Tulisan ini adalah sejumlah catatan dari acara Diskusi Kosakata: Proses Kreatif Emi Suy – “Perempuan Penjahit Luka” menghadirkan tokoh-tokoh sastra dan budaya yang akan menuntun audiens menyelami dunia puisi.
Acara itu menghadirkan saya, Emi Suy, penyair yang dikenal sebagai “Perempuan Penjahit Luka” Dalam acara ini saya berbagi pengalaman menulis dan proses kreatifnya.
Ada juga Helvi Tiana Rosa – Penulis dan pengamat sastra, memberikan perspektif atas karya-karya Emi Suy dan konteks budaya di sekitarnya, dan Imam Maarif – Praktisi sastra dan budaya, menyoroti hubungan antara teks, audiens, dan pengalaman estetis.

Sementara itu, proses kreatif Emi Suy juga dianalisis secara mendalam oleh Riri Satria melalui naskah Kisah Sepuluh Buku Emi Suy, yang menelusuri perjalanan kepenyairan Emi dari buku pertama hingga buku terbaru, termasuk refleksi dan pemaknaan sunyi dalam puisinya. Diskusi dipandu oleh Octavianus Masheka sebagai moderator.
1. Membaca Diri Lewat Mata Riri Satria
Membaca esai Riri Satria tentang saya terasa seperti bercermin di air yang bening. Saya melihat wajah saya, tetapi juga kedalaman yang sering kali tak sanggup saya tatap sendiri. Riri menuliskan perjalanan kepenyairan saya dengan runtut—dari Tirakat Padam Api hingga gagasan Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri. Dari balik uraiannya, saya menemukan diri saya sedang dibaca dengan cara lain: lebih objektif, lebih terang, lebih jernih daripada yang biasa saya lakukan terhadap diri saya sendiri.
Ia menyebut buku pertama saya sebagai semangat awal seorang penyair muda. Saya teringat betapa “tirakat” memang jalan sunyi saya sejak mula: menulis bukan sekadar hobi, melainkan laku hidup. Puisi hadir sebagai cara memadamkan api di dada yang kerap membakar tanpa henti. Kini ketika menoleh ke belakang, saya tahu: api itu tidak benar-benar padam, ia justru berubah menjadi cahaya kecil yang menuntun langkah.

Riri Satria
Riri juga menuliskan dengan puitis tentang trilogi sunyi saya: Alarm Sunyi, Ayat Sunyi, dan Api Sunyi. Baginya, alarm adalah paradoks dari sunyi, ayat adalah doa lirih, dan api adalah energi dalam keheningan. Saya membaca catatan itu dengan getar. Ya, benar—saya memang selalu kembali pada kata “sunyi.” Bagi saya, sunyi bukan sekadar kesepian, melainkan ruang batin, ruang doa, ruang ziarah diri.
Ketika ia menyinggung Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami, dada saya terasa hangat. Buku itu memang persembahan paling intim: tentang ibu, dapur, dan perjalanan usia. Saat Riri menyebutnya personal, saya tahu ia membaca tepat ke jantung saya. Menulis tentang ibu sama dengan menulis tentang kehidupan itu sendiri—sederhana, penuh kerja keras, penuh kasih, dan diam-diam meneguhkan ketabahan.
Kolaborasi saya dengan Riri dalam Algoritma Kesunyian adalah bukti bahwa puisi bisa dibaca sebagai pola. Saya sendiri tidak pernah menyadari betapa doa, luka, cinta, dan sunyi begitu berulang dalam karya-karya saya. Dialah yang memberi nama “algoritma.” Dari situ saya mengerti, setiap penyair tanpa sadar sedang menuliskan peta batinnya sendiri.
Membaca tulisan Riri membuat saya sadar: seorang penyair mungkin menulis untuk dirinya, tetapi karyanya selalu akan dibaca orang lain dengan cara mereka sendiri. Dan justru dari pembacaan itulah saya belajar membaca diri saya kembali.
2. Menuju Kota Sunyi: Membaca Diri Lewat Mata Imam Ma’arif
Membaca tulisan Imam Ma’arif tentang perjalanan saya, saya merasa seperti menatap cermin yang tak hanya memantulkan wajah, tapi juga masa lalu, kegagalan, kerikil-kerikil kecil yang pernah menggores telapak, bahkan cahaya redup yang dulu saya kira tak akan pernah menjadi terang.
Saya masih bisa mengingat malam itu—Planet Senin, 2008—ketika saya membawa segepok puisi, atau tepatnya segepok kegagapan yang saya sebut puisi. Di wajah saya, kata Imam, terlihat harapan agar ia segera mengomentari. Saya, perempuan muda yang masih penuh ragu, menyerahkan kertas-kertas itu seperti orang yang menyerahkan rahasia paling rapuh dari dirinya.
Kini saya menyadari: yang menyelamatkan bukanlah pujian atau kritik, melainkan kelembutan untuk tidak mematahkan langkah awal seseorang. Seandainya saat itu Imam berkata, “ini bukan puisi,” mungkin saya akan pulang membawa luka yang terlalu berat. Tapi Imam memilih jalan lain—jalan yang membuat saya tetap percaya pada kata.

Imam Ma’arif
Imam membaca saya dengan istilah yang indah: “menuju kota sunyi.” Saya merenungkannya lama. Sunyi, bagi saya, memang telah berubah wujud. Dulu, sunyi adalah keluhan. Tapi semakin jauh saya berjalan, sunyi berubah menjadi kota yang harus saya masuki. Kota itu bukan lagi pelarian, melainkan rumah.
Di kota itu, saya belajar membedakan dua macam sunyi: sunyi situasi—lahir dari dunia yang gaduh, tapi tubuh memilih diam; dan sunyi batin—lahir dari keterasingan, dari pertanyaan eksistensial: siapa aku, dari mana aku datang, mau ke mana aku menuju? Sunyi batin adalah luka yang berubah menjadi doa.
Imam menyebut saya telah memegang tiket menuju kota sunyi. Tiket itu bukan tanda masuk, melainkan tanda kesiapan untuk kehilangan. Sebab di kota sunyi, kita belajar melepaskan segalanya: nama, kebanggaan, bahkan suara sendiri. Yang tersisa hanya percakapan hening antara jiwa dengan sesuatu yang lebih besar.
Tulisan Imam bukan sekadar catatan tentang perjalanan saya. Ia adalah cermin yang membuat saya harus jujur: bahwa puisi bukanlah tujuan, melainkan jalan. Jalan yang kadang lengang, kadang terjal, kadang penuh cahaya, kadang hanya diliputi kabut. Dan pada jalan itulah saya berjalan—menuju kota sunyi, tempat di mana akhirnya saya belajar: diam pun bisa berbicara, luka pun bisa menyembuhkan, dan kehilangan pun bisa menjadi rumah.
3. Menyimak Diri Lewat Mata Helvy Tiana Rosa
Membaca esai Helvy Tiana Rosa tentang puisiku, aku merasa sedang bercermin di sungai yang airnya tak pernah tenang. Kadang bayangan itu jernih, kadang beriak, kadang justru membuatku menemukan wajah yang selama ini tak kusadari ada dalam diriku.
Helvy menyebut puisiku lirih, subtil, dan domestik. Benar, aku memang tidak pandai menjerit. Aku tumbuh dari tanah yang lebih sering mengajarkan sabar daripada bicara keras. Dari ibu yang menanak nasi dengan doa, dari hujan yang turun tanpa aba-aba, dari kopi pahit yang harus diminum pelan-pelan.
Tetapi ketika Helvy membacanya dengan mata seorang peneliti, seorang sahabat, seorang perempuan yang berpengalaman mengolah luka dengan kata, aku tersentak. Kukusan yang kutulis bukan sekadar kukusan; ia tubuh doa. Sunyi yang kucatat bukan sekadar kesepian; ia organisme yang beranak pinak. Apa yang kulakukan dengan intuisi ternyata bisa dipetakan Helvy dengan jejaring semiotik, feminisme, bahkan sufistik.

Helvy Tiana Rosa
Dan yang lebih mengharukan, aku mendapatkan puisi persembahan darinya. Helvy membacakannya di atas panggung, di hadapan audiens yang hening. Saat itu aku merasa, puisi bukan lagi sekadar teks, melainkan tubuh yang hidup: bergetar, berdenyut, menyapa satu per satu hati yang hadir.
SUARA SUNYI
(untuk Emi Suy)
oleh Helvy Tiana Rosa
I
Perempuan harus menulis,
seperti kukusan di dapur menanak usia,
seperti doa yang menetes dari genteng kala hujan.
Tanpa suara itu, sejarah hanya separuh:
ruang tamu penuh kursi laki-laki,
tanpa tikar yang masih menyimpan
aroma tangan ibu.
II
Puisi perempuan adalah tubuh yang patah,
menyala jadi lampu di meja belajar anak-anak.
Ia mengukur luka dengan sendok sayur,
menguleni kehilangan menjadi roti,
menjahit kembali nama-nama yang tercerai
di rak dapur.
Dalam setiap baitmu,
aku mendengar bumi belajar menua
dengan cara yang lebih sabar.
III
Karena itu, perempuan perlu menulis:
agar kata menjadi jembatan
antara sunyi yang bening
dan riuh dunia yang mudah alpa.
Puisi adalah cara kita berdiri
di meja rapat yang tak selalu menyisakan kursi.
Dan aku percaya,
setiap kali kita menulis,
separuh bumi yang diam
kembali punya suara.
(Jakarta, 6 September 2025)
Epilog
Membaca diri melalui mata Riri Satria, Imam Ma’arif, dan Helvy Tiana Rosa membuat saya belajar satu hal penting: penyair tidak pernah sepenuhnya menulis untuk dirinya sendiri. Setiap puisi, setiap esai, setiap kata yang lahir akan menemukan pembacanya, lalu kembali dengan wajah baru.
Saya menulis dari sunyi, tapi ternyata sunyi itu bisa bergema melalui mata orang lain. Saya menulis dari luka, tapi ternyata luka itu bisa dibaca sebagai jalan kesembuhan. Saya menulis dari dapur kecil ibu, tapi ternyata api pawon itu bisa menerangi panggung yang lebih luas.


Acara Diskusi Kosakata: Proses Kreatif Emi Suy – “Perempuan Penjahit Luka”
Pada akhirnya, menulis bagi saya bukan sekadar kerja mencatat, melainkan kerja membiarkan diri dibaca kembali oleh siapa pun yang bersedia menatap dengan mata yang jernih, penuh cinta. Dari mata-mata yang mencinta itu, saya menemukan kembali diri saya yang sesungguhnya.
Mungkin itulah hakikat puisi: ia bukan milik saya seorang. Ia milik semua mata yang mencintai, semua telinga yang mau mendengar, semua hati yang bersedia ditempa oleh kata. Jika hari ini saya disebut “penyair penjahit luka,” maka sesungguhnya jarum dan benang itu bukan milik saya, melainkan milik kita bersama. Kita menjahit dunia yang robek dengan kata-kata yang sederhana, dengan doa yang lirih, dengan cinta yang tak pernah selesai dituliskan. [T]
Jakarta, 7 September 2025
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole
Catatan tamabahan:
Emi Suy adalah nama pena dari Emi Suyanti, lahir di Magetan, Jawa Timur, 2 Februari. Dia adalah perempuan penyair di Indonesia yang namanya terdapat dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia pada tahun 2018, serta Apa Siapa Perempuan Pengarang Penulis Indonesia yang diterbitkan oleh Kosa Kata Kita atau KKK pada tahun 2024.
Emi telah menerbitkan sejumlah buku, yaitu Tirakat Padam Api (kumpulan puisi, 2011), Alarm Sunyi (kumpulan puisi, 2017), Ayat Sunyi (kumpulan puisi, 2018), Api Sunyi (kumpulan puisi, 2020), Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (kumpulan puisi, 2022), Interval (kumpulan esai, 2023), serta Algoritma Kesunyian (kumpulan puisi bersama Riri Satria, 2023). Selain itu, puisinya juga telah tersebar di sejumlah media massa, antara lain Kompas, Media Indonesia, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, serta Pikiran Rakyat. Puisi karya Emi Suy juga diterbitkan di lebih dari 200 buku antologi bersama para penyait lainnya.

Emi Suy
Selain menulis puisi, Emi juga menekuni fotografi dan melukis. Karya fotografinya terpilih untuk ikut pameran Fotografi Nasional bertajuk The Power of Woman yang digelar di Bandung tahun 2016. Sementara itu lukisannya terpilih untuk ikut pameran lukisan Kecil itu Keren (KIK) 2025 yang diikuti 500 perupa dari 13 negara, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, bersama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta Indonesian Visual Artists Community (IVA).
Emi Suy juga menerima sejumlah penghargaan, yaitu 6 Besar Buku Terbaik Perpustakaan Nasional RI Kategori Buku Puisi tahun 2019 melalui Buku Ayat Sunyi, Basa-Basi Award 2019 melalui buku Ayat Sunyi, serta 25 Nominasi Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2020 melalui buku Api Sunyi.
Emi tampil baca puisi pada beberapa festival sastra antara lain Pertemuan Penyair Nusantara XII di Kudus, Jawa Tengah, Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, serta Temu Penyair Asia Tenggara II di Padangpanjang, Sumatera Barat.
Emi Suy adalah salah seorang pendiri dan aktivis sosial kemanusiaan di Komunitas Jejak Langkah, serta salah seorang pendiri Jagat Sastra Milenia (JSM). Saat ini bergiat di Komunitas Kosakata Jakarta Barat. [T]





























