2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Rasis, Benarkah?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 5, 2025
in Esai
Orang Bali Rasis, Benarkah?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BEBERAPA waktu lalu Denpasar kembali menjadi panggung demonstrasi. Massa yang menamakan diri Bali Tidak Diam turun ke jalan, menyuarakan keresahan atas kebijakan dan situasi sosial yang mereka anggap tak adil. Seperti banyak aksi sebelumnya, benturan terjadi. Namun yang lebih menyesakkan bukan sekadar kericuhan, melainkan pernyataan yang lahir setelahnya.

Seorang pejabat publik dalam pertemuan dengan aparat daerah dan perwakilan driver ojek online mengatakan bahwa dari 25 orang yang ditahan, hanya tiga yang ber-KTP Bali. Ia kemudian menyimpulkan, “berarti ini sudah disusupi”. Pernyataan ini terasa sederhana, namun sesungguhnya sarat stigma. Seolah-olah mereka yang KTP-nya bukan Bali otomatis menjadi biang masalah.

Nada serupa terdengar dari pejabat publik lain. Dalam narasi yang dikutip Balebengong.id, ia menyatakan bahwa meski ada yang ditangkap ber-KTP Bali, mereka tidak bisa dianggap orang Bali sejati. Kalimat yang diucapkan di ruang internal itu menyebar luas, menimbulkan tanda tanya dan amarah. Sejak kapan keaslian diukur sebatas garis identitas administratif atau darah murni?

Koalisi advokasi sipil seperti LBH Bali dan aliansi warga Bali yang tergabung dalam Forum Warga Setara (ForWaras) segera menanggapi. Dalam jumpa pers pada Selasa, 2 September 2025 di Denpasar, mereka menyebut narasi itu berbahaya karena mengaburkan substansi tuntutan dan membelah solidaritas. LBH menuntut pemeriksaan etik terhadap pejabat yang melontarkan pernyataan bernada diskriminatif. Catatan lapangan jurnalis warga juga merekam bahwa saat penangkapan, pertanyaan pertama yang diajukan bukan “apa yang kamu lakukan”, melainkan “KTP-mu dari mana”. Bukankah ini sudah menunjukkan bagaimana identitas dipakai sebagai kacamata utama?

Namun, benarkah orang Bali rasis?

Saya tidak tergesa-gesa menjawab iya. Sebab pengalaman keseharian menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Saya teringat pada dua kabupaten di ujung barat dan utara Bali yakni Jembrana dan Buleleng. Di sana, kehidupan heterogen sudah berlangsung berabad-abad. Komunitas Bugis mendirikan kampung Loloan sejak abad ke-17. Orang Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa hidup berdampingan. Mereka saling bertegur sapa, menikah silang, berbagi rejeki di pasar, dan menjaga harmoni. Tak ada yang merasa lebih tinggi hanya karena lahir dari rahim berbeda. Toleransi bukan jargon, melainkan praktik keseharian.

Lalu mengapa kini muncul kesan kuat bahwa orang Bali rasis? Saya kira jawabannya terletak pada konstruksi wacana yang dibangun sejak dua dekade terakhir. Mari kita mundur ke 2002, tahun gelap ketika Bom Bali I merenggut ratusan nyawa. Trauma kolektif itu melahirkan sebuah semboyan, yakni Ajeg Bali. Di televisi, radio, baliho, dan media cetak, frasa ini dielu-elukan. Ajeg Bali digadang sebagai benteng untuk melindungi adat, budaya, dan identitas dari guncangan globalisasi maupun ancaman luar.

Pada awalnya, siapa bisa menolak niat baik menjaga budaya? Namun kritik segera muncul. Para intelektual Bali mengingatkan, definisi “ajeg” yang berarti tegak, kokoh, ternyata tidak jelas. Sugi Lanus, filolog yang tekun membaca lontar, dan I Ngurah Suryawan, antropolog asal Bali, dalam banyak tulisannya mengkritik gerakan Ajeg Bali yang mudah tergelincir pada eksklusivitas.

Ajeg Bali menimbulkan stereotipe baru, yakni, membedakan “Nak Bali” (orang Bali asli) dan “Nak Jawa” (pendatang). Media massa arus utama ikut menggaungkan dikotomi itu. Identitas yang seharusnya cair malah menjadi sekat yang kaku.

Beberapa tahun kemudian, seorang politisi yang kini duduk di lembaga perwakilan daerah mempopulerkan istilah “Nak Dauh Tukad” dan “Nak Dangin Tukad”. Kiasan geografis ini pada hakikatnya membelah lagi, yang di seberang sungai dan yang di sini. Politisi ini rajin menyuarakannya di media sosial, menjadikannya semacam branding politik.

Di satu sisi, ia dianggap vokal membela kepentingan lokal; di sisi lain, ia memperkuat politik identitas yang menanamkan curiga pada siapa pun yang tidak masuk kategori “Bali murni”.

Saya melihat kontinuitas wacana inilah yang kemudian berbuah pada pernyataan pejabat publik pasca-demonstrasi. Bahasa membentuk cara pandang. Lama-lama, framing bahwa Bali selalu disusupi dan diganggu orang luar dianggap wajar. Padahal, jika menoleh ke sejarah, Bali justru tumbuh dengan asimilasi. Hindu datang dari India melewati Jawa. Islam hadir lewat perantau Bugis di Jembrana. Kristen dibawa misionaris ke Buleleng. Unsur Tionghoa sudah lama mewarnai seni dan kuliner Bali, dan Bali yang kita kenal hari ini bukanlah entitas tunggal, melainkan hasil percampuran panjang.

Sugi Lanus dalam tulisannya di Tatkala.co (2 September 2025) menegaskan bahwa rasisme bertentangan dengan ajaran leluhur Bali. Tulisan ini menyoroti bagaimana rasa terancam secara ekonomi maupun teritorial bisa melahirkan sikap dekaden dalam masyarakat Bali.

Namun, apabila masyarakat mampu membuka hati dan menghayati ajaran kearifan lokal seperti sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, serta semangat saling asah, asih, asuh sebagai prinsip humanisme universal, maka Bali dapat mencapai kejayaan, yakni Bali hita lan maharddhika. Sebaliknya, jika ajaran-ajaran luhur itu hanya dimaknai sebatas hubungan internal antar orang Bali, maka yang terjadi adalah dekadensi kultural yang mendalam. Menghadirkan rasisme ke dalam Bali sama artinya dengan mengkhianati warisan spiritual itu.

Tentu, saya tidak menutup mata. Ada sebagian orang Bali yang merasa nyaman dengan polarisasi identitas. Mereka menganggap penguatan adat dan budaya mesti ditempuh dengan garis tegas bahwa siapa orang Bali, siapa bukan. Tapi lebih banyak lagi yang bersikap netral, bahkan menolak cara pandang sempit itu. Warga di daerah heterogen sudah membuktikan, hidup rukun jauh lebih bermakna daripada sibuk memilah darah siapa lebih asli.

Kita juga harus jujur mengakui peran media. Dari Ajeg Bali sampai wacana politisi identitas, media berperan besar membentuk opini publik. Istilah-istilah yang lahir lalu digoreng di televisi atau media daring menciptakan persepsi bahwa Bali selalu terancam dari luar. Padahal ancaman terbesar justru muncul dari dalam, yakni ketika kita lupa bahwa keberagaman adalah napas kehidupan Bali.

Maka pertanyaan awal kembali menggema; orang Bali rasis, benarkah? Saya tetap menjawab tidak. Yang rasis bukanlah orang Bali secara keseluruhan, melainkan segelintir wacana dan elite yang menungganginya. Bahaya sesungguhnya adalah ketika wacana itu dibiarkan tanpa kritik, lalu dianggap kebenaran umum. Dari situ, lahir generasi muda yang menginternalisasi curiga dan benci.

Di tengah situasi ini, penting bagi kita mengingat sejarah panjang pluralitas Bali. Sejarah kampung Loloan di Jembrana, harmoni umat di Buleleng, akulturasi seni yang tak pernah berhenti—semua itu menegaskan bahwa Bali sejati bukanlah pulau eksklusif, melainkan persilangan peradaban.

Pernyataan pejabat publik tentang KTP non-Bali harusnya menjadi alarm. Jangan sampai cara pandang itu mengeras menjadi norma. Jika tidak, kita berisiko kehilangan esensi Bali sebagai tempat di mana toleransi, akulturasi, dan keterbukaan pernah dan seharusnya tetap tumbuh.

Leluhur Bali tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci sesama. Seperti diingatkan Sugi Lanus, rasisme tidak punya tempat dalam ajaran Bali. Yang ada adalah semangat saling asah, asih, asuh sebagai prinsip humanisme universal serta mengajak kita melihat diri dalam diri orang lain. Jika nilai ini kita jalankan, stigma rasis yang kini menempel bisa kita patahkan. Bali layak tetap menjadi rumah bersama, bukan ruang eksklusif. Dan tugas kita adalah memastikan rumah itu tidak runtuh oleh racun politik identitas. [T]

Referensi:

  1. Liputan6.com, “Dari 25 Orang Diamankan, Hanya 3 yang KTP Bali, Artinya Disusupi,” 31 Agustus 2025.
  2. Balebengong.id, “Pejabat Publik Lontarkan Narasi Rasis Pasca Aksi Bali Tidak Diam,” 2 September 2025.
  3. Kabar24 Bisnis.com, “LBH: 31 Orang Ditangkap dalam Aksi Bali Tidak Diam, 7 di Antaranya Pelajar,” 31 Agustus 2025.
  4. Sugi Lanus, “Rasis Bertentangan dengan Ajaran Leluhur Bali,” Tatkala.co, 2 September 2025.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tags: ajeg balidemonstrasiorang balirasisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Next Post

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co