Fenomena foto hasil edit kecerdasan buatan (AI) dalam mengedit foto semakin marak di media sosial. Tidak sedikit pengguna yang mengunggah potret dirinya seolah sedang bersama dengan idola mereka masing-masing. Ada yang tampil estetik dalam bentuk polaroid, ada pula yang terlihat natural seakan sedang bercengkerama bersama idolanya.
Namun, tren ini tidak berhenti di sana, banyak pula yang melangkah lebih jauh dengan menampilkan berbagai pose mesra, mulai dari bergandengan tangan, merangkul, berpelukan, bahkan hingga berciuman. Sekilas, mungkin hal ini tampak kreatif dan menghibur, tetapi jika dicermati lebih dalam, muncul pertanyaan tentang bagaimana jika orang yang fotonya digunakan benar-benar melihat hasil editam tersebut?
Perkembangan teknologi AI memang memudahkan bagi siapa saja untuk menghasilkan visual yang nyaris mirip dengan realistis. Bagi penggemar, hasil edit seperti itu mungkin bisa menjadi hiburan semata atau merupakan sebuah cara untuk seolah-olah merasakan kedekatan dengan sosok idola yang sebenarnya jauh dari jangkauan mereka sendiri. Namun, dari fenomena ini jelas terlihat bahwa batas antara kreativitas dan pelanggaran privasi sangatlah tipis.
Bayangkan apabila foto pribadi yang kita miliki tiba-tiba dipadukan dengan sosok lain dalam pose yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Situasi semacam itu jelas dapat menimbulkan perasaan rishi atau tidak nyaman, bahkan dapat dianggap sebagai bentuk pelecehan digital.
Dari sisi etika, penggunaan AI untuk menghasilkan foto mesra bersama idola patut dipertimbangkan sebelum melangkah begitu jauh. Selain berpotensi merugikan reputasi sang idola, konten semacam itu juga rawan disalahpahami ketika tersebar luas tanpa konteks yang jelas. Seperti yang kita semua tahu, dunia digital bergerak begitu cepat, dengan satu unggahan saja sudah dapat menyebar ke berbagai jenis platform hanya dalam hitungan menit. Namun, perlu kita ketahui juga, tidak semua penggunaan edit AI perlu dipandang negatif.
Dalam banyak kasus, teknologi ini justru memberi makna emosional yang mendalam. Beberapa pengguna edit foto AI malah menggunakan untuk sebuah hal yang positif, misalnya seseorang yang telah kehilangan orang terdekatnya dan sebelumnya tidak pernah melakukan foto bersama sekali pun dapat mengedit foto seakan dirinya mengabadikan kenangan bersama mendiang. Meski hanya rekayasa, hasilnya dapat menjadi pengobat rindu bagi orang yang ditinggalkan. Di sinilah terlihat bahwa AI adalah alat yang bisa memberi manfaat dan juga menimbulkan masalah, tergantung pada tujuan penggunanya.
Selain persoalan etika, ada aspek lain yang masih sering diabaikan pengguna, yaitu risiko privasi data. Untuk menghasilkan foto editan, biasanya pengguna harus mengunggah potret diri mereka ke sebuah aplikasi atau situs berbasis AI. Di sinilah potensi bahaya dapat muncul. Kita semua tidak pernah benar-benar tahu bagaimana data foto tersebut disimpan, digunakan, atau malah dijual. Data wajah yang dikumpulkan oleh sistem bisa saja dimodifikasi ulang menjadi model AI baru yang digunakan tanpa sepengetahuan pemilik foto.
Lebih jauh lagi, foto-foto yang sudah diunggah bisa dimanipulasi untuk kepentingan yang negatif, misalnya digunakan untuk membuat konten palsu yang dapat berpengaruh bagi kehidupan kita. Artinya, bahaya edit AI tidak hanya berhenti pada persoalan idola yang menjadi korban fantasi digital, tetapi juga bisa kembali menghantam pengguna itu sendiri. Foto kita yang tadinya hanya untuk seru-seruan, bisa saja beredar dan digunakan dalam konteks yang dapat merugikan kita.
Perbedaan mendasar antara penggunaan yang positif dan yang merugikan terletak pada niat dan tujuan. Menggunakan AI untuk mengenang keluarga yang telah tiada tentu berbeda dengan memaksakan fantasi romantis kepada sosok publik yang bahkan tidak mengenal kita. Begitu pula dengan mengunggah foto ke aplikasi yang terpercaya jelas lebih aman dibanding menyerahkannya ke platform yang tidak kita ketahui jaminan perlindungan datanya.
Pada akhirnya, AI hanyalah alat, layaknya pisau yang bisa digunakan untuk memasak atau melukai, nilai suatu teknologi sepenuhnya ditentukan oleh penggunanya. Maka, penting bagi kita untuk menggunakan AI secara bijak. Mengedit foto yang mampu menghadirkan senyum dan kehangatan jauh lebih bernilai daripada editan yang berpotensi mengganggu orang lain. Jika teknologi ini bisa membantu menjaga kenangan yang penuh makna, mengapa harus digunakan untuk menciptakan fantasi yang justru merugikan? [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole


























