DI tengah riuh rendah modernitas Denpasar Timur, denyut sejarah masih terasa kuat dari Pabrik Besi Pande Jegog di Jalan Trenggana, Penatih. Bukan sekadar pabrik, tempat ini adalah saksi bisu ketekunan lintas generasi, yang kini juga dikendalikan oleh tangan terampil I Putu Chandra Danuarta, pemuda kelahiran 3 Mei 2001, serta melanjutkan jejak sang kakek.
Kisah pabrik besi ini bermula jauh sebelum Chandra lahir. Tahun 1970, kakek Jegog memulai segalanya dari sebuah usaha pande tradisional di Bali. Empat tahun kemudian, pada 1974, izin usaha dari Kementerian Perindustrian resmi didapatkan, menandai berdirinya usaha Pande Jegog, yang namanya diambil dari nama kakeknya sendiri, I Wayan Jegog kelahiran 11 Desember 1952.
Putu Chandra, pria berkacamata ini, menceritakan keterlibatannya bukan karena paksaan orang tua, melainkan ketertarikan yang tumbuh dari masa kecil.
“Waktu kecil saya lihat kakek kerja di pabrik besi, ya ikut bantu-bantu. Kalau pengaruh sih nggak ada, nggak ada direcoki dari kecil harus jadi pande. Lihat, akhirnya tertarik sendiri,” kenangnya sambil tersenyum.

Chandra juga menceritakan lebih detail mengapa ia tertarik dengan dunia pande besi ini, dulu ia sangat suka main Roleplay Game (RPG) lalu ia menyebutkan ada salah satu karakternya itu menjadi blacksmith atau penempa dan itu mengingatkannya pada pekerjaan kakeknya jadilah dia tertarik ikut menjadi pande besi.
Meskipun saat SMP hingga SMA ia hanya membantu sepulang sekolah sebelum beranjak bermain layaknya anak muda lain, benih kecintaan terhadap besi sudah tertanam. Kini, ia menjadi penerus, membawa filosofi kakeknya: kerja keras dan konsistensi.
“Maknanya itu bekerja keras, konsistensi, yang di mana dari awalnya berdiri sendiri masih kecil sampai sekarang besar dan bisa menghidupi keluarga,” tegas Chandra.
Inovasi Pande Modern dan Konsistensi Seni Besi
Pande Jegog saat ini mengadopsi sentuhan modern. Selain memproduksi perkakas pande pada umumnya seperti pisau dan blakas (pisau besar khas Bali), mereka juga merambah pembuatan alat-alat berteknologi untuk pertanian, dapur, atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. (UMKM). Pabriknya dibagi dua: bagian depan untuk pande pisau, dan bagian belakang dikhususkan untuk mesin pertanian.
Proses pembuatan pisaulah yang paling menantang. Chandra mengungkapkan, bagian tersulit adalah membentuk mata pisau, yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan presisi tinggi. “Kadang kalau produk sudah jadi, dipakai, lalu patah atau cepat rusak, kasihan juga pembelinya,” ujarnya.

Prosesnya melibatkan kayu paang untuk gagang (pati), cincin kuningan atau besi sebagai penyambung, dan penempaan mata pisau dari plat baja di bara api. Setelah digabungkan menjadi satu kesatuan, pisau kemudian diasah atau disangih hingga tajam.
Chandra melihat pengrajin besi sebagai spesialisasi yang beragam. Usaha Pande Jegog memilih fokus pada pisau, dengan ciri khas desain yang lebih ramping dan praktis, meskipun tetap melayani permintaan untuk pisau besar (blakas) sesuai keinginan konsumen. Kakek Jegog juga pernah membuat keris untuk keperluan adat, menunjukkan kolerasi kuat antara besi, seni, dan spiritualitas Bali.
Tantangan Zaman dan Harapan Regenerasi
Dampak teknologi modern dirasakan sangat membantu. Mesin seperti hydraulic press menggantikan dua tenaga manusia saat menempa, dan mesin pemotong mempermudah pemrosesan besi keras. Pemasaran pun kini lebih mudah melalui media sosial, menjangkau konsumen secara digital dan cepat.
Namun, tantangan terbesar adalah persaingan. “Kita masih manual, sehari hanya bisa keluar 5 sampai 10 pisau, sedangkan perusahaan lebih besar bisa mencapai ratusan,” ungkap Chandra. Selain itu, regenerasi menjadi isu.
“Yang berminat belajar itu sedikit memang,” katanya, tidak menyalahkan karena idealismenya tidak bisa mengalahkan realita perkembangan zaman.
Ia prihatin jika profesi ini punah, “Sangat disayangkan sekali. Salah satu kebudayaan Bali, dari zaman leluhur, kerajaan, sampai modern masih ada pande besi atau tukang besi. Kehilangan pande berarti kehilangan elemen penting yang dibutuhkan masyarakat, seperti pisau petani dan sabit,” tuturnya.
Meski begitu, Chandra optimis. Ia berencana mengembangkan usaha ke ranah ekspor, memperkuat pemasaran digital, dan terus berinovasi dalam desain produk. Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, tidak hanya materi, tetapi juga mengenalkan pande yang terkenal dengan keterampilan seseorang dalam mengolah logam, karena hal itu menjadi bagian dari pariwisata budaya.
Filosofi Palu dan Besi
Dalam setiap pukulan palu pada besi panas, terdapat makna filosofis yang dipegang teguh. Chandra menjelaskan, proses membakar besi di perapian diibaratkan sebagai penciptaan, identik dengan Dewa Brahma dalam kepercayaan Hindu Bali. Mereka menciptakan atas izin Beliau.
Mengutip pelajaran dari besi, Chandra berujar bijak, “Hidup itu kan seperti ditempa ya. Diberikan cobaan, itu sama dengan ditempa, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi pandelah misalnya ya, menempa untuk belajar, mengerti, ditempa menjadi pribadi yang lebih jadi.”

Baginya, pande adalah tentang ketekunan—kerja keras dan konsistensi, menciptakan sesuatu tanpa mudah lelah, dan terus mencoba jika gagal. Besi, benda mati yang dingin, menjadi bagian penting kehidupan setelah diproses, dibakar, ditempa, dan dipoles menjadi pisau yang berguna.
Momen paling berkesan bagi Chandra adalah ketika menciptakan benda dari besi bersama kakeknya dan mendapatkan penghargaan pada lomba teknologi dan inovasi. Ia menyadari, banyak orang hanya melihat pekerjaan ini keras, berat, dan hanya bisa melihat hasilnya. Padahal, ada proses berulang kali dari kegagalan yang tidak terlihat.
“Proses itu yang menjadikan kami handal sekarang. Itu yang kadang tidak dilihat orang-orang,” tutup Chandra, menjadikan warisan palu dan bara api Pande Jegog terus menyala di jantung kebudayaan Bali. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole



























