24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 23, 2025
in Esai
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

“There is far more religious faith in (communist) Russia than in (Christian) England.” – Graham Greene

ARTIKEL ini merupakan tugas saat saya masih mengikuti pendidikan Magister Hukum sekitar 2012, namun dengan sedikit polesan kecil, ternyata masih relevan untuk dipublish dari pada hanya jadi arsip tak terbaca. Dosen saya saat itu malah minta ijin untuk dijadikan materi dalam sebuah diskusi tentang pembahasan korupsi.

Korupsi sering dikatakan sebagai kejahatan yang sudah setua peradaban. Hampir semua bangsa mengalaminya, hanya kadarnya yang berbeda. Transparansi Internasional berkali-kali menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terkorup, dan kasus-kasus besar selalu menghiasi pemberitaan publik. Ironisnya, korupsi justru marak di negeri yang dikenal sangat taat dalam urusan agama, namun sayangnya hanya menyentuk aspek formalitas, sebatas ritual. Bahkan sektor yang selama ini dianggap steril dari praktik korupsi—agama—tak lagi kebal. Kita tentu masih ingat korupsi dana abadi umat di Departemen Agama, korupsi pengadaan Al-Qur’an, hingga kasus partai yang mengusung jargon kesalehan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika hampir semua koruptor memiliki agama, mengapa agama tidak berhasil mencegah mereka melakukan perbuatan tercela? Bagaimana mungkin sebuah provinsi dengan julukan Serambi Mekah (Aceh) bisa menduduki posisi teratas kedua daerah terkorup setelah DKI Jakarta? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang relasi antara agama, spiritualitas, dan kegagalan pendidikan.

Agama Tidak Pernah Menghalalkan Korupsi

Tidak ada satu pun agama di dunia yang membenarkan korupsi. Ajaran moralitas dasar dalam setiap tradisi menolak keras pencurian, penipuan, dan penyalahgunaan amanah. Namun, sejarah menunjukkan bahwa agama bagaikan pedang bermata dua: bisa menjadi sumber cinta dan perdamaian, bisa pula dijadikan tameng untuk pembenaran perilaku destruktif. Shakespeare pernah berkata—dan dikutip Charles Kimball—“Bahkan setan pun bisa mengutip kitab suci demi kepentingannya.”

Begitu pula dengan korupsi di Indonesia. Semakin banyak strategi pemberantasan korupsi digagas, semakin lihai pula modus-modus baru bermunculan. Di sinilah tampak paradoks besar: para koruptor rajin beribadah, tetapi gagal menghadirkan nilai-nilai transendental dalam tindakan sehari-hari. Dengan kata lain, keberagamaan di Indonesia sering kali bersifat ritualistik, formal, dan dangkal, belum menyentuh inti spiritualitas yang sesungguhnya.

Krisis Spiritualitas: Agama yang Kehilangan Jiwa

Krisis terbesar bangsa ini bukanlah semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis spiritualitas. Banyak orang beragama tetapi kehilangan kesadaran religius otentik. Guruji Anand Krishna, dalam berbagai tulisannya, menegaskan bahwa inti agama adalah spiritualitas—yakni upaya menjadi manusia baik yang menyadari keberadaan Ilahi dalam diri. Tanpa dimensi itu, agama tereduksi menjadi seremonial belaka.

Seorang spiritualis sejati berupaya menjelmakan “kesadaran dharma” dalam setiap tindakannya. Jika kesadaran hewani—rakus, serakah, penuh nafsu—lebih dominan, maka walaupun mengenakan jubah agama, seseorang bisa lebih rendah dari hewan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa negeri yang sarat simbol keagamaan bisa sekaligus menjadi sarang perilaku koruptif.

Dalai Lama pernah berkata, “I am a man of religion, but religion alone cannot solve all our problems.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa agama—tanpa disertai pendidikan, etika, dan kesadaran—tidak akan mampu menjadi solusi tunggal atas penyakit sosial seperti korupsi. Agama perlu dipadukan dengan pendidikan yang membentuk karakter, serta sistem sosial yang menumbuhkan integritas.

Kegagalan Pendidikan dalam Arti Luas

Di titik ini kita harus menengok akar persoalan lebih dalam: kegagalan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya schooling (pendidikan formal), melainkan education in the broadest sense—pendidikan dalam arti luas, yakni proses memanusiakan manusia secara utuh.

Pendidikan kita masih berfokus pada transfer ilmu, bukan transformasi karakter. Anak-anak diajari menghafal teks agama, tetapi jarang dibimbing untuk mengalami nilai-nilai etika dalam keseharian. Guru mengajarkan “kejujuran” di kelas, tetapi praktik pungutan liar masih mewarnai sekolah. Universitas mendidik calon pejabat, tetapi sering gagal menanamkan integritas. Inilah yang menjadikan kita menghasilkan “pintar tanpa benar”: generasi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin secara etis.

Y.B. Mangunwijaya pernah mengingatkan bahwa religiositas sejati tidak terletak pada hafalan doa atau ritual, melainkan pada kepedulian dan keberpihakan kepada sesama. Ketika pendidikan kehilangan roh itu, agama pun terjebak dalam formalitas. Korupsi lalu dianggap lumrah karena tidak ada kesadaran mendalam akan konsekuensi moral dan spiritualnya.

Agama Masih Menjadi Harapan

Meski demikian, agama tetap menyimpan potensi besar sebagai benteng terakhir melawan korupsi. Robert Klitgaard menegaskan, tanpa integritas dan dukungan masyarakat sipil, mustahil memberantas korupsi. Integritas inilah yang dapat ditumbuhkan melalui internalisasi nilai-nilai agama dan spiritualitas.

Ada beberapa langkah penting:

  1. Pendidikan agama yang transformatif. Agama tidak boleh berhenti pada simbol dan doktrin, melainkan menjadi praksis dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Keteladanan moral. Baik di rumah, sekolah, maupun lembaga negara, teladan jauh lebih efektif daripada seribu ceramah.
  3. Penanaman nilai sejak dini. Anak-anak perlu dibimbing dengan contoh nyata atau keteladanan, bukan sekadar nasihat kosong.

Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, agama dapat kembali berperan sebagai benteng moral bangsa, dan pendidikan akan menjadi ladang subur bagi lahirnya manusia yang berintegritas.

Korupsi memang musuh bersama, tetapi cara kita melawannya harus dimulai dari hal paling mendasar: memperbaiki pendidikan yang gagal memanusiakan manusia. Agama sejatinya hadir untuk mencegah kebusukan moral, bukan menjadi pelengkap ritual semata. Dalai Lama benar, agama saja tidak cukup: ia harus ditopang oleh pendidikan karakter, kesadaran kritis, dan teladan nyata.

Selama pendidikan hanya mencetak manusia cerdas tetapi tidak jujur, korupsi akan terus merajalela meski doa menggema di masjid, gereja, pura, maupun vihara. Harapan kita ada pada integrasi agama dan pendidikan yang sejati: pendidikan yang melampaui sekadar knowledge transfer, menuju character transformation. Hanya dengan itu, bangsa ini bisa keluar dari ironi sebagai salah satu negara terkorup di dunia. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaAnti KorupsiKorupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Muda Merawat Tua: Mahasiswa Undiksha dan Perjuangan Melawan Lupa

Next Post

INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams — Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams — Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams -- Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co