SUASANA pagi di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, Jumat, 5 September 2025, tampak berbeda. Sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar, berubah menjadi arena budaya. Keadaan tampak riuh, para siswa sibuk menata bahan lawar dan buah-buahan berwarna cerah untuk gebogan. Semua itu berlangsung sehari menjelang Hari Suci Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan yang dirayakan umat Hindu di Bali.
Kali ini, peringatan Hari Suci Saraswati di SMK Kesehatan Bali Medika tidak hanya diisi dengan persembahyangan, tetapi juga lomba ngelawar dan lomba membuat gebogan canang sari sehari sebelumnya. Dua kegiatan itu bukan sekadar perlombaan, melainkan juga bagian dari mempersiapkan sarana upacara. Lawar dan gebogan (sarana upacara berupa rangkaian buah, bunga, dan janur) yang dibuat siswa turut menjadi bagian persembahan.
Sejak pagi, alas-alas duduk sudah ditata. Di atasnya berjejer aneka bahan: daging, nangka, hingga bumbu lengkap Bali (basa genep). Begitu mulai diolah, aroma rempah segera menyebar. Peserta lomba ngelawar, yang sebagian besar adalah perempuan, tampak serius menakar bumbu, mencampur adonan, bahkan sesekali menengok video tutorial agar komposisi tetap pas dan tidak salah langkah.

Lomba ngelawar memperingati Hari Suci Saraswati di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Di sisi lain, tak jauh dari lomba ngelawar, peserta lomba gebogan berfokus pada tumpukan buah dan bunga. Pisang, jeruk, apel, dan bunga warna-warni ditata sedemikian rupa, dihias dengan sampian (hiasan janur) agar semakin cantik. Tantangan terbesar mereka adalah membuat susunan tinggi yang tetap seimbang sekaligus kokoh.
Bagi sebagian siswa, lomba ini menghadirkan pengalaman baru sekaligus cara belajar budaya secara langsung. I Gede Agus Prawira Adinata, salah seorang peserta lomba ngelawar, mengaku antusias. “Perlombaannya seru sekali, terutama saat ngelawar. Kegiatan ini bagi saya sangat penting agar para siswa semakin tertarik pada masakan tradisional. Tantangan yang saya hadapi sendiri, yaitu bahan-bahan yang agak sulit dicari,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta lomba gebogan, Ni Made Laksmita Prabawa Astri merasakan hal serupa. “Rasanya senang dan lega bisa ikut lomba, meskipun ada sedikit kecewa karena belum bisa nues sampian (memotong/mempersiapkan hiasan janur) gebogan dengan rapi. Dari lomba ini saya jadi tahu, ternyata tidak mudah membuat gebogan yang cantik. Butuh kesabaran, ketelitian, dan banyak belajar,” terangnya.


Lomba membuat gebogan canang sari memperingati Hari Suci Saraswati di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Pernyataan para peserta menunjukkan, lomba tidak hanya menjadi ajang menyalurkan kreativitas, tetapi juga sarana pembelajaran praktis tentang tradisi Bali. Semua pengalaman itu semakin bermakna ketika Hari Saraswati, Sabtu, 6 September 2025. Setelah persembahyangan usai dilaksanakan, pengumuman hasil lomba menjadi bagian yang ditunggu-tunggu.
Seusai persembahyangan, panitia mengumumkan pemenang lomba. Untuk gebogan canang sari, juara I berhasil diraih kelas XI KC 3, disusul XII FKK sebagai juara II, dan XII KC 1 di posisi juara III. Sementara itu, lomba ngelawar dimenangkan oleh kelas XI KC 3 sebagai juara I, juara II oleh XII KC 3, dan juara III oleh XII FKK. Pengumuman ini sekaligus menutup rangkaian kegiatan perayaan Saraswati di sekolah.

Para pemenang lomba bersama Kepala Sekolah (tengah)│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Kepala SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., menjelaskan makna di balik kegiatan tersebut. “Lomba-lomba yang kami adakan dalam rangka memperingati Hari Suci Saraswati bertujuan menjaga budaya Bali, terutama semangat menyama braya. Melalui kegiatan ngelawar dan membuat gebogan, nilai gotong royong bisa ditanamkan sejak di bangku sekolah, sehingga kelak dapat diterapkan di masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menegaskan, lomba yang digelar bukan hanya melatih keterampilan, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan serta tanggung jawab untuk melestarikan tradisi. Di tengah derasnya arus modernisasi, pengalaman ini menjadi bekal penting bagi generasi muda. Hari Saraswati di sekolah pun hadir bukan sekadar lewat doa, tetapi juga lewat karya nyata yang mencerminkan rasa syukur, kreativitas, dan solidaritas. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























