24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 18, 2025
in Esai
Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BAYANGKAN sebatang pohon besar di halaman belakang rumah kita. Batangnya kokoh, cabangnya banyak, rantingnya menjulur ke segala arah, dan setiap ranting menumbuhkan daun yang berbeda—ada yang hijau muda, ada yang menguning, ada pula yang jatuh ke tanah. Begitulah kira-kira gambaran alam semesta menurut Hugh Everett, fisikawan muda yang pada tahun 1957 berani menantang arus besar pemikiran zaman itu.

Everett mengajukan ide yang disebut relative state formulation, atau yang kini lebih dikenal sebagai Many-Worlds Interpretation. Ia menyatakan bahwa setiap kali ada peristiwa di alam semesta—setiap keputusan, setiap kemungkinan—tidak ada satu pun yang hilang. Semua hasil itu tetap hidup, hanya saja di “ranting” yang berbeda. Alam semesta, menurutnya, bukan satu garis lurus waktu, melainkan pohon dengan cabang-cabang tak terhingga.

Satu Pohon, Banyak Cabang

Bayangkan kita melempar koin. Hasilnya bisa gambar atau angka, kepala atau ekor. Menurut pandangan klasik, hanya satu hasil yang nyata: yang muncul saat koin berhenti berputar. Namun menurut Everett, kedua hasil itu sama-sama terjadi, hanya di dua cabang kenyataan yang berbeda. Dunia tidak memilih salah satu, melainkan mengizinkan semua kemungkinan hidup berdampingan.

Di sinilah keindahan filosofis teori Everett: ia mengajarkan kita bahwa keberagaman bukan kesalahan sistem, tetapi justru bagian dari keseimbangan semesta. Bahwa dunia tidak harus tunggal, karena kehidupan sendiri adalah tarian antara banyak kemungkinan. Inilah hukum probabilitas

Einstein dan Kerinduan Akan Keteraturan

Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Albert Einstein, sang ikon fisika modern, pernah berkata, “Tuhan tidak bermain dadu.” Ia tidak bisa menerima gagasan bahwa alam bekerja secara acak. Bagi Einstein, alam semesta harus punya hukum yang pasti, keteraturan yang dapat dipahami akal. Ia menginginkan satu kebenaran universal yang indah dan sederhana.

Bila Everett melihat keindahan dalam percabangan, Einstein melihat keindahan dalam kesatuan. Keduanya berbicara dalam bahasa berbeda, tetapi sesungguhnya menatap arah yang sama: mencari makna di balik misteri semesta.

Hawking: Melihat dari Atas Semesta

Stephen Hawking melangkah lebih jauh. Ia tidak menolak gagasan Everett, tetapi juga tidak memeluknya secara dogmatis. Dalam pandangan Hawking, fungsi gelombang alam semesta bisa mencakup semua kemungkinan—seperti peta besar yang memuat setiap jalur yang bisa ditempuh waktu dan ruang. Bagi Hawking, tidak perlu memilih antara satu dunia atau banyak dunia, karena semuanya bagian dari satu persamaan raksasa yang ia sebut “mind of God”, pikiran alam semesta.

Dari sini kita belajar bahwa bahkan pemikiran paling rasional pun menyisakan ruang untuk keajaiban. Hawking mengingatkan: kita tidak harus mengerti seluruhnya untuk bisa mengaguminya.

Michio Kaku dan Taman Multiverse

Lalu datang Michio Kaku, fisikawan Jepang-Amerika yang dikenal pandai menjembatani sains dengan imajinasi. Ia menggambarkan ide Everett sebagai taman semesta yang luas, di mana setiap pohon mewakili dunia paralel yang eksis dalam dimensi berbeda. Bagi Kaku, ini bukan metafora, melainkan kemungkinan nyata dari teori string—bahwa ruang dan waktu memiliki banyak lapisan, dan kita hanyalah satu dari sekian banyak “dunia gelembung” yang mengapung di samudra kosmos.

Jika Einstein melihat keteraturan, dan Everett melihat cabang, maka Kaku mengajak kita berjalan-jalan di taman kosmik: penuh warna, penuh kebebasan. Ia mengajak kita untuk kagum, bukan takut, pada keberagaman realitas.

Pelajaran untuk Dunia Manusia

Kini mari kita keluar dari laboratorium dan kembali ke kehidupan sehari-hari. Bukankah masyarakat kita juga seperti semesta Everett—penuh cabang, penuh perbedaan, tetapi tetap satu pohon besar kehidupan?

Kita sering berselisih karena keyakinan, pandangan politik, atau cara hidup. Kita ingin dunia kita lurus, seragam, tak bercabang. Namun alam semesta sendiri, tempat kita berpijak, justru menunjukkan hal sebaliknya: bahwa perbedaan adalah struktur dasar eksistensi. Alam bekerja dengan keberagaman, bukan keseragaman.

Everett mengajarkan kita untuk melihat bahwa setiap pilihan hidup, setiap nilai, setiap sudut pandang—adalah cabang sah dari pohon besar manusia. Einstein mengingatkan agar kita mencari hukum moral yang menyatukan. Hawking menuntun kita memandang dari ketinggian, agar tak terjebak di satu ranting saja. Dan Kaku mengajak kita tersenyum pada misteri: bahwa mungkin ada dunia lain di mana kita dan orang yang kita benci justru bersahabat.

Menerima, Bukan Menyeragamkan

Pesan tersembunyi di balik perdebatan para fisikawan itu sesungguhnya sederhana namun mendalam:
Belajar menerima bahwa kenyataan tidak harus tunggal untuk bisa benar.

Dalam dunia yang mudah terpecah karena perbedaan, teori Everett bisa menjadi cermin spiritual modern—mengajarkan kita bahwa segala yang berbeda tidak selalu bertentangan; bisa jadi hanya “cabang” lain dari sistem yang sama.

Kita tidak perlu memotong ranting yang tumbuh ke arah berbeda, cukup menyirami akar kebersamaan di batang kehidupan.

Penutup: Alam Semesta Tidak Pernah Salah Jalan

Mungkin pada akhirnya, seluruh perdebatan antara Einstein, Everett, Hawking, dan Kaku hanyalah cara berbeda untuk mengatakan satu hal: semesta tidak pernah salah jalan.
Ia mengekspresikan dirinya lewat keberagaman, seperti pohon yang terus menumbuhkan ranting baru di setiap musim.

Dan kita, manusia, yang merupakan bagian kecil dari pohon itu, hanya perlu belajar satu hal:
bukan memilih cabang mana yang benar, tetapi bagaimana tetap saling berakar pada kasih, pengertian, dan kesadaran bahwa semua ini — semua perbedaan yang membingungkan — adalah cara alam menunjukkan kebijaksanaannya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: duniapohonsemesta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Next Post

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co