“Taluh goreng ade hasil” (mending goreng telur, hasilnya jelas)
Mungkin ini adalah ungkapan yang sering terlontar dari warga yang enggan untuk menyuarakan pendapatnya terkait isu sosial di sekitar mereka. Bagi mereka, tidak ada urgensi untuk ikut campur dalam hal politik maupun kebijakan pemerintah karena yang terpenting adalah tetap fokus bekerja dan ber-yadnya (bagi umat Hindu).
Lantas, bagaimana jika suatu hari nanti masyarakat tak bisa membeli telur dan minyak goreng? Apakah mereka akan tetap bisa mendapatkan hasil yang selama ini mereka yakini?
Mari kita merenung sebentar. Kita harus memahami bahwa setiap aspek dalam kehidupan kita tak luput dari kebijakan publik dan kebijakan politis. Misalnya, harga kebutuhan primer di pasar, biaya pendidikan, upah gaji karyawan, iuran pajak, biaya kesehatan dan masih banyak lagi. Seluruh aspek tersebut merupakan hasil observasi, diskusi dan ekseskusi daripada pemerintah yang katanya sudah mendengar aspirasi masyarakat. Tapi nyatanya, selama ini kebijakan yang dihasilkan tetaplah tak sepenuhnya memihak pada kepentingan masyarakat.
Beberapa pekan terakhir, kondisi politik yang terjadi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ketidakpuasan masyarakat terkait kinerja pemerintah menjadi pemicu utama terjadinya konflik di beberapa daerah termasuk Bali. Bali dengan segudang permasalahan yang ada di antaranya isu lingkungan, pariwisata, pendidikan, kesehatan dan lain-lain masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah daerah. Beberapa lapisan masyarakat pun turun ke jalan menyalurkan aspirasi dan keluh kesah mereka terhadap polemik yang ada. Mereka berdemo sebagai perwakilan masyarakat lainnya yang tidak dapat mengikuti aksi untuk turun ke jalan.
-Lalu, kemana masyarakat lain yang tidak ikut berdemo?
Ada pihak yang memperjuangkan suaranya melalui media sosial dengan cara menggunggah tiap kondisi yang ada di sekitar mereka atau sekadar merepost unggahan dan menambahkan #tagar sebagai bentuk rasa persatuan dan menaikkan #tagar tersebut agar menjadi populer di media sosial. Sisanya, sama sekali tidak berkomentar apapun dan lebih nyaman menjadi pembaca dan penonton dari situasi yang ada.
Mari kita berfokus pada pihak yang tidak berkomentar aktif tentang situasi di Bali saat ini. Mari kita mulai dengan pertanyaan
“Mengapa masih ada masyarakat Bali yang ngekoh ngomong (malas berbicara)?”
Masyarakat Bali selalu diberi label sebagai masyarakat yang cinta damai, enggan membuat onar dan ramah. Entah apakah label ini merupakan pujian atau sindiran, semua bergantung dari kondisi dan situasi yang sedang terjadi. Namun, saat ini sepertinya label “BALI CINTA DAMAI” menjadi sebuah kalimat sarkas terhadap masyarakat Bali itu sendiri.
Baiklah, kembali ke pertanyaan di atas. Menurut saya, ada satu alasan utama mengapa sebagian masyarakat Bali masih bersikap apatis dan enggan bersuara terkait isu-isu yang ada di sekitar mereka. Alasan utamanya yaitu mindset atau pola pikir. Orang-orang yang sudah berupaya menyuarakan aspirasi mereka baik melalui turun langsung ke jalan ataupun melalui media sosial adalah golongan masyarakat yang mampu melihat dampak kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah untuk jangka penjang ke depannya. Sedangkan, golongan masyarakat yang tak acuh adalah mereka yang tak mampu berpikir jauh akan dampak kebijakan publik yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini terhadap kehidupan mereka bahkan anak cucu mereka kelak.
Lalu, munculah pertanyaan berikutnya
“Sampai kapan masyarakat Bali akan ngekoh ngomong?”
Sampai setidaknya kita semua sebagai masyarakat Bali memiliki tiga hal ini; Common Needs, Common Purpose dan Common Enemy. Masyarakat sudah ada pada titik mereka tahu apa yang mereka butuhkan dari situasi yang terjadi saat ini (common needs) lalu berangkat dari kebutuhan yang sama akan menuju ke arah tujuan yang sama (common purpose) entah itu sebuah tindakan yang bersifat masif atau sebuah gagasan yang mampu memutar balik keadaan yang terarah pada satu musuh yang sama (common enemy).
Ketika ketiga hal ini telah dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat maka tak ada lagi suara masyarakat yang terpecah menjadi dua atau lebih. Masyarakat Bali pastinya akan bersatu berada pada jalur yang sama untuk membuat sebuah perubahan di pulau Dewata ini. [T]
Penulis: Nata Kusuma
Editor: Adnyana Ole


























