22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 29, 2025
in Esai
“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Albert Camus | Foto: The New Yorker

KAWAN yang baik, beberapa waktu lalu, seseorang bertanya: “Bagaimana caranya menjadi Sisifus di ladang konsumerisme, Mas Adi?”

Jika bicara ihwal Sisifus, kita pasti ingat filsuf Prancis Albert Camus, seorang penulis esai cemerlang, salah satunya “Le mythe de sisyphe” (Mitos Sisifus) yang kemudian jadi salah satu judul bukunya.

Tentu Pak Camus ini juga penulis prosa, di antara karyanya adalah cerita pendek berjudul “Jonas, ou l’artiste au travail”.

Judul cerpen ini biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “The Artist at Work”. Secara harfiah, terjemahannya kira-kira adalah: “Jonas, atau seorang seniman dalam berkarya”.

Baiklah, kita singgung cerpennya terlebih dahulu. Tokoh utama cerpen itu adalah seorang pelukis bernama Gilbert Jonas. Ia memiliki karir yang cukup menjanjikan dan keluarga yang mendukung kerja seninya.

Pada satu waktu ia mengerjakan lukisan yang akan menjadi salah satu karya terbaiknya. Berminggu-minggu sang seniman bekerja tak kenal waktu hingga kemudian ditemukan terkapar di studionya.

Dokter yang datang memeriksa mengatakan bahwa Jonas ambruk karena terlalu banyak bekerja dan tak pernah istirahat. Sang dokter tak dapat memastikan apakah Jonas akan selamat atau tidak.

Lalu apa hasil karya yang digarap habis-habisan hingga sang seniman ambruk?

Ternyata hanya kanvas kosong dengan coretan atau tulisan kecil yang kabur, berbunyi: “Solitaire”. Tapi hurut T di situ juga samar-samar membentuk huruf D.

Susah memastikan apakah itu huruf T atau D, apakah yang ia tulis “Solitaire” atau “Solidaire”. Itulah kesimpulan perenungan sang seniman terhadap kehidupan.

Artinya, manusia akan terus terombang-ambing antara kehendak dan keharusan menjadi soliter atau solider, hingga akhir hayatnya.

Kawan yang baik, kita tahu bahwa sang penulis, Albert Camus, adalah filsuf eksistensialis yang terkenal dengan pemikirannya tentang absurditas.

Tapi, apa gerangan absurditas itu?

Bolehlah dibuat ilustrasi sederhana; sepanjang sejarah, mungkin sudah ribuan tahun, manusia terus berusaha memahami dan menjelaskan dunia dan dirinya sendiri.

Telah lahir banyak agama, kitab suci dan nabi-nabi. Juga telah muncul ribuan filsuf, pemikir besar dan ilmuwan. Telah ditulis jutaan buku pula. Tapi tetap saja hidup dan dunia tak terjelaskan secara tuntas.

Jika hidup ini bermakna, kenapa manusia menderita? Kenapa orang-orang baik justru sengsara (dan mati) sementara banyak orang jahat bahkan yang super jahat asu-asuan justru berjaya?

Apa makna kehidupan dan kematian? Dan kenapa manusia mati? Jika hidup ini layak dijalani, kenapa tetap ada pembunuhan, bahkan pembantaian terhadap anak-anak tak berdosa? Kenapa ada rudal dan bom bunuh diri?

Semua agama, Nabi, filsuf dan pemikir besar berusaha mengurai berbagai pertanyaan tersebut, tapi tetap tak dapat menjawab dengan tuntas. Maka, hidup dan dunia ini sebenarnya tak terjelaskan, dan memang tak diperlukan penjelasan yang tuntas.

Buat apa susah-payah mencari jawaban tuntas jika hal itu mustahil diperoleh?

Dan karena tak terjelaskan dengan tuntas, maka manusia tak perlu berilusi mendapatkan makna dari kehidupan dan dunia. Yang harus dilakukan adalah menjalani hidup tanpa menyia-nyiakan waktu dan energi untuk mencari jawaban tentang makna. Atau, jika perlu melupakan makna itu sendiri.

Ini maksudnya gimana, Pak Camus?

Dalam esai “Le mythe de sisyphe” ia mengisahkan kembali hidup yang dapat dijalani sebagaimana Sisifus yang mendorong batu di lereng bukit, dari bawah sampai puncak hingga batu itu menggelinding ke bawah lalu ia mendorongnya kembali.

Begitu seterusnya sepanjang hayat.

Tentu, umumnya orang beranggapan bahwa yang dilakukan Sisifus adalah kesia-siaan. Hidup Sisifus sungguh tragis.

Pandangan semacam itu muncul pada orang yang berilusi atau berhasrat atau berambisi mendapatkan makna (dan tujuan akhir). Apa makna yang dilakukan Sisifus? Apa tujuannya? Apa hasilnya?

Pak Camus menekankan bahwa jika manusia masih berpikir tentang makna dan tujuan, maka yang didapat adalah kesia-siaan dan kegagalan memahami Sisifus.

Padahal sebaliknya, kita harus membayangkan Sisifus justru bahagia karena ia berhasil mengenyahkan segala ilusi tentang makna dan tujuan.

Ia tak pernah memikirkan tujuan, hasil akhir atau imbalan atau apapun namanya. Ia hanya menjalani semuanya dengan sukacita, intens dan sungguh-sungguh.

Dengan begitu ia dapat menghayati setiap jengkal langkahnya, setiap sentuhan tangannya pada permukaan batu, setiap regangan otot, dengus napas dan helaan kaki ketika mendorong batu dari bawah hingga puncak bukit.

Hal itu berlangsung terus, berulang-ulang, seumur hidup.

Setiap kali mulai mendorong ia mendapatkan penghayatan yang berbeda terhadap apa yang ia lakukan, pun kepuasan yang baru ketika melihat batu telah sampai puncak lalu menggelinding kembali ke bawah.

Ya, dorongan pertama niscaya berbeda dengan dorongan-dorongan berikutnya. Ketika batu itu sampai di puncak ia pun menghela napas lega dan berseru gembira: “Ahai, sampai juga akhirnya. Mari kita mulai lagi, dari bawah, dari nol”.

Itulah “absurditas”.

Menurut Pak Camus, kehidupan dan dunia ini adalah “absurd”. Manusia itu seperti Sisifus. Sisifus adalah kita.

Jika manusia dapat berpikir dan bertindak seperti Sisifus, maka ia akan bahagia, dan sebaliknya jika masih berilusi tentang makna atau tujuan atau imbalan, maka ia akan sengsara sepanjang hayat.

Adapun soal hubungan individu dan dunia, pribadi dengan sesama, Pak Camus menggambarkannya melalui kehidupan seniman Jonas yang akhirnya mati dalam keterombang-ambingan untuk mendapatkan makna “soliter” atau “solider”, sementara Sisifus justru telah terbebas dari ilusi dan ambisi semacam itu.

Ya, seniman Jonas menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk “soliter” dan sekaligus “solider”. Tentu, bagi Sisifus itu sudah jelas dan gamblang, “cetho welo-welo” sehingga tak perlu diperdebatkan lagi.

Maka, soalnya adalah bagaimana manusia menjalaninya. Bagaimana menciptakan cara-cara yang kreatif dan “genuine” dalam menempuh absurditas. Bagaimana mengkreasikan aneka tindakan untuk memilih segala yang baik – tanpa argumen yang ruwet-mbulet segala rupa – guna menjinakkan dan menolak tanpa reserve, bahkan mengenyahkan segala yang buruk.

Tapi bukankah diperlukan alasan atau argumen atau perenungan atau pergulatan tertentu, sekecil apapun itu, sebagaimana yang dilakukan pelukis Jonas, agar sampai pada pilihan yang baik maupun yang buruk, antara solider dan soliter?

Sama sekali tidak, ujar Sisifus. Hal-hal baik sama sekali tak memerlukan alasan apapun karena hal itu semudah menyendok nasi yang sudah di depan mata saat lapar.

Juga sesederhana keniscayaan mendorong batu sampai puncak lalu menikmati keindahannya saat sang batu menggelinding kembali ke bawah sebagai hal baik karena mustahil baginya berbahagia jika tindakan itu dipandang sebagai hal buruk.

Jadi, tak ada kemungkinan lain untuk berbahagia di luar hal-hal baik. Dan sungguh celaka jika cara-cara berbahagia menjadi semakin sedikit, ujar Sisifus lagi.

Maka, sekali lagi, yang diperlukan adalah menempuh sekaligus menciptakan bentuk-bentuk dan cara-cara se-kreatif mungkin dalam mengamalkan hal-hal baik karena hanya dengan begitu akan timbul sebanyak-banyaknya cara untuk berbahagia.

Itulah yang terpenting. Kapan pun di mana pun. Termasuk di belantara dunia konsumer dan semesta material yang kian markojoss ini.

Baiklah, Sisifus. Baiklah, Tuan Camus.[T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert CamusfilsafatsastraSisifus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Next Post

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co