23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 2, 2025
in Esai
Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

ilustrasi tatkala.co

Pertengahan Bulan Mei Tahun 1998

Tidak ada awan gelap yang menutupi langit Indonesia. Tidak ada gunung yang meletus. Bukan gempa bumi, bukan banjir, bukan badai topan – kali ini, yang menghancurkan rumahku, kebunku – anak-anakku sendiri.

Di luar sana, mereka masih saja bicara tentang kesatuan dan persatuan. Mereka bicara tentang penguasa yang korup. Mereka bicara tentang reformasi, yang katanya harus total, harus menyeluruh. Mereka bicara tentang demokrasi. Mereka bicara dan bicara serta bicara. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Tidak ada yang menegur aku. Tidak ada yang berupaya mendengarkan teriakanku. Tidak ada yang peduli terhadap tangisanku. Tidak ada yang memperhatikan jeritanku. Aku menangisi mereka yang kehilangan pekerjaan – aku menangisi mereka yang dirampok, dijarah, rumah mereka dibakar – aku menangisi mereka yang diperkosa – jiwaku menjerit bagi mereka. Tidak ada yang mendengarkan aku. Akhirnya aku membisu – inilah anak-anak yang kulahirkan dari rahimku. Inilah putra putriku. Merekalah yang kuberikan air susuku selama ini. Aku sedih, hatiku luka. Lebih baik, tadinya aku mandul saja.

Aku ibumu, Ibu Pertiwi – Ibu Indonesia yang selama ini terlupakan oleh anak-anaknya sendiri. Setiap orang sibuk bicara, sibuk memberikan komentar, sibuk mengeluarkan pendapat – tidak seorang pun yang berupaya mendengarkan aku.

Selama ini aku memang membisu, mungkin aku salah. Mungkin aku sudah harus menegur kamu sejak dulu. Mungkin aku terlalu memanjakan kamu. Aku sempat pada suatu ketika ragu, aku masih berharap. Aku masih bertahan padamu. Tetapi, anakku, aku harus bersikap. Aku harus bicara. Aku harus memperingatkanmu.

Sebab pada suatu ketika nanti, kau akan menyadari kebinatanganmu, ketidakwajaranmu, kekonyolanmu. Aku menggugat nuranimu, aku minta pertanggungjawabanmu – sudah cukup lama aku membisu, sudah cukup lama aku memanjakan kalian. Tiba saatnya sekarang, aku harus bersikap tegas. Suaraku harus jelas.

Apabila kau ingin membungkam suaraku, suara ibumu – jangan lupa akan air susuku yang masih mengalir dalam tubuhmu sebagai darah. Aku akan bicara lewat aliran darahmu. Aku akan bicara lewat tulang-tulangmu, lewat otot-otot dan lewat jaringan sarafmu. Kau tidak bisa membungkam aku. Aku telah memutuskan untuk bicara dan kau harus mendengarkannya, kau akan mendengarkannya. Kau tidak dapat mengelakkan, mengabaikan gugatanku!

(Reformasi: Gugatan Seorang “Ibu”, Guruji Anand Krishna, 1998)

SEJARAH bangsa seolah bergerak dalam lingkaran yang sama, hanya berbeda wajah dan waktu. Ibu Pertiwi menangis pada September 1965, saat darah anak bangsa tumpah karena perebutan kuasa yang dibungkus ideologi. Tangisnya berlanjut pada Mei 1998, ketika suara reformasi dibayar dengan korban yang dirampas hak hidupnya: hilang pekerjaan, rumah dibakar, tubuh diperkosa, harga diri diinjak-injak. Kini, di akhir Agustus 2025, tangis itu terdengar lagi—lebih cepat dari siklus sebelumnya.

Air mata Ibu Pertiwi bukan hanya ratapan alam, melainkan jeritan nurani. Ia menangis karena anak-anaknya masih saja terjebak dalam lingkaran kebencian, korupsi, fitnah, dan kekerasan. Dalam bahasa Hawkins, kesadaran kolektif bangsa masih banyak yang bergetar di bawah level 200, yaitu medan energi yang ditandai oleh rasa takut, marah, keserakahan, dan kebencian. Di titik itu, bangsa hidup dalam mode destruktif: mencari kambing hitam, menyalahkan yang lain, dan mengulang pola kekerasan yang seolah diwariskan turun-temurun.

Tragedi 1965 mencerminkan dominasi energi Fear (100) dan Anger (150). Rakyat dicekam ketakutan, lalu diarahkan untuk membenci. Kekerasan pun meledak. Mei 1998 menghadirkan energi serupa: ketakutan akan krisis, kemarahan terhadap penguasa, lalu bermuara pada kerusuhan dan pertumpahan darah. Kini, Agustus 2025, sejarah berulang dengan pola yang semakin singkat. Seakan bangsa ini gagal naik kelas dalam tangga kesadaran.

Namun Hawkins juga memberi harapan: begitu kesadaran kolektif menembus level Courage (200), transformasi mulai mungkin. Di level ini, bangsa berani menghadapi kebenaran, bukan sekadar menyalahkan. Di level Reason (400), bangsa mampu berpikir jernih, tidak larut dalam propaganda. Dan di level Love (500), bangsa hidup dari kasih, bukan kebencian.

Ibu Pertiwi tidak hanya menangis karena luka, ia juga menggugat nurani kita. Suaranya, sebagaimana ditulis Guruji Anand Krishna dalam Reformasi: Gugatan Seorang Ibu, mengalir dalam darah kita. Kita tidak bisa membungkamnya. Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya sibuk bicara, berdebat, dan saling tuding, sementara tangisan Ibu tak pernah benar-benar kita dengarkan?

Refleksi ini menuntut keberanian untuk jujur: reformasi 1998 belum selesai, dan kesadaran bangsa belum sepenuhnya bangkit. Jika tragedi selalu berulang, itu pertanda kita masih belajar di kelas yang sama. Kesadaran Hawkins mengajarkan bahwa hanya perubahan batin, dari takut menjadi berani, berani untuk mengubah diri sendiri, dari kesadaran hewani menuju kesadaran insani, lalu perlahan naik menuju kesadaran Ilahi, dari marah menjadi welas asih, yang dapat memutus rantai sejarah berdarah.

Mari kita dengarkan suaraNya, suara Ibu kita untuk terakhir kali:

“Di balik segala macam permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini, ada masalah utama yang terlupakan, krisis moneter bisa diatasi, akan diatasi . Krisis politik bisa diatasi, akan teratasi pula. Tetapi proses reformasi yang kalian harapkan belum terjadi juga. Masalah utama yang kalian hadapi adakah krisis kesadaran. Tanpa kesadaran, tidak akan terjadi reformasi. Dan apa yang harus direformasi? Hanya pemerintahkah? Hanya Dewan Perwakilan Rakyat-kah? Atau seluruh sistem itu yang harus di-reform? Dari mana harus dimulai? Kau harus memulainya dari dirimu sendiri. Anakku, cucuku – kau harus mengubah total dirimu dulu. Setelah itu baru memikirkan orang lain. Kau sendiri masih penuh dengan rasa iri dan cemburu, kau masih egois – kau tidak akan pernah berhasil menyebarkan kasih. Kau sendiri masih belum kenal kasih (Krishna, 1998: 9).

Hari ini, Ibu Pertiwi menangis lagi. Tetapi air matanya bisa kita maknai sebagai panggilan. Apakah kita akan tetap terjebak dalam pusaran rendah kesadaran, ataukah berani melangkah naik menuju cinta dan kebijaksanaan? Pilihan ada pada kita, anak-anaknya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Tags: ibu pertiwiIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Next Post

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co