2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memanusiakan Pariwisata, Mungkinkah?

Chusmeru by Chusmeru
September 29, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Pariwisata di Tanah Air sedang tidak baik-baik saja. Bukan persoalan angka kunjungan wisatawan. Bukan pula tentang devisa negara yang diperoleh dari sektor pariwisata. Industri pariwisata Indonesia sedang ditimpa masalah berkaitan dengan dampak ekologis dan kemanusiaan yang menyertai pengembangan pariwisata.

Banyak kasus bermunculan yang menggambarkan betapa pariwisata ternyata tidak bersahabat dengan alam dan masyarakat setempat. Puluhan warga Banjar Adat Giri Dharma, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali mendatangi DPRD Provinsi Bali. Mereka mengadu terkait penutupan akses jalan ke sejumlah rumah warga oleh pihak manajemen Garuda Wisnu Kencana atau GWK (balitribune.co.id, 22/09/2025).

Menurut salah seorang warga, jalan yang selama ini dipakai warga untuk aktivitas harian dikunci sejak setahun lalu. Pihak manajemen GWK sempat berjanji akan membuka kembali akses jalan tersebut, namun hingga kini janji itu tak ditepati. Ironis. Di tengah gemerlap pariwisata, GWK justru menutup akses masyarakat untuk melakukan aktivitas, termasuk kegiatan adat.

Kasus senada pernah terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Puluhan warga pesisir Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta mendatangi komplek Keraton Yogyakarta pada 21 November 2024. Mereka mempertanyakan dan mengadukan soal penutupan akses masuk Pantai Sanglen yang sudah terjadi beberapa bulan terakhir (www.tempo.co, 21/11/2024).

Peristiwa serupa terjadi di Indonesia bagian timur. Sejumlah warga Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur dilarang masuk ke Pantai Binongko oleh satuan pengamanan sebuah hotel yang dibangun di kawasan tersebut. Kejadian ini memicu kemarahan warga yang merasa hak mereka untuk menikmati pantai sebagai kawasan publik telah dirampas. Akses masyarakat Labuhan Bajo ke beberapa pantai semakin sulit akibat privatisasi yang dilakukan oleh hotel-hotel di kawasan itu ( kompas.com, 5/4/2025).

Mengapa kasus ditolaknya masyarakat memasuki kawasan pariwisata kerap terjadi? Bukankah masyarakat juga menjadi bagian dari pemangku kepentingan dalam pariwisata? Sejauhmana sumber daya alam dapat diklaim oleh pengelola pariwisata sebagai daerah terlarang bagi masyarakat? Mungkinkah memanusiakan pariwisata agar lebih beradab? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul sebagai keraguan tentang pengembangan pariwisata yang mengabaikan aspek kemanusiaan.

Pariwisata yang Rakus

Pariwisata sering dipuji-puji sebagai sektor yang dapat menyumbang pendapatan daerah dan negara. Kerap pula disebut sebagai sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun di balik itu semua, pariwisata juga telah menjadi rezim yang bengis. Sebagai sebuah industri, pariwisata adalah rezim yang rakus.

Karakteristik pariwisata di mana pun selalu rakus terhadap sumber daya alam. Apalagi bila destinasi wisata yang dijual adalah alam. Eksploitasi terhadap alam sudah pasti akan terjadi. Persoalan dampak kerusakan alam acapkali diabaikan, kecuali bila destinasi itu tetiba dilanda musibah tanah longsor, erosi, abrasi pantai, maupun banjir bandang.

Pariwisata juga rakus terhadap lahan. Pengusaha pariwisata selalu tak pernah merasa cukup. Perluasan lahan objek wisata selalu akan dilakukan, apalagi bila angka kunjungan wisatawan ke objek itu selalu meningkat.

Privatisasi menjadi senjata ampuh pengusaha pariwisata dengan dalih ingin memanjakan wisatawan. Masyarakat sekitar sekadar menjadi penonton tentang betapa megah pariwisata di daerahnya. Inilah sifat bengis rezim pariwisata. Padahal dalam beberapa kasus, penguasaan dan privatisasi lahan seringkali cenderung merusak ketimbang melestarikan lingkungan.

Kapitalistik juga menjadi karakter industri pariwisata. Investasi menjadi andalan. Pengembangan pariwisata pun menjadi sangat tergantung pada investor. Menerabas aturan kerap digunakan investor melalui persekongkolan dengan oknum pejabat di daerah. Yang jadi korban tentu saja alam dan masyarakat sekitar. Alam rusak, masyarakat terpinggirkan. Tidak heran bila muncul poster di media sosial yang berbunyi: “ GWK Ikon Bali, Tapi Bukan Milik Bali?”.

Memanusiakan Pariwisata

Memuja pariwisata secara berlebihan tentu berbahaya bagi kemanusiaan dan kelestarian alam. Karenanya perlu pendekatan kemanusiaan terhadap pariwisata dan lingkungan. Pariwisata harus dimanusiakan, agar tidak semata berorientasi pada keuntungan ekonomis.

Memanusiakan pariwisata dapat dilakukan dengan pendekatan konsep ekofenomenologi. Asumsinya, dasar kesetimbangan relasi manusia dan alam perlu dilihat dari sudut pandang ontologis. Sudut pandang ini akan menghasilkan rekomendasi perlunya alam diikutsertakan sebagai salah satu elemen stakeholder pariwisata (Nugroho, 2017).

Pendekatan ekofenomenologi berupaya membongkar relasi antara manusia dan alam yang disekuilibrium. Pendekatan ini memandang alam tidak sebatas pada esensinya saja, tetapi juga subjek yang berintensional ( Saras Dewi, 2013; Nugroho, 2017). Cara pandang ini menginspirasi bagi penyelenggaraan pariwisata kontemporer, yaitu adanya dekonstruksi dualisme manusia dan alam. Dengan demikian dihasilkan relasi yang lebih produktif antara manusia dan alam.

Secara teknis mungkin akan kesulitan ketika menempatkan alam sebagai stakeholder pariwisata. Namun tatkala alam hanya sekadar objek dalam pariwisata, maka manusia mungkin akan berperilaku liar, rakus, dan bengis terhadap alam itu. Karenanya alam harus dijadikan Dasein, subjek yang mengada. Alam perlu diposisikan sebagaimana manusia.

Jika alam diperlakukan selayaknya manusia, maka pariwisata pun perlu dimanusiakan. Pengembangan pariwisata di suatu daerah atau wilayah perlu memanusiakan alam. Artinya alam harus diajak bicara, disayang, dan ditanya. Saat membangun taman rekreasi, alam maupun tumbuhan perlu ditanya seberapa banyak wisatawan yang boleh berada di taman itu agar alam dan tanaman tidak mengalami kerusakan.

Alam perlu diajak bicara saat pantai, danau, dan sungai hendak dijadikan objek wisata. Apakah mereka akan tersakiti bila bangunan vila dan hotel berdiri kokoh di sekitar mereka. Apakah alam akan marah bila dieksploitasi secara berlebihan untuk sarana dan prasarana pariwisata. Tanpa bicara dan bertanya pada alam; layaknya bertanya pada manusia, maka pariwisata akan menjadi liar, rakus dan bengis.

Liar, rakus, dan bengis adalah perilaku setan dan iblis. Rezim pariwisata harus dimanusiakan agar  tidak berperilaku seperti itu. Memanusiakan pariwisata adalah tugas semua stakeholder. Jika ada pengelola pariwisata yang tetap berperilaku liar, rakus, dan bengis, sesungguhnya ia sudah mendekati predikat setan dan iblis itu. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengurai Paradoks Politik Pengakuan Palestina

Next Post

Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co