2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 5, 2025
in Esai
Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Ilustrasi: Arief Rahzen | Diolah dengan AI

ADA aroma yang akrab ketika tanah kering usai diguyur hujan. Aroma yang menguap dari aspal Jakarta yang panas, atau dari pematang sawah di Gianyar. Juga dari gang-gang sempit di Surabaya yang riuh. Itulah aroma Indonesia. Rumit. Nyata. Indonesia ialah rumah. Dan mencintainya, terkadang, terasa sangat melelahkan.

Saya menulis sebagai seorang anak bangsa. Bukan politisi, bukan pula pakar. Hanya seseorang yang setiap hari minum seteguk kopi dan menghirup udara negeri ini. Hanya seseorang yang terkadang membaca berita dengan dada sesak. Seseorang yang melihat potret kemiskinan di sebelah gemerlap gedung pencakar langit. Hanya seseorang yang merasakan denyut nadi bangsa ini di dalam darahnya sendiri.

Maka, izinkan saya bertanya. Pernahkah kau merasa lelah mengetahui perjalanan negeri ini?

Lelah melihat berita korupsi yang tak ada habisnya. Angka-angka triliunan rupiah lenyap begitu saja. Uang yang seharusnya untuk jembatan di desa terpencil, seharusnya menjadi sekolah bagi anak-anak pesisir. Atau menjadi rumah sakit bagi mereka yang sedang lemah. Tapi uang itu hilang. Hilang disulap begitu saja, lari ke kantong-kantong pribadi yang tak pernah kenyang. Kita marah. Kita mencaci. Lalu siklus itu berulang. Wajah baru, pola lama. Kelelahan itu merayap, seperti racun yang pelan-pelan mematikan harapan.

Kita pun lelah melihat ketidakadilan di depan mata. Hukum terasa tajam ke bawah, mengiris mereka yang lemah. Hukum tak mampu menyentuh mereka yang berkuasa. Nenek pencuri kakao dijerat pasal berlapis. Koruptor kelas kakap mendapat remisi dan karpet merah. Kita melihatnya di layar kaca, kita membacanya di media online. Kita pun membicarakannya di kedai kopi. Rasa lelah itu menjadi sinisme, sebuah tameng untuk melindungi hati yang terlanjur kecewa.

Lelah kita melihat bangsa ini terbelah. Pilkada usai, Pemilu lewat. Tapi luka-lukanya masih menganga. Kita terkotak-kotak oleh pilihan politik, oleh sentimen agama, oleh suku. Media sosial jadi medan perang. Kata-kata pun berubah jadi senjata. Hoaks bertaburan jadi amunisi. Kita lupa cara berdialog. Kita lupa bahwa di balik setiap akun anonim, ada seorang manusia. Seorang saudara sebangsa. Kelelahan paling menyesakkan saat kita melawan diri kita sendiri.

Lelah dengan birokrasi yang berbelit. Mengurus KTP, mengurus izin usaha. Lelah dikejar laporan pajak. Rasanya seperti masuk ke dalam labirin tanpa peta. “Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?” Gurauan getir itu menjadi cerminan realitas. Kita menghela napas panjang. Kita menyerah pada sistem yang korosif. Semakin lelah.

Kelelahan ini nyata, bukan ilusi. Lelah karena akumulasi dari kekecewaan yang bertumpuk. Ini alasan mengapa sebagian dari kita berkata, “Ah, sudahlah.” Sebagian lagi memilih pergi mencari penghidupan di negeri orang. Mereka mencari kenyamanan yang tak ditemui di rumah sendiri. Kita perlu maklumi mengerti pilihan itu.

Namun, di dasar jurang lelah itu, ada sesuatu yang berkilau. Sesuatu yang menolak padam. Sesuatu yang membuat jutaan dari kita tetap tinggal. Sesuatu yang membuat kita, meski dengan hati yang babak belur, terus menyebut negeri ini “rumah”.

Itulah cinta.

Bukan cinta buta. Bukan cinta yang romantis dan naif seperti dalam drama Korea. Ini cinta yang dewasa. Cinta yang lahir dari kesadaran penuh akan segala kekurangan. Cinta yang memilih untuk berjuang, bukan takluk.

Maka, mari kita bincangkan cinta itu.

Cintailah manusianya. Lihatlah sekelilingmu. Lihatlah senyum pedagang angkringan di Jogja saat sajikan nasi kucing. Dengarkan tawa anak-anak yang bermain layangan di tanah lapang Gianyar. Rasakan kehangatan tetangga yang membawakan rendang saat Lebaran tiba. Di tengah hiruk pikuk politik dan kebisingan digital, ada jutaan kebaikan kecil yang terjadi setiap detik. Ada semangat gotong royong yang masih hidup di desa-desa. Ada solidaritas spontan saat bencana melanda. Inilah Indonesia yang sesungguhnya. Jiwa bangsa ini tidak terletak di gedung parlemen. Indonesia hidup dalam interaksi sehari-hari rakyatnya. Indonesia terdiri dari mozaik wajah-wajah tulus yang berjuang menafkahi keluarga. Mereka tidak lelah. Bagaimana mungkin kita boleh lelah?

Cintailah alamnya. Pergilah ke timur. Berdirilah di puncak Padar dan lihatlah tiga teluk dengan warna pasir yang berbeda. Selami perairan Raja Ampat yang menjadi surga bagi kehidupan bawah laut. Pergilah ke barat, daki Kerinci dan saksikan matahari terbit di atas lautan awan. Hirup udara sejuk di Dataran Tinggi Dieng. Alam ini adalah anugerah, warisan. Kini, Indonesia memang terluka. Hutan kita dibabat. Laut kita dicemari plastik. Tapi keindahannya yang molek masih memanggil. Kita diingatkan bahwa ada sesuatu yang agung dan layak diperjuangkan. Mencintai alamnya berarti merawatnya. Memungut sampah, mengurangi plastik, menanam pohon. Itu tindakan cinta yang paling konkret.

Cintailah budayanya. Negeri ini adalah simfoni yang paling merdu. Dari alunan gamelan Jawa yang menenangkan jiwa, hingga hentakan tifa dari Papua yang membangkitkan semangat. Dari kain tenun Sumba yang membawakan kisah, hingga ukiran rumit di rumah adat Toraja. Kita memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Ribuan jenis kuliner. Ratusan tradisi yang masih terjaga. Kekayaan sejati Indonesia ialah kebinekaannya. Saat banyak bangsa menjadi serupa, kita justru istimewa karena perbedaan. Cara terbaik mencintai Indonesia yakni dengan mengenalnya lebih dalam, merayakan setiap warnanya, dan ikut merawatnya.

Mencintai Indonesia hari ini berarti kerja, bukan pasif. Aktif dan menuntut.

Mencintai Indonesia berarti menjadi warga negara yang kritis. Kita tidak diam saat melihat ketidakadilan. Kita tidak menelan mentah-mentah semua informasi. Kita belajar, kita bertanya, kita bersuara. Suara kita mungkin kecil. Tapi jutaan suara kecil bisa menjadi badai perubahan. Mengkritik pemerintah bukan berarti membenci negara. Justru sebaliknya. Kritik adalah bentuk kepedulian tertinggi. Itu salah satu cara kita mengucap pesan cinta, “Aku ingin dikau jadi lebih baik.”

Mencintai Indonesia berarti berkontribusi dengan apa yang kita bisa. Kau seorang guru? Didiklah generasi penerus dengan hati. Tanamkan pada mereka nilai-nilai kejujuran dan toleransi. Kau seorang pengusaha? Ciptakanlah lapangan kerja. Berlakulah adil pada karyawan. Kau seorang seniman? Ciptakanlah karya seni yang merefleksikan jiwa zaman. Ciptakanlah karya yang merayakan kemanusiaan. Kau mahasiswa? Belajarlah dengan tekun. Mari jadi solusi, bukan bagian dari masalah. Setiap profesi, setiap keahlian, adalah ladang pengabdian.

Mencintai Indonesia berarti merawat harapan. Kondisi bangsa saat ini memang penuh tantangan. Polarisasi politik, ancaman resesi ekonomi global, hingga kebijakan pembangunan yang menuai pro dan kontra. Semua ini adalah riak-riak zaman yang harus dihadapi. Memang mudah bagi kita untuk pesimis. Mudah untuk berkata, “Semua akan sia-sia”. Tapi sejarah bangsa kita sudah membuktikan kekuatan perjuangan impian. Para pendiri bangsa ini memproklamasikan kemerdekaan bukan karena kondisi ideal. Mereka melakukannya di tengah keterbatasan, bermodal impian dan keyakinan. Impian adalah bahan bakar, tanpanya mesin perjuangan akan mogok.

Mencintai Indonesia berarti melihat dua sisi secara seimbang: menyadari realitas korupsi, ketidakadilan, polarisasi, dan kerusakan alam, seraya tetap mengakui eksistensi para pejuang yang membawa harapan perubahan.

Jadi, ketika rasa lelah itu datang lagi, dan pasti akan datang, merenunglah sejenak. Seduh secangkir kopi Robusta atau teh melati hangat. Pejamkan mata. Ingat kembali aroma tanah basah setelah hujan. Ingat kembali tawa riang anak-anak tetangga. Ingat kembali rasa bangga saat atlet kita mengibarkan Merah Putih di kancah dunia. Ingat kembali betapa luar biasanya negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini.

Indonesia bukanlah negara yang sempurna. Mungkin tidak akan pernah sempurna. Tapi inilah rumah kita. Satu-satunya yang kita punya. Dan rumah, tidak pernah kita tinggalkan hanya karena sedikit berantakan. Sebaliknya, kita ambil sapu, mari kita bersihkan debunya. Kita perbaiki atapnya yang bocor. Bersama kita cat ulang dindingnya yang kusam.

Kita bekerja. Bersama-sama.

Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Karena negeri ini pun, dengan segala carut marutnya, tidak pernah lelah menumbuhkan padi di sawahnya, tidak pernah lelah memberikan ikan di lautnya, dan tidak pernah lelah melahirkan jiwa-jiwa baik di setiap generasinya.

Perjuangan ini masih panjang. Belum saatnya kita lelah. Belum saatnya untuk tunduk! [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsiIndonesiaNusantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DPR Bandel, Rakyat Membentak: Parenting bagi Demokrasi yang Gagal

Next Post

Orang Bali Rasis, Benarkah?

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Orang Bali Rasis, Benarkah?

Orang Bali Rasis, Benarkah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co