2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 16, 2025
in Esai
Festival Film Indonesia: Antara Panggung Gemerlap dan Ruang Kritik

Acara Menejemen Talenta Nasional (MTN) di Minikino Film Week 11 di Denpasar-Bali

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) memang selalu hadir dengan gegap gempita. Karpet merah, gaun mewah, selebrasi kemenangan, hingga gemerlap kamera seakan menjadi simbol kemegahan industri film nasional. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung. Apakah FFI masih relevan sebagai barometer perfilman Indonesia, atau sekadar pesta tahunan yang hanya menebar euforia?

Sorotan publik terhadap FFI kerap lebih tertuju pada panggung seremoni ketimbang ruang refleksi. Padahal, festival film idealnya bukan sekadar pameran glamor, melainkan forum intelektual yang menimbang arah estetika, distribusi, hingga politik kebudayaan dalam sinema.

Salah satu penghargaan yang diberikan tahun ini adalah kategori kritik film. Penghargaan kritik film tahun 2024 itu diberikan kepada ulasan di platform TikTok, terhadap YUNI, salah satu film Indonesia karya Kamila Andini. Pengumuman penerima penghargaan itu pun telah tersiar dan tersebar luas. Terlebih, itu juga disampaikan oleh Ketua Bidang Program FFI, Prilly Latuconsina saat kedatangannya pada Menejemen Talenta Nasional (MTN), yang menjadi bagian dari Minikino Film Week 11 di Denpasar. Prilly hadir bersama Duta FFI 2025, Sheila Dara dan Ringgo Agus Rahman.

“Kritik film tidak harus diunggah dalam blog pribadi atau media-media besar. Paltform seperti Tiktok pun bisa digunakan untuk melakukan kritik film.” Kira-kira begitu secara umum yang disampaikan oleh Prilly ketika mempresentasikan soal FFI, Senin 15 September 2025.

Ya, sekilas langkah ini terlihat progresif. FFI adaptif terhadap tren baru, mencoba merangkul generasi muda, dan memperluas literasi film melalui medium populer. Namun, di sinilah letak persoalannya.

Apakah kritik film seharusnya ditakar berdasarkan popularitas platform atau kedalaman analisis? Kritik sejati adalah kerja intelektual. Kritik maupun ulasan mengurai estetika, menimbang konteks budaya, hingga membedah dampak sosial. Bila penghargaan diberikan lebih karena bentuk penyampaian yang “trendy” ketimbang bobot argumen, kritik film tereduksi menjadi hiburan instan.

Memang benar, kreator muda di TikTok sering menghadirkan perspektif segar dan jujur. Dan bagi saya itu tidak masalah. Justru memunculkan cara baru untuk menyampaikan pendapat atas karya-karya dari para sineas. Namun, jika FFI tidak membedakan antara kritik populer dan kritik mendalam, maka yang hilang adalah standar.

Kritik film berubah jadi konten viral, bukan refleksi intelektual. Solusinya jelas. FFI harus membuat kategori terpisah. Kritik populer berbasis media sosial bisa mendapat ruang, tetapi kritik akademik atau tulisan panjang tetap harus dijaga marwahnya.

Kritik lebih serius terhadap FFI justru muncul ketika kita menyinggung isu struktural. Apakah FFI pernah sungguh-sungguh menyinggung soal distribusi film yang timpang, dominasi modal besar, atau sensor yang membatasi ruang ekspresi? Atau semua itu hilang tertelan gemerlap panggung?

Film-film independen, terutama dari komunitas daerah, kerap membawa gagasan segar dan keberanian estetik yang jarang muncul dalam produksi arus utama. Namun, karya-karya ini sering gagal menembus layar bioskop akibat sistem distribusi yang dikuasai jaringan besar. Jika FFI hanya memberi panggung pada film yang sudah populer karena kekuatan modal, maka festival ini hanya mengafirmasi status quo, bukan menjadi katalis perubahan.

Inilah titik krisis FFI yang terlalu sibuk dengan selebrasi, tetapi abai terhadap masalah-masalah mendasar yang menentukan masa depan perfilman nasional.

Akan tetapi, salah satu poin positif yang sempat disampaikan Prilly Latuconsina, Ketua Bidang Program FFI, adalah bahwa film yang didaftarkan tidak terpaku pada selera juri, melainkan tetap mencerminkan karakter sutradara. Pernyataan ini menegaskan pentingnya menjaga independensi karya sekaligus merayakan keragaman suara.

Artinya, FFI berusaha menjaga independensi karya dan memberi ruang pada keberagaman suara. Baik isu-isu besar yang sedang populer maupun kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat, semuanya berhak mendapat tempat.

“Film yang jujur adalah refleksi sosial sekaligus ekspresi personal,” begitu kata Prilly.

Pernyataan itu turut mendapat dukungan dari Ringgo Agus Rahman sebagai Duta FFI 2025. Kejujuran film itu lebih kepada sebuah film yang lahir dari niat, keresahan, atau gagasan yang otentik dari pembuatnya. Tidak sekadar mengejar tren atau selera pasar, tapi berangkat dari pengalaman nyata, nilai, atau perspektif yang ingin disampaikan.

Kejujuran ini tampak dalam cerita, karakter, dialog, bahkan cara kamera menangkap realitas. Misalnya, film jujur berani memperlihatkan kelemahan tokohnya tanpa menutupi atau memoles berlebihan.

Di samping itu, setiap film yang masuk dalam nominasi FFI, membawa “identitas” yang khas, baik dari sisi estetika, gaya bercerita, maupun sudut pandang.

Warna ini bisa berupa gaya visual (tone warna, sinematografi), bisa juga gaya naratif (alur, humor, drama, kritik sosial), atau bahkan filosofi yang melekat. “Dengan kata lain, setiap film memiliki DNA unik yang membedakannya dari film lain,” begitu kata Ringgo.

Namun, jika yang muncul hanya film-film dengan estetika “aman” atau selera yang dekat dengan sebagian kalangan juri, maka keragaman itu akan kehilangan makna. Publik pun akan menilai FFI hanya sebagai ruang eksklusif, bukan representasi wajah perfilman nasional.

FFI ke depan harus tegas menentukan keberpihakannya. Apakah hanya akan menjadi ruang bagi sineas besar dengan dukungan modal kuat? Atau berani menaruh perhatian pada film-film dari daerah, bahasa lokal, dan komunitas pinggiran yang diproduksi oleh orang-orang baru?

Keberpihakan juga mutlak diperlukan dalam ranah kritik. Kritik yang serius, reflektif, dan mendalam bukan hanya penting bagi sineas, tetapi juga vital bagi publik agar tidak puas dengan penilaian dangkal “bagus” atau “jelek.” Tanpa itu, FFI kehilangan fungsinya sebagai ruang intelektual dan berubah menjadi pesta tahunan tanpa substansi.

Dan saya pun sepakat dengan yang disampaikan Prilly. Kita tidak bisa asal mengkritik. Melakukan kritik pun mesti ada alasan yang logis.

Kita tidak bisa menolak realitas bahwa media sosial adalah bagian dari ekosistem budaya hari ini. TikTok, YouTube, hingga platform streaming memang melahirkan cara baru dalam menonton, mendiskusikan, bahkan memproduksi film. Wajar jika FFI mencoba merangkulnya. Namun, di sinilah pentingnya garis batas. Merangkul yang populer bukan berarti mengorbankan yang substantif.

Festival yang sehat adalah festival yang mampu memelihara standar intelektual sekaligus membuka diri pada dinamika baru. Bisa memberi ruang pada kritik populer, tetapi tetap menjaga kedalaman analisis. Bisa mengakomodasi film digital, tetapi tidak melupakan pentingnya keberlanjutan produksi nasional.

Usmar Ismail—Bapak Perfilman Indonesia—pernah menegaskan bahwa film adalah sarana membangun kesadaran bangsa. Karya-karyanya seperti Lewat Djam Malam atau Tiga Dara bukan hanya hiburan, tetapi refleksi sosial. Itulah semangat awal lahirnya FFI tahun 195. Sebuah keberanian untuk menggali realitas, berpikir kritis, dan merawat keberagaman.

Indonesia dengan ratusan bahasa, suku, dan tradisi adalah gudang cerita yang tak terbatas. Dari Laskar Pelangi hingga Kucumbu Tubuh Indahku, film Indonesia terus membuktikan diri sebagai medium refleksi kebangsaan. Maka, tugas FFI seharusnya jelas. Menjaga keragaman itu, bukan menyeragamkan selera.

Pada akhirnya, FFI bukan hanya soal siapa yang naik panggung dengan piala di tangan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah festival ini ikut membentuk ekosistem film Indonesia yang sehat, beragam, dan bermartabat?

Jika FFI terus terjebak pada seremoni glamor, maka akan kehilangan relevansinya sebagai barometer nasional. Namun, jika berani berpihak—pada keragaman, pada kritik yang serius, pada film independen, pada komunitas daerah—FFI bisa kembali ke rohnya. Bukan pesta selebritas, melainkan panggung intelektual yang membentuk masa depan perfilman Indonesia. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film IndonesiaMinikinoMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Next Post

Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Ajeg Bali: Ranah Liminal, Partisipasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co