23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 16, 2025
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

Perahu negeriku perahu bangsaku, menyusuri gelombang. Semangat rakyatku kibar benderaku menyeruak lautan, langit membentang cakrawala di depan melambaikan tantangan. Di atas tanahku dari dalam airku tumbuh kebahagiaan di sawah kampungku di jalan kotaku, terbit kesejahteraan tapi ku heran di tengah perjalanan. Muncullah ketimpangan aku heran aku heran yang salah dipertahankan, aku heran aku heran yang benar disingkirkan.

Senandung Franky Sahilatua dalam lagu “Perahu Retak” yang rilis tahun 1996 bercerita tentang kondisi kontradiksi sosial, politik, dan hukum di Indonesia pada era 70-an dan 80-an, satu lagu keprihatinan sosial politik, ekonomi tentang negeri ini. Para seniman tidak bosan-bosannya berteriak mengumandangkan penyadaran pada para pengelola negara ini, yang dituntut hal mendasar, kesejahteraan sosial untuk semua anak bangsa.

“Perahu Retak” secara metaforis menggambarkan kondisi bangsa Indonesia yang mengalami berbagai masalah dan ketidaksesuaian dalam aspek sosial, politik, dan hukum. Rakyat sangat sensitif terhadap para pengelola negara, akhir-akhir ini karena banyaknya fakta ketimpangan kaya miskin, yang selalu dipertontonkan, kesan glamour para elite saat mengahadiri satu acara atau resepsi tetentu, tampak nyata perbedaan kelas elite dan rakyat kebanyakan.

Buktinya hari ini masih terjadi demonstrasi penyampaian aspirasi untuk menggantikan menteri keuangan yang baru dilantik satu dua hari ini. Hari pertama dianggap publik pernyataannya sudah melukai hati rakyat. Pendemo minta sang menteri mundur dan diganti. Rakyat sedang mudah marah atas ketidakadilan sosial ini.

“Perahu Retak”, menurut pencipta lagu ini, adalah negeri tercinta, di atasnya menumpang rakyat Indonesia dari beragam suku, agama, dan adat-istiadat. Di hadapan perahu itu, kata Franky, membentang cakrawala, kekayaan Nusantara yang seharusnya membawa   kemakmuran, dan kebahagiaan pada penumpangnya. Nahkoda dan kru yang dipercaya memegang kendali perahu dari masa ke masa, belum dapat memenuhi dahaga dan lapar sepenuhnya penumpang, masih belum tersebar merata, muatan logistiknya masih banyak yang dibajak oleh anak buah kapal.

Dalam proses menuju ke sana dikhawatirkan Franky terjadi; keretakan dinding perahu. Tanah Negeri tak lagi menumbuhkan kebahagiaan. Tanah Pertiwi anugerah Ilahi, jangan ambil sendiri. Sawah-sawah juga tak lagi menerbitkan kesejahteraan.

Di sana-sini muncul perpecahan, penyingkiran, diskriminasi, dan ketimpangan. Perahu negeri dibajak oleh segelintir elite penguasa. Sementara mayoritas rakyat penumpang terancam terbuang, terhempas dari perahu besar ini.

Menurut penulis lirik lagu saat itu sudah mulai ada keretakan dinding perahu negeri nampak di segala hal, saat lagu ini ditulis. Negeri dan bangsa Indonesia, yang tersusun dari beragam suku, agama, dan adat-istiadat, mulai terkoyak-koyak akibat berbagai konflik komunal, gerakan separatis Aceh Merdeka, Papua Merdeka. Saat itu terjadi juga konflik kepercayaan agama, seperti penganut Ahmadiyah dan Syiah harus terbuang dari perahu negeri hanya karena perbedayaan keyakinan.

Kemerdekaan beragama dan berkeyakinan juga terusik. Rumah ibadah, tempat penganut agama berhubungan dengan Tuhan-nya, tidak bisa berdiri karena ditolak oleh warga yang terkena hasutan. Lebih parah lagi, beberapa kepala daerah ikut ambil-bagian dalam pelarangan itu.

***

Kebijakan perekonomian dan pembangunan menciptakan tersisihnya mayoritas rakyat dari sumber-sumber kehidupan. Tanah tempat manusia hidup, dan memuliakan dirinya dengan kerja, kini makin terkonsentrasi pada segelintir orang kapitalis dan konglomerat.

Penguasaan lahan yang semena-mena banyak terjadi di negeri ini, sekitar wilayah Jabodetabek, dan di kota-kota besar Indonesia disulap menjadi pemukiman elite, di luar pulau Jawa ribuan hectare hingga ratusan ribu hektare juga dikuasai segelitir pemilik modal disulap perkebunan, hak pengelolaan hutan (HPH). Inilah yang diteriakkan Franky dalam liriknya satu kenyang seribu kelaparan.

Kebijakan ekonomi pembangunan nasional dalam tiga dekade terakhir pasca masuk arus pasar bebas yang sangat kapitalis, juga menyumbangkan keretakan perahu negeri ini. Kue pembangunan tidak merata dinikmati, mayoritas rakyat terpinggirkan dari lapangan produksi, dan menjadi penonton yang lapar dan kehausan di negeri sendri yang subur dan kekayaan alamnya melimpah.

Untuk negeri sebesar dan sekaya Indonesia, tidaklah patut dan pantas rakyatnya mengais-ngais rizki di Negeri Jiran, dan luar negeri lainya.

Lagu ini dapat kita katakan mewakili dan mengiringi perubahan karakter bangsa Indonesia yang sudah mulai luntur semangat gotong royong sebagai simbol representasi nilai luhur Pancasila. Apalagi saat menjelang suksesi kepemimpinan baik nasional maupun daerah, kerap kali muncul narasi-narasi politik identitas, keberagaman Indonesia tercoreng dengan munculnya narasi-narasi rasis, pribumi – nonpribumi, pendatang, kami – mereka dan lain sebagainya.

Cita-cita masa depan, yakni masyarakat adil dan makmur sebagai tujuan nusa damai perahu kita, jangan sampai hilang dari cakrawala kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tak boleh membiarkan hal itu terjadi. Perahu negeri ini, yang dibuat dengan pengorbanan para pejuang kita, tidak boleh jatuh ke tangan kaum serakah dan penguasa yang tidak amanah. Kendali perahu negeri ini harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah: Rakyat Indonesia (https://www.berdikarionline.com/retaknya-perahu-negeriku/)

Dalam Undang-Undang Dasar kita tertulis jelas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 

Artinya, negara bertanggung jawab mengelola sumber daya alam demi kepentingan dan kesejahteraan seluruh rakyat, bukan untuk keuntungan pribadi atau jangka pendek. Tanah pertiwi anugerah Ilahi, jangan ambil sendiri. Tanah pertiwi anugerah Ilahi jangan makan sendiri. Untuk Indonesia jaya berkeadilan sosial. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiFranky Sahilatuanegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Next Post

Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co