12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

DPR Bandel, Rakyat Membentak: Parenting bagi Demokrasi yang Gagal

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu banyak beredar untuk lucu-lucuan, postingan mama-mama di TikTok soal model parenting zaman now yang gak mempan. Udah disuruh baik-baik, si anak tetap ngeyel main hape atau ogah tidur. Tapi sekali dibentak model parenting jadul, langsung si anak bergerak cepat.

Ya namanya konten, tujuannya untuk menghibur. Tapi ini memang saya lihat dan saya alami sendiri waktu kecil, di dalam rumah tangga, ada satu hukum alam yang berlaku lintas generasi.  Anak bandel jika terlalu lama dibiarkan, pada akhirnya akan membuat orang tuanya naik pitam alias naik darah. Kalau dinasihati halus tak mempan, kalau dipeluk tetap ngeyel, maka bentakan jadi jalan terakhir. Atau kalau emosi sudah ke ubun-ubun, bentakan sambil gebrak meja. Braakkk,..!!!

Nah, fenomena demo nasional beberapa waktu lalu, dengan gelombang mahasiswa, buruh, hingga massa rakyat di berbagai kota, bisa kita baca dengan kacamata serupa, sebuah gebrakan meja rakyat kepada anak bandel bernama DPR dan elite politik negeri ini.  Analogi ini mungkin terdengar satir, tapi justru di situlah relevansinya.

Penguasa kita kerap bertingkah laku seperti remaja bandel yang merasa kebal aturan. Mereka sudah diingatkan berkali-kali, tetapi tetap saja memilih menutup telinga. Maka tak heran jika bentakan massa kali ini terdengar lebih lantang daripada sekadar protes pinggiran jalan yang santun. Meski aroma provokasi tercium mengambil kesempatan dalam kesempitan. 

Dari Peringatan Halus ke Pukulan Meja

Mari kita runut kronologi akumulasi kekecewaan. Mulai dari drama Mahkamah Konstitusi soal pencalonan wakil presiden, kriminalisasi band punk yang hanya bernyanyi soal “bayar polisi,” hingga banjir kritik di dunia maya lewat tagar #IndonesiaGelap, #KaburAja, dan sindiran “Garuda Tikus.” Itu semua sebenarnya semacam peringatan halus. Semacam orangtua yang berkata: “Nak, jangan main api lah, nanti kebakaran, lho.”  Tapi apa responnya? DPR tetap sibuk menaikkan gaji dan tunjangan, menutup mata dari jeritan rakyat yang sehari-hari kerja rodi di jalanan, pabrik, dan layar smartphone. Tampillah ke depan suatu ironi dimana rakyat kerja rodi, DPR joget bikin komedi.

Ketika akhirnya demo meledak dan kericuhan menjalar merata ke berbagai daerah, itu bukan lagi sekadar bentakan biasa. Itu sudah gebrakan meja. Rakyat sedang berkata, kami sudah muak, kalau perlu bubarkan DPR! Dan tidak hanya DPR pusat, DPR di daerah pun kena imbasnya. Dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, DPR menjadi sasaran kemarahan rakyat. Bahkan sampai menelan beberapa korban jiwa sebagai pahlawan demokrasi.

Demokrasi, Legitimasi, dan Modal Sejarah 1998

Gebrakan meja kali ini terasa lebih serius karena ada dua faktor besar. Pertama, Indonesia mengklaim diri sebagai negara demokrasi. Dalam demokrasi, vox populi vox dei,  suara rakyat adalah suara Tuhan. Ketika rakyat menjerit, lalu wakil rakyat menutup telinga, maka yang terjadi bukan sekadar krisis kebijakan, tapi krisis legitimasi. Max Weber mengingatkan, kekuasaan hanya bisa bertahan jika punya legitimasi moral, entah itu tradisional, kharismatik, atau legal-rasional.

DPR kita jelas bertumpu pada legitimasi legal-rasional. Tapi begitu hukum sebagai legitimasi legal-rasional dianggap sebagai hanya suatu alat  berkuasa bagi elite saja, legitimasi itu lalu runtuh. Kita pasti sudah melihat dengan mata kepala sendiri di mana hukum seringkali digunakan bukan untuk menegakkan keadilan,  tapi alat untuk melegalkan berbagai kepentingan pribadi kaum elite.

Kedua, bangsa ini punya modal sejarah bernama 1998. Jangan remehkan ingatan kolektif rakyat. Generasi yang turun ke jalan sekarang, meski sebagian besar tak mengalami 1998 secara langsung, mereka kenyang dengan narasi bahwa people power pernah berhasil menggulingkan rezim. Itu jadi semacam script sosial, kalau sampai elite bandel, rakyat tahu betul jalur mana yang bisa ditempuh. Sejarawan Benedict Anderson pernah bilang bahwa bangsa adalah imagined community, komunitas yang hidup dalam imajinasi kolektif. Nah, 1998 kini jadi imajinasi kolektif baru yang berbunyi,  rakyat bisa kalau rakyat mau. Sepertinya ini sudah tercetak jelas di benak masyarakat.

Dari Kemarahan Simbolis ke Kemarahan Personal

Demo, robohkan pagar, bakar ban, coret tembok, teriak yel-yel, semua itu masih level kemarahan simbolis. Tapi ketika muncul opsi bubarkan DPR, atau bahkan sampai ada ancaman nyata terhadap anggota DPR secara personal, ini sudah geser ke fase kemarahan personal. Dalam psikologi massa, fase ini berbahaya karena logika kerumunan berubah. Dari melawan sistem menjadi menghancurkan orang. Kita bisa lihat beberapa rumah anggota dewan kemudian dijarah massa.  Kalau titik ini tercapai, eskalasi bisa sangat brutal. Kerusuhan 1998 memberi pelajaran pahit.  Begitu massa bergerak tanpa kendali melainkan dengan provokasi, yang tersisa hanyalah api, kaca pecah, dan korban berjatuhan.

Sosiolog Charles Tilly menulis, Collective violence is not a breakdown of order, but an alternative form of order (1978). Artinya, kerusuhan bukan sekadar chaos, tapi bentuk aturan baru yang dibuat massa ketika aturan lama dianggap gagal. Ketika rakyat tak percaya lagi pada DPR dan pemerintah bahkan polisi, mereka bisa membuat aturan jalanan ala mereka sendiri.

Pemerintah Harus Belajar Jadi Orangtua, Bukan Tukang Cambuk

Masalah utama penguasa kita adalah gagal membedakan antara tegas dan keras kepala. Mereka mengira rakyat bisa diam hanya dengan represi aparat. Padahal, semakin aparat dipakai untuk membungkam, semakin besar energi kemarahan yang dikumpulkan rakyat.

Pemerintah seharusnya belajar dari pola asuh authoritative, dalam psikologi pola asuh ini mengandung aturan jelas, konsisten, tapi disertai dialog. Bukan pola asuh authoritarian yang hanya mengandalkan bentakan. Ironinya, kali ini terbalik, justru rakyat yang terpaksa menjadi orangtua tegas, sementara penguasa berperan sebagai anak bandel yang terus menguji batas kesabaran rakyat.

Tentu dalam hemat saya ada beberapa langkah realistis agar ke depan, gebrakan meja yang sudah keras  ini di kemudian hari tidak berubah menjadi hantaman palu. Pertama adalah, harus dibuka suatu kanal komunikasi nyata. Bukan sekadar jumpa pers normatif, tapi audiensi terbuka dengan representasi rakyat yang melibatkan mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil.

Kedua, penting sekali menjaga gestur simbolik dari elite. Tarik semua kebijakan yang bermasalah, atau setidaknya tunjukkan niat untuk serius memperbaiki. Setiap pernyataan yang arogan ibarat menyiram bensin ke dalam api. Dan ini sudah terjadi.

Yang ketiga, perlunya katalisator, di sini harus melibatkan mediator moral. Tokoh agama, akademisi, seniman, bahkan budayawan, mereka bisa menjadi jembatan. Rakyat lebih percaya pada suara-suara yang mereka rasa murni, dan yang sudah teruji keberpihakannya kepada rakyat sejak republik ini berdiri.

Parenting Demokrasi

Kalau kita kembali ke analogi parenting tadi, sepertinya rakyat sudah terlalu lama bersabar pada anak bandel bernama DPR dan elite politik. Sudah dinasihati, sudah diperingatkan, tapi eh, tetep aja ngeyel. Maka demo besar-besaran kemarin adalah gebrakan meja yang seharusnya membuat si anak bandel sadar, ada otoritas yang lebih tinggi dari DPR, yaitu rakyat itu sendiri.

Yang sedang kita tunggu sekarang akan sangat menentukan, apakah pemerintah akan mendengar bentakan ini sebagai tanda cinta  atau justru menganggapnya sekadar ulah anak nakal? Jika memilih opsi yang kedua, bersiaplah menghadapi konsekuensi lebih pahit. Karena dalam parenting demokrasi, rakyat punya hak penuh untuk mendidik anak bandelnya dengan cara apa pun yang mereka anggap perlu. Apapun.

Dan kalau sejarah 1998 berulang, jangan salahkan rakyat. Salahkan penguasa yang gagal belajar dari teguran halus dan bentakan pertama. Dengar apa kata Shio Butto, Jangan ya dek ya,.. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: demokrasiDPRIndonesiaparentingrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Lestari dan Satia Budi, Pemenang Truna-Truni Dharma Duta Week IMK Singaraja: Bicara Era Digital dan Mental Health Matters di Lingkungan Kampus  

Next Post

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co