23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 16, 2025
in Esai
Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Acara Menejemen Talenta Nasional (MTN) di Minikino Film Week 11 di Denpasar-Bali

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) memang selalu hadir dengan gegap gempita. Karpet merah, gaun mewah, selebrasi kemenangan, hingga gemerlap kamera seakan menjadi simbol kemegahan industri film nasional. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung. Apakah FFI masih relevan sebagai barometer perfilman Indonesia, atau sekadar pesta tahunan yang hanya menebar euforia?

Sorotan publik terhadap FFI kerap lebih tertuju pada panggung seremoni ketimbang ruang refleksi. Padahal, festival film idealnya bukan sekadar pameran glamor, melainkan forum intelektual yang menimbang arah estetika, distribusi, hingga politik kebudayaan dalam sinema.

Salah satu penghargaan yang diberikan tahun ini adalah kategori kritik film. Penghargaan kritik film tahun 2024 itu diberikan kepada ulasan di platform TikTok, terhadap YUNI, salah satu film Indonesia karya Kamila Andini. Pengumuman penerima penghargaan itu pun telah tersiar dan tersebar luas. Terlebih, itu juga disampaikan oleh Ketua Bidang Program FFI, Prilly Latuconsina saat kedatangannya pada Menejemen Talenta Nasional (MTN), yang menjadi bagian dari Minikino Film Week 11 di Denpasar. Prilly hadir bersama Duta FFI 2025, Sheila Dara dan Ringgo Agus Rahman.

“Kritik film tidak harus diunggah dalam blog pribadi atau media-media besar. Paltform seperti Tiktok pun bisa digunakan untuk melakukan kritik film.” Kira-kira begitu secara umum yang disampaikan oleh Prilly ketika mempresentasikan soal FFI, Senin 15 September 2025.

Ya, sekilas langkah ini terlihat progresif. FFI adaptif terhadap tren baru, mencoba merangkul generasi muda, dan memperluas literasi film melalui medium populer. Namun, di sinilah letak persoalannya.

Apakah kritik film seharusnya ditakar berdasarkan popularitas platform atau kedalaman analisis? Kritik sejati adalah kerja intelektual. Kritik maupun ulasan mengurai estetika, menimbang konteks budaya, hingga membedah dampak sosial. Bila penghargaan diberikan lebih karena bentuk penyampaian yang “trendy” ketimbang bobot argumen, kritik film tereduksi menjadi hiburan instan.

Memang benar, kreator muda di TikTok sering menghadirkan perspektif segar dan jujur. Dan bagi saya itu tidak masalah. Justru memunculkan cara baru untuk menyampaikan pendapat atas karya-karya dari para sineas. Namun, jika FFI tidak membedakan antara kritik populer dan kritik mendalam, maka yang hilang adalah standar.

Kritik film berubah jadi konten viral, bukan refleksi intelektual. Solusinya jelas. FFI harus membuat kategori terpisah. Kritik populer berbasis media sosial bisa mendapat ruang, tetapi kritik akademik atau tulisan panjang tetap harus dijaga marwahnya.

Kritik lebih serius terhadap FFI justru muncul ketika kita menyinggung isu struktural. Apakah FFI pernah sungguh-sungguh menyinggung soal distribusi film yang timpang, dominasi modal besar, atau sensor yang membatasi ruang ekspresi? Atau semua itu hilang tertelan gemerlap panggung?

Film-film independen, terutama dari komunitas daerah, kerap membawa gagasan segar dan keberanian estetik yang jarang muncul dalam produksi arus utama. Namun, karya-karya ini sering gagal menembus layar bioskop akibat sistem distribusi yang dikuasai jaringan besar. Jika FFI hanya memberi panggung pada film yang sudah populer karena kekuatan modal, maka festival ini hanya mengafirmasi status quo, bukan menjadi katalis perubahan.

Inilah titik krisis FFI yang terlalu sibuk dengan selebrasi, tetapi abai terhadap masalah-masalah mendasar yang menentukan masa depan perfilman nasional.

Akan tetapi, salah satu poin positif yang sempat disampaikan Prilly Latuconsina, Ketua Bidang Program FFI, adalah bahwa film yang didaftarkan tidak terpaku pada selera juri, melainkan tetap mencerminkan karakter sutradara. Pernyataan ini menegaskan pentingnya menjaga independensi karya sekaligus merayakan keragaman suara.

Artinya, FFI berusaha menjaga independensi karya dan memberi ruang pada keberagaman suara. Baik isu-isu besar yang sedang populer maupun kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat, semuanya berhak mendapat tempat.

“Film yang jujur adalah refleksi sosial sekaligus ekspresi personal,” begitu kata Prilly.

Pernyataan itu turut mendapat dukungan dari Ringgo Agus Rahman sebagai Duta FFI 2025. Kejujuran film itu lebih kepada sebuah film yang lahir dari niat, keresahan, atau gagasan yang otentik dari pembuatnya. Tidak sekadar mengejar tren atau selera pasar, tapi berangkat dari pengalaman nyata, nilai, atau perspektif yang ingin disampaikan.

Kejujuran ini tampak dalam cerita, karakter, dialog, bahkan cara kamera menangkap realitas. Misalnya, film jujur berani memperlihatkan kelemahan tokohnya tanpa menutupi atau memoles berlebihan.

Di samping itu, setiap film yang masuk dalam nominasi FFI, membawa “identitas” yang khas, baik dari sisi estetika, gaya bercerita, maupun sudut pandang.

Warna ini bisa berupa gaya visual (tone warna, sinematografi), bisa juga gaya naratif (alur, humor, drama, kritik sosial), atau bahkan filosofi yang melekat. “Dengan kata lain, setiap film memiliki DNA unik yang membedakannya dari film lain,” begitu kata Ringgo.

Namun, jika yang muncul hanya film-film dengan estetika “aman” atau selera yang dekat dengan sebagian kalangan juri, maka keragaman itu akan kehilangan makna. Publik pun akan menilai FFI hanya sebagai ruang eksklusif, bukan representasi wajah perfilman nasional.

FFI ke depan harus tegas menentukan keberpihakannya. Apakah hanya akan menjadi ruang bagi sineas besar dengan dukungan modal kuat? Atau berani menaruh perhatian pada film-film dari daerah, bahasa lokal, dan komunitas pinggiran yang diproduksi oleh orang-orang baru?

Keberpihakan juga mutlak diperlukan dalam ranah kritik. Kritik yang serius, reflektif, dan mendalam bukan hanya penting bagi sineas, tetapi juga vital bagi publik agar tidak puas dengan penilaian dangkal “bagus” atau “jelek.” Tanpa itu, FFI kehilangan fungsinya sebagai ruang intelektual dan berubah menjadi pesta tahunan tanpa substansi.

Dan saya pun sepakat dengan yang disampaikan Prilly. Kita tidak bisa asal mengkritik. Melakukan kritik pun mesti ada alasan yang logis.

Kita tidak bisa menolak realitas bahwa media sosial adalah bagian dari ekosistem budaya hari ini. TikTok, YouTube, hingga platform streaming memang melahirkan cara baru dalam menonton, mendiskusikan, bahkan memproduksi film. Wajar jika FFI mencoba merangkulnya. Namun, di sinilah pentingnya garis batas. Merangkul yang populer bukan berarti mengorbankan yang substantif.

Festival yang sehat adalah festival yang mampu memelihara standar intelektual sekaligus membuka diri pada dinamika baru. Bisa memberi ruang pada kritik populer, tetapi tetap menjaga kedalaman analisis. Bisa mengakomodasi film digital, tetapi tidak melupakan pentingnya keberlanjutan produksi nasional.

Usmar Ismail—Bapak Perfilman Indonesia—pernah menegaskan bahwa film adalah sarana membangun kesadaran bangsa. Karya-karyanya seperti Lewat Djam Malam atau Tiga Dara bukan hanya hiburan, tetapi refleksi sosial. Itulah semangat awal lahirnya FFI tahun 195. Sebuah keberanian untuk menggali realitas, berpikir kritis, dan merawat keberagaman.

Indonesia dengan ratusan bahasa, suku, dan tradisi adalah gudang cerita yang tak terbatas. Dari Laskar Pelangi hingga Kucumbu Tubuh Indahku, film Indonesia terus membuktikan diri sebagai medium refleksi kebangsaan. Maka, tugas FFI seharusnya jelas. Menjaga keragaman itu, bukan menyeragamkan selera.

Pada akhirnya, FFI bukan hanya soal siapa yang naik panggung dengan piala di tangan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah festival ini ikut membentuk ekosistem film Indonesia yang sehat, beragam, dan bermartabat?

Jika FFI terus terjebak pada seremoni glamor, maka akan kehilangan relevansinya sebagai barometer nasional. Namun, jika berani berpihak—pada keragaman, pada kritik yang serius, pada film independen, pada komunitas daerah—FFI bisa kembali ke rohnya. Bukan pesta selebritas, melainkan panggung intelektual yang membentuk masa depan perfilman Indonesia. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film IndonesiaMinikinoMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Next Post

Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co