DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura Dalem1. Akar-akarnya menjuntai seperti tirai, daunnya rimbun menutupi tanah di bawahnya. Pohon itu dibalut kain poleng2, di bawahnya ada pelinggih3 kecil yang selalu dipenuhi sesajen saat upacara atau hari suci.
Orang-orang desa jarang mendekatinya, kecuali saat upacara di Pura Dalem, atau hari suci tertentu. Mereka percaya pohon beringin itu angker. Anak-anak dilarang bermain di bawahnya, orang dewasa pun hanya lewat sambil menunduk hormat.
“Jangan macam-macam di sana, itu tempat para penunggu desa!” Begitu kata orang tua mereka.
Namun sesungguhnya, beringin tua itu tidak jahat. Ia pohon penjaga yang setia. Sejak ratusan tahun lalu ia berdiri, menjadi saksi lahirnya anak-anak Desa Kerta Harum, doa-doa yang naik ke langit, dan upacara yang tak terhitung jumlahnya. Ia hanya kesepian. Tak ada yang mau duduk di akarnya, tak ada yang mau bercerita. Suaranya hanya berupa desiran daun yang tak pernah didengar.
Suatu hari, dari arah hutan, terbanglah seekor Jalak Bali. Bulunya putih bersih berkilau seperti kapas, ujung sayapnya hitam, dan lingkar matanya biru cerah seperti laut. Burung itu langka, dilindungi, dan menjadi simbol keindahan pulau Bali.
Tapi hari itu ia terbang tertatih, sayapnya terluka oleh peluru pemburu. Nafasnya tersengal, ia mencari tempat aman. Jalak itu pun melihat pohon beringin di pinggir jalan dekat Pura Dalem, dengan sisa tenaga ia hinggap di salah satu dahan rendahnya.
Beringin tua merasa getar halus di dahannya. “Siapa yang datang padaku?” desisnya pelan.
Jalak terkejut. Ia tidak pernah mendengar pohon bicara. “Aku… aku hanya mencari tempat berteduh. Tolong, jangan usir aku. Mereka mengejarku,” ucap Jalak dengan suara lemah.
“Tenanglah, Jalak. Aku tidak akan menyakitimu. Aku sudah lama menunggu teman. Istirahatlah di sini,” sahut Beringin dengan suara berat namun lembut. Akar-akar gantung Beringin turun lebih rendah, menutupi tubuh Jalak seperti tirai.
Hari-hari berikutnya, Jalak tinggal di dahan Beringin. Luka di sayapnya perlahan sembuh. Ia pun berkicau setiap pagi, kicauannya menenangkan hati Beringin, ia mendengarkan dengan bahagia.
“Suaramu indah sekali, aku sudah ratusan tahun berdiri di sini, tapi baru kali ini ada yang bernyanyi untukku,” kata Beringin.
Jalak tersenyum. “Aku pun baru kali ini punya sahabat yang tak bisa terbang,” candanya menyahuti Beringin.
Mereka tertawa bersama. Setiap sore, Beringin bercerita tentang desa: tentang upacara di Pura Dalem, tentang anak-anak yang dulu suka bermain di bawahnya, atau tentang sungai kecil yang mengalir di balik sawah dekat pura. Jalak mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu. Ia belajar bahwa Beringin bukan tempat angker, melainkan tempat suci yang penuh kisah.
Sementara itu, pemburu yang melukai Jalak tidak menyerah. Ia masih mencari sampai ke desa. Ia tahu Jalak Bali mahal harganya. Warga desa melihat ada orang asing berkeliaran membawa senapan. Mereka khawatir. Pada suatu siang, pemburu itu mendengar kicau Jalak dari pohon beringin. Tak berpikir Panjang, ia pun mendekati Beringin.
Beringin melihat dan merasakan niat jahat pemburu itu. “Cepat, sembunyi di akar gantungku!” bisiknya pada Jalak.
Jalak pun masuk ke sela-sela akar yang rimbun. Ketika pemburu mendekat, beringin menggoyangkan dahan-dahannya keras-keras.
Akar-akar gantungnya menjuntai turun seperti cambuk. Angin bertiup kencang seolah-olah badai datang tiba-tiba.
Pemburu terkejut, lututnya gemetar. “Astaga, penunggu pohon marah!” pemburu itu pun lari terbirit-birit meninggalkan desa.
Warga desa yang melihat kejadian itu pun keluar. Mereka menemukan bulu-bulu putih di akar Beringin. Mereka terdiam. “Itu bulu Jalak Bali, berarti burung itu bersembunyi di pohon ini,” ucap seorang tetua desa.
Para warga kemudian duduk jauh di ujung halaman Pura, mengintip dari balik pagar sambil menunggu Jalak muncul. Ketika Jalak muncul, mereka mulai memperhatikan bagaimana burung itu berkicau dan bermain, warga pun perlahan menyadari bahwa Beringin tua tidak menakutkan, melainkan pelindung yang meneduhkan.
Hari demi hari, keberanian warga bertambah. Suatu ketika, seorang tetua mengajak anak-anak desa untuk menabur biji jagung di dekat akar Beringin, menaruh air untuk Jalak, dan membersihkan daun-daun kering di sekitar Beringin.
Jalak pun mulai nyaman dengan kehadiran manusia, hinggap di dahan lebih rendah, bahkan sesekali membiarkan anak-anak menyentuh bulunya dengan lembut. Suasana di sekitar Pura Dalem Desa Kerta Harum menjadi lebih teduh. Daun Beringin berdesir riang, akar-akarnya terasa hangat, dan udara pagi dipenuhi kicau Jalak.
Perlahan, warga desa mulai rutin merawat Beringin dan Jalak. Anak-anak belajar menghargai alam sambil bermain di bawah cabang raksasa itu.
Jalak pun sembuh sempurna. Ia masih sering terbang ke hutan, tetapi setiap sore kembali ke Beringin. Ia tahu di sanalah rumah keduanya. Beringin tidak lagi kesepian. Ia punya sahabat, dan Desa Kerta Harum punya semangat baru.
“Terima kasih telah memercayaiku, kau telah mengajarkan mereka bahwa yang mereka takuti bukan musuh, melainkan pelindung,” kata Beringin pada suatu senja.
“Ah, sepertinya itu berlebihan. Kau juga mengajarkanku bahwa kekuatan tidak selalu berupa sayap atau senjata. Kadang kekuatan bisa berupa akar yang kokoh,” sahut Jalak mengangguk pelan.
Sejak itu, Desa Kerta Harum dikenal sebagai desa yang ramah pada alam. kawanan Jalak mulai sering datang karena merasa aman. Beringin tua di dekat Pura Dalem menjadi tempat bermain yang teduh bagi anak-anak, bukan lagi tempat angker yang menakutkan. [T]
Glosarium:
- Pura Dalem1: Pura pemujaan Dewa Siwa, bagian dari Kahyangan Tiga.
- Poleng2: Kain kotak-kotak hitam putih khas Bali.
- Pelinggih3: Bangunan suci.
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























