24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 18, 2025
in Esai
“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Saya lebih senang melihat sekolah menghasilkan para penyapu jalan yang bahagia, ketimbang sarjana yang sakit jiwa.”
— A.S. Neill

MEI 2009. Kuliah saya hampir rampung. Kuliah Kerja Nyata (KKN) telah saya ikuti, tapi saya belum bisa melanjutkan proses selanjutnya yakni menyusun skripsi. Ada dua mata kuliah yang mesti saya ikuti ulang karena nilai yang buruk. Kala itu, saya baru pindah tempat tinggal; dari sebuah ashram yang lama saya tinggali. Saya kesulitan ekonomi, saat itu saya mulai bekerja sambilan sebagai operator warung internet (warnet). Uang bulanan dari keluarga angkat saya telah dihentikan, oleh karena mereka kecewa saya tidak menyelesaikan kuliah tepat waktu. Apalagi, saya yang awalnya kuliah sastra Inggris, diam-diam berhenti dan memilih jurusan Antropologi Budaya di sebuah fakultas tertua di Bali, pada universitas negeri terkenal di Kota Denpasar.

Saya begitu menikmati bisa menghasilkan uang dari keringat sendiri. Namun, kondisi mental saya tidak baik-baik saja. Masalah asmara. Saya baru berpisah dari perempuan asing yang saya kenal pertama kali di ashram. Karena hubungan itu pula saya disarankan untuk tidak lagi menetap di ashram. Tak masalah bagi saya, sebenarnya. Karena saya juga yang salah, melanggar disiplin dan aturan ketat di ashram tersebut.

Komunikasi dengan keluarga ketika itu tidak terlalu lancar. Saya termasuk pribadi yang tertutup; lebih suka memendam masalah sendirian. Hingga pada satu titik, saya tak kuat menanggungnya. Saya sudah mulai sering bicara kacau waktu itu, baik di media sosial (Facebook telah saya pakai, kala belum banyak orang yang tahu karena saat itu baru dikenal di Indonesia) maupun di dunia nyata.

Suatu hari, saya naik sepeda motor pulang ke kampung halaman. Kondisi saya agak kacau, sesampai di rumah juga menunjukkan sikap yang tidak biasa. Saya yang dikenal tidak pernah minum minuman keras, tiba-tiba pulang dengan kaleng bir di tangan. Sayangnya, keluarga tidak sadar dengan perubahan perilaku saya.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di Tatkala.co, keponakan saya yang saat itu sedang libur semester kuliah di Yogyakarta, mengatakan ingin main ke luar kabupaten Jembrana, ke kota lain di Bali. Saya diajaknya. Hingga terjadi apa yang saya ceritakan secara panjang dalam esai “Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia”. Ya, akhirnya segala luka, kekecewaan, dendam, kesedihan yang lama saya rasakan mengantarkan saya pada skizofrenia.

Usia dirawat selama dua minggu di rumah sakit jiwa, keluarga memutuskan saya untuk pulang ke kampung halaman di Negara, Jembrana, Bali. Kuliah saya kandas, tak ada kakak atau kerabat yang mengambil “jalan tengah”, misalnya mengajukan cuti kuliah barang setahun-dua tahun, sembari saya berobat, menunggu kondisi pulih — lalu menyelesaikan lagi studi yang tertunda karena sakit. Tidak ada.

Selama lima tahun pemulihan di rumah, saya tidak lebih dari “orang gagal”. Stigma gangguan jiwa begitu kental. Jika orang lain yang melakukannya masih bisa diterima, namun jika saudara atau keluarga sendiri yang men-stigma, rasanya sedih sekali. Marah, namun saya begitu tidak berdaya; obat-obatan anti-psikotik membuat saya sering tidur karena kantuk dari efek obat.

Ibu kandung saya kala itu masih hidup, juga ayah kandung saya. Mereka membuka usaha binatu (laundry). Dari sanalah penghasilan keluarga kami. Sebagai terapi kerja, saya ditugasi mengantar cucian yang telah bersih dan disetrika ke beberapa pelanggan di sore hari. Dari uang yang didapat saya baru bisa makan. Hidup yang sederhana membuat saya lebih dekat pada realitas sehingga sangat membantu pemulihan dari skizofrenia.

Waktu itu, kontak dengan teman-teman kuliah maupun komunitas di Denpasar terputus. Beberapa terhubung kembali melalui Facebook. Saya sedih melihat teman-teman yang telah lulus kuliah dan mulai bekerja. Sedangkan saya, gagal menjadi sarjana.

Namun, seiring waktu, atas perkenalan dengan seorang gadis asal Jakarta melalui sebuah grup seni di Facebook, perlahan-lahan muncul keberanian untuk kembali mencari peruntungan di Denpasar. RS, gadis itu, selalu memberi semangat pada saya. Hampir setiap hari dia menelepon saya untuk sekadar menanyakan saya sudah makan atau belum, sedang apa, atau untuk mengobrol agar membuat saya tertawa dan melupakan kesedihan yang saya rasakan.

Dia sangat baik. Akhirnya, dari sebuah informasi di Facebook, tentang sebuah yayasan pendidikan di Buleleng yang membutuhkan staf pengajar, saya memberanikan diri untuk mengirim surat lamaran. Panggilan wawancara datang. Saya menyampaikannya pada ibu saya dan meminta izin untuk berangkat ke sebuah desa di Buleleng. Saya bilang pada ibu saya, bahwa saya akan baik-baik saja. Saya ingin mencari pekerjaan dan hidup dengan lebih baik.

Saya berangkat pagi-pagi dengan sepeda motor tua “warisan” saat mahasiswa di Denpasar. Setibanya di Singaraja, saya mampir di rumah Bli Made Adnyana Ole dan istrinya, Kadek Sonia Piscayanti. Mereka mengelola Komunitas Mahima yang dikenal banyak melahirkan penulis dan seniman muda berbakat. Sonia adalah teman seangkatan saya saat SMA di Singaraja belasan tahun lalu. Dia agak terkejut saat bertemu saya. Ternyata, banyak teman yang menanyakan dan membicarakan “hilangnya” saya dari pergaulan. Beberapa telah mengetahui saya sakit dan pulang ke kampung halaman, beberapa lainnya tidak tahu.

Setelah dijamu makan, minum kopi, dan obrolan dengan Bli Ole dan Sonia, juga ayah Sonia yang juga mengenal saya, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi yayasan di Tejakula. Saya diterima bekerja sebagai staf pengajar yayasan tersebut. Senang sekali rasanya. Tiga bulan lamanya saya menetap di desa yang tidak terlalu ramai dengan pengurus yayasan dan rekan-rekan yang ramah dan menerima saya apa adanya.

Hanya saja saya tak berani terbuka dengan kondisi kesehatan saya. Untuk pengobatan saya agak sulit, meski beberapa kali ke Puskesmas setempat waktu ada jadwal pengobatan gratis gangguan mental dari rumah sakit jiwa. Saya mesti berbohong minta izin ke Puskesmas dengan alasan kena penyakit kulit. Itu tentu tidak baik.

Hingga keputusan datang dari pemilik yayasan, ekspatriat asal Belanda yang memutuskan saya belum lolos dalam evaluasi karena kurang memiliki kompetensi dalam mengajar, terlebih lagi saya bukan lulusan pendidikan guru. Saya mengucapkan terima kasih dan itu artinya, saya mesti pulang dulu lagi ke Jembrana, kampung halaman saya.

Setelah menerima kompensasi honor saya berpamitan kepada teman-teman dan juga pengampu yayasan. Mereka orang baik dan kenangan saya tinggal di Tejakula akan selalu membekas di ingatan. Setelah hampir dua minggu di kampung halaman, saya mendapat panggilan kerja sebagai wartawan sebuah tabloid budaya di Denpasar. Informasi lowongan kerja saya dapatkan di koran. Sekali lagi saya berpamitan pada ibu dan ayah kandung saya untuk berangkat ke Denpasar.

Di kota yang pernah lama saya tinggal itu, saya menumpang sementara di rumah kakak perempuan dari keluarga angkat saya. Hingga akhirnya saya bisa menyewa kos sendiri. Pekerjaan sebagai wartawan syukurlah lancar. Itu pada 2015, sepuluh tahun lalu dan hingga kini saya tetap menetap di Denpasar. RS, gadis asal Jakarta yang banyak menolong saya akhirnya menjadi pasangan hidup saya. Dia memutuskan untuk pindah ke Bali bekerja dengan karier yang bagus.

Perjalanan dari 2009 hingga sekarang menyisakan warna-warni yang memperkaya hidup saya. Enam belas tahun sudah saya bersahabat dan berdamai dengan skizofrenia. Berkat pertemuan dengan salah seorang psikiater yang kala itu masih co-ass, kami mendirikan komunitas kesehatan mental bernama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali. Dari sana saya juga dikenal sebagai survivor dan pegiat kesehatan mental yang banyak memberi inspirasi bahwa ODGJ bisa pulih, bersosialisasi, berkarya termasuk bekerja dan mandiri seperti orang kebanyakan.

Akhirnya, kini, saya tak lagi menyesali tentang gagalnya saya menjadi sarjana, dulu. Saya merasa, pengalaman dan kompetensi justru kini yang membuat saya dengan mudah diterima di perusahaan (terutama media). Melihat kasus banyaknya mahasiswa dan sarjana yang jauh dari kualitas seorang intelektual, mungkin memang lebih baik (dan semesta telah mengatur semuanya); saya tidak menyelesaikan kuliah dan meraih sarjana.

Selain karena skizofrenia, banyak kekecewaan yang sebenarnya saya rasakan terutama tentang buruknya kualitas pengajar di jurusan saya dulu yang bagi saya jauh dari standar. Tapi sudahlah. Semoga sekarang jurusan yang saya tinggalkan semakin bisa meningkatkan kualitasnya. Dengan hadirnya dosen-dosen muda saya percaya iklim intelektual di sana jadi lebih baik. Namun, lagi-lagi saya kecewa terutama soal kasus perundungan terhadap kejadian dugaan bunuh diri salah satu mahasiswa yang ramai diperbincangkan beberapa hari ini di Denpasar dan Bali.

Kampus, tidak hanya kehilangan jiwa dengan adanya kasus dugaan bunuh diri, tapi juga kehilangan “jiwa” atau ruh dari tujuan mulia didirikannya universitas, yakni membentuk manusia yang utuh, berpikir kritis, berempati, dan berperikemanusiaan. Bukan sekadar mencetak sarjana yang pandai menghafal teori, tetapi tak mampu memahami penderitaan di sekitarnya. Dari kejadian ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesehatan mental tidak bisa dipandang sebelah mata. Kita tentu tidak ingin kampus kehilangan nalar dan empati. Sebab tanpa keduanya, perguruan tinggi hanyalah bangunan megah yang sunyi, tempat di mana ilmu kehilangan arah, dan manusia kehilangan hati nurani. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kampusPendidikanSarjana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Next Post

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co