kurangnya aspek simbolik pada bagian pemilihan warna di dalam film ini.

Pemilihan properti dan pembangunan set juga hal yang saya perhatikan di dalam film ini. Yang coba saya kritisi ialah karakter Sari dalam film ini. karakter ini digambarkan sebagai karakter yang sedang berjuang untuk melunasi hutang keluarganya, dan hal inilah yang membuatnya mau untuk melakukan segala hal demi uang. Namun, yang menggelitik saya ialah penampilan Sari bukan seperti orang yang sedang terlilit hutang dan kesusahan jika diperhatikan barang-barang yang dimilikinya dan busananya. Saya mengacu pada Hierarchy of Needs yang digagas oleh Abraham Maslow.

Dapat dilihat bahwa jika orang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, ia tidak akan mencari kebutuhan akan rasa aman hingga kebutuhan aktualisasi diri. Hal ini nampak dari karakter Sari yang menunjukkan bahwa ia akan melakukan segalanya demi uang karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi, sehingga ia tidak memikirkan mengenai rasa aman hingga aktualisasi diri.

Namun properti yang digambarkan seperti barang-barang yang dimiliki Sari (mulai dari motor, gawai, hingga busana) menunjukkan bahwa Sari dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Saya melihat hal ini sebagai bentuk ketidak-konsisten-an yang ada di dalam film ini sehingga ini menjadi salah satu dari sekian banyak lubang yang ada di dalam film ini. Mungkin memang hal ini hanyalah hal sepele. Namun, jika pengembangan dalam film ini memperhatikan aspek Hierarchy of Needs, saya yakin film ini akan menjadi film yang cukup matang sebagai film layar lebar.

Dari keseluruhan tulisan ini, saya hanya mencoba untuk memberikan kritik dan saran agar di film-film selanjutnya setiap aspek yang ada dapat diperhatikan. Terlepas dari fakta bahwa film ini merupakan adaptasi, bagi saya, film ini masih banyak memiliki lubang yang harus ditambal. Kembali lagi pada pesan saya di awal, tujuan saya dalam tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan agar sinema Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik dan bisa bersaing di pasar global. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Film Indonesiafilm korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Next Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co