22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Rasis, Benarkah?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 5, 2025
in Esai
Orang Bali Rasis, Benarkah?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BEBERAPA waktu lalu Denpasar kembali menjadi panggung demonstrasi. Massa yang menamakan diri Bali Tidak Diam turun ke jalan, menyuarakan keresahan atas kebijakan dan situasi sosial yang mereka anggap tak adil. Seperti banyak aksi sebelumnya, benturan terjadi. Namun yang lebih menyesakkan bukan sekadar kericuhan, melainkan pernyataan yang lahir setelahnya.

Seorang pejabat publik dalam pertemuan dengan aparat daerah dan perwakilan driver ojek online mengatakan bahwa dari 25 orang yang ditahan, hanya tiga yang ber-KTP Bali. Ia kemudian menyimpulkan, “berarti ini sudah disusupi”. Pernyataan ini terasa sederhana, namun sesungguhnya sarat stigma. Seolah-olah mereka yang KTP-nya bukan Bali otomatis menjadi biang masalah.

Nada serupa terdengar dari pejabat publik lain. Dalam narasi yang dikutip Balebengong.id, ia menyatakan bahwa meski ada yang ditangkap ber-KTP Bali, mereka tidak bisa dianggap orang Bali sejati. Kalimat yang diucapkan di ruang internal itu menyebar luas, menimbulkan tanda tanya dan amarah. Sejak kapan keaslian diukur sebatas garis identitas administratif atau darah murni?

Koalisi advokasi sipil seperti LBH Bali dan aliansi warga Bali yang tergabung dalam Forum Warga Setara (ForWaras) segera menanggapi. Dalam jumpa pers pada Selasa, 2 September 2025 di Denpasar, mereka menyebut narasi itu berbahaya karena mengaburkan substansi tuntutan dan membelah solidaritas. LBH menuntut pemeriksaan etik terhadap pejabat yang melontarkan pernyataan bernada diskriminatif. Catatan lapangan jurnalis warga juga merekam bahwa saat penangkapan, pertanyaan pertama yang diajukan bukan “apa yang kamu lakukan”, melainkan “KTP-mu dari mana”. Bukankah ini sudah menunjukkan bagaimana identitas dipakai sebagai kacamata utama?

Namun, benarkah orang Bali rasis?

Saya tidak tergesa-gesa menjawab iya. Sebab pengalaman keseharian menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Saya teringat pada dua kabupaten di ujung barat dan utara Bali yakni Jembrana dan Buleleng. Di sana, kehidupan heterogen sudah berlangsung berabad-abad. Komunitas Bugis mendirikan kampung Loloan sejak abad ke-17. Orang Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa hidup berdampingan. Mereka saling bertegur sapa, menikah silang, berbagi rejeki di pasar, dan menjaga harmoni. Tak ada yang merasa lebih tinggi hanya karena lahir dari rahim berbeda. Toleransi bukan jargon, melainkan praktik keseharian.

Lalu mengapa kini muncul kesan kuat bahwa orang Bali rasis? Saya kira jawabannya terletak pada konstruksi wacana yang dibangun sejak dua dekade terakhir. Mari kita mundur ke 2002, tahun gelap ketika Bom Bali I merenggut ratusan nyawa. Trauma kolektif itu melahirkan sebuah semboyan, yakni Ajeg Bali. Di televisi, radio, baliho, dan media cetak, frasa ini dielu-elukan. Ajeg Bali digadang sebagai benteng untuk melindungi adat, budaya, dan identitas dari guncangan globalisasi maupun ancaman luar.

Pada awalnya, siapa bisa menolak niat baik menjaga budaya? Namun kritik segera muncul. Para intelektual Bali mengingatkan, definisi “ajeg” yang berarti tegak, kokoh, ternyata tidak jelas. Sugi Lanus, filolog yang tekun membaca lontar, dan I Ngurah Suryawan, antropolog asal Bali, dalam banyak tulisannya mengkritik gerakan Ajeg Bali yang mudah tergelincir pada eksklusivitas.

Ajeg Bali menimbulkan stereotipe baru, yakni, membedakan “Nak Bali” (orang Bali asli) dan “Nak Jawa” (pendatang). Media massa arus utama ikut menggaungkan dikotomi itu. Identitas yang seharusnya cair malah menjadi sekat yang kaku.

Beberapa tahun kemudian, seorang politisi yang kini duduk di lembaga perwakilan daerah mempopulerkan istilah “Nak Dauh Tukad” dan “Nak Dangin Tukad”. Kiasan geografis ini pada hakikatnya membelah lagi, yang di seberang sungai dan yang di sini. Politisi ini rajin menyuarakannya di media sosial, menjadikannya semacam branding politik.

Di satu sisi, ia dianggap vokal membela kepentingan lokal; di sisi lain, ia memperkuat politik identitas yang menanamkan curiga pada siapa pun yang tidak masuk kategori “Bali murni”.

Saya melihat kontinuitas wacana inilah yang kemudian berbuah pada pernyataan pejabat publik pasca-demonstrasi. Bahasa membentuk cara pandang. Lama-lama, framing bahwa Bali selalu disusupi dan diganggu orang luar dianggap wajar. Padahal, jika menoleh ke sejarah, Bali justru tumbuh dengan asimilasi. Hindu datang dari India melewati Jawa. Islam hadir lewat perantau Bugis di Jembrana. Kristen dibawa misionaris ke Buleleng. Unsur Tionghoa sudah lama mewarnai seni dan kuliner Bali, dan Bali yang kita kenal hari ini bukanlah entitas tunggal, melainkan hasil percampuran panjang.

Sugi Lanus dalam tulisannya di Tatkala.co (2 September 2025) menegaskan bahwa rasisme bertentangan dengan ajaran leluhur Bali. Tulisan ini menyoroti bagaimana rasa terancam secara ekonomi maupun teritorial bisa melahirkan sikap dekaden dalam masyarakat Bali.

Namun, apabila masyarakat mampu membuka hati dan menghayati ajaran kearifan lokal seperti sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, serta semangat saling asah, asih, asuh sebagai prinsip humanisme universal, maka Bali dapat mencapai kejayaan, yakni Bali hita lan maharddhika. Sebaliknya, jika ajaran-ajaran luhur itu hanya dimaknai sebatas hubungan internal antar orang Bali, maka yang terjadi adalah dekadensi kultural yang mendalam. Menghadirkan rasisme ke dalam Bali sama artinya dengan mengkhianati warisan spiritual itu.

Tentu, saya tidak menutup mata. Ada sebagian orang Bali yang merasa nyaman dengan polarisasi identitas. Mereka menganggap penguatan adat dan budaya mesti ditempuh dengan garis tegas bahwa siapa orang Bali, siapa bukan. Tapi lebih banyak lagi yang bersikap netral, bahkan menolak cara pandang sempit itu. Warga di daerah heterogen sudah membuktikan, hidup rukun jauh lebih bermakna daripada sibuk memilah darah siapa lebih asli.

Kita juga harus jujur mengakui peran media. Dari Ajeg Bali sampai wacana politisi identitas, media berperan besar membentuk opini publik. Istilah-istilah yang lahir lalu digoreng di televisi atau media daring menciptakan persepsi bahwa Bali selalu terancam dari luar. Padahal ancaman terbesar justru muncul dari dalam, yakni ketika kita lupa bahwa keberagaman adalah napas kehidupan Bali.

Maka pertanyaan awal kembali menggema; orang Bali rasis, benarkah? Saya tetap menjawab tidak. Yang rasis bukanlah orang Bali secara keseluruhan, melainkan segelintir wacana dan elite yang menungganginya. Bahaya sesungguhnya adalah ketika wacana itu dibiarkan tanpa kritik, lalu dianggap kebenaran umum. Dari situ, lahir generasi muda yang menginternalisasi curiga dan benci.

Di tengah situasi ini, penting bagi kita mengingat sejarah panjang pluralitas Bali. Sejarah kampung Loloan di Jembrana, harmoni umat di Buleleng, akulturasi seni yang tak pernah berhenti—semua itu menegaskan bahwa Bali sejati bukanlah pulau eksklusif, melainkan persilangan peradaban.

Pernyataan pejabat publik tentang KTP non-Bali harusnya menjadi alarm. Jangan sampai cara pandang itu mengeras menjadi norma. Jika tidak, kita berisiko kehilangan esensi Bali sebagai tempat di mana toleransi, akulturasi, dan keterbukaan pernah dan seharusnya tetap tumbuh.

Leluhur Bali tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci sesama. Seperti diingatkan Sugi Lanus, rasisme tidak punya tempat dalam ajaran Bali. Yang ada adalah semangat saling asah, asih, asuh sebagai prinsip humanisme universal serta mengajak kita melihat diri dalam diri orang lain. Jika nilai ini kita jalankan, stigma rasis yang kini menempel bisa kita patahkan. Bali layak tetap menjadi rumah bersama, bukan ruang eksklusif. Dan tugas kita adalah memastikan rumah itu tidak runtuh oleh racun politik identitas. [T]

Referensi:

  1. Liputan6.com, “Dari 25 Orang Diamankan, Hanya 3 yang KTP Bali, Artinya Disusupi,” 31 Agustus 2025.
  2. Balebengong.id, “Pejabat Publik Lontarkan Narasi Rasis Pasca Aksi Bali Tidak Diam,” 2 September 2025.
  3. Kabar24 Bisnis.com, “LBH: 31 Orang Ditangkap dalam Aksi Bali Tidak Diam, 7 di Antaranya Pelajar,” 31 Agustus 2025.
  4. Sugi Lanus, “Rasis Bertentangan dengan Ajaran Leluhur Bali,” Tatkala.co, 2 September 2025.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tags: ajeg balidemonstrasiorang balirasisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Next Post

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co