23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah by Luthfi Hasanal Bolqiah
October 4, 2025
in Esai
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah

BAYANGKAN Anda adalah Presiden Republik Indonesia saat ini. Sebuah program yang Anda cita-citakan sejak masa kampanye—dikampanyekan secara masif, dibela habis-habisan dalam debat, bahkan di-bully karena dianggap mustahil dijalankan—justru rontok bukan karena musuh, tapi karena keserakahan orang dalam.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan; ia Anda bayangkan sebagai simbol baru: bahwa negara tak lagi membiarkan anak-anak tumbuh dalam lapar. Anda tetapkan anggaran Rp71 triliun untuk membuktikan komitmen itu. Tapi yang muncul ke permukaan justru kebingungan, keracunan, dan ketidakpercayaan.

Tak ada yang lebih menyakitkan dari melihat mimpi kolektif dikorupsi oleh kerakusan individual. MBG seharusnya menjawab krisis gizi, bukan melahirkan krisis kepercayaan. Sebagian rakyat kini tak lagi merasakan semangat pemimpinnya di balik sepiring nasi. Yang mereka lihat hanyalah celah—celah untuk ambil untung, untuk bermain angka, dan untuk mengejar target sambil menutup mata terhadap mutu dan keselamatan.

Bahkan di antara mereka, ada yang merasa terganggu karena anggaran MBG mengusik “bisnis lama”. Maka mereka ikut masuk ke dalam pusaran: berburu margin, mencari untung dari proyek negara. Tak peduli apakah makanannya bergizi atau justru beracun. Ini bukan sekadar soal pengawasan yang lemah. Ini adalah soal bagaimana sebuah kebijakan kehilangan jiwanya—dan malah menciptakan insentif bagi penyimpangan.

Efek Kobra di Balik Dapur MBG

Dalam lini masa yang lain, pada pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial Inggris di India menghadapi persoalan serius: meningkatnya korban gigitan ular kobra di Delhi. Untuk mengatasinya, mereka merancang solusi sederhana—memberi imbalan uang untuk setiap kobra yang dibunuh. Awalnya berhasil. Namun kemudian warga mulai membudidayakan kobra demi hadiah. Ketika program dihentikan, ular-ular itu dilepas ke alam. Populasinya justru meledak.

Kisah ini kini dikenal sebagai The Cobra Effect—ketika kebijakan yang dirancang untuk menyelesaikan masalah justru memperburuk keadaan karena kesalahan insentif. Dan sayangnya, kisah ini bukan lagi sekadar anekdot. Ia terasa begitu nyata hari-hari ini di Indonesia, di balik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

MBG hadir dengan semangat besar: mengatasi ketimpangan gizi, memperkuat keadilan sosial, dan meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. Tetapi seperti banyak kebijakan ambisius lainnya, pelaksanaannya jauh dari mulus. Masalah yang muncul bukan hanya soal teknis—seperti distribusi logistik, pengadaan bahan pangan, atau standar mutu makanan—melainkan juga soal yang lebih mendasar: kepercayaan.

Di titik inilah muncul apa yang oleh para analis kebijakan disebut sebagai perverse incentive—sebuah ironi kebijakan ketika sistem insentif justru mendorong perilaku yang bertentangan dengan tujuan awal program. Dalam konteks MBG, insentif yang dirancang untuk mendorong distribusi cepat dan cakupan luas malah menjadi jebakan: pelaksana di lapangan terdorong untuk mengejar target, bukan mutu. Maka, kecepatan jadi lebih penting dari keamanan. Jumlah porsi jadi lebih utama dari kandungan gizi. Dan laporan keberhasilan lebih dilindungi ketimbang laporan kegagalan.

Akibatnya bisa diprediksi: muncul kecenderungan untuk menyembunyikan insiden, menghindari pelaporan, atau bahkan menekan kritik dari bawah. Bukan karena niat jahat semata, tetapi karena sistemnya sendiri membentuk perilaku menyimpang. Ketika tekanan dari atas lebih besar daripada ruang refleksi dan koreksi, maka kontrol mutu pun dikorbankan di tengah jalan.

Salah satu contoh paling mencolok adalah isu maraknya SPPG fiktif. Temuan dari berbagai pemantau lapangan menunjukkan bahwa ada sejumlah yayasan atau penyedia layanan yang terdaftar secara administratif, namun tidak pernah benar-benar aktif mendistribusikan makanan. Ada yang hanya mencantumkan alamat dan kontak, tanpa operasional. Ada yang menerima dana, tapi tak pernah memasak. Sistem memang dirancang agar akun tidak aktif dihapus otomatis dalam 45 hari, sebagaimana klaim BGN. Namun realitas di lapangan berkata lain: lubang-lubang itu tetap ada, dan tak sedikit yang mengendap dalam kebisuan administratif.

Alih-alih membantah temuan tersebut dengan narasi kaku, sikap yang lebih bijak adalah menjadikannya sebagai pintu masuk perbaikan. Ini bukan tentang menyalahkan lembaga, tapi tentang memperkuat kontrol sosial. Ketika masyarakat menyampaikan laporan, itu bukan bentuk perlawanan, tapi partisipasi. Sebuah negara yang sehat justru tumbuh dari keberanian mendengar, bukan dari refleks membela diri.

Dan dari sinilah kita kembali pada pelajaran dari efek kobra. Dalam kasus klasik itu, pemerintah kolonial India gagal karena tak memikirkan bagaimana kebijakan memberi ruang bagi distorsi insentif. Orang justru memelihara kobra demi uang, bukan membasminya. Efek yang sama kini mengintai MBG. Program yang seharusnya menjadi solusi atas krisis gizi malah bisa menciptakan ekosistem manipulatif jika tidak ada revisi desain yang menyeluruh.

Tidak Ada “Hanya” pada 0,00017%

Di sisi lain, sejumlah kasus keracunan makanan dalam program ini telah memunculkan satu pertanyaan besar: benarkah sistemnya siap? Dan yang tak kalah penting—benarkah pemerintah, khususnya Badan Gizi Nasional, benar-benar mendengar suara masyarakat, alih-alih sekadar menjawabnya dengan narasi pembanding atau pembelaan diri?

Menurut laporan media nasional, tercatat 6.517 kasus keracunan yang diduga terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Januari hingga September 2025. Di tengah gelombang kekhawatiran itu, publik dikejutkan oleh potongan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyebut bahwa kasus tersebut hanya mencakup “0,00017%” dari total distribusi. Mungkin tak ada kata ‘hanya’ di dalam pernyataan aslinya. Mungkin data itu pun akurat dalam kerangka statistik. Tapi publik tidak membaca dalam logika angka. Mereka membaca dalam logika rasa.

Wacana itu langsung menyebar luas, dikutip secara parsial, dipelintir, diplesetkan, bahkan sebelum sempat diklarifikasi. BGN buru-buru meluruskan, tapi sudah terlambat: tafsir publik telah bekerja lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Potongan kalimat itu menjadi simbol. Bagi sebagian orang, itu seperti sinyal bahwa negara tidak cukup merasa terguncang oleh peristiwa ini. Apalagi ketika kemudian muncul narasi pembanding: bahwa keracunan juga pernah terjadi di Brasil dan Amerika Serikat. Ini mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tapi di telinga masyarakat yang sedang waswas, terdengar seperti pengalihan.

Masalah utama bukan pada isi pernyataannya, melainkan pada bagaimana pernyataan itu hadir di tengah situasi yang belum siap menerimanya. Ketika publik mencemaskan isi piring anak-anak mereka, negara justru tampil dengan narasi defensif. Bukan itu yang dibutuhkan. Yang mereka cari adalah empati, bukan pembenaran.

Pada akhirnya, ini bukan lagi sekadar soal miskomunikasi. Ini tentang bagaimana narasi publik dibentuk oleh ketegangan antara angka dan rasa, antara maksud dan makna. Di ruang itulah kepercayaan diuji. Dan celah kecil dalam bahasa bisa menjelma jurang besar dalam legitimasi. Sekali sebuah pernyataan dilempar ke publik, ia tak lagi sepenuhnya bisa dikendalikan. Apalagi dalam konteks pasca-fakta, ketika data bisa ditafsirkan ulang dan makna dibentuk oleh siapa yang lebih dulu—dan lebih lantang—berbicara.

Alih-alih menurunkan ketegangan, cara komunikasi pemerintah justru menciptakan efek sebaliknya. Salah satu akibatnya adalah resistensi simbolik yang menjalar cepat melalui media sosial. Plesetan “Makan Beracun Gratis” viral di mana-mana. Bagi sebagian orang, itu sekadar gurauan gelap. Tapi bagi banyak warga lain, itu adalah bentuk kritik paling telanjang: rakyat tidak lagi hanya menggugat isi kebijakan, tapi logika di baliknya. Humor semacam itu lahir bukan dari tawa, tetapi dari kecewa.

Ketika negara terlalu fokus mengelola kesan, dan abai terhadap perasaan publik, yang muncul bukanlah kepercayaan, tapi jarak. Ini bukan lagi sekadar krisis teknis atau kasus kelalaian. Ini adalah krisis makna. Rakyat tidak hanya mencemaskan apa yang masuk ke tubuh anak-anak mereka, tetapi juga kehilangan orientasi atas apa yang dikatakan negara. Narasi resmi menjadi seperti kabut: samar, berubah-ubah, dan kadang menyesatkan.

Yang perlu dipahami adalah bahwa dalam situasi seperti ini, narasi bukan pelengkap kebijakan—ia adalah infrastruktur legitimasi. Dalam sistem demokrasi modern, kepercayaan tidak dibangun semata dari hasil, tetapi dari bagaimana hasil itu dijelaskan dan diterima. Ketika pernyataan pejabat tidak konsisten, ketika SOP diklaim ketat tapi insiden terus berulang, ketika pengawasan disebut kuat tapi penyedia makanan tak terverifikasi tetap lolos, publik mulai merasakan ketimpangan antara wacana dan kenyataan. Mereka tidak lagi bertanya “berapa jumlah kasusnya?”, tapi “kenapa hal ini terus dibiarkan terjadi?”

Lebih buruk lagi, negara—dalam hal ini BGN sebagai pelaksana utama—terlihat tidak mampu membedakan antara menjaga kepercayaan dan menjaga citra. Keduanya tampak serupa, tapi dampaknya bertolak belakang. Yang satu dibangun lewat keterbukaan dan perbaikan, yang lain lewat penghindaran dan pembelaan. Dan publik bisa membedakannya, bahkan tanpa harus membaca semua berita resmi. Mereka cukup merasakan.

Antara Angka dan Rasa, Antara Nasi dan Legitimasi

Penyelesaian bukan dengan menghentikan program. MBG tetap harus dipertahankan—karena misinya mulia. Tapi mempertahankan tidak sama dengan membiarkan. Yang dibutuhkan adalah penguatan pengawasan, pembenahan sistem insentif, dan keberanian menutup celah-celah manipulasi. Jangan biarkan ada pihak yang “memelihara kobra” hanya karena sistemnya membuka peluang untuk itu.

Negara juga perlu meninjau ulang tekanan pencapaian yang terlalu tinggi dan terlalu cepat. Keberhasilan tidak selalu hadir dari angka yang melonjak, tetapi dari proses yang jujur, transparan, dan berkelanjutan. Dan di atas segalanya, negara harus memperbaiki cara ia berbicara kepada rakyat—dengan rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan bersedia mengakui bahwa program besar akan selalu mengandung kekeliruan yang harus diperbaiki bersama.

Jika sepiring makan siang bisa membangun harapan, maka sepiring yang sama juga bisa menghancurkan kepercayaan. Dalam MBG, negara diingatkan kembali: bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya nasi dan lauk—tapi juga legitimasi. [T]

Penulis: Luthfi Hasanal Bolqiah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Efek KobraMakan Bergizi Gratismakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diksi Tak Melulu Batu Karang, Ada Juga Tower Internet | Dari Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Next Post

Lima Juta Rupiah Untuk Masa Depan Bangsa

Luthfi Hasanal Bolqiah

Luthfi Hasanal Bolqiah

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Lima Juta Rupiah Untuk Masa Depan Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co