6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah by Luthfi Hasanal Bolqiah
October 4, 2025
in Esai
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah

BAYANGKAN Anda adalah Presiden Republik Indonesia saat ini. Sebuah program yang Anda cita-citakan sejak masa kampanye—dikampanyekan secara masif, dibela habis-habisan dalam debat, bahkan di-bully karena dianggap mustahil dijalankan—justru rontok bukan karena musuh, tapi karena keserakahan orang dalam.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan; ia Anda bayangkan sebagai simbol baru: bahwa negara tak lagi membiarkan anak-anak tumbuh dalam lapar. Anda tetapkan anggaran Rp71 triliun untuk membuktikan komitmen itu. Tapi yang muncul ke permukaan justru kebingungan, keracunan, dan ketidakpercayaan.

Tak ada yang lebih menyakitkan dari melihat mimpi kolektif dikorupsi oleh kerakusan individual. MBG seharusnya menjawab krisis gizi, bukan melahirkan krisis kepercayaan. Sebagian rakyat kini tak lagi merasakan semangat pemimpinnya di balik sepiring nasi. Yang mereka lihat hanyalah celah—celah untuk ambil untung, untuk bermain angka, dan untuk mengejar target sambil menutup mata terhadap mutu dan keselamatan.

Bahkan di antara mereka, ada yang merasa terganggu karena anggaran MBG mengusik “bisnis lama”. Maka mereka ikut masuk ke dalam pusaran: berburu margin, mencari untung dari proyek negara. Tak peduli apakah makanannya bergizi atau justru beracun. Ini bukan sekadar soal pengawasan yang lemah. Ini adalah soal bagaimana sebuah kebijakan kehilangan jiwanya—dan malah menciptakan insentif bagi penyimpangan.

Efek Kobra di Balik Dapur MBG

Dalam lini masa yang lain, pada pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial Inggris di India menghadapi persoalan serius: meningkatnya korban gigitan ular kobra di Delhi. Untuk mengatasinya, mereka merancang solusi sederhana—memberi imbalan uang untuk setiap kobra yang dibunuh. Awalnya berhasil. Namun kemudian warga mulai membudidayakan kobra demi hadiah. Ketika program dihentikan, ular-ular itu dilepas ke alam. Populasinya justru meledak.

Kisah ini kini dikenal sebagai The Cobra Effect—ketika kebijakan yang dirancang untuk menyelesaikan masalah justru memperburuk keadaan karena kesalahan insentif. Dan sayangnya, kisah ini bukan lagi sekadar anekdot. Ia terasa begitu nyata hari-hari ini di Indonesia, di balik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

MBG hadir dengan semangat besar: mengatasi ketimpangan gizi, memperkuat keadilan sosial, dan meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. Tetapi seperti banyak kebijakan ambisius lainnya, pelaksanaannya jauh dari mulus. Masalah yang muncul bukan hanya soal teknis—seperti distribusi logistik, pengadaan bahan pangan, atau standar mutu makanan—melainkan juga soal yang lebih mendasar: kepercayaan.

Di titik inilah muncul apa yang oleh para analis kebijakan disebut sebagai perverse incentive—sebuah ironi kebijakan ketika sistem insentif justru mendorong perilaku yang bertentangan dengan tujuan awal program. Dalam konteks MBG, insentif yang dirancang untuk mendorong distribusi cepat dan cakupan luas malah menjadi jebakan: pelaksana di lapangan terdorong untuk mengejar target, bukan mutu. Maka, kecepatan jadi lebih penting dari keamanan. Jumlah porsi jadi lebih utama dari kandungan gizi. Dan laporan keberhasilan lebih dilindungi ketimbang laporan kegagalan.

Akibatnya bisa diprediksi: muncul kecenderungan untuk menyembunyikan insiden, menghindari pelaporan, atau bahkan menekan kritik dari bawah. Bukan karena niat jahat semata, tetapi karena sistemnya sendiri membentuk perilaku menyimpang. Ketika tekanan dari atas lebih besar daripada ruang refleksi dan koreksi, maka kontrol mutu pun dikorbankan di tengah jalan.

Salah satu contoh paling mencolok adalah isu maraknya SPPG fiktif. Temuan dari berbagai pemantau lapangan menunjukkan bahwa ada sejumlah yayasan atau penyedia layanan yang terdaftar secara administratif, namun tidak pernah benar-benar aktif mendistribusikan makanan. Ada yang hanya mencantumkan alamat dan kontak, tanpa operasional. Ada yang menerima dana, tapi tak pernah memasak. Sistem memang dirancang agar akun tidak aktif dihapus otomatis dalam 45 hari, sebagaimana klaim BGN. Namun realitas di lapangan berkata lain: lubang-lubang itu tetap ada, dan tak sedikit yang mengendap dalam kebisuan administratif.

Alih-alih membantah temuan tersebut dengan narasi kaku, sikap yang lebih bijak adalah menjadikannya sebagai pintu masuk perbaikan. Ini bukan tentang menyalahkan lembaga, tapi tentang memperkuat kontrol sosial. Ketika masyarakat menyampaikan laporan, itu bukan bentuk perlawanan, tapi partisipasi. Sebuah negara yang sehat justru tumbuh dari keberanian mendengar, bukan dari refleks membela diri.

Dan dari sinilah kita kembali pada pelajaran dari efek kobra. Dalam kasus klasik itu, pemerintah kolonial India gagal karena tak memikirkan bagaimana kebijakan memberi ruang bagi distorsi insentif. Orang justru memelihara kobra demi uang, bukan membasminya. Efek yang sama kini mengintai MBG. Program yang seharusnya menjadi solusi atas krisis gizi malah bisa menciptakan ekosistem manipulatif jika tidak ada revisi desain yang menyeluruh.

Tidak Ada “Hanya” pada 0,00017%

Di sisi lain, sejumlah kasus keracunan makanan dalam program ini telah memunculkan satu pertanyaan besar: benarkah sistemnya siap? Dan yang tak kalah penting—benarkah pemerintah, khususnya Badan Gizi Nasional, benar-benar mendengar suara masyarakat, alih-alih sekadar menjawabnya dengan narasi pembanding atau pembelaan diri?

Menurut laporan media nasional, tercatat 6.517 kasus keracunan yang diduga terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Januari hingga September 2025. Di tengah gelombang kekhawatiran itu, publik dikejutkan oleh potongan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyebut bahwa kasus tersebut hanya mencakup “0,00017%” dari total distribusi. Mungkin tak ada kata ‘hanya’ di dalam pernyataan aslinya. Mungkin data itu pun akurat dalam kerangka statistik. Tapi publik tidak membaca dalam logika angka. Mereka membaca dalam logika rasa.

Wacana itu langsung menyebar luas, dikutip secara parsial, dipelintir, diplesetkan, bahkan sebelum sempat diklarifikasi. BGN buru-buru meluruskan, tapi sudah terlambat: tafsir publik telah bekerja lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Potongan kalimat itu menjadi simbol. Bagi sebagian orang, itu seperti sinyal bahwa negara tidak cukup merasa terguncang oleh peristiwa ini. Apalagi ketika kemudian muncul narasi pembanding: bahwa keracunan juga pernah terjadi di Brasil dan Amerika Serikat. Ini mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tapi di telinga masyarakat yang sedang waswas, terdengar seperti pengalihan.

Masalah utama bukan pada isi pernyataannya, melainkan pada bagaimana pernyataan itu hadir di tengah situasi yang belum siap menerimanya. Ketika publik mencemaskan isi piring anak-anak mereka, negara justru tampil dengan narasi defensif. Bukan itu yang dibutuhkan. Yang mereka cari adalah empati, bukan pembenaran.

Pada akhirnya, ini bukan lagi sekadar soal miskomunikasi. Ini tentang bagaimana narasi publik dibentuk oleh ketegangan antara angka dan rasa, antara maksud dan makna. Di ruang itulah kepercayaan diuji. Dan celah kecil dalam bahasa bisa menjelma jurang besar dalam legitimasi. Sekali sebuah pernyataan dilempar ke publik, ia tak lagi sepenuhnya bisa dikendalikan. Apalagi dalam konteks pasca-fakta, ketika data bisa ditafsirkan ulang dan makna dibentuk oleh siapa yang lebih dulu—dan lebih lantang—berbicara.

Alih-alih menurunkan ketegangan, cara komunikasi pemerintah justru menciptakan efek sebaliknya. Salah satu akibatnya adalah resistensi simbolik yang menjalar cepat melalui media sosial. Plesetan “Makan Beracun Gratis” viral di mana-mana. Bagi sebagian orang, itu sekadar gurauan gelap. Tapi bagi banyak warga lain, itu adalah bentuk kritik paling telanjang: rakyat tidak lagi hanya menggugat isi kebijakan, tapi logika di baliknya. Humor semacam itu lahir bukan dari tawa, tetapi dari kecewa.

Ketika negara terlalu fokus mengelola kesan, dan abai terhadap perasaan publik, yang muncul bukanlah kepercayaan, tapi jarak. Ini bukan lagi sekadar krisis teknis atau kasus kelalaian. Ini adalah krisis makna. Rakyat tidak hanya mencemaskan apa yang masuk ke tubuh anak-anak mereka, tetapi juga kehilangan orientasi atas apa yang dikatakan negara. Narasi resmi menjadi seperti kabut: samar, berubah-ubah, dan kadang menyesatkan.

Yang perlu dipahami adalah bahwa dalam situasi seperti ini, narasi bukan pelengkap kebijakan—ia adalah infrastruktur legitimasi. Dalam sistem demokrasi modern, kepercayaan tidak dibangun semata dari hasil, tetapi dari bagaimana hasil itu dijelaskan dan diterima. Ketika pernyataan pejabat tidak konsisten, ketika SOP diklaim ketat tapi insiden terus berulang, ketika pengawasan disebut kuat tapi penyedia makanan tak terverifikasi tetap lolos, publik mulai merasakan ketimpangan antara wacana dan kenyataan. Mereka tidak lagi bertanya “berapa jumlah kasusnya?”, tapi “kenapa hal ini terus dibiarkan terjadi?”

Lebih buruk lagi, negara—dalam hal ini BGN sebagai pelaksana utama—terlihat tidak mampu membedakan antara menjaga kepercayaan dan menjaga citra. Keduanya tampak serupa, tapi dampaknya bertolak belakang. Yang satu dibangun lewat keterbukaan dan perbaikan, yang lain lewat penghindaran dan pembelaan. Dan publik bisa membedakannya, bahkan tanpa harus membaca semua berita resmi. Mereka cukup merasakan.

Antara Angka dan Rasa, Antara Nasi dan Legitimasi

Penyelesaian bukan dengan menghentikan program. MBG tetap harus dipertahankan—karena misinya mulia. Tapi mempertahankan tidak sama dengan membiarkan. Yang dibutuhkan adalah penguatan pengawasan, pembenahan sistem insentif, dan keberanian menutup celah-celah manipulasi. Jangan biarkan ada pihak yang “memelihara kobra” hanya karena sistemnya membuka peluang untuk itu.

Negara juga perlu meninjau ulang tekanan pencapaian yang terlalu tinggi dan terlalu cepat. Keberhasilan tidak selalu hadir dari angka yang melonjak, tetapi dari proses yang jujur, transparan, dan berkelanjutan. Dan di atas segalanya, negara harus memperbaiki cara ia berbicara kepada rakyat—dengan rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan bersedia mengakui bahwa program besar akan selalu mengandung kekeliruan yang harus diperbaiki bersama.

Jika sepiring makan siang bisa membangun harapan, maka sepiring yang sama juga bisa menghancurkan kepercayaan. Dalam MBG, negara diingatkan kembali: bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya nasi dan lauk—tapi juga legitimasi. [T]

Penulis: Luthfi Hasanal Bolqiah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Efek KobraMakan Bergizi Gratismakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diksi Tak Melulu Batu Karang, Ada Juga Tower Internet | Dari Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Next Post

Lima Juta Rupiah Untuk Masa Depan Bangsa

Luthfi Hasanal Bolqiah

Luthfi Hasanal Bolqiah

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Lima Juta Rupiah Untuk Masa Depan Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co