MALAM itu, Kamis, 2 Oktober 2025, Wantilan Sasana Budaya, Singaraja, dipenuhi puisi, juga musik. Juga dipenuhi tawa lepas pertemuan, percakapan, juga tentang puisi dan musik.
Malam itu, memang ada pentas musikalisasi puisi—selanjutnya disingkat muspus—yang menghadirkan 3 kelompok/komunitas muspus dari 3 kabupaten dan kota berbeda di Bali. Komunitas Kertas Budaya dari Jembrana, Komunitas Mahima dari Singaraja dan Kelompok Ekspresi Atas Sepi (Ekstase) dari Denpasar.
Malam itu, ketiga kelompok/komunitas ini membawakan puisi-puisi sesuai dengan genre mereka masing-masing. Menjadikan malam itu lebih berwarna di tengah-tengah alunan muspus yang mereka bawakan.
Komunitas Kertas Budaya membawa beberapa personal dari Jembrana, antara lain Iqbal Maulana Effendi (gitar & vocal), Ni Putu Restu Anantasya Astari (vocal), I Made Ersa Amerta (gitar), I Kadek Dhika Cakra Prastya (Kajon). Mereka membawakan 5 puisi dari penyari-penyair Bali dan Indonesia.
Puisi-puisi yang mereka tampilkan adalah “Pasihe Aad” karya Nyoman Tusthi Edy, “Hujan” karya Mas Triadnyani, “Negeri Asing” karya Wayan Jengki Sunarta, “Malam Maut” karya Toto Sudarto Bachtiar dan “Celana” karya Joko Pinurbo.
Penampilan mereka mengundang decak kagum penonton malam itu. Semua orang menikmati. Seperti yang kita tahu, Komunitas Kertas Budaya selalu mencari kemungkinan-kemungkinan atas musik dan puisi ketika disatukan menjadi sebuah lagu.

Seperti puisi Celana karya Joko Pinurbo yang mereka bawakan dengan genre dangdut. Membuat penonton seperti terheran, penemuan musik berpadu dengan puisi yang baru mereka dengar.
Komunitas Mahima. Mereka membawakan 2 buah puisi. “Dewi Padi” karya Made Adnyana Ole dan “Mantra” karya Sutardji Calzoum Bachri. Sama halnya dengan Komunitas Kertas Budaya, Komunitas Mahima selalu beregenerasi.
Dari tahun ke tahun Komunitas Mahima selalu melakukan pembaharuan dalam karya dan pemain. Di pentas kali ini, wajah-wajah baru dari Komunitas Mahima menghiasi panggung Sasana Budaya, Singaraja malam itu.

Mereka adalah Satya sebagai vokalis 1, Pringga sebagai vokalis 2, Andika sebagai gitaris, Wira Pradana sebagai gitaris dan pemegang squencer sekaligus mengaransemen dan Anggara Surya sebagai arasemen. Namun sayang, Anggara Surya pada pementasan itu berhalangan hadir.
Mereka hadir pula dengan pencarian musik baru, penambahan instrument dan gaya vokal. Malam itu menjadi semakin menarik. Banyak alat musik music modern yang ditampilkan.
Tak seperti biasanya. Entah dalam perlombaan muspus yang kadang alatnya dibatasi. Setidaknya, kami mendengar kembali puisi-puisi yang dinyanyikan oleh Komunitas Mahima malam itu dengan gaya yang berbeda.

Kelompok Ekspresi Atas Sepi (Ekstase) membawakan 2 buah puisi. “Jalan Subak yang Menanjak” karya Made Adnyana Ole dan “Surat dari Ibu” karya Asrul Sani. Ekstase malam itu dibersamai 3 orang saja, mereka adalah Yoga Anugraha (Sequencer dan Keyboard), Heri Windi Anggara (gitar) dan mengajak salah satu kawan dari Singaraja, ia adalah Mila Romana (vocal).
Ekstase tampil sangat memukau, dengan gaya bermain yang menonjolkan instrument modern seperti sequencer dan keyboard, namun masih ada sentuhan khas gesekan Heri dan vokal dari Mila. Menjadikan kelompok Ekstase tampil cukup berbeda malam itu.
Sebelum Ekstase, Kelompok Senja di Cakrawala membawa muspus dengan sequencer di tahun 2022. Pemain sequencer dan keyboardist Yoga Anugraha juga termasuk gitaris di Senja di Cakrawala.
Hal itu pula yang menjadikan kelompok Ekstase mencari kemungkinan gaya musik baru dalam alat-alat modern kali ini. Sequencer menjadi sebuah pilihan karena membuat orang yang harusnya main banyak alat bisa jadi sediki namun suara tetep megah.
Setelah penampilan dari Komunitas Kertas Budaya, Komunitas Mahima dan Kelompok Ekstase acara dilanjutkan dengan diskusi bersama 3 kelompok tadi. Diskusi ini dimoderatori oleh Dede Satria dan 3 perwakilan kelompok, Nanoq da Kansas (Kertas Budaya), Wira (Mahima) dan Yoga Anugraha (Ekstase).
Diskusi itu berjalan sangat riang. Tak jarang ketiga perwakilan kelompok itu saling bertukar tawa dalam diskusi itu. Diskusi dibuka dengan perwakilan kelompok itu memberi tanggapan satu sama lain.

“Saya mendapat banyak warna-warna baru ketika mendengarkan puisi dari Kertas Budaya dan Ekstase. Banyak suara-suara yang baru yang saya dengar malam ini. Gitar yang ternyata bukan hanya digesek, tapi ternyata ada bunyi-bunyi lain yang bisa dihasilkan,” ungkap Wira yang tak lain adalah seorang seniman tamatan ISI Denpasar.
Wira baru saja mencoba menggunakan squencer, ia masih meraba-raba beberapa perpaduan yang pas untuk puisi-puisi lain yang cocok digunakan oleh alat itu. Dari malam itu juga Wira menemukan kemungkinan baru untuk berproses lebih jauh di musikalisasi puisi.
“Tadi saya merinding mendengar vokalis dari temen-temen Singaraja. Dari permainan Mahima juga saya sangat menikmati. Dari tim Negara, saya paling suka tadi aransemen Celana. Buat saya ingin joget,” timpal Yoga juga memecah tawa penonton diskusi malam itu.
Ekstase yang saat ini diprakasai oleh Yoga Anugraha ini dulunya sempat vakum berapa saat. Awalnya saat ia menceritakan bagaimana Ekstase ini terbentuk, kelompok ini awalnya berfokus pada pantomim yang saat itu diisi oleh teman-teman kampusnya di FIB Unud. Setelah vakum beberapa saat, Ekstase saat ini akhirnya berfokus di musikalisasi puisi.
“Pertama dengan teman-teman Mahima, aku suka dengan vokalisnya, suka juga dengan pemain musik dan menikmati banget. Jika dari teman-teman Denpasar, aku banyak belajar juga dari mereka, aku banyak mencuri dari mereka,” tegas Nanoq yang menjadi pendiri Komunitas Kertas Budaya, Bali Experimental Teater dan Rompyok Kopi itu.
“Kami dari Negara memang sengaja membawakan 5 puisi. Karena ada banyak kemungkinan yang bisa kami dapatkan di muspus. Banyak genre yang kami coba,” tegasnya lagi.
Mereka juga menceritakan bagaimana proses kreatif kelompok/komunitas masing-masing. Dari proses-proses menuju Rabu Puisi atau proses dalam membuat musik dalam puisi-puisi yang mereka bawakan.

“Agak repot jika ke Singaraja membawa banyak orang. Masalah kendaraan, tempat dan segala macamnya. Jadi bagaimana sekarang saya harus meminimalisir itu. Jadi saya buat aransemen saya dan Heri. Saya buat dulu beberapa part dalam lagu-lagu itu. Lalu dilempar ke Mila, jika nada dan kunci dalam lagu tidak cocok, aku juga harus mengubah itu,” kata Yoga.
Ekstase malam itu juga mengajak satu kawan dari Singraja, Mila Romana, dipercaya malam itu untuk mengisi vokal dalam musik-musik mereka. Dengan latihan jarak jauh yang efektif, mereka membuat banyak decak kagum malam itu.
“Hampir mirip juga apa yang diceritakan Yoga. Kami juga menggunakan squencer. Kami juga mencoba di tengah keterbatasan personil. Kami juga bisa dikatakan baru. Puisi Dewi Padi misalnya, lagu itu sudah ada, tapi kami juga coba aransemen ulang,” sambung Wira.
Wira juga menuturkan bahwa dalam puisi Mantra karya Sutardji ini adalah bentuk kompleksitas perasaan dengan simbol-simbol alam.
“Dalam puisi Mantra karya Sutardji, mawar, sayap merpati kemudian ada gunung, langit dan juga duri. Semua itu saya intepretasi dalam alat musik squencer ini. Misalnya dengan suara yang menggelegar melambangkan gunung. Komposisinya juga ada olah vokal yang tidak beraturan, saya mengintepretasi itu sebagai sebuah kompleksitas atas perasaan puisi itu,” sambung Wira.
Begitu juga disambung oleh Nanoq da Kansas. Bisa dikatakan komposisi pemain di Kertas Budaya itu bisa membutuhkan banyak orang. Namun malam itu, Kertas budaya hanya membawa 5 orang saja.

“Anak-anak ini berproses mungkin kurang lebih 2 bulan. Kami juga tak bisa kumpul bareng selama itu. Paling hanya 2 orang karena kesibukan masing-masing. Ketemu lengkap itu paling hanya seminggu. Mereka juga bisa saling mengalahkan ketika lomba muspus karena dari sekolah yang berbeda. Ya aku paksa mereka berkarya dalam satu ruang ini,” tegas Nanoq malam itu yang memang membawa anak-anak dari sekolah berbeda untuk menjadi satu dalam satu payung komunitas bernama Kertas Budaya. [T]
Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole



























