24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 29, 2025
in Esai
“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Albert Camus | Foto: The New Yorker

KAWAN yang baik, beberapa waktu lalu, seseorang bertanya: “Bagaimana caranya menjadi Sisifus di ladang konsumerisme, Mas Adi?”

Jika bicara ihwal Sisifus, kita pasti ingat filsuf Prancis Albert Camus, seorang penulis esai cemerlang, salah satunya “Le mythe de sisyphe” (Mitos Sisifus) yang kemudian jadi salah satu judul bukunya.

Tentu Pak Camus ini juga penulis prosa, di antara karyanya adalah cerita pendek berjudul “Jonas, ou l’artiste au travail”.

Judul cerpen ini biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “The Artist at Work”. Secara harfiah, terjemahannya kira-kira adalah: “Jonas, atau seorang seniman dalam berkarya”.

Baiklah, kita singgung cerpennya terlebih dahulu. Tokoh utama cerpen itu adalah seorang pelukis bernama Gilbert Jonas. Ia memiliki karir yang cukup menjanjikan dan keluarga yang mendukung kerja seninya.

Pada satu waktu ia mengerjakan lukisan yang akan menjadi salah satu karya terbaiknya. Berminggu-minggu sang seniman bekerja tak kenal waktu hingga kemudian ditemukan terkapar di studionya.

Dokter yang datang memeriksa mengatakan bahwa Jonas ambruk karena terlalu banyak bekerja dan tak pernah istirahat. Sang dokter tak dapat memastikan apakah Jonas akan selamat atau tidak.

Lalu apa hasil karya yang digarap habis-habisan hingga sang seniman ambruk?

Ternyata hanya kanvas kosong dengan coretan atau tulisan kecil yang kabur, berbunyi: “Solitaire”. Tapi hurut T di situ juga samar-samar membentuk huruf D.

Susah memastikan apakah itu huruf T atau D, apakah yang ia tulis “Solitaire” atau “Solidaire”. Itulah kesimpulan perenungan sang seniman terhadap kehidupan.

Artinya, manusia akan terus terombang-ambing antara kehendak dan keharusan menjadi soliter atau solider, hingga akhir hayatnya.

Kawan yang baik, kita tahu bahwa sang penulis, Albert Camus, adalah filsuf eksistensialis yang terkenal dengan pemikirannya tentang absurditas.

Tapi, apa gerangan absurditas itu?

Bolehlah dibuat ilustrasi sederhana; sepanjang sejarah, mungkin sudah ribuan tahun, manusia terus berusaha memahami dan menjelaskan dunia dan dirinya sendiri.

Telah lahir banyak agama, kitab suci dan nabi-nabi. Juga telah muncul ribuan filsuf, pemikir besar dan ilmuwan. Telah ditulis jutaan buku pula. Tapi tetap saja hidup dan dunia tak terjelaskan secara tuntas.

Jika hidup ini bermakna, kenapa manusia menderita? Kenapa orang-orang baik justru sengsara (dan mati) sementara banyak orang jahat bahkan yang super jahat asu-asuan justru berjaya?

Apa makna kehidupan dan kematian? Dan kenapa manusia mati? Jika hidup ini layak dijalani, kenapa tetap ada pembunuhan, bahkan pembantaian terhadap anak-anak tak berdosa? Kenapa ada rudal dan bom bunuh diri?

Semua agama, Nabi, filsuf dan pemikir besar berusaha mengurai berbagai pertanyaan tersebut, tapi tetap tak dapat menjawab dengan tuntas. Maka, hidup dan dunia ini sebenarnya tak terjelaskan, dan memang tak diperlukan penjelasan yang tuntas.

Buat apa susah-payah mencari jawaban tuntas jika hal itu mustahil diperoleh?

Dan karena tak terjelaskan dengan tuntas, maka manusia tak perlu berilusi mendapatkan makna dari kehidupan dan dunia. Yang harus dilakukan adalah menjalani hidup tanpa menyia-nyiakan waktu dan energi untuk mencari jawaban tentang makna. Atau, jika perlu melupakan makna itu sendiri.

Ini maksudnya gimana, Pak Camus?

Dalam esai “Le mythe de sisyphe” ia mengisahkan kembali hidup yang dapat dijalani sebagaimana Sisifus yang mendorong batu di lereng bukit, dari bawah sampai puncak hingga batu itu menggelinding ke bawah lalu ia mendorongnya kembali.

Begitu seterusnya sepanjang hayat.

Tentu, umumnya orang beranggapan bahwa yang dilakukan Sisifus adalah kesia-siaan. Hidup Sisifus sungguh tragis.

Pandangan semacam itu muncul pada orang yang berilusi atau berhasrat atau berambisi mendapatkan makna (dan tujuan akhir). Apa makna yang dilakukan Sisifus? Apa tujuannya? Apa hasilnya?

Pak Camus menekankan bahwa jika manusia masih berpikir tentang makna dan tujuan, maka yang didapat adalah kesia-siaan dan kegagalan memahami Sisifus.

Padahal sebaliknya, kita harus membayangkan Sisifus justru bahagia karena ia berhasil mengenyahkan segala ilusi tentang makna dan tujuan.

Ia tak pernah memikirkan tujuan, hasil akhir atau imbalan atau apapun namanya. Ia hanya menjalani semuanya dengan sukacita, intens dan sungguh-sungguh.

Dengan begitu ia dapat menghayati setiap jengkal langkahnya, setiap sentuhan tangannya pada permukaan batu, setiap regangan otot, dengus napas dan helaan kaki ketika mendorong batu dari bawah hingga puncak bukit.

Hal itu berlangsung terus, berulang-ulang, seumur hidup.

Setiap kali mulai mendorong ia mendapatkan penghayatan yang berbeda terhadap apa yang ia lakukan, pun kepuasan yang baru ketika melihat batu telah sampai puncak lalu menggelinding kembali ke bawah.

Ya, dorongan pertama niscaya berbeda dengan dorongan-dorongan berikutnya. Ketika batu itu sampai di puncak ia pun menghela napas lega dan berseru gembira: “Ahai, sampai juga akhirnya. Mari kita mulai lagi, dari bawah, dari nol”.

Itulah “absurditas”.

Menurut Pak Camus, kehidupan dan dunia ini adalah “absurd”. Manusia itu seperti Sisifus. Sisifus adalah kita.

Jika manusia dapat berpikir dan bertindak seperti Sisifus, maka ia akan bahagia, dan sebaliknya jika masih berilusi tentang makna atau tujuan atau imbalan, maka ia akan sengsara sepanjang hayat.

Adapun soal hubungan individu dan dunia, pribadi dengan sesama, Pak Camus menggambarkannya melalui kehidupan seniman Jonas yang akhirnya mati dalam keterombang-ambingan untuk mendapatkan makna “soliter” atau “solider”, sementara Sisifus justru telah terbebas dari ilusi dan ambisi semacam itu.

Ya, seniman Jonas menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk “soliter” dan sekaligus “solider”. Tentu, bagi Sisifus itu sudah jelas dan gamblang, “cetho welo-welo” sehingga tak perlu diperdebatkan lagi.

Maka, soalnya adalah bagaimana manusia menjalaninya. Bagaimana menciptakan cara-cara yang kreatif dan “genuine” dalam menempuh absurditas. Bagaimana mengkreasikan aneka tindakan untuk memilih segala yang baik – tanpa argumen yang ruwet-mbulet segala rupa – guna menjinakkan dan menolak tanpa reserve, bahkan mengenyahkan segala yang buruk.

Tapi bukankah diperlukan alasan atau argumen atau perenungan atau pergulatan tertentu, sekecil apapun itu, sebagaimana yang dilakukan pelukis Jonas, agar sampai pada pilihan yang baik maupun yang buruk, antara solider dan soliter?

Sama sekali tidak, ujar Sisifus. Hal-hal baik sama sekali tak memerlukan alasan apapun karena hal itu semudah menyendok nasi yang sudah di depan mata saat lapar.

Juga sesederhana keniscayaan mendorong batu sampai puncak lalu menikmati keindahannya saat sang batu menggelinding kembali ke bawah sebagai hal baik karena mustahil baginya berbahagia jika tindakan itu dipandang sebagai hal buruk.

Jadi, tak ada kemungkinan lain untuk berbahagia di luar hal-hal baik. Dan sungguh celaka jika cara-cara berbahagia menjadi semakin sedikit, ujar Sisifus lagi.

Maka, sekali lagi, yang diperlukan adalah menempuh sekaligus menciptakan bentuk-bentuk dan cara-cara se-kreatif mungkin dalam mengamalkan hal-hal baik karena hanya dengan begitu akan timbul sebanyak-banyaknya cara untuk berbahagia.

Itulah yang terpenting. Kapan pun di mana pun. Termasuk di belantara dunia konsumer dan semesta material yang kian markojoss ini.

Baiklah, Sisifus. Baiklah, Tuan Camus.[T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert CamusfilsafatsastraSisifus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Next Post

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co