2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Rasis, Benarkah?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 5, 2025
in Esai
Orang Bali Rasis, Benarkah?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BEBERAPA waktu lalu Denpasar kembali menjadi panggung demonstrasi. Massa yang menamakan diri Bali Tidak Diam turun ke jalan, menyuarakan keresahan atas kebijakan dan situasi sosial yang mereka anggap tak adil. Seperti banyak aksi sebelumnya, benturan terjadi. Namun yang lebih menyesakkan bukan sekadar kericuhan, melainkan pernyataan yang lahir setelahnya.

Seorang pejabat publik dalam pertemuan dengan aparat daerah dan perwakilan driver ojek online mengatakan bahwa dari 25 orang yang ditahan, hanya tiga yang ber-KTP Bali. Ia kemudian menyimpulkan, “berarti ini sudah disusupi”. Pernyataan ini terasa sederhana, namun sesungguhnya sarat stigma. Seolah-olah mereka yang KTP-nya bukan Bali otomatis menjadi biang masalah.

Nada serupa terdengar dari pejabat publik lain. Dalam narasi yang dikutip Balebengong.id, ia menyatakan bahwa meski ada yang ditangkap ber-KTP Bali, mereka tidak bisa dianggap orang Bali sejati. Kalimat yang diucapkan di ruang internal itu menyebar luas, menimbulkan tanda tanya dan amarah. Sejak kapan keaslian diukur sebatas garis identitas administratif atau darah murni?

Koalisi advokasi sipil seperti LBH Bali dan aliansi warga Bali yang tergabung dalam Forum Warga Setara (ForWaras) segera menanggapi. Dalam jumpa pers pada Selasa, 2 September 2025 di Denpasar, mereka menyebut narasi itu berbahaya karena mengaburkan substansi tuntutan dan membelah solidaritas. LBH menuntut pemeriksaan etik terhadap pejabat yang melontarkan pernyataan bernada diskriminatif. Catatan lapangan jurnalis warga juga merekam bahwa saat penangkapan, pertanyaan pertama yang diajukan bukan “apa yang kamu lakukan”, melainkan “KTP-mu dari mana”. Bukankah ini sudah menunjukkan bagaimana identitas dipakai sebagai kacamata utama?

Namun, benarkah orang Bali rasis?

Saya tidak tergesa-gesa menjawab iya. Sebab pengalaman keseharian menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Saya teringat pada dua kabupaten di ujung barat dan utara Bali yakni Jembrana dan Buleleng. Di sana, kehidupan heterogen sudah berlangsung berabad-abad. Komunitas Bugis mendirikan kampung Loloan sejak abad ke-17. Orang Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa hidup berdampingan. Mereka saling bertegur sapa, menikah silang, berbagi rejeki di pasar, dan menjaga harmoni. Tak ada yang merasa lebih tinggi hanya karena lahir dari rahim berbeda. Toleransi bukan jargon, melainkan praktik keseharian.

Lalu mengapa kini muncul kesan kuat bahwa orang Bali rasis? Saya kira jawabannya terletak pada konstruksi wacana yang dibangun sejak dua dekade terakhir. Mari kita mundur ke 2002, tahun gelap ketika Bom Bali I merenggut ratusan nyawa. Trauma kolektif itu melahirkan sebuah semboyan, yakni Ajeg Bali. Di televisi, radio, baliho, dan media cetak, frasa ini dielu-elukan. Ajeg Bali digadang sebagai benteng untuk melindungi adat, budaya, dan identitas dari guncangan globalisasi maupun ancaman luar.

Pada awalnya, siapa bisa menolak niat baik menjaga budaya? Namun kritik segera muncul. Para intelektual Bali mengingatkan, definisi “ajeg” yang berarti tegak, kokoh, ternyata tidak jelas. Sugi Lanus, filolog yang tekun membaca lontar, dan I Ngurah Suryawan, antropolog asal Bali, dalam banyak tulisannya mengkritik gerakan Ajeg Bali yang mudah tergelincir pada eksklusivitas.

Ajeg Bali menimbulkan stereotipe baru, yakni, membedakan “Nak Bali” (orang Bali asli) dan “Nak Jawa” (pendatang). Media massa arus utama ikut menggaungkan dikotomi itu. Identitas yang seharusnya cair malah menjadi sekat yang kaku.

Beberapa tahun kemudian, seorang politisi yang kini duduk di lembaga perwakilan daerah mempopulerkan istilah “Nak Dauh Tukad” dan “Nak Dangin Tukad”. Kiasan geografis ini pada hakikatnya membelah lagi, yang di seberang sungai dan yang di sini. Politisi ini rajin menyuarakannya di media sosial, menjadikannya semacam branding politik.

Di satu sisi, ia dianggap vokal membela kepentingan lokal; di sisi lain, ia memperkuat politik identitas yang menanamkan curiga pada siapa pun yang tidak masuk kategori “Bali murni”.

Saya melihat kontinuitas wacana inilah yang kemudian berbuah pada pernyataan pejabat publik pasca-demonstrasi. Bahasa membentuk cara pandang. Lama-lama, framing bahwa Bali selalu disusupi dan diganggu orang luar dianggap wajar. Padahal, jika menoleh ke sejarah, Bali justru tumbuh dengan asimilasi. Hindu datang dari India melewati Jawa. Islam hadir lewat perantau Bugis di Jembrana. Kristen dibawa misionaris ke Buleleng. Unsur Tionghoa sudah lama mewarnai seni dan kuliner Bali, dan Bali yang kita kenal hari ini bukanlah entitas tunggal, melainkan hasil percampuran panjang.

Sugi Lanus dalam tulisannya di Tatkala.co (2 September 2025) menegaskan bahwa rasisme bertentangan dengan ajaran leluhur Bali. Tulisan ini menyoroti bagaimana rasa terancam secara ekonomi maupun teritorial bisa melahirkan sikap dekaden dalam masyarakat Bali.

Namun, apabila masyarakat mampu membuka hati dan menghayati ajaran kearifan lokal seperti sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, serta semangat saling asah, asih, asuh sebagai prinsip humanisme universal, maka Bali dapat mencapai kejayaan, yakni Bali hita lan maharddhika. Sebaliknya, jika ajaran-ajaran luhur itu hanya dimaknai sebatas hubungan internal antar orang Bali, maka yang terjadi adalah dekadensi kultural yang mendalam. Menghadirkan rasisme ke dalam Bali sama artinya dengan mengkhianati warisan spiritual itu.

Tentu, saya tidak menutup mata. Ada sebagian orang Bali yang merasa nyaman dengan polarisasi identitas. Mereka menganggap penguatan adat dan budaya mesti ditempuh dengan garis tegas bahwa siapa orang Bali, siapa bukan. Tapi lebih banyak lagi yang bersikap netral, bahkan menolak cara pandang sempit itu. Warga di daerah heterogen sudah membuktikan, hidup rukun jauh lebih bermakna daripada sibuk memilah darah siapa lebih asli.

Kita juga harus jujur mengakui peran media. Dari Ajeg Bali sampai wacana politisi identitas, media berperan besar membentuk opini publik. Istilah-istilah yang lahir lalu digoreng di televisi atau media daring menciptakan persepsi bahwa Bali selalu terancam dari luar. Padahal ancaman terbesar justru muncul dari dalam, yakni ketika kita lupa bahwa keberagaman adalah napas kehidupan Bali.

Maka pertanyaan awal kembali menggema; orang Bali rasis, benarkah? Saya tetap menjawab tidak. Yang rasis bukanlah orang Bali secara keseluruhan, melainkan segelintir wacana dan elite yang menungganginya. Bahaya sesungguhnya adalah ketika wacana itu dibiarkan tanpa kritik, lalu dianggap kebenaran umum. Dari situ, lahir generasi muda yang menginternalisasi curiga dan benci.

Di tengah situasi ini, penting bagi kita mengingat sejarah panjang pluralitas Bali. Sejarah kampung Loloan di Jembrana, harmoni umat di Buleleng, akulturasi seni yang tak pernah berhenti—semua itu menegaskan bahwa Bali sejati bukanlah pulau eksklusif, melainkan persilangan peradaban.

Pernyataan pejabat publik tentang KTP non-Bali harusnya menjadi alarm. Jangan sampai cara pandang itu mengeras menjadi norma. Jika tidak, kita berisiko kehilangan esensi Bali sebagai tempat di mana toleransi, akulturasi, dan keterbukaan pernah dan seharusnya tetap tumbuh.

Leluhur Bali tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci sesama. Seperti diingatkan Sugi Lanus, rasisme tidak punya tempat dalam ajaran Bali. Yang ada adalah semangat saling asah, asih, asuh sebagai prinsip humanisme universal serta mengajak kita melihat diri dalam diri orang lain. Jika nilai ini kita jalankan, stigma rasis yang kini menempel bisa kita patahkan. Bali layak tetap menjadi rumah bersama, bukan ruang eksklusif. Dan tugas kita adalah memastikan rumah itu tidak runtuh oleh racun politik identitas. [T]

Referensi:

  1. Liputan6.com, “Dari 25 Orang Diamankan, Hanya 3 yang KTP Bali, Artinya Disusupi,” 31 Agustus 2025.
  2. Balebengong.id, “Pejabat Publik Lontarkan Narasi Rasis Pasca Aksi Bali Tidak Diam,” 2 September 2025.
  3. Kabar24 Bisnis.com, “LBH: 31 Orang Ditangkap dalam Aksi Bali Tidak Diam, 7 di Antaranya Pelajar,” 31 Agustus 2025.
  4. Sugi Lanus, “Rasis Bertentangan dengan Ajaran Leluhur Bali,” Tatkala.co, 2 September 2025.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tags: ajeg balidemonstrasiorang balirasisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Next Post

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co