13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 16, 2025
in Esai
Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Acara Menejemen Talenta Nasional (MTN) di Minikino Film Week 11 di Denpasar-Bali

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) memang selalu hadir dengan gegap gempita. Karpet merah, gaun mewah, selebrasi kemenangan, hingga gemerlap kamera seakan menjadi simbol kemegahan industri film nasional. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung. Apakah FFI masih relevan sebagai barometer perfilman Indonesia, atau sekadar pesta tahunan yang hanya menebar euforia?

Sorotan publik terhadap FFI kerap lebih tertuju pada panggung seremoni ketimbang ruang refleksi. Padahal, festival film idealnya bukan sekadar pameran glamor, melainkan forum intelektual yang menimbang arah estetika, distribusi, hingga politik kebudayaan dalam sinema.

Salah satu penghargaan yang diberikan tahun ini adalah kategori kritik film. Penghargaan kritik film tahun 2024 itu diberikan kepada ulasan di platform TikTok, terhadap YUNI, salah satu film Indonesia karya Kamila Andini. Pengumuman penerima penghargaan itu pun telah tersiar dan tersebar luas. Terlebih, itu juga disampaikan oleh Ketua Bidang Program FFI, Prilly Latuconsina saat kedatangannya pada Menejemen Talenta Nasional (MTN), yang menjadi bagian dari Minikino Film Week 11 di Denpasar. Prilly hadir bersama Duta FFI 2025, Sheila Dara dan Ringgo Agus Rahman.

“Kritik film tidak harus diunggah dalam blog pribadi atau media-media besar. Paltform seperti Tiktok pun bisa digunakan untuk melakukan kritik film.” Kira-kira begitu secara umum yang disampaikan oleh Prilly ketika mempresentasikan soal FFI, Senin 15 September 2025.

Ya, sekilas langkah ini terlihat progresif. FFI adaptif terhadap tren baru, mencoba merangkul generasi muda, dan memperluas literasi film melalui medium populer. Namun, di sinilah letak persoalannya.

Apakah kritik film seharusnya ditakar berdasarkan popularitas platform atau kedalaman analisis? Kritik sejati adalah kerja intelektual. Kritik maupun ulasan mengurai estetika, menimbang konteks budaya, hingga membedah dampak sosial. Bila penghargaan diberikan lebih karena bentuk penyampaian yang “trendy” ketimbang bobot argumen, kritik film tereduksi menjadi hiburan instan.

Memang benar, kreator muda di TikTok sering menghadirkan perspektif segar dan jujur. Dan bagi saya itu tidak masalah. Justru memunculkan cara baru untuk menyampaikan pendapat atas karya-karya dari para sineas. Namun, jika FFI tidak membedakan antara kritik populer dan kritik mendalam, maka yang hilang adalah standar.

Kritik film berubah jadi konten viral, bukan refleksi intelektual. Solusinya jelas. FFI harus membuat kategori terpisah. Kritik populer berbasis media sosial bisa mendapat ruang, tetapi kritik akademik atau tulisan panjang tetap harus dijaga marwahnya.

Kritik lebih serius terhadap FFI justru muncul ketika kita menyinggung isu struktural. Apakah FFI pernah sungguh-sungguh menyinggung soal distribusi film yang timpang, dominasi modal besar, atau sensor yang membatasi ruang ekspresi? Atau semua itu hilang tertelan gemerlap panggung?

Film-film independen, terutama dari komunitas daerah, kerap membawa gagasan segar dan keberanian estetik yang jarang muncul dalam produksi arus utama. Namun, karya-karya ini sering gagal menembus layar bioskop akibat sistem distribusi yang dikuasai jaringan besar. Jika FFI hanya memberi panggung pada film yang sudah populer karena kekuatan modal, maka festival ini hanya mengafirmasi status quo, bukan menjadi katalis perubahan.

Inilah titik krisis FFI yang terlalu sibuk dengan selebrasi, tetapi abai terhadap masalah-masalah mendasar yang menentukan masa depan perfilman nasional.

Akan tetapi, salah satu poin positif yang sempat disampaikan Prilly Latuconsina, Ketua Bidang Program FFI, adalah bahwa film yang didaftarkan tidak terpaku pada selera juri, melainkan tetap mencerminkan karakter sutradara. Pernyataan ini menegaskan pentingnya menjaga independensi karya sekaligus merayakan keragaman suara.

Artinya, FFI berusaha menjaga independensi karya dan memberi ruang pada keberagaman suara. Baik isu-isu besar yang sedang populer maupun kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat, semuanya berhak mendapat tempat.

“Film yang jujur adalah refleksi sosial sekaligus ekspresi personal,” begitu kata Prilly.

Pernyataan itu turut mendapat dukungan dari Ringgo Agus Rahman sebagai Duta FFI 2025. Kejujuran film itu lebih kepada sebuah film yang lahir dari niat, keresahan, atau gagasan yang otentik dari pembuatnya. Tidak sekadar mengejar tren atau selera pasar, tapi berangkat dari pengalaman nyata, nilai, atau perspektif yang ingin disampaikan.

Kejujuran ini tampak dalam cerita, karakter, dialog, bahkan cara kamera menangkap realitas. Misalnya, film jujur berani memperlihatkan kelemahan tokohnya tanpa menutupi atau memoles berlebihan.

Di samping itu, setiap film yang masuk dalam nominasi FFI, membawa “identitas” yang khas, baik dari sisi estetika, gaya bercerita, maupun sudut pandang.

Warna ini bisa berupa gaya visual (tone warna, sinematografi), bisa juga gaya naratif (alur, humor, drama, kritik sosial), atau bahkan filosofi yang melekat. “Dengan kata lain, setiap film memiliki DNA unik yang membedakannya dari film lain,” begitu kata Ringgo.

Namun, jika yang muncul hanya film-film dengan estetika “aman” atau selera yang dekat dengan sebagian kalangan juri, maka keragaman itu akan kehilangan makna. Publik pun akan menilai FFI hanya sebagai ruang eksklusif, bukan representasi wajah perfilman nasional.

FFI ke depan harus tegas menentukan keberpihakannya. Apakah hanya akan menjadi ruang bagi sineas besar dengan dukungan modal kuat? Atau berani menaruh perhatian pada film-film dari daerah, bahasa lokal, dan komunitas pinggiran yang diproduksi oleh orang-orang baru?

Keberpihakan juga mutlak diperlukan dalam ranah kritik. Kritik yang serius, reflektif, dan mendalam bukan hanya penting bagi sineas, tetapi juga vital bagi publik agar tidak puas dengan penilaian dangkal “bagus” atau “jelek.” Tanpa itu, FFI kehilangan fungsinya sebagai ruang intelektual dan berubah menjadi pesta tahunan tanpa substansi.

Dan saya pun sepakat dengan yang disampaikan Prilly. Kita tidak bisa asal mengkritik. Melakukan kritik pun mesti ada alasan yang logis.

Kita tidak bisa menolak realitas bahwa media sosial adalah bagian dari ekosistem budaya hari ini. TikTok, YouTube, hingga platform streaming memang melahirkan cara baru dalam menonton, mendiskusikan, bahkan memproduksi film. Wajar jika FFI mencoba merangkulnya. Namun, di sinilah pentingnya garis batas. Merangkul yang populer bukan berarti mengorbankan yang substantif.

Festival yang sehat adalah festival yang mampu memelihara standar intelektual sekaligus membuka diri pada dinamika baru. Bisa memberi ruang pada kritik populer, tetapi tetap menjaga kedalaman analisis. Bisa mengakomodasi film digital, tetapi tidak melupakan pentingnya keberlanjutan produksi nasional.

Usmar Ismail—Bapak Perfilman Indonesia—pernah menegaskan bahwa film adalah sarana membangun kesadaran bangsa. Karya-karyanya seperti Lewat Djam Malam atau Tiga Dara bukan hanya hiburan, tetapi refleksi sosial. Itulah semangat awal lahirnya FFI tahun 195. Sebuah keberanian untuk menggali realitas, berpikir kritis, dan merawat keberagaman.

Indonesia dengan ratusan bahasa, suku, dan tradisi adalah gudang cerita yang tak terbatas. Dari Laskar Pelangi hingga Kucumbu Tubuh Indahku, film Indonesia terus membuktikan diri sebagai medium refleksi kebangsaan. Maka, tugas FFI seharusnya jelas. Menjaga keragaman itu, bukan menyeragamkan selera.

Pada akhirnya, FFI bukan hanya soal siapa yang naik panggung dengan piala di tangan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah festival ini ikut membentuk ekosistem film Indonesia yang sehat, beragam, dan bermartabat?

Jika FFI terus terjebak pada seremoni glamor, maka akan kehilangan relevansinya sebagai barometer nasional. Namun, jika berani berpihak—pada keragaman, pada kritik yang serius, pada film independen, pada komunitas daerah—FFI bisa kembali ke rohnya. Bukan pesta selebritas, melainkan panggung intelektual yang membentuk masa depan perfilman Indonesia. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film IndonesiaMinikinoMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Next Post

Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co