DI jantung Pulau Dewata, di tengah riak zaman yang terus berubah, sebuah adagium menjadi suluh bagi sebuah institusi pendidikan tinggi: Cahaya Ilmu Menerangi Peradaban. Moto ini bukan sekadar untaian kata, melainkan denyut nadi filosofis bagi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja. Ia adalah sebuah panggilan untuk bertindak, sebuah mandat untuk memastikan bahwa warisan pencerahan yang tersimpan dalam helai-helai lontar tidak meredup ditelan masa, melainkan bertransformasi menjadi pijar baru yang mampu menyinari relung-relung peradaban digital kontemporer. Dari cahaya aksara kuno yang tergores di atas daun lontar, kini lahir cahaya baru yang terpancar dari layar gawai sebuah metamorfosis yang didorong oleh kecendekiaan dan visi.
Di tengah derap langkah kemajuan ini, sebuah krisis senyap membayangi. Sebuah kesenjangan budaya menganga antara generasi pewaris dan harta sastra. Di satu sisi, kekayaan tak ternilai dari cerita-cerita tradisional Bali, khususnya Carita Tantri, terancam menjadi artefak beku yang tak lagi mampu berkomunikasi dengan generasi muda. Di sisi lain, generasi digital native fasih dalam bahasa gambar bergerak, interaktivitas, dan konektivitas instan, namun gagap dalam memahami bahasa simbolik para leluhurnya.
Menjawab tantangan inilah, dari denyut intelektual IAHN Mpu Kuturan, lahir sebuah mahakarya yang menjadi manifestasi paripurna dari visi dan status barunya: SAKTI (Sastra Animasi Interaktif).
Jauh sebelum era digital, kebudayaan Bali telah memiliki sebuah taman kebijaksanaan yang rimbun dan tak pernah kering sumber mata airnya. Taman itu adalah Carita Tantri, sebuah khazanah sastra yang diibaratkan laksana taman yang dipenuhi tanaman dengan bunga dan buah yang lezat. Lebih dari sekadar kumpulan fabel atau dongeng pengantar tidur, Tantri adalah sebuah kitab kehidupan yang memuat ajaran luhur tentang kecerdasan, kepantasan, kepatutan, ajaran, serta pesan-pesan moral.
Tantri bukanlah sekadar cerita, melainkan cermin peradaban. Namun, di persimpangan zaman ini, cermin itu mulai memudar. Gema kebijaksanaannya kian sayup di tengah riuh rendahnya arus informasi global. sebuah pemahaman fundamental muncul. Masalahnya bukanlah penolakan generasi muda terhadap nilai-nilai kebijaksanaan itu sendiri, melainkan penolakan terhadap medium penyampaiannya yang dianggap usang. Mereka tidak menolak pesan moral tentang kecerdikan, kejujuran, atau kesetiaan yang diajarkan Tantri; mereka hanya tidak lagi terkoneksi dengan metode penyampaian tradisional seperti pembacaan teks atau penuturan lisan.
Kesenjangan yang terjadi adalah kesenjangan medium. Tingginya angka keterlibatan dengan media digital, yang pada awalnya tampak sebagai ancaman, sesungguhnya bukanlah masalah, melainkan kunci dari solusi. Ini menunjukkan bahwa untuk menjembatani jurang generasi, yang dibutuhkan bukanlah perlawanan terhadap arus digital, melainkan strategi cerdas untuk berlayar di atasnya. Tantangannya bukan untuk menarik kaum muda keluar dari dunia digital mereka, tetapi untuk secara strategis mengisi ruang digital tersebut dengan konten budaya yang dikemas ulang secara inovatif dan relevan.
Proyek SAKTI lahir dari pemahaman ini, dengan keyakinan bahwa kebijaksanaan Tantri bersifat abadi, namun wadahnya harus senantiasa kontemporer.
Sebagai jawaban atas tantangan zaman, IAHN Mpu Kuturan tidak tinggal diam. Dari ruang-ruang diskusi akademis dan lokakarya kreatif, lahir sebuah inisiatif visioner yang diberi nama SAKTI (Sastra Animasi Interaktif). SAKTI bukanlah sekadar proyek perangkat lunak, melainkan sebuah karya adiluhung dari para perajin digital sebuah jembatan kokoh yang dibangun untuk menghubungkan kebijaksanaan masa lampau dengan lanskap masa depan. Ia adalah manifestasi dari sebuah tekad untuk merajut kembali benang-benang emas tradisi yang mulai terurai dengan serat-serat kokoh teknologi modern.
Kekuatan sejati di balik SAKTI terletak pada potensi sumber daya manusia (SDM) yang menjadi motor penggeraknya. Tim peneliti proyek ini adalah sebuah mikrokosmos yang merefleksikan keunggulan dan keluasan wawasan IAHN Mpu Kuturan. Kolaborasi yang terjalin melintasi batas-batas disiplin ilmu, menciptakan sebuah sinergi yang langka dan kuat.
Dipimpin oleh I Wayan Juliana, S.S., M.Hum., seorang pakar dari program studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, proyek ini memiliki fondasi sastra yang kokoh. Visi artistik dan realisasi visualnya dipercayakan kepada I Putu Ardiyasa, M.Sn., seorang ahli dari program studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu. Kehadiran mereka memastikan bahwa adaptasi narasi dan estetika visual SAKTI tetap setia pada akar budayanya.
Lebih jauh lagi, proyek ini secara sadar melibatkan mahasiswa sebagai tulang punggung penelitian. Kadek Pipin Dwi Mentari dari prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu dan Ni Luh Wikantari dari prodi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali tidak hanya menjadi subjek penelitian, tetapi diangkat sebagai anggota peneliti. Langkah ini menunjukkan sebuah komitmen yang mendalam terhadap proses regenerasi dan kaderisasi.

Carita Tantri, sebagai media lama yang berbasis teks lontar dan tradisi lisan, tidak ditinggalkan, melainkan dikonvergensikan dengan media baru berupa animasi 3D interaktif. Hasilnya adalah sebuah budaya partisipatif di mana audiens tidak lagi menjadi penonton pasif, tetapi diundang untuk masuk ke dalam narasi, membuat pilihan, dan ikut menentukan alur cerita.
SAKTI mengubah pembaca menjadi pemain, sebuah transformasi yang dimungkinkan oleh konvergensi media. Tujuan utamanya bukanlah untuk menyimpan Carita Tantri di dalam sebuah museum digital, melainkan untuk menanamnya kembali di dalam taman belajar generasi baru. Dengan demikian, IAHN Mpu Kuturan memposisikan dirinya bukan hanya sebagai penjaga warisan budaya, tetapi sebagai pendidik dan revitalisator budaya yang aktif, memastikan bahwa kearifan masa lalu terus tumbuh dan relevan di era digital.
Perjalanan inovatif SAKTI tidak berhenti di ranah lokal maupun nasional. Setelah melalui proses pengembangan dan validasi yang ketat, karya intelektual dari IAHN Mpu Kuturan ini siap melangkahkan kakinya ke panggung dunia.


Puncak dari upaya diseminasi ini adalah sebuah pencapaian yang membanggakan: proyek SAKTI secara resmi diterima untuk dipresentasikan dalam sebuah forum akademis internasional bergengsi, yaitu SSVIT International con 2025, yang akan diselenggarakan di Samut Prakan, Thailand. Momen ini lebih dari sekadar sebuah perjalanan akademis; ia adalah sebuah misi diplomasi budaya, di mana kebijaksanaan luhur Mpu Kuturan, yang kini terbungkus dalam medium digital, akan melintasi batas-batas negara dan bergaung di hadapan komunitas ilmiah global.
Pada pandangan pertama, tema konferensi, “Advancing AI Research and Innovation for Global Sustainability” (Memajukan Riset dan Inovasi AI untuk Keberlanjutan Global), mungkin tampak tidak selaras dengan sebuah proyek yang berakar pada sastra kuno Bali. Namun, di sinilah letak kecerdasan strategis tim peneliti IAHN Mpu Kuturan. Mereka tidak melihat tema ini sebagai sebuah halangan, melainkan sebagai sebuah peluang untuk memperluas wacana tentang keberlanjutan itu sendiri.
Tim berhasil membingkai proyek SAKTI bukan hanya sebagai inovasi teknologi pendidikan, tetapi sebagai sebuah studi kasus yang kuat tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk keberlanjutan sosial dan budaya (social and cultural sustainability). Argumen yang diajukan adalah bahwa sebuah peradaban tidak dapat dikatakan berkelanjutan jika ia kehilangan akar budayanya, identitasnya, dan kearifan lokalnya.
Pencapaian ini membawa implikasi yang jauh lebih dalam. Ketika tim peneliti dari Singaraja berdiri di podium di Thailand, mereka tidak hanya mewakili institusi mereka. Mereka secara efektif melakukan ekspor kekayaan intelektual dan kearifan budaya Indonesia ke panggung dunia. Keberhasilan SAKTI menjadi sebuah anak tangga emas yang vital dalam perjalanan IAHN Mpu Kuturan menuju cita-cita yang lebih tinggi, bahwa IAHN Mpu Kuturan memiliki kapasitas untuk menghasilkan penelitian dan karya yang tidak hanya berdampak secara lokal, tetapi juga berkontribusi pada wacana global. [T]
Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole



























