23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

DPR Bandel, Rakyat Membentak: Parenting bagi Demokrasi yang Gagal

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu banyak beredar untuk lucu-lucuan, postingan mama-mama di TikTok soal model parenting zaman now yang gak mempan. Udah disuruh baik-baik, si anak tetap ngeyel main hape atau ogah tidur. Tapi sekali dibentak model parenting jadul, langsung si anak bergerak cepat.

Ya namanya konten, tujuannya untuk menghibur. Tapi ini memang saya lihat dan saya alami sendiri waktu kecil, di dalam rumah tangga, ada satu hukum alam yang berlaku lintas generasi.  Anak bandel jika terlalu lama dibiarkan, pada akhirnya akan membuat orang tuanya naik pitam alias naik darah. Kalau dinasihati halus tak mempan, kalau dipeluk tetap ngeyel, maka bentakan jadi jalan terakhir. Atau kalau emosi sudah ke ubun-ubun, bentakan sambil gebrak meja. Braakkk,..!!!

Nah, fenomena demo nasional beberapa waktu lalu, dengan gelombang mahasiswa, buruh, hingga massa rakyat di berbagai kota, bisa kita baca dengan kacamata serupa, sebuah gebrakan meja rakyat kepada anak bandel bernama DPR dan elite politik negeri ini.  Analogi ini mungkin terdengar satir, tapi justru di situlah relevansinya.

Penguasa kita kerap bertingkah laku seperti remaja bandel yang merasa kebal aturan. Mereka sudah diingatkan berkali-kali, tetapi tetap saja memilih menutup telinga. Maka tak heran jika bentakan massa kali ini terdengar lebih lantang daripada sekadar protes pinggiran jalan yang santun. Meski aroma provokasi tercium mengambil kesempatan dalam kesempitan. 

Dari Peringatan Halus ke Pukulan Meja

Mari kita runut kronologi akumulasi kekecewaan. Mulai dari drama Mahkamah Konstitusi soal pencalonan wakil presiden, kriminalisasi band punk yang hanya bernyanyi soal “bayar polisi,” hingga banjir kritik di dunia maya lewat tagar #IndonesiaGelap, #KaburAja, dan sindiran “Garuda Tikus.” Itu semua sebenarnya semacam peringatan halus. Semacam orangtua yang berkata: “Nak, jangan main api lah, nanti kebakaran, lho.”  Tapi apa responnya? DPR tetap sibuk menaikkan gaji dan tunjangan, menutup mata dari jeritan rakyat yang sehari-hari kerja rodi di jalanan, pabrik, dan layar smartphone. Tampillah ke depan suatu ironi dimana rakyat kerja rodi, DPR joget bikin komedi.

Ketika akhirnya demo meledak dan kericuhan menjalar merata ke berbagai daerah, itu bukan lagi sekadar bentakan biasa. Itu sudah gebrakan meja. Rakyat sedang berkata, kami sudah muak, kalau perlu bubarkan DPR! Dan tidak hanya DPR pusat, DPR di daerah pun kena imbasnya. Dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, DPR menjadi sasaran kemarahan rakyat. Bahkan sampai menelan beberapa korban jiwa sebagai pahlawan demokrasi.

Demokrasi, Legitimasi, dan Modal Sejarah 1998

Gebrakan meja kali ini terasa lebih serius karena ada dua faktor besar. Pertama, Indonesia mengklaim diri sebagai negara demokrasi. Dalam demokrasi, vox populi vox dei,  suara rakyat adalah suara Tuhan. Ketika rakyat menjerit, lalu wakil rakyat menutup telinga, maka yang terjadi bukan sekadar krisis kebijakan, tapi krisis legitimasi. Max Weber mengingatkan, kekuasaan hanya bisa bertahan jika punya legitimasi moral, entah itu tradisional, kharismatik, atau legal-rasional.

DPR kita jelas bertumpu pada legitimasi legal-rasional. Tapi begitu hukum sebagai legitimasi legal-rasional dianggap sebagai hanya suatu alat  berkuasa bagi elite saja, legitimasi itu lalu runtuh. Kita pasti sudah melihat dengan mata kepala sendiri di mana hukum seringkali digunakan bukan untuk menegakkan keadilan,  tapi alat untuk melegalkan berbagai kepentingan pribadi kaum elite.

Kedua, bangsa ini punya modal sejarah bernama 1998. Jangan remehkan ingatan kolektif rakyat. Generasi yang turun ke jalan sekarang, meski sebagian besar tak mengalami 1998 secara langsung, mereka kenyang dengan narasi bahwa people power pernah berhasil menggulingkan rezim. Itu jadi semacam script sosial, kalau sampai elite bandel, rakyat tahu betul jalur mana yang bisa ditempuh. Sejarawan Benedict Anderson pernah bilang bahwa bangsa adalah imagined community, komunitas yang hidup dalam imajinasi kolektif. Nah, 1998 kini jadi imajinasi kolektif baru yang berbunyi,  rakyat bisa kalau rakyat mau. Sepertinya ini sudah tercetak jelas di benak masyarakat.

Dari Kemarahan Simbolis ke Kemarahan Personal

Demo, robohkan pagar, bakar ban, coret tembok, teriak yel-yel, semua itu masih level kemarahan simbolis. Tapi ketika muncul opsi bubarkan DPR, atau bahkan sampai ada ancaman nyata terhadap anggota DPR secara personal, ini sudah geser ke fase kemarahan personal. Dalam psikologi massa, fase ini berbahaya karena logika kerumunan berubah. Dari melawan sistem menjadi menghancurkan orang. Kita bisa lihat beberapa rumah anggota dewan kemudian dijarah massa.  Kalau titik ini tercapai, eskalasi bisa sangat brutal. Kerusuhan 1998 memberi pelajaran pahit.  Begitu massa bergerak tanpa kendali melainkan dengan provokasi, yang tersisa hanyalah api, kaca pecah, dan korban berjatuhan.

Sosiolog Charles Tilly menulis, Collective violence is not a breakdown of order, but an alternative form of order (1978). Artinya, kerusuhan bukan sekadar chaos, tapi bentuk aturan baru yang dibuat massa ketika aturan lama dianggap gagal. Ketika rakyat tak percaya lagi pada DPR dan pemerintah bahkan polisi, mereka bisa membuat aturan jalanan ala mereka sendiri.

Pemerintah Harus Belajar Jadi Orangtua, Bukan Tukang Cambuk

Masalah utama penguasa kita adalah gagal membedakan antara tegas dan keras kepala. Mereka mengira rakyat bisa diam hanya dengan represi aparat. Padahal, semakin aparat dipakai untuk membungkam, semakin besar energi kemarahan yang dikumpulkan rakyat.

Pemerintah seharusnya belajar dari pola asuh authoritative, dalam psikologi pola asuh ini mengandung aturan jelas, konsisten, tapi disertai dialog. Bukan pola asuh authoritarian yang hanya mengandalkan bentakan. Ironinya, kali ini terbalik, justru rakyat yang terpaksa menjadi orangtua tegas, sementara penguasa berperan sebagai anak bandel yang terus menguji batas kesabaran rakyat.

Tentu dalam hemat saya ada beberapa langkah realistis agar ke depan, gebrakan meja yang sudah keras  ini di kemudian hari tidak berubah menjadi hantaman palu. Pertama adalah, harus dibuka suatu kanal komunikasi nyata. Bukan sekadar jumpa pers normatif, tapi audiensi terbuka dengan representasi rakyat yang melibatkan mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil.

Kedua, penting sekali menjaga gestur simbolik dari elite. Tarik semua kebijakan yang bermasalah, atau setidaknya tunjukkan niat untuk serius memperbaiki. Setiap pernyataan yang arogan ibarat menyiram bensin ke dalam api. Dan ini sudah terjadi.

Yang ketiga, perlunya katalisator, di sini harus melibatkan mediator moral. Tokoh agama, akademisi, seniman, bahkan budayawan, mereka bisa menjadi jembatan. Rakyat lebih percaya pada suara-suara yang mereka rasa murni, dan yang sudah teruji keberpihakannya kepada rakyat sejak republik ini berdiri.

Parenting Demokrasi

Kalau kita kembali ke analogi parenting tadi, sepertinya rakyat sudah terlalu lama bersabar pada anak bandel bernama DPR dan elite politik. Sudah dinasihati, sudah diperingatkan, tapi eh, tetep aja ngeyel. Maka demo besar-besaran kemarin adalah gebrakan meja yang seharusnya membuat si anak bandel sadar, ada otoritas yang lebih tinggi dari DPR, yaitu rakyat itu sendiri.

Yang sedang kita tunggu sekarang akan sangat menentukan, apakah pemerintah akan mendengar bentakan ini sebagai tanda cinta  atau justru menganggapnya sekadar ulah anak nakal? Jika memilih opsi yang kedua, bersiaplah menghadapi konsekuensi lebih pahit. Karena dalam parenting demokrasi, rakyat punya hak penuh untuk mendidik anak bandelnya dengan cara apa pun yang mereka anggap perlu. Apapun.

Dan kalau sejarah 1998 berulang, jangan salahkan rakyat. Salahkan penguasa yang gagal belajar dari teguran halus dan bentakan pertama. Dengar apa kata Shio Butto, Jangan ya dek ya,.. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: demokrasiDPRIndonesiaparentingrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Lestari dan Satia Budi, Pemenang Truna-Truni Dharma Duta Week IMK Singaraja: Bicara Era Digital dan Mental Health Matters di Lingkungan Kampus  

Next Post

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co