14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali adalah Orang Bijak

Satria Aditya by Satria Aditya
September 19, 2025
in Esai
Orang Bali adalah Orang Bijak

BALI akhir-akhir ini begitu padat, terlebih Denpasar dan Badung. Padat bukan hanya menyadari bahwa Denpasar begitu banyak orang dan kendaraan, tapi juga bangunan-bangunan yang terasa semakin banyak.

Jika diingat, sebelum saya diharuskan bekerja, Denpasar tak pernah sepadat ini. Memang macet tapi hanya di beberapa tempat tertentu. Ke Denpasar biasanya hanya membutuhkan waktu 2 jam kurang, tapi akhir-akhir ini bisa sampai 3 jam dari Jembrana. Aneh bukan?

Jika tak merasa aneh, mungkin saya yang aneh. Kadang memikirkan perjalanan dari indekos ke tempat kerja yang jaraknya sekitar 10 menit saja terasa aneh. Saya harus melewati jalan yang padat, mobil yang berjalan sangat pelan seperti siput, padahal di depan masih sangat lenggang. Kadang juga memikirkan harus berhenti di lampu merah dan berlomba melewati lampu hijau yang waktu berganti ke merah tidak sepadan dengan banyaknya kendaraan yang menunggu. Pada akhirnya, kita tidak saling mengalah. Apa itu bijaksana di lampu merah? Tidak akan ada!

Hidup makin menua dan memadat. Kadang kala saya sesekali mengerutu di jalan. Walaupun dengan keadaan mood yang stabil. Menggerutu itu disebabkan hanya karena kenalpot yang bising dari motor-motor yang tak segera ditindak oleh polisi membuat kuping terasa ingin meledak. Jika ditambah dengan kemacetan dan panasnya Denpasar, kepala ini semakin menggila rasanya.

Belum lagi ketika melewati jalan yang padat sekali dan ada TPA yang sampahnya berserakan dan baunya menembus masker 2 lapis. Ah! Sialan baunya!

Tapi di tengah-tengah kemarahan itu, saya jadi ingat jika banyak sekali kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah kita ini. Saya ingin menghela nafas tapi ingat bau sampah masih tercium.

Sambil mengendarai Jengki –motor yang amat saya sayangi—sembari menumbus kemacetan, saya berpikir bahwa kami masyarakat Bali adalah orang paling bijak. Dari dulu kami terus diberikan kebijakan yang membuat –mungkin saya—selalu menghela nafas sangat dalam. Saya selalu berpikir, oh ya, saya orang Bali harus bijak karena banyak diberi kebijakan.

Betapa bijaknya orang Bali. Beberapa hari lalu, banjir bandang melanda Denpasar. Tumben. Saya bilang tumben, karena beberapa tahun ini di Denpasar, jika hujan saya hanya menemukan air yang menggenang. Ya, tak terlalu tinggi, hanya setinggi lutut. Jika membawa Jengki pasti masih bisa dilewati. Tak akan ada korban, apalagi rumah yang tenggelam hampir sampai atap. Saya pikir ini hanya masalah pemerintah yang gagal mengelola drainase. Itu sudah biasa pikir saya.

Namun hari itu berbeda. Hujan itu saya kira hanya hujan biasa yang akan mereda sekejap lagi. Tapi baru saja melihat media sosial, ternyata sangat parah dari dugaan saya. Ini bukan bencana biasa. Tumben, sungguh tumben sekali. Banyak rumah terendam sampai rusak. Hari itu, banyak teman yang mengirim foto dan video di tempat mereka. Ada yang terpaksa mengungsi ke lantai 2 dan ada yang pasrah saja ikut terendam banjir. Untung saja, tak ada yang terluka, hanya kerugian material saja katanya.

Beberapa hari berlalu, hujan masih saja mengguyur Denpasar saat pagi hingga siang. Ini menjadi ketakutan orang-orang akan banjir susulan. Sekolah dipulangkan lebih awal jika hujan dirasa sudah sangat deras sejak pagi. Pemerintah masih membuat alasan. Banjir karena ini dan itu (saya menulis ini dan itu karena Gubernur kita yang bijak mengatakan “karena di sini dan di situ” entah di mana).

Yang menjadi perdebatan besar adalah ketika Gubernur melalui Dinas Pendidikan –katanya-membuat kebijakan, mengharuskan PNS dan P3K turut andil untuk menyumbang bantuan uang untuk korban banjir. Saya kira seiklasnya. Karena pikir saya ini adalah sumbangan sukarela. Ternyata, PNS dan P3K itu dituntut nominal yang tidak sedikit. Sekali sumbang kita seperti membayar BPJS Kesehatan, iuran suka-duka, arisan guru-guru dan keperluan rumah tangga sekaligus.

Entah apa yang ada dalam pikiran Gubernur kita yang bijak. Padahal, tak semua PNS kaya, tak semua juga P3K kaya. Sampai-sampai kebijakan itu terceplos dari mulutnya. Untung saja, saya bukan PNS apalagi P3K. Misalnya jika saya adalah P3K yang baru saja dilantik, baru saja menikmati gaji bulan lalu yang sudah habis membayar cicilan, Indekos, BPJS Kesehatan, iuran suka-duka, arisan guru-guru dan keperluan-keperluan lain. Mungkin saja, saya hanya bisa menikmati menjadi orang Bali yang bijak atas kebijakan orang yang lebih bijak.

Ah, pelik sekali ternyata. PNS dan P3K hanya bisa mengeluh dan menggerutu di dalam hati. Jika ada yang berani sedikit mungkin akan mulai perdebatan di Facebook. Mungkin ada juga yang sudah bayar karena terpaksa. Setelahnya? Mereka dituntut menjadi orang yang bijak. Menjadi orang Bali yang bijak karena diberi kebijakan. [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Edit AI: Antara Kenangan Indah dan Fantasi Kebablasan

Next Post

Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co