23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memanusiakan Pariwisata, Mungkinkah?

Chusmeru by Chusmeru
September 29, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Pariwisata di Tanah Air sedang tidak baik-baik saja. Bukan persoalan angka kunjungan wisatawan. Bukan pula tentang devisa negara yang diperoleh dari sektor pariwisata. Industri pariwisata Indonesia sedang ditimpa masalah berkaitan dengan dampak ekologis dan kemanusiaan yang menyertai pengembangan pariwisata.

Banyak kasus bermunculan yang menggambarkan betapa pariwisata ternyata tidak bersahabat dengan alam dan masyarakat setempat. Puluhan warga Banjar Adat Giri Dharma, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali mendatangi DPRD Provinsi Bali. Mereka mengadu terkait penutupan akses jalan ke sejumlah rumah warga oleh pihak manajemen Garuda Wisnu Kencana atau GWK (balitribune.co.id, 22/09/2025).

Menurut salah seorang warga, jalan yang selama ini dipakai warga untuk aktivitas harian dikunci sejak setahun lalu. Pihak manajemen GWK sempat berjanji akan membuka kembali akses jalan tersebut, namun hingga kini janji itu tak ditepati. Ironis. Di tengah gemerlap pariwisata, GWK justru menutup akses masyarakat untuk melakukan aktivitas, termasuk kegiatan adat.

Kasus senada pernah terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Puluhan warga pesisir Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta mendatangi komplek Keraton Yogyakarta pada 21 November 2024. Mereka mempertanyakan dan mengadukan soal penutupan akses masuk Pantai Sanglen yang sudah terjadi beberapa bulan terakhir (www.tempo.co, 21/11/2024).

Peristiwa serupa terjadi di Indonesia bagian timur. Sejumlah warga Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur dilarang masuk ke Pantai Binongko oleh satuan pengamanan sebuah hotel yang dibangun di kawasan tersebut. Kejadian ini memicu kemarahan warga yang merasa hak mereka untuk menikmati pantai sebagai kawasan publik telah dirampas. Akses masyarakat Labuhan Bajo ke beberapa pantai semakin sulit akibat privatisasi yang dilakukan oleh hotel-hotel di kawasan itu ( kompas.com, 5/4/2025).

Mengapa kasus ditolaknya masyarakat memasuki kawasan pariwisata kerap terjadi? Bukankah masyarakat juga menjadi bagian dari pemangku kepentingan dalam pariwisata? Sejauhmana sumber daya alam dapat diklaim oleh pengelola pariwisata sebagai daerah terlarang bagi masyarakat? Mungkinkah memanusiakan pariwisata agar lebih beradab? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul sebagai keraguan tentang pengembangan pariwisata yang mengabaikan aspek kemanusiaan.

Pariwisata yang Rakus

Pariwisata sering dipuji-puji sebagai sektor yang dapat menyumbang pendapatan daerah dan negara. Kerap pula disebut sebagai sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun di balik itu semua, pariwisata juga telah menjadi rezim yang bengis. Sebagai sebuah industri, pariwisata adalah rezim yang rakus.

Karakteristik pariwisata di mana pun selalu rakus terhadap sumber daya alam. Apalagi bila destinasi wisata yang dijual adalah alam. Eksploitasi terhadap alam sudah pasti akan terjadi. Persoalan dampak kerusakan alam acapkali diabaikan, kecuali bila destinasi itu tetiba dilanda musibah tanah longsor, erosi, abrasi pantai, maupun banjir bandang.

Pariwisata juga rakus terhadap lahan. Pengusaha pariwisata selalu tak pernah merasa cukup. Perluasan lahan objek wisata selalu akan dilakukan, apalagi bila angka kunjungan wisatawan ke objek itu selalu meningkat.

Privatisasi menjadi senjata ampuh pengusaha pariwisata dengan dalih ingin memanjakan wisatawan. Masyarakat sekitar sekadar menjadi penonton tentang betapa megah pariwisata di daerahnya. Inilah sifat bengis rezim pariwisata. Padahal dalam beberapa kasus, penguasaan dan privatisasi lahan seringkali cenderung merusak ketimbang melestarikan lingkungan.

Kapitalistik juga menjadi karakter industri pariwisata. Investasi menjadi andalan. Pengembangan pariwisata pun menjadi sangat tergantung pada investor. Menerabas aturan kerap digunakan investor melalui persekongkolan dengan oknum pejabat di daerah. Yang jadi korban tentu saja alam dan masyarakat sekitar. Alam rusak, masyarakat terpinggirkan. Tidak heran bila muncul poster di media sosial yang berbunyi: “ GWK Ikon Bali, Tapi Bukan Milik Bali?”.

Memanusiakan Pariwisata

Memuja pariwisata secara berlebihan tentu berbahaya bagi kemanusiaan dan kelestarian alam. Karenanya perlu pendekatan kemanusiaan terhadap pariwisata dan lingkungan. Pariwisata harus dimanusiakan, agar tidak semata berorientasi pada keuntungan ekonomis.

Memanusiakan pariwisata dapat dilakukan dengan pendekatan konsep ekofenomenologi. Asumsinya, dasar kesetimbangan relasi manusia dan alam perlu dilihat dari sudut pandang ontologis. Sudut pandang ini akan menghasilkan rekomendasi perlunya alam diikutsertakan sebagai salah satu elemen stakeholder pariwisata (Nugroho, 2017).

Pendekatan ekofenomenologi berupaya membongkar relasi antara manusia dan alam yang disekuilibrium. Pendekatan ini memandang alam tidak sebatas pada esensinya saja, tetapi juga subjek yang berintensional ( Saras Dewi, 2013; Nugroho, 2017). Cara pandang ini menginspirasi bagi penyelenggaraan pariwisata kontemporer, yaitu adanya dekonstruksi dualisme manusia dan alam. Dengan demikian dihasilkan relasi yang lebih produktif antara manusia dan alam.

Secara teknis mungkin akan kesulitan ketika menempatkan alam sebagai stakeholder pariwisata. Namun tatkala alam hanya sekadar objek dalam pariwisata, maka manusia mungkin akan berperilaku liar, rakus, dan bengis terhadap alam itu. Karenanya alam harus dijadikan Dasein, subjek yang mengada. Alam perlu diposisikan sebagaimana manusia.

Jika alam diperlakukan selayaknya manusia, maka pariwisata pun perlu dimanusiakan. Pengembangan pariwisata di suatu daerah atau wilayah perlu memanusiakan alam. Artinya alam harus diajak bicara, disayang, dan ditanya. Saat membangun taman rekreasi, alam maupun tumbuhan perlu ditanya seberapa banyak wisatawan yang boleh berada di taman itu agar alam dan tanaman tidak mengalami kerusakan.

Alam perlu diajak bicara saat pantai, danau, dan sungai hendak dijadikan objek wisata. Apakah mereka akan tersakiti bila bangunan vila dan hotel berdiri kokoh di sekitar mereka. Apakah alam akan marah bila dieksploitasi secara berlebihan untuk sarana dan prasarana pariwisata. Tanpa bicara dan bertanya pada alam; layaknya bertanya pada manusia, maka pariwisata akan menjadi liar, rakus dan bengis.

Liar, rakus, dan bengis adalah perilaku setan dan iblis. Rezim pariwisata harus dimanusiakan agar  tidak berperilaku seperti itu. Memanusiakan pariwisata adalah tugas semua stakeholder. Jika ada pengelola pariwisata yang tetap berperilaku liar, rakus, dan bengis, sesungguhnya ia sudah mendekati predikat setan dan iblis itu. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengurai Paradoks Politik Pengakuan Palestina

Next Post

Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Festival ke Uma 2025: Mengenalkan Tanaman Obat di Alam Liar untuk Anak-anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co