TEATER adalah sebuah ruang belajar menumbuhkan kesadaran. Demikian kurang lebih pesan dari program Pelatihan Dasar Teater yang diselenggarakan oleh UKM Teater Kampus Seribu Jendela, 5 Oktober 2025 di Auditorium Sekolah Laboratorium Undiksha Singaraja.
Melalui teater, kesadaran bisa ditumbuhkan, bisa dikuatkan dan bahkan bisa ditularkan. Teater menjadikan hal-hal yang sering diabaikan sebagai momentum berarti, sebagai pembelajaran yang penting.
Sebagai pembina, Dr. Kadek Sonia Piscayanti, M.Pd, menjelaskan teater masih menjadi sebuah sarana efektif untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan refleksi terhadap isu sosial di masyarakat.
“Teater akan terus menjadi media berbagi ide dan suara yang tak terdengar dan bisa menjadi alat perubahan bahkan,” lanjut Kadek Sonia Piscayanti, Pembina Teater Seribu Jendela Singaraja.
Pengalamannya di dunia teater sejak 2002, telah menjadikan dirinya lebih kritis dan terbuka terhadap persoalan manusia yang kompleks itu.

Bahkan, hingga kini, di sela kesibukannya mengajar atau menjadi seorang dosen, juga banyak bertemu dengan para seniman di berbagai festival baik dalam negeri maupun luar negeri itu, Sonia masih menjadi penulis naskah dan sutradara di Indonesia yang terbilang produktif. Di pentas terakhir yang disutradarainya di ajang Singaraja Literary Festival, misalnya, aktris Ayu Laksmi tampil menawan dan mengesankan.
Kisah yang berdasar dari cerita hidup Ayu Laksmi disulap Sonia menjadi pementasan menyentuh, sebuah bukti bahwa teater masih menjadi ruh kreatif Sonia.
Melalui pelatihan dasar teater untuk para mahasiswa di Undiksha, Sonia berharap bahwa teater menjadi sebuah pembelajaran menumbuhkan kesadaran kolektif, sebuah sarana kritis untuk merefleksi diri dan society. “Teater adalah ruang refleksi bagi masyarakat, sebuah cermin untuk berbenah.”
Dalam pelatihan yang melibatkan seluruh fakultas di Undiksha ini, beberapa peserta menunjukkan antusiasme dalam menyemarakkan dunia teater kembali. Mereka bertanya kritis di tengah pelatihan soal pentingnya teater dalam perubahan sosial. di antaranya Gung Bulan dari Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Yakin dari Fakultas Bahasa dan Seni, mereka berharap teater memberi dampak besar bagi dunia sosial.
Akhirnya, pelatihan itu diharapkan juga secara spesifik melahirkan banyak pencipta seni baru.
“UKM teater harus kembali menciptakan banyak kesempatan belajar untuk menjadi penulis naskah, sutradara, aktor dan tim artistik yang berdampak di Bali, bahkan Indonesia.” tutup Sonia Piscayanti. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























