1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [36]: Pencuri Terjebak di Gudang Kampus

Chusmeru by Chusmeru
October 16, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENCARI pekerjaan saat ini tidak semudah yang dibayangkan. Banyak faktor yang ikut menentukan seseorang mendapat pekerjaan. Salah satunya faktor pendidikan dan keterampilan. Persaingan di dunia kerja sangat ketat. Selain memiliki ijazah pendidikan tinggi, orang juga dituntut memiliki keterampilan yang selaras dengan perkembangan zaman.

Jaringan dan koneksi kadang juga ikut menentukan. Memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan tetapi tidak mempunyai jaringan yang baik juga sulit mendapat pekerjaan. Meski kini era transparansi dan digitalisasi, koneksi turut mewarnai penerimaan pegawai.

Tak kalah penting adalah faktor nasib. Tidak sedikit orang yang mudah mendapatkan pekerjaan karena nasib baik. Tentu saja nasib baik seseorang juga dibarengi dengan usaha, ikhtiar, dan perilaku yang baik, sehingga dimudahkan dalam mencari pekerjaan.

Persaingan yang ketat dalam dunia kerja dan terbatasnya lapangan kerja membuat mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan tersisih. Banyak cerita, mereka yang menyandang gelar sarjana, lulusan S1 bekerja sebagai Satpam. Bahkan ada pula cerita yang berijazah S2 bekerja sebagai pengemudi ojek online. Ironis memang, tapi itulah keadaan zaman sekarang.

Apalagi bagi mereka yang hanya tamat SMA atau SMP. Mendapatkan pekerjaan yang bisa menghidupi diri dan keluarga amatlah sulit. Hal itu dirasakan betul oleh Kamiso dan Sapon, dua orang yang bersahabat sejak kecil. Mereka berdua hanya tamat SMP, dan hingga kini belum mendapat pekerjaan yang tetap. Kerja mereka serabutan. Kadang seminggu bekerja, kadang hingga lama menganggur.

Mereka masih lajang. Usia mereka sama, 23 tahun. Nama Kamiso merupakan singkatan dari hari lahir dan waktu lahirnya, Kamis sore. Orang tuanya tak ingin sulit-sulit mencari nama untuk anaknya, diberilah nama Kamiso, anak yang lahir di hari Kamis sore. Begitu pula dengan Sapon yang merupakan singkatan dari hari lahir dan wetonnya, Selasa Pon.

Kamiso dan Sapon sebenarnya mau disuruh orang bekerja apa saja. Membersihkan rumput dan tanaman liar di halaman rumah tetangga mereka kerjakan. Memperbaiki genting yang pecah juga mereka kerjakan. Bahkan mereka berdua tidak memasang tarif upah buruhnya. Berapa pun yang diberikan tetangga akan mereka terima.

Hanya saja, tidak setiap hari pekerjaan seperti itu mereka dapatkan dari para tetangga. Jika sudah demikian mereka akan menganggur. Menongkrong sambil mengobrol di poskamling, itulah yang akan mereka lakukan. Atau kadang mereka akan memancing ikan di sungai yang tidak jauh dari rumah mereka.

***

Entah setan apa yang merasuki pikiran Kamiso. Ketika sedang mengobrol dengan Sapon, tiba-tiba muncul gagasan Kamiso untuk mengajak Sapon mencuri di gudang kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Tentu saja Sapon terkejut.

“Mencuri..??? Nggak mau ah !” tolak Sapon.

“Kenapa?” tanya Kamiso saat Sapon tak mau diajak mencuri.

“Mencuri itu dosa,” kata Sapon memberi alasan.

“Tapi kita berdua lama menganggur. Nggak bisa beli rokok..,” Kamiso mencoba membujuk Sapon.

“Tapi aku takut kalau ketahuan, kita akan ditangkap dan dihukum,” kata Sapon tetap menolak.

“Ya jangan sampai ketahuan. Kita curi barang-barang bekas di gudang kampus yang bisa dijual. Itu kan barang-barang yang sudah tidak terpakai,” ujar Kamiso meyakinkan Sapon.

“Tapi kampus itu kata orang angker. Banyak hantunya..,” Sapon berusaha tetap menolak ajakan Kamiso.

Kamiso tampak agak kesal dengan penolakan berkali-kali dari Sapon. Ia hampir kehilangan akal lagi untuk membujuk Sapon. Meski Kamiso juga sering mendengar jika kampus di dekat rumahnya dikenal banyak hantunya.

“Memangnya kamu takut sama hantu. Kamu pernah melihat hantu..??!!” tanya Kamiso bernada kesal.

Sapon terdiam. Ia merasa tidak enak hati dengan sahabatnya. Ia tahu Kamiso anak yang pemberani. Teman-teman di kampungnya tidak ada yang berani usil kepada Kamiso, karena tubuhnya juga kekar. Kamiso juga sangat baik kepada Sapon. Waktu mereka masih kecil, bila ada anak yang nakal atau usil kepada Sapon, pasti Kamiso akan turun tangan membelanya.

“Baiklah, aku ikut kamu saja,” ujar Sapon menuruti ajakan Kamiso.

“Nah gitu dong.. besok malam Minggu kita ke kampus. Biasanya kalau hari Sabtu kampus sepi, tidak ada yang kuliah,” kata Kamiso menyusun rencana.

Malam Minggu yang ditunggu pun tiba. Kamiso dan Sapon bersiap ke kampus untuk mencuri barang-barang bekas di gudang yang masih bisa untuk dijual di pasar loak. Tidak ada persiapan khusus untuk melakukan aksi mereka. Kamiso hanya membawa beberapa perlengkapan seperti obeng dan tang kombinasi untuk membuka kunci gudang, serta kain bekas spanduk untuk membungkus barang yang akan mereka curi.

Malam sudah larut. Kamiso memperkirakan Satpam penjaga kampus sudah istirahat dan tidak mungkin keliling kampus untuk memeriksa keadaan. Kamiso dengan tenang memasuki halaman kampus lewat pintu gerbang belakang. Sedangkan Sapon mengikuti langkah Kamiso dengan hati berdebar-debar, antara takut ketahuan Satpam dan takut melihat hantu di kampus.

Tiba di depan gudang, mereka mengamati sekeliling. Tidak ada tanda-tanda orang melintas. Perlahan Kamiso membuka gembok pintu gudang. Tidak terlalu sulit. Pintu gudang terbuka. Beruntung lampu di gudang menyala, meski agak redup. Kamiso dan Sapon mengamati beberapa barang bekas yang ada di gudang.

Begitu banyak barang bekas yang tersimpan di gudang kampus. Fakultas memang tidak boleh menjual barang yang sudah tidak terpakai, karena semua barang inventaris negara tidak boleh dijual. Karenanya gudang penuh dengan barang bekas.

Kamiso tertarik dengan komputer dan TV bekas yang tergeletak di sudut gudang. Ia memerintahkan Sapon untuk mengambilnya. Komputer dan TV segera dibungkus oleh Sapon dengan kain bekas spanduk. Mereka berhasil menggasak barang elektronik di gudang.

Baru saja hendak mengangkut barang curian, mereka dikejutkan oleh munculnya sosok perempuan berambut panjang di dalam gudang. Berbarengan dengan itu, tercium bau wangi daun pandan. Kamiso kaget bukan kepalang. Sapon berdiri gemetaran. Wajah perempuan itu layu, namun tatapan matanya tajam tertuju ke arah Kamiso dan Sapon.

Kaki Sapon gemetaran. Keringat dingin ia rasakan di kening dan telapak tangannya. Ia memandang Kamiso untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Kamiso masih bingung, kaget, dan sedikit ciut nyalinya. Kamiso tak menduga akan melihat hantu perempuan di gudang kampus. Tampak jelas di bawah sorot lampu gudang, hantu perempuan berambut panjang itu terus menatap mereka.

“Ayo kabur.. cepat..!!!” perintah Kamiso kepada Sapon.

“Bawa barangnya..!” Kamiso mengingatkan Sapon yang masih memegangi barang curian mereka.

Hantu perempuan itu masih memandangi Kamiso dan Sapon ketika mereka bergegas keluar dari gudang. Suasana kampus semakin sunyi seiring larutnya malam. Kamiso dan Sapon berhasil membawa kabur barang curian. Namun suasana mencekam dan menakutkan masih membututi mereka. Sosok perempuan di dalam gudang seolah mengikuti setiap langkah mereka.

***

 Dua minggu sudah Kamiso dan Sapon menikmati hasil curian mereka di gudang kampus. Komputer dan TV bekas telah dijual di pasar loak. Meski tetap dibayangi kecemasan, mereka masih bisa mengobrol sambil mengisap rokok. Uang hasil curian mereka bagi berdua. Tidak terlalu banyak, tapi bisa untuk mengobati rasa jenuh lantaran lama menganggur.

Di sela obrolan mereka, kembali muncul gagasan Kamiso untuk mencuri barang bekas di gudang kampus. Tentu saja tidak segera disetujui Sapon. Ia masih menyisakan rasa takut saat melihat hantu perempuan di dalam gudang.

“Aku nggak mau lagi ketemu hantu perempuan itu. Seram..,” ucap Sapon menolak ajakan Kamiso.

“Tenang saja.. nanti aku bawa sambetan,” kata Kamiso menyakinkan temannya.

“Sambetan..???” tanya Sapon seolah ragu.

“Iya.. untuk tolak bala. Hantu perempuan itu pasti takut kita bawa sambetan,” jawab Kamiso.

Sapon tidak segera menyetujui usulan Kamiso. Meski ia tahu apa yang akan dibawa Kamiso. Sambetan dalam masyarakat Jawa adalah rangkaian rempah-rempah yang terdiri dari dringo, bengle, lengkuas, jahe, kunir, dan bawang merah. Sambetan dipercaya dapat menolak bala, menjauhkan manusia dari godaan makhluk halus.

“Bagaimana? Mau nggak?” tanya Kamiso saat melihat Sapon masih ragu.

“Oke dech..,” jawab Sapon menyetujui usulan Kamiso untuk kembali mencuri di gudang kampus.

Raut wajah gembira ditunjukkan Kamiso. Ia segera membuat rencana untuk mencuri barang bekas di gudang kampus. Walau sempat sedikit takut lantaran bertemu hantu perempuan di gudang, namun Kamiso memerlukan uang untuk jajan dan beli rokok. Ia berharap akan kembali berhasil membawa barang elektronik untuk dijual di pasar loak.

Berbekal sambetan yang dirangkai Kamiso, dua teman akrab itu kembali mendatangi gudang kampus di tengah malam. Suasana kampus tampak lengang. Tidak terlihat orang melintas di seputaran halaman dan gudang kampus. Sementara Sapon tetap saja merasa takut akan muncul hantu perempuan, meskipun Kamiso sudah berbekal rempah-rempah tolak bala.

Perlahan Kamiso mencongkel gembok gudang. Sapon mengamati sekeliling. Dirasa aman, mereka memasuki gudang. Mereka melihat ke sekeliling gudang. Tidak tercium aroma wangi daun pandan. Tak terlihat hantu perempuan di dalam gudang.

“Ambil mesin printer saja,” kata Kamiso kepada Sapon.

Sapon mengambil mesin printer dan membungkusnya dengan kain bekas spanduk. Lumayan masih belum begitu rusak. Kamiso mencoba melihat-lihat barang bekas lain yang masih layak jual. Ketika hendak mengambil proyektor bekas, tiba-tiba lampu di gudang padam. Kamiso dan Sapon kaget. Mereka mencoba menerangi gudang dengan senter yang ada di ponsel.

Ketika mereka akan keluar dari gudang, mendadak pintu gudang menutup dengan sendirinya. Sudah pasti mereka terkejut. Padahal tidak ada angin yang bertiup ke arah gudang. Sapon gemetaran. Bulu kuduknya berdiri. Berkali-kali Kamiso mencoba membuka pintu gudang, namun tetap saja tidak bisa dibuka. Seolah ada yang menguncinya dari luar gudang.

Kamiso dan Sapon terjebak di dalam gudang kampus. Suasana gudang yang gelap menjadi tambah menyeramkan. Sapon juga berusaha menarik pintu gudang, namun tak berhasil. Mereka benar-benar terjebak di dalam gudang dalam keadaan gelap. Kamiso dan Sapon bertambah takut saat terdengar lengkingan suara tawa perempuan di luar gudang. Hantu perempuan itu telah mengunci Kamiso dan Sapon di dalam gudang.

Cukup lama mereka terjebak di gudang. Hari sudah menjelang pagi. Mereka masih berusaha membuka gudang, dan tetap tak berhasil. Udara yang pengap di dalam gudang ditambah suasana yang menyeramkan membuat mereka tegang dan berkeringat dingin.

Hari bertambah terang. Semburat sinar menembus masuk ke dalam gudang. Wajah Kamiso dan Sapon tampak pucat dan tubuhnya terasa lemas. Sayup terdengar langkah orang di sekitar gudang. Satpam kampus melakukan pemeriksaan di area fakultas.

“Tolong.. tooloong!!!” teriak Kamiso dan Sapon.

Satpam kampus terkejut mendengar teriakan minta tolong dari dalam gudang. Ia lihat gudang tidak terkunci. Gemboknya sudah terlepas. Cepat-cepat ia buka pintu gudang. Tampak Kamiso dan Sapon terduduk lemas di gudang. Wajahnya pucat ketakutan. Melalui radio panggil, Satpam kampus memanggil rekan yang lain.

Kamiso dan Sapon ditangkap dan diinterogasi oleh Satpam kampus. Mereka dibawa ke pos Satpam. Kamiso mengakui apa yang mereka lakukan. Sementara Sapon tampak gelagapan saat ditanya. Ia takut akan dilaporkan polisi dan dipenjara.

Pihak fakultas tidak memproses hukum Kamiso dan Sapon dengan alasan kemanusiaan. Namun Kamiso dan Sapon diminta untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Menurut pihak fakultas, meskipun barang-barang yang ada di gudang sudah tidak terpakai, namun masih tercatat sebagai inventaris yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara.

Sejak peristiwa pencurian di gudang kampus, pihak fakultas memasang kamera pengintai di sekitar gudang. Harapannya, orang akan berpikir dua kali ketika berniat mencuri barang-barang di gudang. Apakah hantu perempuan di dalam gudang juga akan terekam kamera pengintai? Entahlah. [T]   

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

       

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

9 Mata Lomba, 370 Peserta — Utsawa Dharma Gita se-Bali Digelar 24-29 Oktober 2025

Next Post

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co