2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

DPR Bandel, Rakyat Membentak: Parenting bagi Demokrasi yang Gagal

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu banyak beredar untuk lucu-lucuan, postingan mama-mama di TikTok soal model parenting zaman now yang gak mempan. Udah disuruh baik-baik, si anak tetap ngeyel main hape atau ogah tidur. Tapi sekali dibentak model parenting jadul, langsung si anak bergerak cepat.

Ya namanya konten, tujuannya untuk menghibur. Tapi ini memang saya lihat dan saya alami sendiri waktu kecil, di dalam rumah tangga, ada satu hukum alam yang berlaku lintas generasi.  Anak bandel jika terlalu lama dibiarkan, pada akhirnya akan membuat orang tuanya naik pitam alias naik darah. Kalau dinasihati halus tak mempan, kalau dipeluk tetap ngeyel, maka bentakan jadi jalan terakhir. Atau kalau emosi sudah ke ubun-ubun, bentakan sambil gebrak meja. Braakkk,..!!!

Nah, fenomena demo nasional beberapa waktu lalu, dengan gelombang mahasiswa, buruh, hingga massa rakyat di berbagai kota, bisa kita baca dengan kacamata serupa, sebuah gebrakan meja rakyat kepada anak bandel bernama DPR dan elite politik negeri ini.  Analogi ini mungkin terdengar satir, tapi justru di situlah relevansinya.

Penguasa kita kerap bertingkah laku seperti remaja bandel yang merasa kebal aturan. Mereka sudah diingatkan berkali-kali, tetapi tetap saja memilih menutup telinga. Maka tak heran jika bentakan massa kali ini terdengar lebih lantang daripada sekadar protes pinggiran jalan yang santun. Meski aroma provokasi tercium mengambil kesempatan dalam kesempitan. 

Dari Peringatan Halus ke Pukulan Meja

Mari kita runut kronologi akumulasi kekecewaan. Mulai dari drama Mahkamah Konstitusi soal pencalonan wakil presiden, kriminalisasi band punk yang hanya bernyanyi soal “bayar polisi,” hingga banjir kritik di dunia maya lewat tagar #IndonesiaGelap, #KaburAja, dan sindiran “Garuda Tikus.” Itu semua sebenarnya semacam peringatan halus. Semacam orangtua yang berkata: “Nak, jangan main api lah, nanti kebakaran, lho.”  Tapi apa responnya? DPR tetap sibuk menaikkan gaji dan tunjangan, menutup mata dari jeritan rakyat yang sehari-hari kerja rodi di jalanan, pabrik, dan layar smartphone. Tampillah ke depan suatu ironi dimana rakyat kerja rodi, DPR joget bikin komedi.

Ketika akhirnya demo meledak dan kericuhan menjalar merata ke berbagai daerah, itu bukan lagi sekadar bentakan biasa. Itu sudah gebrakan meja. Rakyat sedang berkata, kami sudah muak, kalau perlu bubarkan DPR! Dan tidak hanya DPR pusat, DPR di daerah pun kena imbasnya. Dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, DPR menjadi sasaran kemarahan rakyat. Bahkan sampai menelan beberapa korban jiwa sebagai pahlawan demokrasi.

Demokrasi, Legitimasi, dan Modal Sejarah 1998

Gebrakan meja kali ini terasa lebih serius karena ada dua faktor besar. Pertama, Indonesia mengklaim diri sebagai negara demokrasi. Dalam demokrasi, vox populi vox dei,  suara rakyat adalah suara Tuhan. Ketika rakyat menjerit, lalu wakil rakyat menutup telinga, maka yang terjadi bukan sekadar krisis kebijakan, tapi krisis legitimasi. Max Weber mengingatkan, kekuasaan hanya bisa bertahan jika punya legitimasi moral, entah itu tradisional, kharismatik, atau legal-rasional.

DPR kita jelas bertumpu pada legitimasi legal-rasional. Tapi begitu hukum sebagai legitimasi legal-rasional dianggap sebagai hanya suatu alat  berkuasa bagi elite saja, legitimasi itu lalu runtuh. Kita pasti sudah melihat dengan mata kepala sendiri di mana hukum seringkali digunakan bukan untuk menegakkan keadilan,  tapi alat untuk melegalkan berbagai kepentingan pribadi kaum elite.

Kedua, bangsa ini punya modal sejarah bernama 1998. Jangan remehkan ingatan kolektif rakyat. Generasi yang turun ke jalan sekarang, meski sebagian besar tak mengalami 1998 secara langsung, mereka kenyang dengan narasi bahwa people power pernah berhasil menggulingkan rezim. Itu jadi semacam script sosial, kalau sampai elite bandel, rakyat tahu betul jalur mana yang bisa ditempuh. Sejarawan Benedict Anderson pernah bilang bahwa bangsa adalah imagined community, komunitas yang hidup dalam imajinasi kolektif. Nah, 1998 kini jadi imajinasi kolektif baru yang berbunyi,  rakyat bisa kalau rakyat mau. Sepertinya ini sudah tercetak jelas di benak masyarakat.

Dari Kemarahan Simbolis ke Kemarahan Personal

Demo, robohkan pagar, bakar ban, coret tembok, teriak yel-yel, semua itu masih level kemarahan simbolis. Tapi ketika muncul opsi bubarkan DPR, atau bahkan sampai ada ancaman nyata terhadap anggota DPR secara personal, ini sudah geser ke fase kemarahan personal. Dalam psikologi massa, fase ini berbahaya karena logika kerumunan berubah. Dari melawan sistem menjadi menghancurkan orang. Kita bisa lihat beberapa rumah anggota dewan kemudian dijarah massa.  Kalau titik ini tercapai, eskalasi bisa sangat brutal. Kerusuhan 1998 memberi pelajaran pahit.  Begitu massa bergerak tanpa kendali melainkan dengan provokasi, yang tersisa hanyalah api, kaca pecah, dan korban berjatuhan.

Sosiolog Charles Tilly menulis, Collective violence is not a breakdown of order, but an alternative form of order (1978). Artinya, kerusuhan bukan sekadar chaos, tapi bentuk aturan baru yang dibuat massa ketika aturan lama dianggap gagal. Ketika rakyat tak percaya lagi pada DPR dan pemerintah bahkan polisi, mereka bisa membuat aturan jalanan ala mereka sendiri.

Pemerintah Harus Belajar Jadi Orangtua, Bukan Tukang Cambuk

Masalah utama penguasa kita adalah gagal membedakan antara tegas dan keras kepala. Mereka mengira rakyat bisa diam hanya dengan represi aparat. Padahal, semakin aparat dipakai untuk membungkam, semakin besar energi kemarahan yang dikumpulkan rakyat.

Pemerintah seharusnya belajar dari pola asuh authoritative, dalam psikologi pola asuh ini mengandung aturan jelas, konsisten, tapi disertai dialog. Bukan pola asuh authoritarian yang hanya mengandalkan bentakan. Ironinya, kali ini terbalik, justru rakyat yang terpaksa menjadi orangtua tegas, sementara penguasa berperan sebagai anak bandel yang terus menguji batas kesabaran rakyat.

Tentu dalam hemat saya ada beberapa langkah realistis agar ke depan, gebrakan meja yang sudah keras  ini di kemudian hari tidak berubah menjadi hantaman palu. Pertama adalah, harus dibuka suatu kanal komunikasi nyata. Bukan sekadar jumpa pers normatif, tapi audiensi terbuka dengan representasi rakyat yang melibatkan mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil.

Kedua, penting sekali menjaga gestur simbolik dari elite. Tarik semua kebijakan yang bermasalah, atau setidaknya tunjukkan niat untuk serius memperbaiki. Setiap pernyataan yang arogan ibarat menyiram bensin ke dalam api. Dan ini sudah terjadi.

Yang ketiga, perlunya katalisator, di sini harus melibatkan mediator moral. Tokoh agama, akademisi, seniman, bahkan budayawan, mereka bisa menjadi jembatan. Rakyat lebih percaya pada suara-suara yang mereka rasa murni, dan yang sudah teruji keberpihakannya kepada rakyat sejak republik ini berdiri.

Parenting Demokrasi

Kalau kita kembali ke analogi parenting tadi, sepertinya rakyat sudah terlalu lama bersabar pada anak bandel bernama DPR dan elite politik. Sudah dinasihati, sudah diperingatkan, tapi eh, tetep aja ngeyel. Maka demo besar-besaran kemarin adalah gebrakan meja yang seharusnya membuat si anak bandel sadar, ada otoritas yang lebih tinggi dari DPR, yaitu rakyat itu sendiri.

Yang sedang kita tunggu sekarang akan sangat menentukan, apakah pemerintah akan mendengar bentakan ini sebagai tanda cinta  atau justru menganggapnya sekadar ulah anak nakal? Jika memilih opsi yang kedua, bersiaplah menghadapi konsekuensi lebih pahit. Karena dalam parenting demokrasi, rakyat punya hak penuh untuk mendidik anak bandelnya dengan cara apa pun yang mereka anggap perlu. Apapun.

Dan kalau sejarah 1998 berulang, jangan salahkan rakyat. Salahkan penguasa yang gagal belajar dari teguran halus dan bentakan pertama. Dengar apa kata Shio Butto, Jangan ya dek ya,.. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: demokrasiDPRIndonesiaparentingrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Lestari dan Satia Budi, Pemenang Truna-Truni Dharma Duta Week IMK Singaraja: Bicara Era Digital dan Mental Health Matters di Lingkungan Kampus  

Next Post

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co