24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memanusiakan Pariwisata, Mungkinkah?

Chusmeru by Chusmeru
September 29, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Pariwisata di Tanah Air sedang tidak baik-baik saja. Bukan persoalan angka kunjungan wisatawan. Bukan pula tentang devisa negara yang diperoleh dari sektor pariwisata. Industri pariwisata Indonesia sedang ditimpa masalah berkaitan dengan dampak ekologis dan kemanusiaan yang menyertai pengembangan pariwisata.

Banyak kasus bermunculan yang menggambarkan betapa pariwisata ternyata tidak bersahabat dengan alam dan masyarakat setempat. Puluhan warga Banjar Adat Giri Dharma, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali mendatangi DPRD Provinsi Bali. Mereka mengadu terkait penutupan akses jalan ke sejumlah rumah warga oleh pihak manajemen Garuda Wisnu Kencana atau GWK (balitribune.co.id, 22/09/2025).

Menurut salah seorang warga, jalan yang selama ini dipakai warga untuk aktivitas harian dikunci sejak setahun lalu. Pihak manajemen GWK sempat berjanji akan membuka kembali akses jalan tersebut, namun hingga kini janji itu tak ditepati. Ironis. Di tengah gemerlap pariwisata, GWK justru menutup akses masyarakat untuk melakukan aktivitas, termasuk kegiatan adat.

Kasus senada pernah terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Puluhan warga pesisir Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta mendatangi komplek Keraton Yogyakarta pada 21 November 2024. Mereka mempertanyakan dan mengadukan soal penutupan akses masuk Pantai Sanglen yang sudah terjadi beberapa bulan terakhir (www.tempo.co, 21/11/2024).

Peristiwa serupa terjadi di Indonesia bagian timur. Sejumlah warga Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur dilarang masuk ke Pantai Binongko oleh satuan pengamanan sebuah hotel yang dibangun di kawasan tersebut. Kejadian ini memicu kemarahan warga yang merasa hak mereka untuk menikmati pantai sebagai kawasan publik telah dirampas. Akses masyarakat Labuhan Bajo ke beberapa pantai semakin sulit akibat privatisasi yang dilakukan oleh hotel-hotel di kawasan itu ( kompas.com, 5/4/2025).

Mengapa kasus ditolaknya masyarakat memasuki kawasan pariwisata kerap terjadi? Bukankah masyarakat juga menjadi bagian dari pemangku kepentingan dalam pariwisata? Sejauhmana sumber daya alam dapat diklaim oleh pengelola pariwisata sebagai daerah terlarang bagi masyarakat? Mungkinkah memanusiakan pariwisata agar lebih beradab? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul sebagai keraguan tentang pengembangan pariwisata yang mengabaikan aspek kemanusiaan.

Pariwisata yang Rakus

Pariwisata sering dipuji-puji sebagai sektor yang dapat menyumbang pendapatan daerah dan negara. Kerap pula disebut sebagai sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun di balik itu semua, pariwisata juga telah menjadi rezim yang bengis. Sebagai sebuah industri, pariwisata adalah rezim yang rakus.

Karakteristik pariwisata di mana pun selalu rakus terhadap sumber daya alam. Apalagi bila destinasi wisata yang dijual adalah alam. Eksploitasi terhadap alam sudah pasti akan terjadi. Persoalan dampak kerusakan alam acapkali diabaikan, kecuali bila destinasi itu tetiba dilanda musibah tanah longsor, erosi, abrasi pantai, maupun banjir bandang.

Pariwisata juga rakus terhadap lahan. Pengusaha pariwisata selalu tak pernah merasa cukup. Perluasan lahan objek wisata selalu akan dilakukan, apalagi bila angka kunjungan wisatawan ke objek itu selalu meningkat.

Privatisasi menjadi senjata ampuh pengusaha pariwisata dengan dalih ingin memanjakan wisatawan. Masyarakat sekitar sekadar menjadi penonton tentang betapa megah pariwisata di daerahnya. Inilah sifat bengis rezim pariwisata. Padahal dalam beberapa kasus, penguasaan dan privatisasi lahan seringkali cenderung merusak ketimbang melestarikan lingkungan.

Kapitalistik juga menjadi karakter industri pariwisata. Investasi menjadi andalan. Pengembangan pariwisata pun menjadi sangat tergantung pada investor. Menerabas aturan kerap digunakan investor melalui persekongkolan dengan oknum pejabat di daerah. Yang jadi korban tentu saja alam dan masyarakat sekitar. Alam rusak, masyarakat terpinggirkan. Tidak heran bila muncul poster di media sosial yang berbunyi: “ GWK Ikon Bali, Tapi Bukan Milik Bali?”.

Memanusiakan Pariwisata

Memuja pariwisata secara berlebihan tentu berbahaya bagi kemanusiaan dan kelestarian alam. Karenanya perlu pendekatan kemanusiaan terhadap pariwisata dan lingkungan. Pariwisata harus dimanusiakan, agar tidak semata berorientasi pada keuntungan ekonomis.

Memanusiakan pariwisata dapat dilakukan dengan pendekatan konsep ekofenomenologi. Asumsinya, dasar kesetimbangan relasi manusia dan alam perlu dilihat dari sudut pandang ontologis. Sudut pandang ini akan menghasilkan rekomendasi perlunya alam diikutsertakan sebagai salah satu elemen stakeholder pariwisata (Nugroho, 2017).

Pendekatan ekofenomenologi berupaya membongkar relasi antara manusia dan alam yang disekuilibrium. Pendekatan ini memandang alam tidak sebatas pada esensinya saja, tetapi juga subjek yang berintensional ( Saras Dewi, 2013; Nugroho, 2017). Cara pandang ini menginspirasi bagi penyelenggaraan pariwisata kontemporer, yaitu adanya dekonstruksi dualisme manusia dan alam. Dengan demikian dihasilkan relasi yang lebih produktif antara manusia dan alam.

Secara teknis mungkin akan kesulitan ketika menempatkan alam sebagai stakeholder pariwisata. Namun tatkala alam hanya sekadar objek dalam pariwisata, maka manusia mungkin akan berperilaku liar, rakus, dan bengis terhadap alam itu. Karenanya alam harus dijadikan Dasein, subjek yang mengada. Alam perlu diposisikan sebagaimana manusia.

Jika alam diperlakukan selayaknya manusia, maka pariwisata pun perlu dimanusiakan. Pengembangan pariwisata di suatu daerah atau wilayah perlu memanusiakan alam. Artinya alam harus diajak bicara, disayang, dan ditanya. Saat membangun taman rekreasi, alam maupun tumbuhan perlu ditanya seberapa banyak wisatawan yang boleh berada di taman itu agar alam dan tanaman tidak mengalami kerusakan.

Alam perlu diajak bicara saat pantai, danau, dan sungai hendak dijadikan objek wisata. Apakah mereka akan tersakiti bila bangunan vila dan hotel berdiri kokoh di sekitar mereka. Apakah alam akan marah bila dieksploitasi secara berlebihan untuk sarana dan prasarana pariwisata. Tanpa bicara dan bertanya pada alam; layaknya bertanya pada manusia, maka pariwisata akan menjadi liar, rakus dan bengis.

Liar, rakus, dan bengis adalah perilaku setan dan iblis. Rezim pariwisata harus dimanusiakan agar  tidak berperilaku seperti itu. Memanusiakan pariwisata adalah tugas semua stakeholder. Jika ada pengelola pariwisata yang tetap berperilaku liar, rakus, dan bengis, sesungguhnya ia sudah mendekati predikat setan dan iblis itu. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengurai Paradoks Politik Pengakuan Palestina

Next Post

Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co